Senin, 16 Mei 2011

PERSPEKTIF TEORI KOMUNIKASI

PERSFEKTIF TEORI KOMUNIKASI
IB. Saduarsa
Pendahuluan
Mengetahui definisi komunikasi, dengan contoh kasusnya yang sederhana dalam pemahamannya merupakan komunikasi dalam proses pertumbuhannya merupakan studi retorika dan jurnalistik yang banyak berkaitan dengan pembentukan pendapat umum (opini public), dimana isu-isu filsafat dalam ontology, epistemology dan aksiologi dalam pengembangan ilmu komunikasi menjadi hal yang penting.
Komunikasi sebagai ilmu yang dapat diterapkan dalam hidup bermasyarakat, komunikasi telah lama menarik perhatian para ilmuwan dari luar bidang komunikasi sendiri, dalam peran penting dan fundamental serta kompleks dalam kehidupan manusia dan lingkungan/dunianya
Adamya lima genre teori berkaitan dengan fokus teori dan berkorelasi dengan epistemologi dan ontology yang disebabkan bagaimana teoritisi memandang pengetahuan, pengaruhnya terhadap perspektif teori.dalam ilmu komunikasi dan contoh masing-masing dapat disebutkan dalam pembahasan.
Empat paradigma yang dikenal dalam ilmu komunikasi yaitu positivist, postpositivist, Teori Kritis dan Konstruksivisme. Dapat dijelaksan keempat perspektif secara komprehensif dan  contoh masing-masing dalam pembahasan tulisan ini pun dijelaskan untuk dapat mengetahui korelasinya.
Pembahasan :
Sebagai Jawaban permasalahan pertama dapat dijelaskan definisi seperti yang telah diungkap oleh para ahlinya sebagai berikut:
a. Definisi Komunikasi yang dinyatakan oleh para ahli, sumber : Apendik A, Dance &Larson, 1976 (dalam Miller, 2001:5) dalam buku Teori Komunikasi/Edi Santoso; Mite Setiansah-Edisi pertama-Yogyakarta; Graha Ilmu,2010, Hal:5 & 6,   adalah sebagai berikut : 
Komunikasi adalah semua prosedur dimana pikiran seseorang
 Weaver (1949)
bisa mempengaruhi yang lain.

Komunikasi berarti berlalunya informasi dari satu tempat
 Miller (1951)
ketempat yang lain.

Dari sudut pandang komunikasi, sebuah kejadian bisa diamati
 Babcock (1952)
dalam bekerjanya simbol-simbol (act), dalam lingkungan tertentu (scene),

oleh individu atau beberapa individu (agen), dengan menggunakan media

(agency), untuk mendefinisikan tujuan.

(Komunikasi) adalah proses dimana seseorang individu (komunikator)
 Holand, Janis, &
mentransmisikan stimulus untuk mempengaruhi tindakan orang lain
 Kelley (1953)
Komunikasi adalah proses dimana kita memahami dan dipahami orang
 Anderson (1959)
lain. Hal ini berjalan secara dinamis, terus berubah dan berganti,

tergantung situasi terkait.

Komunikasi adalah proses untuk membuat sama dan atau beberapa orang,
 Gode (1959)
dari monopoli satu beberapa orang.

Komunikasi tak semata-mata merujuk pada transmisi pesan verbal,
 Ruesch & Beteson
eksplisit, dan internasional, tetapi juga meliputi segala proses dimana
-1961
seseorang mempengaruhi yang lain.

Komunikasi, pada dasarnya, merupakan gambaran Anda tentang stimululasi
 Oliver, Zelko, &
dalam pikiran orang lain atas kesadaran, pemahaman, dan perasaan Anda
 Holzman (1962)
Akan pentingnya peristiwa, perasaan, fakta, opini atau situasi

Komunikasi diantara manusia adalah seni mentransmisi informasi, ide, dan
 Emery, Ault, &
Sikap dari satu orang ke orang yang lain.
 Agee (1963)
Komunikasi adalah sebuah proses dimana seseorang mengurangi
 Lewis (1963)
ketidakpastian melalui isyarat yang terdeteksi dalam sebuah hubungan.

Komunikasi : Transmisi informasi, ide, emosi, keterampilan, dsb, dengan
 Barelson & Steiner
menggunakan simbol-simbol (kata,gambar,grafik,dsb).
-1964
Komunikasi adalah interaksi sosial melalui simbol dan sistem pesan.
 Gerbner (1964)
Komunikasi manusia merupakan perolehan reson melalui simbol-simbol verbal.
 Dance (1967)
Komunikasi merupakan tindakan berpola dalam dimensi ruang dan waktu,
 Hawes (1973)
dengan rujukan simbolik


Adanya persamaan dan perbedaan diantara para teorisi dalam mendefinisikan komunikasi, kesamaan atau kesepakatan mereka, setidaknya nampak dalam memahami komunikasi sebagai proses, transaksional, dan simbolik.
Contoh kasus actual yang dialami adalah:
Dengan pendekatan Theodore Newcomb (1954) pada komunikasi adalah pendekatan seorang pakar psikologi social yang mempelajari interaksi manusia dalam buku Teori Komunikasi, Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa, Werner J. Saverin-James W. Tankard, Jr edisi kelima, 2001, Kencana Media Group, Jakarta pada halaman 67 dijelaskan Model Simetri Newcomb: sebagai contoh kasusnya adalah: Seperti saat ini, penulis sebagai siswa Universitas Mercu Buana Program Magister Ilmu Komunikasi, menerima sebuah pesan dari seorang dosennya tentang kewajiban yaitu untuk menyelesaikan ujian mata kuliah Persfektif dan Teori Komunikasi, bobot 3 SKS dengan dosen Dr. Umaimah Wahid, waktu 22 Mei 2010, sifat ujian take home exam, isi pesan untuk menyelesaiakan ujian ini mengikuti 6 point aturan.
Dengan demikian suatu proses komunikasi terjadi, adapun efek dan pemaknaan dalam hal pesan- pesan ini, adalah merupakan tindak lanjut dari komunikannya yaitu menyelesaikan atau menjawab pertanyaan pada soal-soal ujian seperti yang telah dipertanyakan pada lembar ujian tersebut sesuai dengan aturan. Ketepatan jawaban adalah merupakan pemaknaan isi pesannya.
Dengan demikian dapat disimpulkan : Komunikatornya adalah dosen mata kuliah Perspektif dan Teori Komunikasi yaitu Dr. Umaimah Wahid, Message adalah Menyelesaikan soal-soal UTS (Ujian Tengah Semester) dari mata  kulah Perspektif dan Teori Komunikasi dengan segala ketentuan atau atuaranya, Media adalah lembaran tugas yang berisi soal UTS, Komunikannya adalah Ida Bagus Saduarasa (siswa), Efeknya adalah hasil jawaban yang dikumpulkan tepat waktu ataupun tidak. Noicenya adalah dapat berupa kelengkapan sarana dan prasarana, dll. Fect beack bagi komunikator adalah hasil jawaban UTS, untuk komunikan mendapatkan nilai UTS.
b. Proses pengembangan ilmu komunikasi adalah komunikassi dalam proses   pertumbuhannya merupakan studi retorika dan jurnalistik yang banyak berkaitan dengan pembentukan pendapat umum (opini public). Oleh karena itu, dalam peta ilmu pengetahuan, komunikasi dinilai oleh banyak pihak sebagai ilmu monodisiplin yang bertindak pada ilmu politik Namun dengan perkembangan masyarakat yang begitu cepat, terutama kemajuan dibidang genetika dan teknologi komunikasi, namun dibidang-bidang lainnya telah membawa dampak makin kaburnya batas-batas kewenangan dan fungsi beberapa ilmu pengetahuan, sehingga ilmu yang tadinya monodisiplin cenderung multidisiplin.(Pengantar Ilmu Komunikasi,Hafied Cangara-Ed.1-10,Jakarta:Rajawali Pers,2009, Hal:65-66)
Komunikasi sebagai ilmu yang dapat diterapkan dalam hidup bermasyarakat, komunikasi telah lama menarik perhatian para ilmuwan dari luar bidang komunikasi sendiri.Tokoh perubahan dan adopsi beragam ilmu lainnya dalam proses ilmu komunikasi adalah sebagai berikut :
1.         John Dewey lahir di Ann Arbor Michigan (Psikologi dan Filsafat, 1884-1894), menginginkan adanya sebuah surat kabar yang dapat mempulikasikan hasil-hasil riset ilmu pengetahuan sosial serta memperbaiki masalah-masalahsosial.
2.         Charles Horton Cooley (Sosiologi) lahir di Ann Arbor Michigan tahun 1864 meninggal tahun 1920. proses komunikasi antarpribadi (persona) dengan orang tua dan kelompok masyarakat, dengan pembuktian observasinya yang ketat terhadap pertumbuhan kedua orang anaknya .
3.         Robert E.Park (Filsafat dan Sosiologi) sebagai staf pengajar di Universitas of Chicago, mengembangkan kemampuan analisisnya untuk mengamati perilaku manusia. Menulis disertasi The Crow and the Public pada tahun 1904. dan juga dikenal sebagai studi agenda
4.         George Herbert Mead (Filsafat dan Psikologi) settingdengan menerbitkan catatan-catatan kuliah yang diajarkan selama tiga puluh tahun di Chicago dengan judul Mind, and Society (1934).membantu Amerika pada berbagai proyek Perang Dunia ke-2 untuk melawan Jerman.
5.         Kurt Lewin (Psikologi) ilmuwan Jerman, memimpin diskusi mingguan yang diberi nama Guasselstrippe (the hot-air club) kontribusinya pada ilmu komunikasi adalah Bagaimana individu dipengaruhi oleh kelompok yang mereka masuki studi eksperimen. Dan juga studi gatekeeping tentang pengendalian arus informasi lewat saluar komunikasi.mempelajari, meningal tahun 1947 dengan usia 57 tahun.
6.         Nobert Weiner (Matematika) lahir di Missionari, Amerika Serikat tahun 1894, meraih doktor di Harvad University dalam usia 19 tahun. Disertasinya tentang hubungan antara Matematika dengan Filsafat. Tahun 1919 menjadi frofesor matematika di MTM, sebuah Universitas Tehnik terkenal di Amerika.
7.         Harold D.Lasswell (ilmu Politik) lahir di Donnelson-Illinois (AS) pada tahun 1902, dalam tulisannya Word Politics and Personal Insecurity memperlihatkan pengaruh yang kuat dari Sigmund Freud. Menjadi profesor penuh 1938. kontribusinya ditemukan dalam bukunya Propaganda and Communication in Word History.
8.         Carl Hovland (Psikologi Eksperimen) mendirikan program komunikasi dan perubahan sikap. Bukunya berjudul Experiments on Mass Communication (1949) dan Communication and Persuation (1953)
 9. Paul F. Lazarsfefd (Matematika dan Sosiologi) lahir pada tahun 1901 dan meninggal dalam usia 75 tahun, memperoleh gelar doktor matematika dari University of Vienna di Austria tahun 1920, melalui suatu penelitian bersama Elihu Katz tentang pengaruh media massa terhadap perilaku pemilih presiden di Erie County, Ohio (1994)
10. Claude E Shanon (Elektronika) lahir tahun 1916 lahir di sebuah kota kecil Petrosky Michigan,  melalui Lois Ridenous itulah, Schramm meminta kepada Shannon untuk memperkenalkan kedua tulisannya lewat bahasa populer dengan judul The Matematical Theory of Communication, sebagai model komunikasi pertama yang dilukiskan secara visual.
11. Wilbur Schramm (Kesusastraan) lahir di Maretta, Ohio dalam tahun 1908, doktor dibidang kesusastraan Amerika di University of lowa pada tahun 1932. dikenal sebagai penulis fiksi. Bukunya Mass Communication (1949), the Process and effects of Mass Communication (1984) dan The Matematical Theory of Communication tahun 1956. juga merupakan orang pertama yang menjalin kajian dari bidang-bidang ilmu lain seperti psikologi social, antropologi, ilmu politik, ekonomi untuk pengembangan komunikasi antarmanusia.
 12. Everett M.Rogers (Sosiologi Pedesaan)berhasil meraih doktornya tahun 1957, disertasinya membicarakan tentang difusi inovasi pertanian diantara para petani disebuah masyarakat pedesaan di lowa. Ia telah menulis 25 buku komunikasi dalam berbagai aspek.( Pengantar Ilmu Komunikasi, Hafied Cangara-Ed.1-10,Jakarta:Rajawali Pers,2009, Hal:82-83)
c. Komunikasi penting untuk dikaji, dan memiliki peran fundamental serta kompleks dalam kehidupan manusia dan lingkungan/dunianya karena :
            1. Riwayat perkembangan komunikasi antarmanusia adalah sama dengan sejarah kehidupan manusia itu sendiri. Menurut Nordenstreng dan Varis (1973 dalam (Nasution, 1989: 15), ada 4 penentu yang utama dalam sejarah komunikasi manusia yaitu: 1) Ditentukan bahasa sebagai alat tercanggih manusia, 2) Berkembangnya seni tulisan dan berkembangnyakemampuan bicara manusia menggunakan bahasa, 3).  Berkembangnya kemampuan reproduksi kata-kata tertulis (written words) dengan menggunakan alat pencetak, sehingga memungkinkan terwujudnya komunikasi massa yang sebenarnya, dan 4). Lahirnya komunikasi elektronik, mulaidari telegraf, telpon, radio, televisi hingga satelit. (Sosiologi Komunikasi, Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat, 2006 Burhan Bungin, Edisi Pertama, Cetakan Ke 4, Hal:107)
2.         Dimensi dan Persefektif Ilmu Komunikasi, dalam  (Pengantar Teori Komunikasi, Hafied Cangara-Ed,1-10,-Jakarta; Rajawali Pers, 2009, Hal:51) disebutkan yaitu :a) Komunikasi sebagai Proses, b) Komunikasi sebagai Simbolik, c) Komunikasi sebagai Sistem, d) Komunikasi sebagai Transaksional, e) Komunikasi sebagai Aktivitas Sosial,f) Komunikasi sebagai Multidimensional.
3.         Fungsi Komunikasi (Pengantar Teori Komunikasi, Hafied Cangara-Ed,1-10,- Jakarta; Rajawali Pers, 2009, Hal:59) disebutkan begitu pentingnya komunikasi dalam hidup manusia, maka Harold D Lasswell mengemukakan bahwa fungsi komunikasi antara lain :a). Manusia dapat mengontol lingkungannya, b) Beradaptasi dengan lingkungan tempat mereka berada, dan c) Melakukan transformasi warisan sosial kepada generasi berikutnya.

d. Ilmu Komunikasi Nonaksional dan aksional dalam posisi ontology, dan implikasi teori dan metodologinya yaitu, Dalam Ontologi (pertanyaan mengenai eksistensi); Ontologi merupakan sebuah filosofi yang berhadapan dengan sifat makhuk hidup. Epistemologi dan ontologi berjalan beriringan karena gagasan-gagasan kita tentang pengetahuan sebagian besar bergantung pada pemikiran kita mengenai siapa yang mengetahui. (Teori Komunikasi, Edisi 9, Stephen W.Littlejohn,Karen A.Foss, 2009:25-26)
             Dengan demikian mengenai sifat wujud (nature of being) atau sifat fenomena yang ingin kita ketahui, dalam sosiologi berkaitan dengan sifat interaksi sosial.Dalam teori komunikasi tampak berbagai posisi ontologis, tetapi dapat dikelompokan menjadi dua posisi yang saling berlawanan :
      Non-aksional (nonactional theory) adalah bahwa perilaku pada dasarnya ditentukan oleh kehendak atau responsive terhadap tekanan-tekanan yang lalu. Tradisi ini dalil-dalil tertutup biasanya dipandang tepat, interpretasi aktif atau maknanya untuk tindakan tidaklah menjadi begitu penting (interpretasi aktif yang dilakukan oleh seseorang dilihat dengan sebelah mata).
     Teori Aksional (actional theory) adalah bahwa orang menciptakan makna, mereka mempunyai tujuan, mereka menentukan pilihan nyata. Berpijak pada landasan teleologis yang menyatakan bahwa orang mengambil keputusan yang dirancang sesuai dengan gagasan atau ide-ide untuk mencapai tujuan pemaknaan dalam tidakan sangat menjadi perhatiaan.(Teori Komunikasi, Edisi 9, Stephen W.Littlejohn,Karen A.Foss, 2009:164).
Dalam Metodologis, bagaimna seharusnya periset memperoleh informasi tentang obyek studi. Metode penukaran yang sering digunakan dalam teori sosial menyisakan kesimpulan bahwa manusia bertindak untuk meraih sesuatu dari orang lain sebagai penukaran mendapatkan pemenuhan dari orang lain jika anda mempunyai kekuatan yang cukup dalam konteks sumber dan dapat memberikan atau menahan sesuatu yang mereka inginkan.(Teori Komunikasi, Edisi 9, Stephen W.Littlejohn,Karen A.Foss, 2009:177-178).

Pembagasan ke tiga mengenai:
a. Isu-isu filsafat dalam ontology, epistemology dan aksiologi dalam pengembangan ilmu komunikasi berikut contohnya dapat dijelaskan sebagai berikut:
      Dalam ontologi atau pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaannya, ontologi merupakan sebuah filosofi yang berhadapan dengan sifat makhluk hidup. Dalam ontologi, teori-teori ilmiah cenderung beranggapan bahwa perilaku pada dasarnya ditentukan serta bertanggung jawab kepada biologi dan lingkungan. Juga dalam ontologi, teori-teori cenderung beranggapan bahwa individu-individu merupakan agen-agen yang diarahkan oleh tujuan yang menciptakan pengertian, memiliki maksud, membuat pilihan-pilihan yang nyata, dan bertindak dalam berbagai situasi dengan cara-cara yang disengaja.(Teori Komunikasi, Edisi 9, Stephen W.Littlejohn,Karen A.Foss, 2009:23-26).
      Untuk kajian ontologi yang menjadi inti landasan filosofisnya ada dua hal yaitu : 1) Asumsi pilihan bebas (free will) dan determinisme, 2) Peluang (probability). Sedangkan posisi dalam ontologi  berkaitan dengan objektitivit dan sujektivist adalah : 1) Realis posisi adalah berkaitan dengan dunia fisik. 2. posisi nominalis, yaitu asumsi bahwa dunia sosial eksternal untuk kognisi individu terdiri dari apa-apa nama lebih lanjut, konsep dan label yang digunakan untuk struktur realitas. Dan 3). Perantara - realitas sosial tidak dapat ditafsirkan sebagai tujuan benar-benar baik (posisi realis) atau benar-benar subjektif (posisi nominalis).= Realitas Socal adalah melihat sebuah konstruksi intersubjektif yang dibuat, melalui interaksi komunikatif - atau disebut posisi konstruksionis social.(Teori Komunikasi, Edisi 9, Stephen W.Littlejohn,Karen A.Foss, 2009:25-26). Contohnya:ahli-ahli teori ini enggan mencari hukum universal karena mereka beranggapan bahwa perilaku ondividu tidak sepenuhnya diatur oleh kejadian-kejadiansebelumnya.malahan, mereka beranggapan bahwa orang-orang berperilaku berbeda dalam situasi yang berbeda karena perubahan aturan dan tujuan.(Littlejohn, hal:37)
       Kajian epistemologi difokuskan pada agaimana cara ilmu pengetahuan diperoleh kebenarannya atau bagaimana cara mendapat pengetahuan yang benar. Contohnya: dalam epistemologi teori-teori praktis cenderung menggap bahwa manusia mengambil sebuah peranaktif dalam menciptakan pengetahuan. (Teori Komunikasi, Edisi 9, Stephen W.Littlejohn,Karen A.Foss, 2009:36).
Sedangkan kajian yang terakhir adalah aksiologi adalah difokuskan pada nilai-nilai dalam hubungannya dengan proses penemuan kebenaran ilmu, disebutkan juga contohnya, jika Anda mewancarai sepasang suami istri tentang hubungan mereka, maka wawancara itu sendiri akan mempengaruhi beberapa aspek hubungan tersebut. Hal ini merupakan sebuah peranan yang harus dipahami dan dipertimbangkan dengan aktif oleh para panelis, setidaknya mempertimbangkan masalah-masalah etis yang dihasilkan oleh penelitian mereka. .(Teori Komunikasi, Edisi 9, Stephen W.Littlejohn,Karen A.Foss, 2009:27-28).

b.   Penjelasan mengenai teori, fungsi teori dan kedudukannya dalam pengembangan ilmu komunikasi dan contohnya dapat dijelaskan sebagai berikut: 1).Teori adalah himpunan konstruk (konsep), definisi, dan proposisi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dengan menjabarkan relasi di antara variabel, untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut. (Kerlinger, 1973:9,) dan 2) Dalam buku Teori Komunikasi, Edisi 9, Stephen W.Littlejohn,Karen A.Foss, 2009:21-23, menyebutkan: Penggunaan istilah berawal dari teori Farmer Jones tentang ketika ia mulai menjawab teori relativitas Enstein. Bahkan ilmuwan, penulis dan filsuf menggunakan istilah dengan cara-cara yang berbeda. Teori dalam pengertian yang paling luas, seperti konsep, penjelasan dan ilmu-ilmu beberapa aspek pengalaman manusia. Dalam hal ini dapat disimpulkan sebagai berikut :  
1.                  Teori terdiri dari sekumpulan prinsip dan definisi yang secara konsep mengorganisasikan aspek yang empiris secara sistematis.
2.                  Teori adalah merupakan abstraksi. Mereka selalu mengurangi pengalaman menjadi sebuah bentuk katagori-katagori dan hasilnya selalu meninggalkan sesuatu.
3.                  Teori terdiri dari asumsi-asumsi filosofis seperti epistemologi, ontologi dan aksiogi yang mendasarinya dan saling berkaitan.
      Fungsi Teori dan kedudukannya dalam pengembangan ilmu komunikasi yaitu ada 9 Fungsi teori menurut (Littlejohn, 1999 :31) disebutkan : 1). Mengorganisasikan dan menyimpulkan (Orgonize and summarize) pengetahuan tentang sesuatu hal, 2). Memfokuskan (Focusing) menjelaskan tentang sesuatu hal, bukan banyak hal, 3). Menjelaskan ( Clarify) untuk menjelaskan pola-pola hubungan dan menginterpretasikan peristiwa-peristiwa tertentu, 4). Pengamatan (Observational) sebagai petunjuk, konsep-konsep operasional yang akan dijadikan patokan ketika mengamati hal-hal rinci, 5). Membuat Prediksi ( to Predic) membuat kajian terapan dalam bidang komunikasi sangat penting seperti persuasi dan perubahan sikap, komunikasi dalam organisasi, dinamika kelompok kecil, periklanan, public relation dan media massa, 6).Heuristik atan heurisme (heuristic function) artinya harus mampu merangsang penelitian selanjutnya, 7).Komunikasi (Communicative function) tidak harus menjadi monopoli penciptanya, dipublikasikan, didiskusikan dan terbuka terhadap kritik-kritikan, yang memungkinkan untuk penyempurnaan., 8).Sebagai kontrol (Control) dapat berkembang menjadi nilai-nilai atau norma-norma yang dipegang dalam kehidupan sehari-hari.dan 9).Generative function yaitu fungsi ini terutama menonjol dikalangan aliran interpretatif dan kritis sebagai sarana perubahan sosial dan kultur serta untuk menciptakan pola dan cara kehidupan baru.
    Sebagai Contoh, anggaplah Anda berpikir bahwa orang-orang melakukn hal-hal yang menurut mereka menyenangkan, menyarankan hipotesis berikut: orang-orang  lebih suka melakukan hal yang menurut mereka menyenangkan daripada hal yang menurut mereka tidak menyenangkan. Ketika Anda sudah pasti dapat menemukan contoh-contoh dari orang yang melakukan sesuatu karena mereka menyukainya, Anda juga dapat menemukan contoh-contoh dari orang-orang yang melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai, bahkan orang melakukan sesuatu dengan caranya yang berbeda karena menurut mereka hukuman itu sendiri menyenangkan. Pada hakekatnya, hampir semua hal dapat diberikan kepada seseorang, sehingga tidak ada tindakan yang harus ditinggalkan. Oleh karena itu, hipotesis ini  dibuat buruk karena Anda tidak pernah dapat menyangkalnya hipotesis ini tidak dapat ditolak. (Dalam buku Teori Komunikasi, Edisi 9, Stephen W.Littlejohn,Karen A.Foss, 2009 : 31)

Pada pembahasan berikutnya yang keempat masalah genre dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Ada 5 genre teori berkaitan dengan fokus teori dan berkorelasi dengan epistemologi dan ontologi  yang disebabkan bagaimana teoritisi memandang pengetahuan, pengaruhnya terhadap perspektif teori.dalam ilmu komunikasi dan contoh masing-masing dapat disebutkan sebagai berikut : 1. teori struktural fungsional; 2. teori kognitif dan behavioral; 3. teori interaksional; 4. teori interpretif dan 5. teori kritis. (Littlejohn, 1994 : 13) dan sebagai contohnya adalah sebagai basis pemikiran pada teori yang pertama adalah perspektif sosiologi struktural-fungsionalisme dari Emile Durkheim dan Talcott Parson. Perspektif ini adalah berdasarkan pada perspektif dalam falsafah determinisme. Pada teori kedua, maka basis pemikirannya adalah merupakan bertolak pada perspektif psikologis, yakni Stimulus (S) dan Respon (R). Manusia mendapatkan pengetahuannya dengan cara merespon rangsangan-rangsangan yang ada di alam ini. Pada  genre ketiga, maka basis pemikiranmya adalah bahwa kehidupan sosial dipandang sebagai sebuah proses interaksi, tokohnya antara lain Herbert Mead. Kemudian genre keempat, basisnya yaitu pada upaya menemukan makna pada teks, misalnya seperti teks pada iklan cita-cita anak dalam iklan seperti dicontohkan Griffin, sebagaimana disinggung sebelumnya. Yang tergabung dalam kelompok ini adalah para ilmuwan yang menamakan diri dengan henneneuticists, poststructuralis, deconstructivis, phenomenologis, peneliti studi budaya, dan ada yang menyebutnya dengan ahli teori aksi sosial. Kemudian contoh yang terakhir yaitu teori kritis, basis teorinya adalah kritik idealisme Karl Marx, dengan tokoh awalnya Max Horkheimer, Theodor W. Adorno, Erich Fromm dan Herbert Macuse.
b. Implikasi teori dan masing-masing genre ilmu komunikasi adalah Meskipun teori komunikasi itu terbagi menjadi lima genre, namun ini bukan berarti masing-masing genre tidak memiliki persamaan sama sekali. Persamaan yang kasat mata, paling tidak itu dimungkinkan terjadi menurut motif yang melatar belakangi para ilmuwannya dalam memunculkan salah satu sudut pandang (angel) terhadap upaya menelaah fenomena komunikasi. Persamaan dimaksud, dapat dikatakan sebagai sebuah persamaan umum yang ada pada masing-masing genre teori komunikasi, yakni upaya untuk menemukan kebenaran yang sedalam-dalamnya tentang fenomena (Erscheinungen) komunikasi sebagai obyek forma dari ilmu komunikasi.
Selain persamaan umum, juga terdapat persamaan yang khas pada kelima genre itu. Persamaan dimaksud, misalnya antara genre struktural and functional theories dengan genre cognitif and behavioral theories, keduanya dipersamakan oleh landasan falsafah ilmu yang dianut, yakni determinisme – positivisme yang dipelopori A. Comte (1798-1857) (Poedjawijatna, 1983 :94). Dengan demikian, komunikasi antara lain dianggap sebagai proses yang linier, dari komunikator ke komunikan. Jadi, persis seperti apa yang dimaksudkan Mc Quail dalam model transmisinya.
Namun demikian, khusus terhadap genre pertama sebelumnya (struktural and functional), genre itu lahir dari akar pemahaman yang berbeda, di mana struktural berbasis pada pandagan sosiologi, sementara functional basisnya pada biologi, terutama terhadap konsep sistem anatomi tubuh manusianya, yang kemudian dinilai tidak berbeda halnya dengan sosial. Persamaan lainnya adalah, bahwa kedua genre teori komunikasi dimaksud, juga berada dalam posisi yang sama dalam melihat posisi value dalam ilmu, yakni sama-sama meyakini bahwa nilai tidak boleh terlibat dalam proses keilmuan demi tidak lahirnya bad science. Diketahui pula, hipotesis yang dirumuskan dengan proses berfikir ilmiah deduktif, dinilai sangat berperan dalam kedua genre ketika ilmu komunikasi berupaya menemukan kebenarannya.
Berbeda dengan dua genre teori komunikasi sebagaimana dibahas barusan, maka pada tiga genre lainnya, yaitu interactionist symbolic theories; interpretive theories dan crical theories, masalah value dinilai syah dalam proses ilmiah. Ini berhubungan dengan pemahaman bahwa manusia itu sebagai makhluk yang memiliki kehendak bebas. Seiring dengan itu, komunikasipun dirumuskan bukan sebagai sebuah proses yang linier, melainkan sirkuler, dengan mana manusia-manusia yang terlibat di dalamnya tidak dibedakan dalam hal status seperti halnya dalam genre teori yang berperspektif positivis dengan isitilah komunikator dan komunikan. Dalam tiga genre ini, individu yang terlibat disebut dengan partisipan komunikasi, atau ada yang dengan istilah komunikan sebagai ekuivalen dengan partisipan. Dengan demikian, maka komunikasipun antara lain didefinisikan sebagai sebuah proses pertukaran makna.
Ragam perspektif yang ada di dalam melihat teori komunikasi di atas kiranya mengindikasikan kalau upaya menemukan tori komunikasi yang sifatnya mengandung makna seumum-umumnya (meta theory) itu begitu sulit. Dalam kaitan ini Littlejohn berpendapat bahwa memang ini menjadi salah satu kelemahan ilmu, termasuk ilmu komunikasi. Kelemahan ini dimungkinkan karena daya tangkap indra manusia terbatas, dan karenanya ilmu hanya bisa mengobservasi fenomena-fenomena indrawi yang bersifat fragmentaris. Kalaupun ada ilmuwan yang berupaya mencoba mempelajari secara non fragmentaris, sebagaimana halnya dilakukan oleh disiplin ilmu filsafat dengan cara berfikir kritis, ekstrim dan universal, maka upaya ini sudah ke luar dari tradisi ilmu pengetahuan dalam menemukan kebenarannya yang nota bene bertolak dari data empirik. Jadi, upaya ilmu filsafat tadi, tetap saja tidak dapat menolong ilmu untuk dapat menelaah obyeknya secara non fragmentaris.
Kebenaran ilmu pun begitu, seperti halnya dengan ilmu komunikasi. Dalam kaitan kelemahan ilmu yang demikian, Littlejohn (2005, 17) berkomentar, “All theories are abstactions. They always reduce experience to a set of categories and as a result always leave something out. A theory focuses on certain things and ignores others. This truism is important because it reveals the basic inadequacy of any one theory. No single theory will ever reveal the whole “truth” or be able to totally address the subject of investigation. Theories are also created by people, not ordained by God. When scholars examine something in the world, they make choices- about how to categorize what they are observing, what to name the concepts upon which they have focused, how broad or narrow their focus will be, and so on. Thus, theories represent various ways observers see their environments more than they capture reality than a record of scholars’ conceptualizations about that reality. (2005, 17).

Pembahasan ke lima masalah empat paradigma dapat dijelaskan yaitu:
Empat paradigma yang dikenal dalam ilmu komunikasi yaitu positivist, postpositivist, Teori Kritis dan Konstruksivisme. Dapat dijelaksan keempat perspektif secara komprehensif dan  contoh masing-masing adalah sebagai berikut :
Positivistme (Denis C.Phillips) Filsafat pengetahuan yang berkembang saat ini banyak dipengaruhi pemikiran dan pandangan John Dewey. Sementara itu, pemikiran ilmiah bukan merupakan proses pemikiran yang terjadi umumnya dilakukan oleh para ahli yang dilakukan secara sadar dan lebih terkontrol. Kerenanya pemikiran yang dihasilkan tidak terlepas dari kritik, dan bahkan penolakan terhadap paradigma ilmu yang telah diakui kebenarannya dalam jangka waktu lama.(Teori & Paradigma Penelitian Sosial, Edisi Kedua, Agus Salim, 2006:82).
Dari segi aspek-aspeknya dapat jelaskan sebagai berikut :
Positivist : Aspek Ontologisnya adalah realisme kritis artinya, ada realitas yang nyata yang diatur kaidah universal, dan kebenaran relaitas hanya dapat dicapai berdasarkan probabilitas. Aspek Epistimologinya adalah Dualis/obyektivis artinya realis berada di luar peneliti, periset harus sejauh mungkin membuat jarak dengan obyek studi. Aspek Metodelogisnya adalah bagaimana seharusnya periset memperoleh informasi tentang obyek studi?  Aspek Aksiologisnya adalah bagaimanakah kepentingan ilmu pengetahuan terhadap masyarakat.
Postpositivist : Aspek Ontologisnya adalah realitas memang ada namun tidak dapat sepenuhnya diperoleh, realitas dikontrol hukum alam dan hanya dapat dipahami sebagian. Aspek Epistimologinya adalah Obyek yang dimodifikasi, interaktif, dan netral, hanya dapat diperkirakan dan bergantung pada kritik. Aspek Metodelogisnya adalah : bagaimana seharusnya periset memperoleh informasi tentang obyek studi? Aspek Aksiologisnya adalah bagaimanakah kepentingan ilmu pengetahuan terhadap masyarakat
Teori Kritis : Aspek Ontologisnya adalah realisme historis yaitu, realitas yang teramati virtual (virtual reality) adalah semu, terbentuk oleh proses sejarah dan kekuatan sosial, budaya dan ekonomi politik. Aspek Epistimologinya adalah transaksionalis/ subjekti-vis; hubungan periset dan obyek studi dijembatani nilai tertentu, pemahaman tentang realitas merupakan temuan yang dijembatani nilai tertentu. Aspek Metodelogisnya adalah : bagaimana seharusnya periset memperoleh informasi tentang obyek studi? Aspek Aksiologisnya adalah bagaimanakah kepentingan ilmu pengetahuan terhadap masyarakat
Konstruksivisme : Aspek Ontologisnya adalah relativisme artinya, realitas adalah konstruksi sosial dan kebenaran realitas bersifat relatif, berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh aktor sosial. .Aspek Epistimologinya adalah transaksionalis/ subjekti-vis; pemahaman tentang realitas, atau temuan penelitian adalah hasil interaksi periset dengan obyek studinya. Aspek Metodelogisnya adalah bagaimana seharusnya periset memperoleh informasi tentang obyek studi? Aspek Aksiologisnya  adalah bagaimanakah kepentingan ilmu pengetahuan terhadap masyarakat.
Sebagai contoh, ketika pengajar anda memberitahukan ujian yang akan datang, ada banyak pesan hubungan yang mungkin dihasilkan pada saat yang bersamaan. Ia dapat saja mengatakan ”Saya yang berwenang di kelas ini”; ”Saya mengajar, kalian belajar apa-yang telah saya ajarkan ini penting”; atau ”Saya menginginkan hasil dalam kemajuan kalian”;”Saya harus menilai kalian”; atau ”Saya ingin kalian berpikir bahwa saya telah menunaikan tugas saya sebagai pengajar”. Tentu saja respons dari siswa juga mencakup sebuah dimensi hubungan yang mungkin menyatakan kepatuhan, atau pesan-pesan lain. Dalam mengkomunikasikan ujian dan topik-topik lainnya, pengajar dan siswa terus mengartikan dan mengartikan kembali sifat dari hubungan mereka. (Dalam buku Teori Komunikasi, Edisi 9, Stephen W.Littlejohn,Karen A.Foss, 2009 : 285)

Referensi/bahan bacaan :
Hafied Cangara , 2009, Pengantar Teori Komunikasi, Ed,1-10, Rajawali Jakarta; Pers
McQuail, 1987, Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, Jakarta: Erlangga
Little John, S.W. 1995. Theories of Human Communication (nine edition).  Wadsworth publishing Company, Belmont California
Werner J. Severin & James W. Tankard, 2001, Communication Theories: Origins, Methods, & Uses in the Mass Media, ed. 5th, penerj. Sugeng Hariyanto, Addison Wesley Longman Inc.
Wayne Parsons, 2008, Public Policy : Pengantar Teori dan Praktik Analisis Kebijakan, Jakarta, Kencana


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar