Senin, 16 Mei 2011

KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

PEMBINAAN MORAL DAN ETIKA
DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA BERNEGARA
(Semangat salah satu sloka dalam kekawin Ramayana)

Oleh : IB.SADUARSA

BAB I.
PENDAHULUAN
Om suastiastu
A. Latar Belakang     
     Dalam rangka melaksanakan tugas mata kuliah Niti Sastra untuk pembuatan paper, yang isinya mengurai makna arti sloka yang dikutip dari Kekawin Ramayana, dikaitkan dengan “Pembinaan moral dan etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara khususnya bagi seluruh bangsa Indonesia dalam wawasan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945”. Sloka Kekawin Ramyana tersebut adalah sebagai berikut :
Sangkaning wruh aji ginego
Nitijnacara kapuhara
Pandyacarya dwija payun
Gongentatah ikang asih
Kekawin Ramayana. III.63
Artinya :
Asal kepandaian itu ialah karena pengetahuan dipatuhi
Kebijaksanaan membawa sikap prilaku
Para sarjana, para guru dan para pendeta supaya dihormati
Besarkan olehmu kasih sayang itu

    Maka sejalan dengan perjuangan bangsa kita untuk mengisi Kemerdekaan Bangsa dan Negara Indonesia melalui Pembangunan Nasional yang meliputi segala aspek guna menuju masyarakat Indonesia yang adil dan makmur, merata material dan sepiritual berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, maka pembangunan itu berhasil apabila ada keseimbangan antara kebutuhan material dan sepiritual masyarakat. Karena itu perlu dikembangkan upaya-upaya kita untuk mencari dan mengali nilai-nilai spiritual tersebut.  Dari arti sloka ini,  maka dapat pula dihubungkan dengan pandangan terhadap tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdapat pada pembukaan UUD 1945 alenia keempat. Karena pentingnya pembentukan perilaku yang berpengaruh terhadap  kehidupan berbangsa, juga merupakan cerminan moral dan etika  suatu bangsa. Agar dapat lebih jelas masalah pembinaan moral dan etika yang terkandung dalam makna sloka ini, perlu disampaikan hal-hal yang dapat memudahkan, seperti dengan menggunakan berbagai pengertian dan difinisi. Yang akan disampaikan pada paper ini, sloka ini mempunyai makna terhadap pembinaan moral dan etika untuk tujuan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

B. Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam  Ramayana

     Ramayana adalah  sebuah epos yang menceritakan riwayat Rama, Rama sebagai tokoh utama dalam epos itu merupakan awatara Wisnu dalam rangka menegakkan dharma. Cerita yang sangat menarik dengan gaya yang mempesona, penuh idealisme, nilai moral dan etika yang tinggi melukiskan keadaan alam, penggambaran social, budaya, politik, pemerintahan menyebabkan epos ini tetap hidup dalam masyarakat sampai saat ini. Bagi  Agama Hindu epos Ramayana juga merupakan Itihasa, dimana Itihasa dan Purana dapat pula disebut weda terapan. Kembali mengenai  Ramayana, yang terdiri dari 24.000 bait sloka, yang pada awalnya dibagi menjadi enam kandha, sedangkan kandha ke tujuh (utara kandha) ditambahkan kemudian menjadi kandha terakhir. Dari artinya Sloka tersebut untuk pembinaan moral dan etika terdapat pentingnya peranan pendidikan. Pendidikan sangat diperlukan, untuk mendapatkan pengetahuan yang baik dan benar, dari pengetahuan yang baik dan benar sehingga diharapkan dapat merubah perilaku kearah yang lebih baik dan benar pula, dengan berbekal pengetahuan dan disiplin, dalam menerapkan ilmu pengetahuan maka seharusnya bisa mempermudah pencapaian tujuan. Dengan disiplin dalam masing-masing ilmu, dan saling hormat-menghormati bagi individu, masyarakat, bangsa dan negara yang memang seharusnya layak mendapatkanya. Sikap ini dilaksanakan secara berkelanjutan atau terus menerus, sehingga akan berdampak kepada kemajuan dan martabat  bangsa ini, dimana tujuan bangsa  akan  dapat tercapai, sesuai dengan wujud dicita-cita bangsa ini.
    
C. Pembinaan Moral dan Etika Dalam Kehidupan Berbangsa

     Sloka ini juga memiliki makna yang sangat mendalam, dalam pembinaan moral dan etika kehidupan berbangsa karena terkandung perilaku yang dapat dilakukan baik sebagai individu bahkan sebagai pemimpin Bangsa, karena pemerintahan Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dimana sloka ini terdapat makna ketaat dan kedesiplin melaksanakan ilmu pengetahuan. Dalam bidang apapun dengan berdasarkan disiplin ilmunya yang baik dan benar niscaya hasilnyapun baik dan benar inilah yang seharusnya dijalankan oleh pemerintahan Indonesia, untuk menjalankan tatanan pemerintahan dan demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dimana Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Negara yang berdasarkan hukum, akan  dapat pula menegakan supermasi hukumnya dengan baik dan benar, membantu pengambilan keputusan bagi seorang pemimpin maupun yang dipimpinnya, sehingga dari keputusan yang dilakukan  tidak akan banyak meninbulkan permasalahan. karena berdasarkan pengetahuan yang tepat dan benar. Bagi para pemimpin yang bijaksana dan menjalankan peraturan, akan tercermin dalam tingkah lakunya dan dalam perbuatannya yang penuh tanggung jawab selalu tepat untuk mengambil keputusan. Sopan santun dan toleransi tidak diskriminasi dan mengerti yang baik dan benar, karena tahu yang harus dikerjakan. Selalu dengan sepenuh hati untuk menunaikan tugas-tugasnya karena dengan berdasarkan keiklasan dan kasih sayang.
          
     Adapun systematika penyusunan paper ini untuk lebih mempermudah, maka disusun menjadi  4 Bab yaitu terdiri sebagai berikut:

Bab I  PENDAHULUAN
            A. Latar belakang
B. Nilai-nilai terkandung dalam Ramayana
C. Pembinaan Moral dan Etika Dalam Kehidupan Berbangsa      

Bab II. LANDASAN, TIORI  DAN  DIFINISI
A.    Landasan Filosofis
B.     Difinisi Ilmu Pengetahuan dan Fisafat
C.     Konsep Hindu Tentang Ilmu Pengetahuan

Bab III. BELAJAR DAN PENDIDIKAN
            A. Pengertian Belajar
            B. Dasar Tujuan Pendidikan
C. Perubahan paradigma keilmuan

Bab IV KESIMPULAN
            A.Kesimpulan
            B. Kutipan Beberapa Sloka-sloka      
             Daftar Perpustakaan

BAB II
LANDASAN, TEORI DAN DIFINISI
A.  Landasan filosofis
      Sebagai landasan filosofis, terdapat pada Pembukaan UUD 1945 mengamanatkan bahwa salah satu cita-cita nasional Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Para pendiri Negara ini telah merumuskannya dengan tepat yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Bukan sekedar mencerdaskan bangsa perumusan yang demikian mengandung arti yang lebih luas, tidak hanya menyangkut kecerdasan intelektuil, tetapi juga menyangkut kecerdasan emosional dan sepiritual, yang diemplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Mencerdaskan kehidupan bangsa meliputi kehidupan dalam bidang pemerintahan, politik, ekonomi social budaya dan pertahanan keamanan, yang didasarkan oleh kekuatan idiologi nasional yakni Pancasila. Kekuatan idiologi nasional harus menjelma menjadi kekuatan masyarakat bangsa dan Negara.
   
      Dengan Landasan Historis, Negara Kesatuan Republik Indonesia dilandasi dengan semangat merdeka dan berdaulat para pendiri Negara, yang kemudian secara formil dirumuskan dalam pembukaan dan batang tubuh UUD 1945. Secara actual hal itu diwujudkan dalam sikap prilaku, dan tindakan warga Negara dalam upaya mewujudkan hak dan kewajiban warga dalam pembelaan Negara untuk menjamin kelangsungan dan pengembangan kehidupan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejak awal kemerdekaan sampai dengan era reformasi wujud hak dan kewajiban bela Negara itu dapat diperiodenisasikan.
    
      Landasan Sosiologis, secara sosiologis masyarakat multikultur memerlukan pengakuan dan penghargaan secara lintas budaya. Betapapun kecilnya suatu etnis, mereka tetap mengharapkan  pengakuan dan penghargaan sebagai entitas social dan sebagai warga bangsa. Dalam masyarakat multikultur perlu suasana kehidupan saling menghargai, memiliki kesetsraan baik didepan hokum maupun dalam pemerintahan. Perbedaan budaya, kebiasaan dan adat istiadat haruslah dipandang sebagai potensi kekuatan bangsa yang diikat menjadi kekuatan nyata persatuan bangsa dan hal ini secara simbolis telah dicantumkan dalam slogan Bhineka Tunggal Ika.
      Landasan Yurdis, Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Pendidikan nasional mempunyai visi terwujudnya sistim pendidikan sebagai pranata social yang kuat, berwibawa untuk memperdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkwalitas sehigga mampu dan proaktif menjawab tantangan jaman yang selalu berubah. Dengan visi tersebut pendidikan nasional memiliki misi yang antara lain mengandung upaya pengembangan kepribadian yang bermoral dalam kontek NKRI.
    
     Landasan Teori, pendidikan mempersiapkan pribadi warga Negara dan anggota masyarakat yang bertanggung jawab. Menanamkan dasar pembangunan berkelanjutan bagi kesejahteraan manusia dan keselarsan lingkungan hidup. Menyelenggarakan pendidikan yang berorientasi pada penguasaan, pengembangan dan penyebaran ilmu pengetahuan teknologi dan seni demi kepentingan kemanusiaan. Tidak hanya meneruskan nilai-nilai, mentransfer ilmu pengetahuan, teknologi dan seni tetapi juga melahirkan warga Negara yang berkesadaran tinggi tentang bangsa dan kemanusiaan. Mempersiapkan tenaga kerja masa depan yang produktif dalam konteks yang dinamis. Mengubah cara berfikir sikap hidup yang perilaku berkarya individu maupun kelompok masyarakat dalam rangka memprakarsai kearah kemajuan yang adil dan bebas.
    
     Wawasan nusantara adalah geopolitik bangsa Indonesia yang memandang ciri Negara kepulauan tanah air Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah dan satu kesatuan potensi nasional yang mencakup politik, ekonomi social budaya dan pertahanan keamanan. Konsep Wawasan Nusantara memberikan kesadaran arti keberagaman untuk kepentingan pencapaian cita-cita nasional, yang dijabarkan dalam makna keikaan.
    
     Teori Jaina tentang pengetahuan, kesadaran merupakan inti yang tak dapat dipisahkan dari roh: dan seperti pandangan kaum Carvaka, itu bukanlah sekedar sifat kebetulan yang hanya muncul dalam kondisi saja. Disamping itu kesadaran dipahami seperti sinar matahari, mampu mewujudkan dirinya sendiri dan segala sesuatu lainnya jika tidak beberapa rintangan mencegahnya dari pencapaian tujuannya (jnanam sva-para-bhasi). Setelah rintangan dak ada, sang roh akan menjadi maha tahu.

B. Difinisi Ilmu Pengetahuan dan Filsafat
    
     Ilmu Pengetahuan ialah suatu uraian yang lengkap dan tersusun tentang suatu obyek. Demikian Dr. Sutari Barnadib,  sedangkan Drs Amir Daien Indrakusuma mengartikan ilmu pengetahuan dengan menyatakan sebagai berikut : ilmu pengetahuan itu ialah uraian yang sistimatis dan metodis tentang suatu masalah.
    
     Ilmu pengetahuan, seperti yang didefinisikan oleh Tagore berarti tidak hanya pemecahan sesuatu yang ada sebagai sesuatu entitas tunggal dan menemukan komponen-komponennya, atau bagaimana membentuk suatu tatanan atau urutan dalam membentuk entitas ini.
    
     Pada sisi lain ilmu pengetahuan terdiri atas pembentukan kembali fragmen-fragmen yang terlepas dari suatu obyek atau ide atau sebuah fosse menjadi satu kesatuan yang menyeluruh dengan cara menemukan hubungan-hubungan dan urutannya. Dengan demikian, ilmu pengetahuan juga merupakan sebuah sintesis. (Dr.S.K.Chaterji dalam Tagore Centenary Volume, hal 120)
    
     Dalam buku Arthasastra Bab 2.12 disebutkan : Filsafat dipandang sebagai sinar segala ilmu,, sebagai alat semua (dan) sebagai penunjang semua hukum (dan kewajiban).
   
“…filsafat adalah tidak lebih dari suatu usaha untuk menjawab pertanyaan terakhir, tidak secara dangkal atau dogmatis seperti yang kita lakukan pada kehidupan sehari-hari atau bahkan dalam kebiasaan ilmu pengetahuan. Akan tetapi secara kritis, dalam arti: setelah segala sesuatunya diselidiki problem-problem apa yang dapat ditimbulkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang demikian itu dan setelah kita menjadi sadar dari segala kekaburan dan kebingungan, yang menjadi dasar bagi pengertian kita sehari-hari…”(Bertand Russel)

     “Filsafat adalah pencarian akan jawaban atas sejumlah pertanyaan yang sudah ada semenjak jaman yunani dalam hal-hal pokok yang tetap sama. Pertanyaan-pertanyaan mengenai apa yang dapat kita ketahui dan bagaimana kita dapat mengetahuinya; hal-hal apa yang ada dan bagaimana hubungannya satu sama lain. Selanjutnya mempermasalahkan pendapat-pendapat yang telah diterima, mencari ukuran-ukuran dan menguji nilainya, apakah asumsi-asumsi dari pikiran ini selanjutnya memeriksa hal-hal itu berlaku”.( Alfered Ayer)

     Ajaran Etika atau Tata Susila yakni tingkah laku yang baik dan benar untuk kebahagiaan hidup serta keharmonisan hubungan antar manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, antara sesame manusia, manusia dengan alam semesta, dan dengan ciptaan-Nya. Ajaran etika didalam Veda mencakup bidang yang sangat luas meliputi antara lain : Kebenaran, kasih tanpa kekerasan, kebajikan, ketekunan, kemurahan hati, keluhuran budi pakerti, membenci sifat buruk, pantang berjudi, menjalankan kebajiban, percaya diri, membina hubungan yang serasi, mementingkan persatuan, kewaspadaan, kesucian hati, kemashuran, kemajuan, pergaulan dengan orang-orang mulia, megembangkan sifat-sifat ramah dan manis, sejahtra, damai, bahagia, kegembiraan, moralitas, persahabata, wiweka, (kemampuan membedakan sifat baik dan buruk), ketidak kawatiran dan lain-lain.  
     
     Bagian terpenting dari filsafat jaina adalah etikanya. Metafisika atau etimologi dalam kenyataan sebagai pengetahuan sejenis bermanfaat sepanjang ia membantunya untuk bersikap benar. Tujuandan sikap yang benar itu adalah pembebasan (moksa), yang secara negative berarti pelepasan dari segala keterikatan sang roh dan secara positif merupakan pencapaian kesempurnaan.

C.    Konsep Hindu Tentang Ilmu Pengetahuan
    
     Secara tradisional ada enam ilmu pengetahuan yang diacu dalam teks-teks  bahasa sansekerta. Keenam ilmu pengetahuan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Shisha (pelajaran ,pendidikan, latihan)
2. Kalpa ( aturan dalam ritual dan kehidupan sehari-hari)
3.Vyakarana (tata bahasa)
4. Nirukta (etimologi,ilmu asal usul kata)
5. Chhanda (ritma,metrum,prosodi)
6. Jyotisa ( astronomi,astrologi)
   
     Teks-teks Kalpasutra selanjutnya dibagi menjadi Shulbasutra dan Bhumniti (geometri). Semuanya dihubungkan dengan praktik-praktik kurban Veda. Enam belas vidya (pengetahuan ketrampilan) enam puluh empat kala (seni) disebut sejak zaman dahulu.
   
      Menurut teks-teks Hindu, kehidupan manusia berdasarkan catur purusharta atau perolehan dan tujuan manusia, yaitu dharma (pandangan hidup, agama, hukum), artha (makna, kemakmuran), kama (cinta kasih, seks) Moksha (emansipasi, kebebasan, kemerdekaan)
    
     Manu, Shukracharya dan yang lainnya telah mengembangkan kaidah-kaidah etika: Chanakya dan yang lainnya mengembangkan ilmu pengetahuan untuk kemakmuran. Dalam Arthasahstra karya Chanakya terdapat empat Vidya atau perolehan yaitu : Trayi (tiga serangkai), Anvikshiki (analisis, persepsi, riset), Varta (dialog, berita, pembicaraan, cerita), dan Dandaniti (moralitas hokum, restribusi).
   
     Pandangan hindu kuno adalah pandangan hidup total. Oleh karena itu, pandangan hidup tersebut mencakup, baik ilmu pengetahuan maupun tindakan/kerja sebagai bagian dari aktivitas yang sama.peradaban yunani antara ilmu pengetahuan (science) sebagai “mengetahui” (knowing) tidak mendominasi dalam pikiran orang-orang India kuno. Seperti dikatakan oleh Gita “Yoga merupakan ketrampilan dalam karma (tindakan/ action).”. Kehidupan merupakan sebuah yoga yang terus menerus atau mengendalikan diri dan meditasi. Ini berdasarkan pandangan hindu yang bersifat kosmosentris. Setiap mikrokosmos merupakan sebuah refleksi dalam makrokosmos sehingga ketika dua orang India bertemu mereka menyapa satu sama lain membungkukkan badan mencakupkan tangan didada / ungkapan salam. Yang berarti bahwa setiap orang menghormati ketuhanan yang bersemayam dalam setiap mahluk hidup. Hal ini diperluas keseluruh mahluk hidup dan pencariannya untuk menemukan ketuhannya tersebut dalam setiap benda memasuki latry dendrolatry dan idolatry? Ada pura-pura yang berisi ular di Kerala dan dalam Pura Devi di Rajasthan berisi tikus yang sangat banyak jumlahnya. Sapi merupakan obyek pemujaan yang umum,  karena ia menyimbolkan bumi. Demikian pula halnya dengan pohon-pohon suci seperti peepl (Gita mengatakan bahwa diantara pohon Tuhan adalah Ashvatta) dan pohon Bilva (bagi penganut paham Siva) dan Tulsi (bagi penganut vaishnava) semua dari kelima elemen menjadi suci. Dengan demikian, setiap sengai adalah Devi. Langit biru adalah Vishnu; dan api yang suci secara terus menerus dipuja oleh para Brahmana Veda yang disebut Agnihotratris.

     Alat analisis diperlukan bagi ilmu pengetahuan yang dibawa kemasa India kuno untuk beberapa hal oleh ahli logika Buddha dan Jaina atau para pengamat paham materialis lokayata. Secara menyeluruh enan sistim Hindu walaupun beberapa diantaranya bersifat agnostic berakhir ke dalam badan/lembaga kepercayaan yang teistik yang berdasarkan keyakinan-keyakinan yang bersifat apriori sehingga seorang Descartes atau seorang al-Ghazali tidak mungkin. Shankara, pendiri system filsafat wedanta yang bersifat nondualistis pada satu kesempatan menghina para skeptis dan orang-orang masih ragu-garu ;”tidak ada tempat bagi logika disini” Seseorang yang bertanya akan dideskreditkan, (tarkapratishthanat). Dalam atmosfer masa pertengahan ketika hinduisme dikonfrontasikan dengan islam yang monistik dan kemudian dengan Kristen, kependetaan mendekat kepada sanatana (abadi, tak berubah walaupun yaksa menafsirkannya sebagai selalu baru – nitya mutanah ) untuk keamanan yang lebih besar bagi penyair-pendeta dan penganut paham konformis menyebarluaskan humanisme melalui bhakti. Awalnya kata bhakti berasal dari kata Bhaj yang berarti menyucikan (to devine). Terbesar pertama dibagi antara jalan ilmu pengetahuan (jauna yoga) dan jalan keyakinan ( bhakti yoga) dimulai pada masa-masa pertengahan (medieval) ketika bahasa-bahasa India lepas dari bahasa sansekerta. Akan tetapi, orang-orang India tidak pernah merasa menderita dari dikotomi “dua budaya” seperti Barat; Aristoteles A dan non A dan ketertutupan antara putih dan hitam, Negara-negara maju dan berkembang, serta perang dingin antara paham kanan dan paham kiri. 

     Dengan demikian, pada akhir abad ini dan seterusnya India modern melihat sejumlah penganut paham mistik dan idealis, seperti Sri Ramakrishna, Swami Vivekananda dan Sri Aurobino di Banggala: Mahatma Gandhi dan Swami Dayanada di Gujarat: Ramana Maharshi dan J Krishnamurty di selatan: dan daftar ini masih bisa diperpanjang. Akan tetapi ilmuwan dunia yang terkenal sedikit jumlahnya dan diakhiri jauh C.V.Raman, Ramanuja J.C. Bose P.C.Meghnada Saha, dan khurana yang sudah tidak lagi sebagai warga Negara India.   

BAB III
BELAJAR DAN  PENDIDIKAN
      
A.  Pengertian Belajar

Cronbach (1954) berpendapat : Learning is shown by a change in behaviour as result of experience ; belajar dapat dilakukan secara baik dengan jalan mengalami.

Spears : Learning is to observe, to read, to imited, to try something themselves, to listen, to follow direction, dimana pengalaman itu dapat diperoleh dengan menggunakan panca indera.

Robert M. Gagne dalam bukunya : The Conditioning of learning mengemukakan bahwa : Learning is a change in human disposition or capacity, wich is not simply ascribable to process of growth. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja. Gagne berkeyakinan, bahwa belajar dipengaruhi oleh faktor dari luar diri dan faktor dalam diri dan keduanya saling berinteraksi. Dalam teori psikologi konsep belajar Gagne ini dinamakan perpaduan antara aliran behaviourisme dan aliran instrumentalisme.

Lester D. Crow and Alice Crow  mendefinisikan : Learning is the acuquisition of habits, knowledge and attitudes. Belajar adalah upaya untuk memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap-sikap.

Hudgins Cs (1982) berpendapat hakekat belajar secara tradisional belajar dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan dalam tingkah laku, yang mengakibatkan adanya pengalaman.

Jung (1968) mendefinisikan bahwa belajar adalah suatu proses dimana tingkah laku dari suatu organisme dimodifikasi oleh pengalaman.

Ngalim Purwanto (1992 : 84) mengemukakan belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku, yang terjadi sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman.


B. Dasar Tujuan Pendidikan

Dengan acuan pasal 33 UUD 1945. ayat 1, tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pengajaran. Dan ayat 2, Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pengajaran nasional, yang diatur dengan undang undang.
 
   Masalah dasar tujuan pendidikan adalah merupakan suatu masalah yang sangat pundamentil dalam pelaksanaan pendidikan. Sebab dasar pendidikan itu akan menentukan corak dan isi pendidikan. Dan dari tujuan pendidikan akan menentukan kearah mana anak didik dibawa. Faktor pendidikan adalah hal yang memungkinkan terlaksananya pekerjaan mendidik, atau dapat dikatakan bahwa faktor pendidikan dapat memuat kondisi-kondisi yang memungkinkan pendidikan terlaksananya faktor pekerjaan mendidik.
    
     Masalah pendidikan adalah merupakan masalah yang sangat penting dalam kehidupan. Bukan saja masalah penting, bahkan masalah pendidikan itu sama sekali tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Baik dalam kehidupan keluarga, maupun dalam kehidupan bangsa dan Negara. Maju mundurnya suatu bangsa sebagian besar ditentukan oleh maju mundurnya pendidikan Negara itu.
   
     Mengingat pentingnya pendidikan bagi kehidupan bangsa dan Negara, maka hampir seluruh Negara di dunia ini menangani secara langsung masalah-masalah yang berhubungan dengan pendidikan. Masing-masing Negara itu menentukan sendiri dasar dan tujuan pendidikan dinegaranya. Masing-masing bangsa mempunyai pandangan hidup sendiri-sendiri, yang berbeda satu sama lainnya.
   
      Pada umumnya tiap-tiap Negara mendapat tentang  pokok-pokok tujuan pendikan, yaitu : mengusahakan supaya tiap-tiap orang sempurna, sempurna pertumbuhan  tubuhnya, sehat otaknya, baik budi pekertinya dan sebagainya sehingga ia dapat mencapai puncak kesempurnaannya dan bahagia hidupnya lahir batin.  

C. Perubahan paradigma keilmuan
    
     Perubahan paradidma memberikan pemahaman bahwa ilmu (baca : sains) bersifat revolusioner. Pada awalnya “ilmu normal… sering menindas kebaruan-kebaruan fundamental karena mereka pasti bersifat subversif terhadap komitmen-komitmen dasarnya. Namun ketika profesi tak bisa lagi mengelak dari anomaly-anomali yang merongrong tradisi praktik ilmiah yang sudah ada. Maka dimulailah investigasi yang berada diluar kelaziman. Suatu titik tercapai ketika krisis hanya bisa dipecahkan dengan revolusi di mana paradigma lama memberikan jalan bagi perumusan paradigma baru. Demikian ‘ilmu revolusioner’ mengambil alih (Kuht,1993:109;Sadar,2002:24)
   
      Paradigma ilmiah lama dapat disebut paradigma Catesian, Newtonian atau Baconian, karena ciri-ciri khasnya yang utama adalah hasil rumusan dari Descartes,  Nowtonian dan bacon. Sedangkan paradigma baru dapat disebut paradigma holistic, ekologis, atau sistimatik, meski tak satupun dari sifat-sifat ini dapat mencirikannya secara lengkap. Pemikiran paradigma baru meliputi (1) pergeseran dari bagian menuju keseluruhan.(2) pergeseran dari struktur kepada proses, (3) pergeseran dari ilmu pengetahuan obyektif menjadi “ilmu pengetahuan epistemic, (4) pergeseran metaforan pengetahuan dari bangun menjadi jaringan. (5) pergeseran dari kebenaran menjasi deskripsi interpretative (Capra,1999;viii-xvi)
    
     Radhakrsna (2000;24) mengatakan bahwa motif, tujuan dan ambisi dari semua pengetahuan adalah wawasankedalam realitas sarvo castro prayojanam atma darsanam. Ini pernah menjadi tujuan setiap ilmiah, apakah itu yang termasuk ilmu pengetahuan alam atau kajian-kajian humoniora. Prestasi spektakuler ilmu pengetahuan sangat mengesankan dan mereka mendapatkan kekuasaan yang begitu besar dalam pengendaliannya sehingga mereka dapat menghancurkan dunia. Jika ada orang merenungkan hasil pengembangan nuklir maka mereka merasa; meningkatkan kekuasaan dunia, membiarkan tubuhnya dikendalikan oleh radio, televisi dan mesin-mesin yang lain, sedangkan jiwanya tampak tetap tidak berubah, hal ini tidak tumbuh secara serasi.
     
     Pemikiran Timur sering sekali dianggap sebagai pemikiran yang tidak rasional, tidak sistimatis,dan tidak kritis. Ini yang menyebabkan pemikiran timur dianggap bukan filsafat. Sifat-sifat pengetahuan yang secara konvensional dipandang harus ada dalam filsafat seringkali dinilai tidak terkandung dalam pemikiran timur. Pemikiran-pemikiran tersebut seringkali dianggap agama ketimbang filsafat (Takwin,2001:1) Namun ketika pemikiran-pemikiran timur mulai menarik minat sejumlah besar orang, dan meditasi tidak lagi dipandang dengan comoohan dan kecurigaan, mistisme kini diperhitungkan secara serius bahkan dikalangan masyarakat ilmiah. Semakin banyak ilmuwan yang sadar bahwa konsep-konsep mistik memberikan suatu latar belakang filosofis yang relevan dan konsisten dengan teori-teori ilmu kontemporer, suatu konsepsi dunia dimana penemuan-penemuan ilmiah menunjukkan bahwa manusia bisa hidup dalam suatu harmoni yang sempurna dengan tujuan-tujuan spiritual dan keyakinan-keyakinan agama mereka (king,2001:266)

       Perubahan paradigma yang sekarang sedang terjadi pada kenyataannya akan meliputi perubahan nilai-nilai yang mendalam, sebuah perubahan hati nurani secara menyeluruh dari sesuatu yang bersifat dominasi kearah relasi tanpa kekerasan. Semua ini bercirikan tradisi spiritual, bahkan Klostermeier mengatakan sejumlah ahli fisika dan ahli biologi menemukan kesejajaran antara ilmu pengetahuan modern dan gagasan dalam agama hindu. Terus meningkatknya jumlah ahli ilmu pengetahuan yang berlatar belakang akan secara sadar atau tidak sadar, menggabungkan gagasan ilmiah dan gagasan religius mereka. Sebagai bakti agama hindu tidak hanya mampu melahirkan teolog mistis, adalah munculnya dua ilmuwan India sekitar abad ke 18-19 yaitu Sir Jagadis Chunder Bose yang ahli Fisihologi tanaman dan Fisika dan Satyendranath Bose seorang ahli statistic kuantum yang bersama dengan Albert Enstin telah membuat suatu deskripsi statistic kuantum. Temuan dari Sir Jagadis Chunder Bose sejajar dengan apa yang ditemukan oleh filsafat wedanta yang bersumberkan pada pustaka suci weda, yaitu bahwa tumbuh-tumbuhan memiliki persamaan, dan temuannya menyebabkan beliau menjadi ternama (Bagus,1999:3)

D. Prinsip logika ilmu pengetahuan    
    
     Menurut Archie.J.Bahm (1980:1 : Bandingkan : Anshari 2002:60-40) sifat alami dari ilmu pengetahuan (baca: sains) secara komprehensif paling tidak harus memahami enam kompenen ilmu pengetahuan yaitu :
  1. Masalah (problem) sains sesungguhnya berawal dari masalah dan berakhir dengan masalah. Oleh karena, jika tidak ada masalah, maka tidak akan ada pemecahan masalah, masalah itu harus ilmiah dengan tiga ciri, yaitu:
    1. Dapat dikomunikasikan sebagai simpulan ilmiah
    2. Dapat ditangani dengan sifat ilmiah
    3. Secara epistimologi dapat dipertanggung jawabkan.

  1. Sikap (attitude) Untuk memahami sikap ilmiah sebagai ilmu pengetahuan setidaknya ada enam karakteristik utama dari sikap ilmiah yaitu:
    1. Rasa ingin tahu
    2. Kespekulatifan
    3. Kemauan untuk selalu Obyektif
    4. Keterbukaan pikiran
    5. Kesediaan untuk menunda penelitian
    6. Kesementaraan

3.  Metode  (method) disini diperlukan ketaatan azasan terhadap proses kerja lima tahapan metode ilmiah yaitu :
                  a.  Kesadaran terhadap masalah
                  b.  Memeriksa permasalahan
                  c.  Mengajukan solusi
                  d.  Menguji proposal pengujian mental dan operasional
                  e.  Memecahkan masalah
     
  1. Kegiatan (activity) kegiatan yang dilakukan oleh para ilmuwan disebut dengan penelitian ilmiah, yang memiliki dua aspek yaitu :
    1. Individual
    2. Sosial

  1. Kesimpulan (conclusion) adalah pemahaman yang diperoleh sebagai hasil memecahkan masalah, adalah tujuan pengetahuan, akhir yang membenarkan sikap, metode, dan kegiatan sebagai sarana: buah kerja dan investasi. Namun demikian simpulan akhir yang diperoleh tetap mengandung sifat tentative.

  1. Akibat (effects) seiring dengan perkembangan sains yang demikian cepat, namun dibalik perkembangannya itu dapat menimbulkan dua akibat yaitu:
    1. Akibat sain terhadap teknologi dan industri
    2. Akibat sosial




BAB IV
KESIMPULAN

 A. Kesimpulan
     Kesimpulan dari paper ini adalah menguraikan makna sloka dari kekawin Ramayana untuk pembinaan moral dan etika bagi Negara Kesatuan republic Indonesia untuk tujuannya adalah memberikan gambaran berapa pentingnya peranan pendidikan dan pengetahuan untuk dapat merubah prilaku individu, masyarakat, Negara dan Bangsa ini.
    
     Tujuan bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, yang terdapat dalam pembukaan UUD 1945 pada alenia keempat diantaranya mencerdaskan kehidupan bangsa, dilihat dari arti sloka yang menyebut: asal kepandaian itu ialah kareana pengetahuan dipatuhi, mematuhi ilmu pengetahuan dapat pula diartikan kedesiplinan untuk menerapkan ilmu pengetahuan dengan jalan memajukan pendidikan. Apabila pendidikan yang maju dan baik serta dapat dipertanggungjawabkan secara moral berdasarkan kaedah-kaedah atau norma-norma yang berlaku,  dengan desiplin tinggi untuk mematuhinya maka Indonesiapun akan bisa maju, Untuk melaksanakan ketertiban dinia, untuk ini dikaikan dengan makna dari arti selanjutnya yaitu kebijaksanaan membawa prilaku. Kalau faktor pendidikan sudah mencukupi, jelas prilaku pergaulan memberi pengaruh pribadi, dan arti sloka selanjutnya: memberi penghormatan kepada orang yang tepat, inipun merupakan cerminan Negara Indonesia yang mana pandangan hidup bangsa Indonesia digali dari cita-cita luhur bangsa ini. Sedangkan untuk arti yang terakhir dari sloka ini, besarkan olehmu kasih sayang itu mengandung makna untuk melestarikan atau perilaku secara konsisten

“Asal kepandaian itu ialah karena pengetahuan dipatuhi”. Beginilah arti sloka pada kalimat pertamanya,  untuk mendapatkan atau memperoleh Pengetahuan, sangat tergantung pula pada belajar dan pendidikan : jadi belajar yang benar dan menekuni bidang pendidikan tertentu dapat pula merubah prilaku seseorang. Kalimat kedua: “Kebijakan membawa sikap prilaku”, dapat dengan menggunakan prilaku seperti konsep Tri Hita Karana dimana keharmonisan dengan Tuhan, Manusia dan Alam, setelah memiliki pengetahuan, yang arif dan bijaksana seharusnya prilaku-prilakunya tercermin sesuai dengan norma-norma, etika dan moral yang baik dan benar, Penataan yang demikian itulah yang akan membawa ketujuan jagathita dan moksa. Kalimat ke tigaPara sarjana, para guru dan para pendeta supaya dihormati” , dikaitkan dengan berwarga Negara atau pemerintaan, setiap warga Negara wajib hormat dan patuh pada Negara dan pemerintahannya. Ajaran inipun diuraikan dalam ajaran catur guru juga terdapat pada Menawa Dharmasastra VII .19 yaitu: bila vonis itu diberikan terhadap seseorang setelah mempertimbangkannya, hal itu menjadikan orang-orang bahagia, tetapi memvonis tanpa pertimbangan akan menghancurkan segala-galanya. Untuk dapat berprilaku dan melaksanakan yang baik dan benar, kalimat terakhirBesarkan olehmu kasih sayang itu”, pemeliharaan yang berkelanjutan atau tidak sesaat, pertahankan terus-menerus. 

     Agama adalah : Satya, Rta, Diksa, Tapa, Brahma dan yajna (semoga semua ini) ia akan dapat memberikan tempat dan mengatur tempat hidup kita, dulu, sekarang dan yang akan datang di dunia ini. Veda adalah sumber dari segala dharma, kemudian barulah sruti, disamping sila acara dan atmanastuti, semuanya ini merupakan sumber dari seseorang untuk dapat berpikir, berkata dan berbuat dalam hidup ini, yangmana akan mengakibatkan karma yang akan diterima nanti sekarang maupun yang akan datang tanpa dapat dihindari. Walaupun sesungguhnya orang-orang didunia ini sama menghendaki kebahagiaan yang tiada taranya, akan tetapi oleh sebab mereka hanya dapat melaksanakan dharma sesuai dengan kemampuannya, maka karmaphala yang diperoleh olehnya tidak bisa lain tentu sesuai dengan dharmanya.

B. Kutipan Beberapa Sloka-sloka  
   
        Adalah lebih baik melakukan swadharma atau kewajiban sendiri, meskipun kurang cara melaksanakannya, daripada melaksanakan kewajiban orang lain, walaupun baik cara melaksanakannya. Kalaupun sampai mati melaksanakan kewajiban sendiri adalah lebih baik, sebab menuruti bukan kewajiban sendiri adalah berbahaya. ( Bhagawadgita III.35)

       Wahai umat manusia, semoga anda maju dengan niat-niat yang sama. Semoga hatimu (batinmu) dan pikiranmu sama satu sama lainnya sehingga anda bisa diorganisasikan (diatur) secara seragam (Rgveda X.191.4)

  
Susula itu adalah yang paling utama, pada titisan sebagai manusia, jika ada prilaku titisan sebagai manusia itu tidak susila, apakah maksud orang itu dengan hidupnya, dengan kekuasaan, dengan kebijaksanaan, serbasia-sia semuanya jika tidak ada kesusilaan ( Sarasamuscaya 160 )
  
      Bhagavad Gita II.64 dan 65 mengingatkan bahwa : mengingatkan bahwa orang yang dapat mengendalikan pikirannya, ditengah-tengah duniawi, dengan dapat mengendalikan indrianya, bebas dari ikatan dan perasaan engan ia mencintai keterangan. Dan didalam keterangan ini berakhirlah kesusahan dan munculah kebijaksanaan. Kebijaksanaan inilah membawa orang untuk mencapai hidup yang bahagia. Peringatan Bhagawad Gita dan wajib diperhatikan karena tidak ada ajaran agama hindu yang melarang untuk berkecimpung dalam bidang artha benda asalkan itu merupakan swadharma dan tidak sampai harta benda itu mengikat diri kita. Justru orang itulah yang menguasai dan menggunakan artha benda sebagai alat. Agar hal itu dapat dilaksanakan maka kita harus selalu dekat dengan Tuhan, leluhur dan weda.
   
    Seluruh pustaka suci weda adalah sumber pertama dari dharma, kemudian adat istiadat, dan lalu tingkah laku yang terpuji orang-orang budiman yang mendalami ajaran pustaka suci weda, juga tatacara perikehidupan orang-orang suci dan akhirnya kepuasan dari pribadi. (Menawa dharmasastra II.6)

    Semua ajaran yang timbul, yang menyimpang dari veda segera akan musnah, tak berharga dan palsu karena tak berpahala.( Mds XII.96)

    Nitisastra III.11 menyebutkan :
Udyoge nasti daridra,
Artinya :
             Tidak ada masalah kemiskinan bagi yang giat berusaha.


Om santih, santih, santih, Om


DAFTAR PUSTAKA

1.      Abu Ahnadi, Nur Uhbiyati, 1991, Ilmu Pendidikan, Jakarta,PT Melton Putra
2.      Agastia I.B.G, 2001, Eksistensi Sadhaka Dalam Agama Hindu, Denpasar, PT  Pustaka Manikgeni
3.      Astana, made dan Anomdiputro, 2003, Kautilya (canaka) Arthasastra, Surabaya, Paramita
4.      Abdul Malik Karim Amarulah, 1956, Lembaga Budi, Jakarta, Wijaya
5.      Agung Oka I Gusti, 1993, Slokantara,  Jakarta, Hanuman Sakti
6.      Bambang Q-Anees, Radea Juli A.Hambali, 2003, Filsafat Untuk Umum, Jakarta, Prenada Media
7.      E.Mulyasa, 2006, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Bandung, PT Remaja Rosdakarya
8.      Kamala Subramaniam, 2004,Ramayana, Surabaya, Paramita
9.      Maswinara, I Wayan, 1999, Rg Veda Samhita, Surabaya, Paramita
10.  Maswinara, I Wayan, 1999, Sistem Filsafat Hindu, Surabaya, Paramita
11.  Nasution, 2006, Asas-Asas Kurikulum, Jakarta, PT Bumi Aksara
12.  Nala Ngurah, I Gusti, Kosmonologi Hindu, Surabaya, Paramita
13.  Ngurah, dkk I Gusti Made,1999, Agama Hindu Untuk Perguruan Tinggi, Surabaya,   Paramita  
14.  Om Visnupada A.C.Bhaktivedanta Swami Prabhupada,1986, Bagawad-Gita, (Pendiri-Acarya International Cociety for Krisna Consciouness), Jakarta, P.O. Box 2694.
15.  Pudja, Gege,1991, Weda Parikrama, Jakarta, Hanuman sakti
16. Pudja, Gede, Tjokorda Rai Sudharta, 1977, Weda Smerti  Compendium Hukum Hindu, Jakarta,   Dirjen Bimas Hidhu & Budha Departemen Agama RI
17. Pudja, Gede,1980, Sarasamuscaya, Jakarta, Hanuman Sakti
18. Pudja, Gede, 1984, Pengantar Agama Hindu II SRADDHA, Jakarta, Mayasari
19. Pudja, Gede, Sandhi, Keniten, Made, Ida Pedanda1983, Siwa Sasana, Jakarta,   Departemen Agama RI
20. Surayin Ida Ayu Putu, 1992, Melangkah Kearah Persiapan Upakara-Upacara Yadnya, Denpasar, PT Upada Sastra.
21. Suamba, Ida Bagus Putu dan Yuda Triguna, Ida Bagus Gde,2000, Kontribusi Hindu Terhadap Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, Jakarta, Widya Dharma
22. Titib, I Made, 1997, Pengantar Weda (Untuk Program D III), Jakarta, Hanuman Sakti
23. Titib, I Made, 1996, Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan, Surabaya, Paramita
24. Titib, I  Made, 2003, Purana Sumber Ajaran Hindu Komperhehensip, Jakarta, Pustaka Mitra Jaya
25. ……….….., 2005, Naskah Akademik Rencana Undang-Undang Tentang Pendidikan    Kewarganegaraan, Jakarta, DIRJEN Potensi Pertahanan
26. .……….…..., 2004, UUD 1945 dan Amandemen, Jakarta, Fokusmedia
27……………..., 1987, Kakawin Ramayana I, Denpasa, Dinas Pendidikan Dasar Propinsi Dati I Bali
28…………….., 2003, Intisari Ajaran Hindu, Surabaya, Paramita
29…….……….., 2004, SIWATATTWA,  Pemerintah Provinsi Bali
30………..,…… 1998,Tuntunan Pelaksanaan Upacara Sudhi Widani, Departemen Agama RI Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Budha, Jakarta.
31…………….., 2004, Upacara Mewinten,  Pemerintah Daerah Tingkat I Bali.
32…………….., 1996, Niti Sastra, Jakarta, Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar