Sabtu, 19 Februari 2011

PENGEMBANGAN BUDHI PAKERTI UNTUK MENCAPAI KEBEBASAN (KEBAHAGIAAN)


PENGEMBANGAN BUDHI PEKERTI UNTUK MENCAPAI MOKSA
(Suatu Kajian Dari Teori Samkhya Nir-Isvara)
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Pengembangkan budhi pekerti adalah suatu hal yang sangat penting dilakukan, untuk dapat mengantisipasi keselamatan manusia dari kehancuran yang disebabkan oleh moralitas dan tindakan manusia itu sendiri. Karena dengan mengembangkan budhi pekerti, segala perilaku yang berdampak buruk dan kekacauan terhadap manusia beserta ciptaan-Nya, yang disebabkan oleh manusia itu sendiri dapat berubah menjadi kebaikan dan bermanfaat bagi manusia beserta ciptaan-Nya. Kehancuran yang disebabkan oleh keburukan moralitas dan segala perilaku yang tidak diinginkanpun akan dapat dihindari.
            Dengan demikian pengembangan budhi pekerti merupakan suatu peningkatan perilaku manusia yang baik, tepat, benar dan mulia untuk mencegah terjadinya segala bencana, yang berasal dari perbuatan-perbuatan manusia itu sendiri. Seperti halnya perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari dharma, tentunya membawa malapetaka bagi kehidupan ini, sebagai contoh : tindakan-tindakan pencemaran terhadap lingkungan, air, dan udara, pembuangan sampah tidak pada tempatnya penyebab adanya polusi udara yang menyebabkan bencana gangguan pernafasan, juga sebagai penyebab adanya penyumbatan saluran atau aliran sungai yang menyebabkan adanya banjir, disamping penebangan hutan secara liar tanpa meremajakan kembali hutan sangat jelas sebagai faktor utama terjadinya tanah longsor dan banjir dan lain-lainnya.
Oleh sebab itu perilaku manusia sangat signifikan sebagai faktor penyebab datangnya bencana, untuk itu pengendalian nafsu atau keinginan serakah manusia dalam pengembangan bhudi pekerti yang sesuai dengan ajaran dharma sangatlah perlu diupayakan dalam segala tindakan dan perbuatan. Inilah yang tersirat dan tersurat yang disebutkan dalam kitab Sarassamuscaya sloka 71 yaitu: nafsu (kama/keinginan) yang dianggap penyebab sorga ataupun neraka, keterangannya, jika nafsu itu dapat dikendalikan, itulah merupakan sorga, namun apabila tidak dapat dikuasai pengendaliannya itulah merupakan neraka. (Pudja, 1990:44)
Menurut filsafat Samkya, prakerti disusun dari 3 guna atau kekuatan yang disebut sattvam (kemurnian sinar, selaras), rajas (nafsu, kegiatan, gerak) dan tamas (kemalasan tanpa kegiatan). Guna artinya tali, yang membelenggu roh dengan 3 pintal ikatan, guna disini bukanlah guna-Nya dari filsafat Nyaya-vaisesika. Ia adalah substansi sesungguhnya atau unsur yang menyusun prakerti. Ia menyusun keseluruhan alam yang berkembang dari prakerti. Ia tidak digabungkan dalam jumlah yang sama, tetapi dalam proporsi (imbangan) yang bermacam-macam, salah satunya berlebihan. Seperti Sat-Cit-Ananda yang merupalan trinitas vedantik.
Sattvam adalah keseimbangan. Bila sattvam menang, terjadi kedamaian atau ketenangan, Rajas adalah aktifitas yang dinyatakan sebagai raga dvesa, suka atau tidak suka, cinta atau tidak cinta, benci menarik atau jijik. Sedangakan tamas membelenggu dengan kecenderungan untuk kelesuan, kemalasan dan kegiatan yang dungu, yang menyebabkan khayalan tanpa pembedaan. Bila sattvam lebih berpengaruh ia mengatasi rajas atau tamas. Bila rajas lebih berpengaruh, ia mengatasi sattvam dan tamas. Bila tamas yang lebih berpengaruh ia menguasai rajas dan sattvam.
Dengan demikian Sifat serakah dan malas dapat menimbulkan kerugian terhadap orang lain, sedangkan sifat kebaikan yang berguna untuk orang lain haruslah segera dilaksanakan, dalam terapannya berupa pengembangan budhi pekerti yang luhur sehingga tujuan dari ajaran agama Hindu tentang moksa dapat dicapai. Seperti sasaran susila yang merupaka satu dari tiga kerangka agama Hindu, juga untuk mencapai moksa, perilaku yang akan memberikan keuntungan terhadap diri sendiri, dan mahluk hidup lainnya, untuk mengetahui dan memahami hal tersebut skripsi ini penulis memberi judul “Analisis Triguna Terhadap Pengembangan Budhi Pekerti Untuk Mencapai Moksa Suatu Kajian Dari Teori Samkhya Nir-Isvara”      
B. Rumusan Masalah
          Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, untuk mempermudah dalam kajian analisis fungsi dan makna tentang triguna terhadap pengembangan budhi pekerti dalam teori samkhya untuk mencapai moksa yang berdasarkan teks sastra Hindu, maka penulis merumuskan masalahnya  sebagai berikut:
  1. Apa fungsi  triguna terhadap pengembangan budhi pekerti untuk mencapai moksa dalam teori samkhya nir-Isvara?
  2. Apa makna triguna terhadap pengembangan budhi pekerti  untuk mencapai moksa dalam teori samkhya nir-Isvara?
  3. Apa tujuan ajaran agama Hindu tentang moksa dapat dicapai dengan adanya triguna dalam teori samkhya nir-Isvara?

C. Model Penelitian
Dari bagan tersebut diatas menjelaskan bahwa penulis akan melakukan penelitian dalam menjelaskan kebenaran (Tuhan) melalui Veda, karena Veda yang berisikan wahyu dari Brahman juga sebagai pengetahuan suci, sehingga perumusan masalah yang akan diteliti yaitu tentang analisis triguna terhadap pengembangan budhi pekerti dalam teori samkya nir-Isvara untuk mencapai moksa, suatu kajian dari fungsi dan maknanya berdasarkan teks sastra Hindu. Sehingga korelasi dan relevansi dari konsep tersebut dapat diketahui, Om avighnamastu jalan pembebasan (Moksa) dapat dicapai oleh yang melaksanakannya.
D. Tujuan Penelitan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Dapat mengetahui fungsi triguna terhadap pengembangan budhi pekerti untuk mencapai moksa dalam teori samkhya nir-Isvara
2.      Dapat mengetahui makna triguna terhadap pengembangan budhi pekerti untuk mencapai moksa dalam teori samkhya nir-Isvara.
3.      Dapat memberikan pemahaman melalui pengembangan budhi pekerti yang luhur pencapaian moksa (pembebasan) dalam ajaran agama Hindu akan dapat dicapai berdasarkan teori samkhya nir-Isvara.
E. Kerangka Berpikir
Dalam ajaran agama Hindu ada tiga kerangka dasar yang harus diketahui yaitu : tattva, susila dan upacara. Dengan mengetahui dan memahami tattva (filsafat) dalam hal ini yaitu teori samkhya, tentang keberadaan triguna, dapat pula mengetahui dan memahami fungsi dan makna dari sifat-sifat yang terkandung dalam triguna. Sifat-sifat ini semuanya memberikan dampak berbeda-beda terhadap susila (Pengembangan budhi pekerti yang luhur). Sasaran susila yang hendak dicapai adalah moksa, yang sama dengan tujuan ajaran agama Hindu.
Untuk mendapatkan gambaran yang sistematis tentang lingkup permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini, maka diperlukan penjelasan mengenai pokok-pokok pengertian yang akan menjadi landasan seperti yang dijelaskan dalam judul tulisan ini.
Adapun teori yang akan dipergunakan seperti: teori Samkhya-Vedanta. Penciptaan mulai dengan prinsip dasar yang disebut Mahat dan berakhir dengan Visesa, yakni perbedaan antara lima unsur  yang sangat halus dan yang kasar (kasat mata) yang disebut Panca Mahabhuta dan Panca Tanmatra.
Nyaya Darsana menjelaskan bahwa: ”alam semesta merupakan gabungan atom-atom yang abadi yang tak berubah-ubah, tanpa penyebab, yang keberadaannya melampaui pikiran manusia. Alam semesta merupakan modifikasi dari atom-atom (paramaanu) dari unsur-unsur fisik, yaitu: tanah (prathivi), air (apah), api (teja) dan udara (vayu), ether (kham), waktu, ruang, pikiran, dan sang diri (atma)” (Sivananda, 2003 : 181).
            Teori Panca sraddha, Ida Bagus Oka Punia Atmaja (1971) telah merumuskan 5 keyakinan atau keimanan umat Hindu yaitu:
1.      Widhi Tattwa atau Widhi sraddha, keimanan terhadap Tuhan Yang Mahaesa dengan berbagai manifestasi-Nya.
2.      Atma tattwa atau Atma Sraddha, keimanan terhadap Atma yang menghidupkan semua mahluk.
3.      Karmaphala tattwa atau Karmaphala Sraddha, keimanan terhadap hukum sebab akibat atau buah dari perbuatan.
4.      Samsara atau punarjanma tattwa/Sraddha, keimanan terhadap lahir kembali.
5. Moksa tattwa atau Moksa Sraddha, keimanan terhadap kebebasan tertinggi bersatunya Atma dengan Brahman, Tuhan Yang Mahaesa.

F. Tinjauan Pustaka
            Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut di atas, untuk memudahkan pembahasannya, maka penulis menggunakan penelitian kajian kepustakaan untuk mendapatkan pengertian dan pemahaman  dalam menguraikan permasalahnya yaitu tentang analisis triguna terhadap pengembangan budhi pekerti (suatu kajian kualitatif fungsi, makna pada teks sastra Hindu), seperti buku-buku untuk referensi sebagai berikut :
1.      Seluruh pustaka suci Veda adalah sumber pertama dari pada Dharma  (Menawa Dharma Sastra G.Pudja MA, II.6:62).
2.      Triguna : Tri artinya tiga Guna artinya sifat atau bakat. Triguna ialah tiga sifat dasar yang terdapat pada setiap yang ada di jagat raya ini baik itu mahluk hidup maupun benda mati (Pengetahuan Dasar Agama Hindu Gede Rudia Adipura, :56)
3.       Golongan-golongan keyakinan (Bhagavad Gita Bab XVII.4:749)
4.       Pengertian Etika dan Susila (Pengantar Etika dan Moralitas Hindu, Drs K.M.Suhardana Bab II;19).
5.       Menumbuh Kembangkan Pendidikan Budhi Pekerti Pada Anak (Pengertian budhi pekerti Dr. I Made Titib,: 1)
6.      Sejarah Filsafat India ( Heinrich Zimmer, Bab II : Sankhya dan Yoga,: 273)
Adanya Guna ada tiga perinciannya yaitu : sattvam, rajas, dan tamas. Ketiganya disebut triguna. Guna ini berpengaruh terhadap citta sehingga disebut citta sattva, citta rajas dan citta tamas. Pada saat triguna bertemu dengan citta maka lahirlah Budhi dan dari budhi lahirlah ahamkara, ahamkara dibedakan menjadi tiga yaitu ahamkara waikreta, taijasa dan bhutadi (Siwa tatwa, 2004, :19).
Dalam wrhraspati tattwa sloka 15 disebutkan : ikang citta mahangan mawa, yeka sattva ngaranya, ikang maderes molah, yeka rajah ngarannya, ikang abwat peteng, yeka tamah ngarannya. Yang artinya : sattva bersifat terang dan bersinar. Rajah berubah-ubah. Tamah berat dan kabur. Ketiga sifat itulah yang mewarnai pikiran. Pikiran yang terang dan jernih disebut sattva. Pikiran yang selalu berubah-ubah disebut rajah, dan pikiran berat dan keruh disebut tamah (Putra dan sadia, 1988:15)
Dengan demikian triguna ini akan memberikan dampak terhadap  pikiran dalam pengembangan budhi pekerti. Faktor inilah menjadi penyebab dari perbedaan perilaku manusia yang hidup, sehingga berjalan sesuai dengan svadharmanya masing-masing. Oleh karena sifat rajas dan tamas cenderung lebih  dominan mempengaruhi pada setiap individu yaitu dalam wujud “Sadripu” (Kama, Lobha, Kroda, Mada, Moha, Matsarya) ini merupakan enam musuh utama yang menyelimuti pikiran manusia menjadi gelap dan bodoh atau linglung, sehingga terperangkap oleh jerat Maya, akan sering membawa penderitaan bagi dirinya dan mahluk-mahluk yang lainnya. Apabila sadripu tidak terkendalilan seperti: nafsu yang berlebihan, kerakusan, marah, kemabukan, keangkuhan, kedengkian semua ini jika tidak terkendali dapat mengarah kehancuran.
Perilaku seseorang yang secara sadar berawal dari suatu keyakinan, adanya tingkat keyakinan dalam Bhagavad Gita XVII.4 menyebutkan : orang dalam sifat kebaikan menyembah paradeva: seorang dalam sifat nafsu menyembah para raksasa atau orang jahat: dan orang yang berada dalam sifat kebodohan menyembah hantu-hantu dan roh-roh halus (Prabupada, 1986, 749)
Apapun kedudukan seseorang saat ini akan dipengaruhi oleh sifat alami yang diperolehnya sejak lahir yaitu (sattvam) kebaikan, (rajas) nafsu, dan (tamas) kebodohan. Dengan demikian segala pikiran, perkataan, dan perbuatan masing-masing individu merupakan cerminan dari perilaku seseorang dalam masyarakat, maka sifat sattvam,  sifat rajas dan sifat tamas pun akan memberi dampak nyata terhadap pengembangan budhi pekerti masing-masing individu.
Dalam Menawadharmasastra II.6 disebutkan : “seluruh pustaka suci Veda adalah sumber pertama dari pada Dharma kemudian adat istiadat, dan lalu tingkah laku yang terpuji dari orang-orang budiman yang mendalami ajaran pustaka suci Veda, juga tata cara perikehidupan orang-orang suci dan akhirnya kepuasan pribadi. (Pudja, dan sudharta,1996: 62)
Kesempatan dalam kehidupan ini, yang tentunya memiliki sifat triguna, akan mengakibatkan atau memiliki pemahaman pada tingkat keyakinan, pikiran dan tingkah laku dalam pengembangan budhi pekerti yang berbeda-beda, semua ini hendaknya dapat dipergunakan menjadi modal dasar untuk merubah segala perilaku ke arah yang lebih baik. Ini dapat diwujudkan pada saat menentukan pilihan dalam bertindak atau berbuat, dengan mengutamakan penggunaan sifat sattvam. Adapun sifat rajas dan sifat tamas dipergunakan dalam situasi dan kondisi yang tepat, semuanya seharusnya berpedoman kepada dharma. Atau segala tindakan (perbuatan-perbuatan) yang umumnya lebih di dominasi oleh sifat nafsu dan kebodohan/hayalan dapatlah diminimalkan. Semua ini dapat untuk mengurangi kerugian terhadap manusia dan segala ciptaan-Nya dengan mengutamakan sifat sattvam.
Bhagavad Gita XIV.6 disebutkan : ”Wahai yang tidak berdosa, sifat kebaikan lebih murni dari pada sifat-sifat yang lain. Karena itu, sifat kebaikan memberi penerangan dan membebaskan seseorang dari segala reaksi dosa. Orang yang mantap dalam sifat itu diikat oleh rasa kebahagiaan dan pengetahuan” (Prabupada,1986:664)
Hindu dengan ajarannya yang luas mampu menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Selain itu hindu dengan lambang svastikanya mampu menelan suatu konsep ruang dan waktu, konsep watak dan sifat makhluk pada episode dharma, memiliki tujuan yang jelas yaitu moksa (pembebasan). Manusia merupakan makhluk monodualis (jasmaniah dan rokhaniah), juga sebagai makhluk sosial yang selalu cenderung untuk bermasyarakat, hidup dalam satu kelompok, perkumpulan atau paguyuban, maka saat berperilaku  hendaknya tidak melupakan akan penerapan  tuntunan dharma (ajaran agama Hindu). Yaitu karena dharma merupakan sebagai sumber datangnya kebahagiaan.

G. Anggapan Dasar
            Anggapan dasar adalah suatu pernyataan logika yang merupakan jawaban sementara dari pernyataan penelitian atau masalah yang diajukan oleh peneliti.
Bertitik tolak dari rumusan masalah tersebut diatas maka penulis membuat anggapan dasar sementara yang dapat dijadikan sebagai landasan dalam pembahasan masalah yang sedang akan diteliti, yaitu :
1.   Fungsi triguna terhadap pengembangan budhi pekerti dalam teori samkhya untuk mencapai moksa adalah merupakan suatu sifat-sifat yang bermanfaat antara lain:  kebaikan untuk berbuat baik, nafsu untuk melakukan aktivitas, dan sifat malas atau kebodohan untuk mengistirahatkan jasmani, dan tidak juga sombong karena bersifat pasif. Akan tetapi fungsi yang berbeda-beda ini merupakan suatu keseimbangan yang utuh. Sehingga jika sifat kebaikan yang mendominasi perilaku dari individu tentu akan baik, apabila rajas yang mendominasi perilakunya tentu akan menjadi serba tidak puas (rakus), sedangkan jika tamas yang mendominasi perilakunya akan masa bodoh (malas). Dapat pula dilihat dari manfaat positif  dari ketiga guna ini yang sangat berarti bagi kesejahteraan, kebahagiaan dan  kedamaian dalam kehidupan manusia. 
2.   Makna triguna terhadap budhi pekerti dalam teori samkhya untuk mencapai moksa adalah sifat sattvam yang memiliki makna kebaikan, jadi selalu melihat kebaikan, dan selalu berpikiran positif, sifat rajas memiliki makna nafsu tentu dengan makna ini perilaku individu yang didominasi oleh sifat ini akan sering marah-marah tanpa sebab, dan tamas memiliki makna kegelapan (avidya) sehingga dalam perilaku selalu pasif.
3.   Tujuan agama Hindu tentang moksa dalam teori samkhya adalah merupakan kebebasan dari keterikatan duniawi, untuk pencapaian pembebasan ini tentu harus dapat melampaui ketiga sifat-sifat triguna tersebut, karena sifat-sifat ini merupakan sifat dari alam material, atau unsur yang mempengaruhi prakrti. Artinya tidak terikat dengan sifat kebaikan, sifat nafsu dan sifat kebodohan, karena jika terikat kebaikan maka hanya sampai pada kebaikan saja. Dan dapat pula membedakan antara purusa dengan prakrti.
H. Metode Penelitian
            Metode penelitian adalah kegiatan yang secara sistematis, direncanakan oleh para peneliti untuk memecahkan masalah yang hidup dan berguna bagi masyarakat maupun bagi peneliti itu sendiri. Didalam buku Metode Penelitian dinyatakan sebagai berikut : Metode berasal dari kata ”Metthodos” (dari Bahasa Yunani) yang terdiri dari dua akar kata yaitu ”Metha” dan ”Hodos”. Metha artinya dilalui dan hodos artinya jalan. Dapat diartikan bahwa Metode adalah jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan. Sedangkan Penelitian adalah suatu penyelidikan ilmiah.(Oka Setiawan, 2008:1)
            Suatu metode yang tepat  sangat bermanfaat dan membantu penulis dalam meneliti obyek penelitian untuk mendapat data dan informasi yang sesuai dengan realitas, sehingga keabsahan hasil penelitian tersebut dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
            Berdasarkan penulisan penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif deskritif yaitu :
1. Metode Pengumpulan Data.
a.       Studi dokumen atau kepustakaan
Digunakan untuk melengkapi penulisan studi kepustakaan penulis memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai konsep-konsep ajaran agama (Sayuti Ali, 2002:64)
Tehnik kepustakaan:
Cara untuk memperoleh data dengan mempelajari buku-buku yang ada kaitannya dengan masalah yang diteliti. Untuk mencari teori-teori, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi yang dapat dijadikan teoritis bagi penelitian yang akan dilakukan (Suryadibrata, 2004:18).
       b.  Observasi (pengamatan)
Tehnik yang digunakan dengan cara melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala atau fenomena yang diselidiki tanpa mengajukan pertanyaan meskipun obyeknya adalah orang (Marzuki,2001:58)
   c.  Wawancara yaitu suatu metode yang dilakukan untuk mendapat keterangan secara lisan dari seorang responden, dapat dilakukan dengan bercakap-cakap, bertatap muka dengan seorang, hal ini dilakukan untuk mendapatkan penjelasan yang sejelas-jelasnya mengenai masalah yang diteliti ( Hadi Sutrisno 1986:136)
2.      Metode pengolahan data
a.       Deskriptif  kualitatif (penelitian paparan)
Komparatif Deskriptif adalah suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan menyusun secara sistimatis sehingga diperoleh suatu kesimpulan (Netra, 1976:75)
      b.  Komparatif adalah suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan   mengadakan bandingan secara sistimatis secara terus menerus sehingga diperoleh suatu kesimpulan umum (Netra, 1976:76)
c.       Metode Deskriftif adalah suatu metode atau cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan menyusun secara sistimatis sehingga memperoleh kesimpulan atau membuat deskripsinya (Sumadi Surya Brata, 1983 : 40)
d.      Analisis data dilakukan secara induktif yaitu penganalisaan terhadap obyek ilmiah tertentu melalui pengamatan atas hal-hal masalah-kasus-kasus yang sejenis kemudian menarik kesimpulan yang bersifat umum (Arbi,1989:23)
             Dalam analisa data penulis tidak mendiskripsikan secara kuantitatif, melainkan  kualitatif. Pengertian kualitatif bermakna bahwa data disajikan berwujud kata-kata dan bukan angka. Analisis kualitatif penelitian ini dilaksanakan melalui tahapan sebagai berikut :
             Pertama, reduksi data yaitu suatu proses pemilihan, pemusatan perhatian dengan menyederhanakan data yang diambil dari catatan tertulis selama dilapangan. Kegiatan ini tidak hanya dilaksanakan setelah penelitian, tetapi berlangsung secara terus menerus selama penelitian berlangsung, dengan membuat ringkasan data, menelusuri tema yang tersebar dan merumuskannya sebagai dasar penyajian dan analisis selanjutnya.
            Kedua, penyajian data dengan penyusunan sekumpulan informasi menjadi satu pernyataan yang memungkinkan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Sebagaimana reduksi data bahwa data diperoleh secara terpencar diupayakan penyederhanaan, selektif sehingga mudah difahami. Dimungkinkan membuat tabel berupa isu pembaharuan dan status quo yang dapat diambil dari data tertulis.
            Ketiga, penarikan kesimpulan terhadap reduksi dan tampilan data sebelumnya. Bahwa dalam tahap ini simpulan yang ditarik secara persial dalam tahap reduksi disempurnakan lagi dalam tampilan atau penyajian data dan kemudian final pada tahap penarikan kesimpulan. Artinya pada analisis kualitatif ini dilakukan tahap reduksi data, penyajian data pada penarikan kesimpulan secara terus menerus dan berulang sebagai sebuah lingkaran
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Triguna dan Bagian-Bagiannya
 Ada tiga sifat alam material yang memberikan pengaruh terhadap perilaku manusia yang hidup, ketiganya ini merupakan bagian-bagian yang tak dapat dipisahkan antara satu dengan bagian yang lainnya. Ketiga sifat ini walaupun memberi pengaruh yang berbeda-beda, namun merupakan satu kesatuan yang utuh dalam diri manusia, maka perilakupun yang disebabkan oleh sifat ini berbeda-beda pula.
Dalam Bhagavad Gita Adyaya 18.40 dan Adyaya 18.60 disebutkan:
Na tad asti prthivyam va divi devesu va punah
Sattvam prakrti-jair muktam yad ebhih syat tribhir gunaih
                                                                                          
Artinya :
Tiada makhluk yang hidup, baik disini maupun dikalangan para dewa disusunan planet yang lebih tinggi, yang bebas dari tiga sifat tersebut yang dilahirkan dari alam material. (Prabhupada, 1986: 797)

svabhava-jena kaunteya nibaddhah svena karmana
kartum necchasi yan mohat karisyasy avaso ‘pi tat

Artinya :
akibat khayalan, engkau sekarang menolak bertindak menurut perintah Ku. Tetapi didorong oleh pekerjaan yang dilahirkan dari sifatmu sendiri, engkau akan bertindak juga, wahai putra kunti.(Prabhupada, 1986: 814)


1. Pengertian Triguna
Tri artinya tiga, Guna artinya sifat atau bakat. Jadi Triguna adalah tiga sifat dasar yang terdapat pada setiap yang ada dijagat raya ini baik makhluk hidup maupun benda mati. Ketiga sifat itu mempengaruhi manusia sejak masih dalam kandungan sampai akhir hidupnya, hanya saja dalam prosentase yang berbeda-beda dan selalu berubah-ubah. Perubahan pengaruh guna itulah menyebabkan tabiat manusia berubah-ubah dan triguna tidak seimbang menjadikan bermacam-macam sifat manusia. (Rudia Adipura, 2003 : 56)
      Dalam Wrhaspati tattva disebutkan, sattvam bersinar terang-bersih-tenang, rajas bergejolak dan dinamis, tamas malas-lamban dan dungu/gelap demikianlah ketiga guna ini membelenggu manusia sehingga terjadinya bermacam-macam sifat manusia tesebut seperti : Tenang, suci, bijaksana, cerdas, jujur, disiplin, rajin lincah, gesit, kasar, cepat tersinggung, keras kepala, congkak, emosi, ego, mengantuk, bodoh, malas, kumal, lambat  (Putra, IGAG & I Wayan Sadia, 1998:16-17)
Dengan demikian ketiga sifat-sifat itu terdiri dari : sattvam, rajas, tamas terlahir dari prakerti membelenggu penghuni badan (jiva) yang tak termusnahkan, dari sifat sattvam yang mulia memberikan penerangan dan kesehatan, membelenggu dengan ikatan kebahagiaan dan ilmu pengetahuan dapat mengantar kearah yang positip sesuai dengan norma agama, sifat rajas yang bernafsu menjadi sumber kehausan bahkan jika lebih dominan dapat mengarah kearah sombong dan keinginan akan segalanya berlebihan dalam hidup ini, sedangkan sifat tamas adalah ketidaktahuan dan kemalasan berdampak terjerumus kearah yang  tidak bermanfaat dalam meraih perbaikan karma saat menjalani kesempatan pada hidup ini.
Dalam Bhagawad Gita Adyaya III.33 disebutkan :
sadrsam cestate svasyah prakrter jnanavan api
 prakrtim yanti bhutani nigrahah kim karisyati
Artinya:
Orang yang berpengetahuan pun bertindak mengikuti sifatnya sendiri, sebab semua orang mengikuti sifat yang telah diperolehnya dari tiga sifat alam.apa yang dapat dicapai dengan pengekangan? (Prabhupada, 1986:192)

Pada kenyataannya kalau seseorang belum mantap pada tingkat rohani, ia tidak dapat dibebaskan dari pengaruh sifat-sifat alam material terdiri dari tiga sifat-kebaikan, nafsu dan kebodohan, bila makhluk hidup yang bakal berhubungna dengan alam, ia diikat oleh sifat-sifat tersebut, karena pergaulannya sejak lama berada di dalam ikatan ini. Dengan keyakinan yang tinggi mengikuti petunjuk dharma dan dengan latihan yang diaktualisasikan dalam perbuatan sehari-hari tanpa mengharapkan hasil dan selalu menyerahkannya kepada Tuhan, menyadari ini semua adalah sudah merupakan kehendak-Nya, keberadan ini semua hanya tugas dan kewajiban yang harus dijalankan sesuai dengan swadharma masing-masing.
Alam material yang memiliki tiga sifat sangat kuat mengikat yang kekal dalam makhluk yang hidup, seperti dikatakan dalam kitab suci Bhagavad Gita adyaya 14.5 sebagi berikut :
sattvam rajas tama iti gunah prakrti-sambhavah
nibadhnanti maha-baho dehe dehinam avyayam

Artinya :
Alam material terdiri dari tiga sifat-kebaikan, nafsu dan kebodohan. Bila makhluk hidup yang kekal berhubungan dengan alam, ia diikat oleh sifat-sifat tersebut, wahai Arjuna yang berlengan perkasa. (Prabhupada, 1986: 663)

            Dengan demikian walaupun makhluk hidup bersifat rohani, yang tidak  mempunyai hubungan dengan alam material, akan tetapi oleh karena para makhluk hidup memilih jenis badan, dimana badan yang memiliki dunia material, ini sangat mungkin mengakibatkan dorongan untuk bertindak menurut sifat alam yaitu kebaikan, nafsu dan kebodohan. Semua tindakan ini meninbulkan karma yang hasilnya tentu akan menyesuaikan, karena seperti anak seekor lembu tidak akan pernah keliru mencari susu induknya.  
 Kerjasama ketiga guna tersebut laksana minyak, sumbu, dan api yang bersama-sama menyebabkan nyala lampu, walaupun masing-masing elemen itu berbeda-beda yang sifatnya bertentangan ketiga guna ber Sistem filsafat samkhya disebut sebagai filsafat nir-Isvara Samkhya atau filsafat tanpa Tuhan. Filsafat Samkhya bersifat ateis karena tidak percaya dan tidak menerima adanya Tuhan (Isvara). Menurut filsafat Samkhya penciptaan berasal dari prakerti yang ada dengan sendirinya dan tak ada sangkut pautnya dengan purusa tentu yang menjadikannya. Oleh sebab itu menurut penganut filsafat Samkhya menyatakan bahwa tidak perlu adanya pencipta yang cerdas atau satu bahkan satu kekuatan yang mengatasinya (Sivananda, 2003 :190-191).
Menurut filsafat Samkhya prakrti tersusun atas tiga guna atau kekuatan sifat, yaitu: 1) sifat sattva guna (kemurnian, selaras, keseimbangan), 2) rajas guna (nafsu, kegiatan, gerak, kreatifitas), 3) tamas guna (lambat, kegelapan, kemalasan, tanpa kegiatan).(I Ketut Donder, 2006 : 271).
Menurut Samkhya, sumber dari segala kebingungan ini adalah pengaruh alami dari guna, yakni ”konstituen, kekuasaan atau sifat” prakrti yang telah disinggung dalam pembahasan tentang lesya dalam jaina, yakni: sattvam adalah sebuah kata benda yang dibentuk berdasarkan kata sat (atau sant) dan berasal dari kata as, kata kerja yang berarti ”menjadi” (to be). Sat berarti being apa yang seharusnya : baik, sempurna, dan sattvam berarti ” keadaan yang ideal: kebaikan kesempurnaan, kesucian yang bening, kejelasan yang bersih dan kesunyian yang sempurna.” sifat sattvam dominan pada para dewa dan makhluk-makhluk langit, orang-orang yang tidak egois dan berkonsentrasi pada pencarian spiritual yang murni. Inilah guna yang membibing kearah pencerahan.
Oleh karenanya, tujuan pertama ajaran yoga dalam yoga sutra karya Patanjali adalah meningkatkan sattvam, dan kemudian secara bertahap membersihkan sifat rajah dan tamas manusia. 2) Kata benda rajas cara literer berarti ”kekotoran.”, yang mengacu pada fisiologi tubuh perempuan, yakni ”menstruasi”. Arti yang lebih umum adalah ”debu”. Kata ini berkaitan dengan ranj, rakta, ”kemerahan, warna”, juga dengan raga ”nafsu”. Debu yang dimaksud adalah tanah yang secara terus-menerus disapu oleh angin karena tidak ada hujan setidaknya selama sepuluh bulan dalam satu tahun.
Rajas meredupkan penampilan semua benda, mengaburkan pandangan bukan hanya tentang alam semesta, tetapi juga pandangan tentang diri. Makanya, rajas menciptakan kegelapan intelektual dan moral. Diantara makhluk-makhluk yang dimitoskan, rajas itu adalah raksasa, anti/dewa atau setan jahat yang menggambarkan keinginan untuk berkuasa sepenuhnya, kenekatan untuk berkuasa dan bermegah ria, penuh dengan ambisi, kesombongan dan egotisme. Rajas melekat pada setiap orang di setiap tempat, sebagai kekuatan yang mendorong upaya untuk bereksitensi. Kekuatan ini mengipas-ngipasi nafsu, perasaan suka dan tidak suka, kompetisi, dan hasrat untuk menikmati dunia.
 Kekuatan ini memaksa manusia dan binatang untuk memerangi kebaikan tanpa memperdulikan kebutuhan dan penderitaan orang lain, 3) Tamas (dalam bahasa Latin tene-brae, Prancis tene-bres) yang secara literer berarti ”kegelapan, hitam, biru-hitam” : secara spiritual berarti ”kebutaan”-bermakna ketidaksadaran yang melekat pada binatang, tumbuhan dan mineral, tamas merupakan dasar dari hilangnya semua perasaan, ketumpulan, kezaliman, tidak sadar dan kelambanan. Tamas menyebabkan kemurungan mental, kebodohan, kesalahan dan ilusi.(Heinrich Zimmer, 2003: 287-288)
Menurut Samkhya ketiga guna itu berada didalam keseimbangan kekuatan. Oleh karena itu prakerti berada dalam keadaan tenang, dan tidak terjadi apa-apa. Ketika keseimbangan kekuatan-kekuatan didalam prakrti itu terganggu, terjadilah gerak, dan berkembanglah prakerti.
Gangguan keseimbangan itu terjadi ketika purusa berhubungan dengan prakrti. Sebab, dari purusa itu dengan sendirinya keluarlah perangsang, seperti halnya dengan besi berani (magnet) terhadap besi yang ditariknya. Kerjasama antara purusa dan prakerti ini menimbulkan perkembangan alam semesta dengan segala isinya yang keluar dari prakrti. Akan tetapi sebaliknya, karena hubungan ini, prakrti mengubah bentuk purusa yang banyak itu menjadi jiwa perorangan didalam dunia. Prakrti menahan purusa dan membelenggunya didalam tubuh. (Harun Hadiwijono, 1989 : 65)
Perkembangan prakerti dari yang satu menjadi yang banyak itu adalah suatu perubahan bentuk, suatu transformasi, bukan suatu perubahan tempat. Demikian juga perubahan itu tidak hanya terjadi dalam satu jurusan saja melainkan dalam banyak jurusan. Juga disebutkan, bahwa perkembangan prakerti berkala, artinya ada masa perkembangan dan ada masa peleburan. Tiap masa perkembangan (srsti) disusul oleh masa peleburan (pralaya) pada masa peleburan itu seluruh keanekaragaman alam semesta ini menjadi terpendam, ditidurkan didalam prakrti. Perputaran masa ini tidak ada batasnya. (Harun Hadiwijono, 1989 : 65)
Perubah terus menerus. Ada dua perubahan bentuk triguna itu, yaitu: svarupaparinama dan virupaparinama. Pada waktu pralaya masing-masing guna berubah pada dirinya sendiri, tanpa mengganggu yang lain. Perubahanan seperti ini disebut svarupaparinama. Pada waktu demikian tidak mungkin ada penciptaan, karena tidak ada kerjasama antara ketiga guna itu. Namun bila guna yang satu menguasai guna yang lain, maka terjadi suatu penciptaan. Perubahan ini disebut virupaparinama (Ngurah made,1999:119)
Dengan demikian, karena adanya ketidak seimbangan guna tersebut, maka terjadilah suatu perubahan, saat perubahan ini terjadilah suatu pertemuan Prakerti dengan Purusa. Walaupun Purusa yang bersifat pasif, karena adanya Prakrti yang bersifat aktif, maka terjadilah suatu penciptaan sehingga setiap penciptaan mendapatkan pengaruh dari masing-masing guna tersebut.
2. Bagian-Bagian Triguna
            Bagian-bagian triguna merupakan suatu kompenen yang tidak dapat dipisahkan walaupun hal yang nampaknya berbeda akan tetapi menjadi satu kesatuan yang utuh, bagian-bagian  triguna adalah terdiri dari Sattvam, Rajas, Tamas. Sattvam, rajas dan tamas ini adalah merupakan sifat yang membuat kecenderungan untuk bisa memilih dalam menjalani hidup ini bila salah satu sifat yang lebih dominan maka perilaku akan nanpak seperti memiliki karakter yang berbeda satu individu dengan individu yang lainnya.
             Ketiga sifat tersebut terdiri dari: sattvam, rajas, tamas terlahir dari prakerti membelenggu penghuni badan (jiva) yang tak termusnahkan, dari sifat sattvam yang mulia memberikan penerangan dan kesehatan, membelenggu dengan ikatan kebahagiaan dan ilmu pengetahuan, sifat rajas yang bernafsu menjadi sumber kehausan dan keinginan akan hidup, sedangkan sifat tamas adalah ketidaktahuan. Berbagai jenis pertapaan dan kesederhanaan, yang dapat dilakukan dengan badan yaitu untuk melatih menyucikan diri secara lahiriah dan bathiniah, berbicara tidak mengganggu pikiran orang lain, seharusnyalah berbicara mengutip dari kekuasaan kitab suci untuk memberikan apa yang akan dikatakan, dan perlahan tapi dengan serius untuk melepaskan ikatan pikiran terhadap indria-indria dari kenikmatan maya, dimana pikiran haruslah dilatih supaya merenungkan perbuatan baik untuk orang lain.
Dalam Bhagavad Gita adyaya 17.14-16) sebagai berikut :
deva-dvija-guru-prajna saucam arjavam
Brahmacaryam ahimsa ca sariram tapa ucyate

Artinya:
Pertapaan jasmani terdiri dari sembahyang kepada Tuhan Yang Mahaesa, para brahmana, guru kerohanian dan atasan seperti ayah dan ibu, dan kebersihan, kesederhanaan, berpantang hubungan suami istri dan tidak melakukan kekerasan. (Prabhupada, 1986: 757).

anudvega-karam vakyam satyam priya-hitam ca yat
svadhyayabhysayam caiva van-mayam tapa ucyate

Artinya :
pertapaan suara terdiri dari mengeluarkan kata-kata yang jujur, menyenangkan, bermanfaat, dan tidak mengganggu orang lain, dan juga membacakan kesusastraan veda secara teratur. (Prabhupada, 1986: 758).

manah-prasadah sumyatvam maunam atma-vinigrahah
bhava-samsuddhir ity etat tapo manasam ucyate

Artinya:
kepuasan, kesederhanaan, sikap yang serius, mengendalikan diri dan menyucikan kehidupan adalah pertapaan pikiran. (Prabhupada, 1986: 759).

            Dengan demikian jelas sekarang bagian-bagian triguna tersebut terdri dari tiga sifat karena akan membentuk karakter atau watak manusia yang sesungguhnya telah diperolehnya sejak lahir dan tidak dapat dihindari, maka untuk dapat melakukan karma baik, melebur karma buruk dapat di uraikan bagian-bagian triguna sebagai berikut :
a.  Sattvam
Sattvam adalah sifat kebaikan dimana sifat ini membentuk karakter manusia untuk selalu berbuat kebaikan karenanya manusia bisa berpikir, berkata, melakukan sesuatu dengan baik, bijaksana, cerdas, sopan, disiplin, jujur dalam menegakkan dharma. 
b.      Rajas
Rajas adalah sifat nafsu dimana sifat ini membentuk karakter manusia untuk selalu memiliki pengaruh kecenderungan berpikir, berkata dan berbuat penuh dengan nafsu, angkuh, sombong, cepat tersinggung, rakus, haus kekuasaan dan dalam melakukan apa saja tidak pernah mau mengalah atau tidak pernah merasa salah menganggap dirinya selalu paling benar.

c. Tamas
Tamas adalah suatu sifat yang dimiliki oleh manusia yang memberi pengaruh malas, pasif dan masa bodoh. Sehingga ini terkadang manusia bisa tidak mengindahkan apapun yang terjadi, selalu cuek atau masa bodoh, selalu berkhayal tidak mau tahu apapun yang akan terjadi terkadang resiko yang fatalpun siap diterimanya.
3. Ciri-Ciri Triguna
             Ciri-ciri triguna ialah suatu tanda-tanda yang dihadirkan oleh sifat-sifat sattvam, rajas dan tamas di dalam aktivitas yang dilakukan oleh seseorang. Adapun fungsi dan makna yang nampak ini semua merupakan cerminan dari sifat-sifat tersebut. Sebagai contoh dijelaskan dalam hal-hal seperti : (1) memilih makanan, (2) melakukan pertapaan atau pengendalian diri, (3) melaksanakan yajna dan berdana punya. 
3.1 Ciri-Ciri Sifat Sattvam
Dalam Manawadharmasastra XII.31 disebutkan :
Mempelajari veda, bertapa, belajar segala macam, ilmu pengetahuan, berkesucian, mengendalikan atas budi indriya, melakukan perbuatan perbuatan yang bajik, bersamadhi tentang jiwa: semua merupakan ciri-ciri sifat sattva. (Pudja dan Sudharta, 1996 : 723)

            Sifat sattvam adalah diartikan dengan sifat kebaikan sehinga memiliki ciri-ciri dalam perilaku sebagai berikut: tenang, suci, bijaksana, cerdas, jujur, disiplin, rajin. Sattvam adalah keseimbangan. Bila sattvam yang menang, terjadi kedamaian, keteraturan, ketenangan dan kebahagiaan.
            Dalam hal memilih makanan, sifat sattvam disebutkan dalam Bhagavad Gita 17.8 sebagai berikut : ayuh sattva balarogya sukha-priti-vivardhanah rasyah snigdhah stira hrya aharah sattvika-priyah. Artinya: makanan yang disukai oleh orang dalam sifat kebaikan memperpanjang usia hidup, menyucikan kehidupan dan memberi kekuatan, kesehatan, kebahagiaan dan kepuasan. Makanan tersebut penuh sari, berlemak, bergizi dan menyenangkan hati.(Prabhupada, 1986 : 752-753)
            Melakukan yajnya, Bhagavad Gita 17.11 disebutkan : apalakansibhir yajno vidhi-disto ya ijyate yastavyam eveti manah samadhaya sa satvikah. Artinya : diantara korban-korban suci yang dilakukan menurut kitab suci, karena kewajiban, oleh orang yang tidak mengharapkan pamrih, adalah korban suci bersifat kebaikan. (Prabhupada, 1986 : 755),
            Dalam hal melakukan pertapaan, Bhagavad Gita 17.17 disebutkan : Sraddhaya paraya taptam tapas tat tri-vidham naraih aphalakanksibhir yuktaih sattvikam paricaksate. Artinya : tiga jenis pertapaan tersebut, yang dilakukan dengan keyakinan rohani oleh orang yang tidak mengharapkan keuntungan material tetapi tekun hanya demi Yang Mahakuasa, disebut pertapaan dalam sifat kebaikan. (Prabhupada, 1986 : 760)  
            Dalam hal kedermawanan atau dana punia Bhagavad Gita 17.20 disebutkan: datavyam iti yad danam diyate ‘nupakarine dese kale ca patre ca tad danam sattvikam smrtam Artinya: kedermawanan yang diberikan karena kewajiban, tanpa mengharapkan pamrih, pada waktu yang tepat dan ditempat yang tepat, kepada orang yang patut menerimanya dianggap bersifat kebaikan (Prabhupada, 1986:761)
3.2. Ciri-Ciri Sifat Rajas
Manawadharmasasta XII.32 disebutkan :
Sangat bergairah akan melakukan tugas-tugas pekerjaan, kurang didalam ketekunan, melakukan perbuatan-perbuatan berdosa, dan selalu terikat akan kesenangan-kesenangan jasmani, semuanya merupakan sifat rajas.(Pudja dan Sudharta, 1996 : 724)
            
             Sifat Rajas adalah diartikan dengan sifat nafsu, sifat ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut : lincah, gesit, kasar, cepat tersinggung, keras kepala, congkak, emosi, ego. Rajas adalah aktifitas yang dinyatakan sebagai raga-dvesa, suka atau tidak suka, cinta atau benci, menarik atau jijik.
             Dalam hal memlih makanan sifat Rajas, Bhagavad Gita 17.9 menyebutkan sebagai berikut : katv-amala-lavanaty-usna tiksa ruksa vidahinah ahara rajasasyeta dhukha-sokamaya pradah Artinya: makanan yang terlalu pahit, terlalu asam, terlalu manis, panas sekali atau menyebabkan badan menjadi panas sekali, terlalu pedas, terlalu kering dan berisi terlalu banyak bumbu yang keras sekali disukai oleh orang dalam sifat nafsu. Makanan seperti itu menyebabkan dukacita, kesengsaraan dan penyakit. (Prabhupada, 1986:753).
          Dalam hal melakukan yajnya Bhagavad gita 17.12 disebutkan: abhisandhaya tu phalam dambhartham api caiva yat, ijyate bharata-srestha tam yajnam viddhi rajasam. Artinya: tetapi hendaknya engkau mengetahui bahwa korban suci yang dilakukan demi keuntungan material, atau demi rasa bangga adalah korban suci yang bersifat nafsu, wahai yang paling utama diantara para bharata.(Prabhupada, 1986:756).
         Dalam hal pertapaan, Bhagavad Gita 17.18 disebutkan: Satkara-mana-pujartham tapo dambhena caiva yat, Kriyate tad iha proktam rajasam calam adhruvam Artinya: pertapaan yang dilakukan berdasarkan rasa bangga untuk memperoleh pujian, penghormatan dan pujaan disebut pertapaan dalam sifat nafsu (Prabhupada, 1986:760),
                Dalam hal kedermawanan atau dana punia, Bhagavad Gita 17.21 disebutkan : yat tu pratyupakarartham phalam uddisya va punah, diyate ca pariktistam tad danam rajasam smrtam Artinya : tetapi sumbangan yang diberikan dengan mengharapkan pamrih, atau dengan keinginan untuk memperoleh hasil atau pahala, atau dengan rasa kesal, dikatakan sebagai kedermawanan dalam sifat nafsu (Prabhupada, 1986:762)
3.3 Ciri-Ciri Sifat Tamas
Manawadharmasasta XII.33 menyebutkan :
Loba, pemalsu, kecil hati, kejam atheis, berusaha yang tidak baik, berkebiasaan hidup atas belas kasih pemberian orang lain dan tidak berperhatian adalah ciri-ciri sifat tamas. (Pudja dan Sudharta, 1996 : 724)         

             Sifat tamas adalah sifat yang diartikan kebodohan, sifat ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut : mengantuk, bodoh, malas, kumal, lambat. Tamas adalah yang membelenggu dengan kecenderungan untuk kelesuan, kemalasan dan kegiatan yang dungu,  yang menyebabkan khayalan atau tanpa pembedaan.
              Dalam hal memlih makanan, Bhagavad Gita 17.10 sifat Tamas sebagai berikut : yata-yamam gata-rasam puti paryusitam ca yat, uccistam api camedhyam bhojanam tamasa-priyam. Artinya: makanan yang dimasak lebih dari tiga jam sebelum dimakan, makanan yang hambar, basi dan busuk, dan makanan terdiri dari sisa makananorang lain dan bahan-bahan haram disukai oleh orang yang bersifat kegelapan (Prabhupada,1986:753-754).
             Dalam hal melakukan yajnya, Bhagavad Gita 17.13disebutkan: viddhi-hinam asrstannam mantra-hinam adaksinam, sraddha-virahitam yajnam tamasam paricaksate Artinya : korban suci apa pun yang dilakukan tanpa mempedulikan petunjuk Kitab Suci, tanpa membagikan prasadam (makanan rohani), tanpa mengucapkan mantra-mantra veda, tanpa memberi sumbangan kepada para pendeta dan tanpa kepercayaan dianggap korban suci kebodohan. (Prabhupada, 1986:756-757)
             Dalam hal melakukan pertapaan, Bhagavad Gita 17.16 disebutkan: Mudha-grahenatmano yat pidaya kriyate tapah, Parasyotsadanartham va tat tamasam udahrtam Artinya: pertapaan yang dilakukan berdasarkan kebodohan, dengan menyiksa diri atau untuk menghancurkan atau menyakiti orang lain dikatakan sebagai pertapaan dalam sifat kebodohan.(Prabhupada,1986:759)
              Dalam hal kedermawanan atau dana punia, Bhagavad Gita 17.22 disebutkan: adese-kale yad danam apatrebhyas ca diyate asat-krtam avajnatam tat tamasam udahrtam Artinya: sumbangan-sumbangan yang diberikan ditempat yang tidak suci, pada waktu yang tidak suci, kepada orang yang tidak patut menerimanya, atau tanpa perhatian dan rasa hormat yang benar dikatakan sebagai sumbangan dalam sifat kebodohan.(Prabhupada,1986:763)
              Dengan demikian nampak perbedaan-perbedaan dari perilaku-perilaku yang dinyatakan dalam sloka-sloka Bhagavad Gita diatas, tentang ciri-ciri yang memberikan pengaruh dari masing-masing sifat yang ada dalam triguna.

B. Pengertian Pengembangan Budhi Pekerti
Pengertian budi pekerti berasal dari dua kata Sansekerta yakni Buddhi dan Krti. Buddhi artinya budi, pengertian, pendapat, akal kesadaran, persepsi. (Pemda Tk I Bali, 1985/1986 : 265). Krti (kerti) berarti laksana, laku, perilaku. Pekerti artinya perbuatan atau perilaku/laksana yang disengaja (Pemda Tk I Bali : 136)
Dalam perkembangan selanjutnya kata budhi juga berarti kecerdasan. Dalam kosa kata bahasa Indonesia kata budhi, seperti disebutkan dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (1991:150) berarti : 1) alat batin yang merupakan paduan akal dan perasaan untuk meninbang baik dan buruk; 2) tabiat, akhlak, watak; 3) perbuatan baik, atau kebaikan; 4) daya upaya, atau ikhtisar; 5) akal (dalam arti kecerdikan)
 Dengan demikian Budhi Pekerti adalah perbuatan atau tingkah laku sengaja dengan sadar yang dilakukan dilandasi oleh akal sehat dan hati nurani, maka kata budhi pekerti bermakna perbuatan tingkahlaku yang baik dan benar atau perilaku yang mulia untuk menjaga hubungan yang harmonis antar sesama umat manusia beserta ciptaan-Nya. Bila setiap orang dapat membina hubungan yang harmonis dengan Sang Maha Pencipta, Tuhan Yang Mahaesa dengan mengikuti segenap ajaran-Nya, maka sesungguhnya akan memancar kasih sayang kepada sesama manusia bahkan kepada segala mahluk hidup (sarvaprani hitankara).
Setiap ajaran agama termasuk ritual sebagai salah satu perwujudan ajaran agama mengandung ajaran untuk membina hubungan yang harmonis antara sesama umat manusia, mahluk hidup dan alam lingkungannya.
            Pengembangan budhi pekerti adalah usaha untuk meningkatkan perilaku dalam memperoleh tujuan dari kehidupan yang lebih baik. Dengan demikian pengembangan budhi pekerti sangatlah penting agar tercapai segala yang  menjadi tujuan dalam hidup ini. Adapun usaha-usaha dalam mencapai kehidupan yang lebih baik ini, ajaran agama Hindu memiliki banyak konsep tentang untuk meningkatkan sraddha dan bhakti dalam menumbuh kembangkan budhi pekerti. Pengembangan budhi pekerti yang luhur adalah segala perilaku yang tepat diterapkan dalam berperilaku, maka mengacu kepada sastra suci sebagai berikut :
  1. Dengan Tri Kaya Parisudha yaitu tiga perbuatan yang harus disucikan, mulai dari berpikir, berkata, dan berbuat.
  2. Dengan Tri Hita Karana yaitu tiga hubungan harmonisasi yang selalu dijaga seperti : Hubungan dengan sang pencipta, hubungan sesama dan hubungan dengan alam beserta ciptaan-Nya yang lain.
  3. Dengan mengimplementasikan ajaran Tri Rna yaitu mengingat tiga kewajiban antaranya : Ada tiga hutang yang harus dibayar oleh setiap orang : 1) Hutang hidup kepada Tuhan 2) Hutang budi kepada orang tua dan leluhur 3) Hutang ilmu kepada Guru (Rsi).
  4. Karena perilaku manusia yang menyimpang dari tertib kosmos memiliki hubungan terhadap terjadinya bencana, maka umat manusia sangat perlu mempertimbangkan segala perilakunya.
  5. Manusia perlu lebih menyadari tindakan-tindakan yang dapat suatu waktu dapat mendatangkan bencana baik pada dirinya sendiri, orang lain dan lingkungannya.
Di dalam Bhagavadgita XVI.21 disebutkan: “Ada tiga pintu gerbang menuju neraka tersebut-hawa nafsu,amarah dan loba. Setiap orang waras harus meninggalkan sifat ini, sebab tiga sifat ini menyebabkan sang roh merosot”. (Prabhupada, 1986:739)
Sifat nafsu mengantarkan ke tiga pintu gerbang neraka, yakni: kama (moha), lobha, dan krodha. Ketiga perbuatan buruk (papakrti) merupakan papa atau dosa yang mesti dihindari oleh setiap orang, terutama yang ingin sukses menempuh jalan rohani.
 Dalam Manavadharmasastra XII.105 dinyatakan:“Hanya dia sendiri, tidak ada orang lain yang mengetahui hukum suci, yang meneliti akan ucapan dari orang-orang suci dan batang tubuh undang-undang dengan cara lokika, bukan yang bertentangan dengan ceritera Veda”. (Pudja dan Sudharta, 1996 : 745).
Oleh karena itu seseorang hendaknya selalu bergembira melaksanakan kebenaraan, taat kepada ajaran suci (Veda), bertingkah laku terpuji, sebagai orang yang mulia, selalu suci hati. Suatu perbuatan yang bila pada akhirnya tidak memberikan kebahagiaan dan sangat dikutuk di dunia ini (lokavikruspha) bukanlah Dharma dan harus ditinggalkan.
1. Pengertian Pendidikan Budhi Pekerti               
            Dalam the Encyclopedia Americana (Vol.9:642) dijelaskan pengertian pendidikan yang lingkupnya amat luas, yakni suatu proses seseorang mendapatkan pengetahuan, pemahaman, mengembangkan sikap-sikap atau ketrampilan-keterampilan. Sedangkan Budhi pekerti berasal dari kosa kata bahasa sansekerta yang terdiri dari dua kata, yakni budhi dan pekerti. Kata budhi berasal dari urat kata budh yang berarti mengetahui, kemudian berubah menjadi kata benda budhi (bentuk tunggal) yang berarti pengetahuan dalam bentuk jamak berubah menjadi buddhayah. Kata prakerti berasal dari kata prakrti atau pravrti yang berarti perilaku.
            Dalam kamus besar bahasa indonesia disebutkan:
“Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan perhatian, proses perubahan cara mendidik” (Kamus Besar Bahasa Indonesia Dep.Dik.Bud Balai Pustaka, 1994:232.cetakan II)
           
            Dengan demikian pendidikan budhi pekerti adalah suatu proses seseorang untuk mendapatkan pengetahuan untuk mengembangkan kecerdasan dalam bersikap dan berperilaku. Pendidikan budhi pekerti tentunya mempelajari tentang tingkah laku manusia yang mulia, sesuai dengan norma-norma yang berkembang dalam masyarakat. Sebagai pedoman dalam berbuat yang baik dan berdasarkan kepada salah satu hasil dari kebudayaan manusia, menyebabkan kegiatan pendidikan tidak akan terlepas dari nilai-nilai kebudayaan manusia.
            Berarti pendidikan budhi pekerti adalah refleksi dari kebudayaan dimana didalam pendidikan budhi pekerti itu tercermin suatu kebudayaan yang menjadi sumbernya. Tujuan pendidikan menurut kitab suci Veda adalah tercapainya pencerahan dan kesempurnaan hidup (Atmavidya), yang pada hakekatnya membangun watak atau kepribadian seseorang seperti dinyatakan dalam Tattiriya Upanisad (I.11.1-4), yang menyatakan seseorang hendaknya senantiasa berbicara jujur dan benar, berpegangan atas Dharma, senantiasa belajar dan berbhakti tidak  pernah lalai, senantiasa memberikan kegembiraan kepada guru, menghormati orang tua dan keluarga, mencintai lingkungan, memberikan penghargaan yang sama terhadap mereka yang menganut agama/kepercayaan, bahasa dan budaya yang berbeda-beda.
           Hal yang sangat  penting, tujuan pendidikan pada umumnya seperti dinyatakan oleh Svami Sathya Narayana (2000:5) adalah untuk pembentukan karakter yang baik (character building),  atau akhlak mulia selengkapnya sebagai berikut:
tujuan pengetahuan adalah kearifan,
tujuan peradaban adalah kesempurnaan,
tujuan kebijaksanaan adalah kebebasan, dan
tujuan pendidikan adalah karakter yang baik

Menyangkut pembangunan karakter atau watak, utamanya karakter bangsa, hal ini sering diungkapkan oleh Bung Karno (Presiden I Republik Indonesia) pada saat menjelang kemerdekaan maupun ketika kemerdekaan 17 Agustus 1945 sudah dapat diwujudkan. Bung Karno sejak anak-anak dan ketika ia meningkat dewasa sudah sangat memahami tentang pembangunan atau pembentukan karakter manusia ini, seperti yang ia serap dari pemikiran Svami Vivekananda yang terhimpun dalam buku The Complete Works of Vivekananda. Mengapa pembentukan karakter ini demikian rupa sebagai tujuan pendidikan sangat penting dan bahkan yang terpenting,  karena pendidikan ini sangat terkait dengan keluaran (output) anak didik atau anak-anak yang suputra seperti diharapkan oleh orang tua, guru dan masyarakat. (Menumbuhkembangkan Pendidikan Budhi Pekerti Pada Anak, Titib, 2002; 19)
Di samping itu, pendidikan budhi pekerti agar mengarah pada pemahaman nilai-nilai bersama dan upaya kolaboratif untuk mengatasi masalah-masalah bersama, seperti: kejahatan, kemiskinan, kelaparan, kesehatan, dan keterbelakangan; dengan kata lain untuk mewujudkan kepedulian bersama atau di dalam Veda disebut Jagadhita dan Lokasmgraham (kesejahteraan masyarakat), karena hakekatnya semua makhluk adalah bersaudara (Vasudhaivakutumbhakam).
Dalam hubungan ini, model pendidikan agama Hindu yang berwawasan multikultural yang diajarkan oleh Sri Sathya Narayana (13-11-2003) seorang yogi besar dewasa ini yang menekankan kembali betapa pentingnya 5 (lima) dasar nilai-nilai kemanusiaan, yang terdiri dari:1) Satya: kebenaran (truth), seseorang hendaknya berpegang teguh kepada ajaran agama yang dianutnya, 2) Dharma: tindakan yang benar (right conduct), seseorang hendaknya senantiasa berbuat baik dan benar, 3) Prema: cinta kasih (love), seseorang hendaknya senantiasa mengembangkan cinta kasih kepada semua makhluk dan alam semesta ciptaan-Nya, 4) Santi: kedamaian (peace), seseorang hendaknya dapat mewujudkan kedamaian hati dan membuat suasana sejuk terhadap lingkungannya, 5) Ahimsa: tanpa kekerasan (non violence), seseorang hendaknya tidak melakukan tindakan kekerasan, tidak menyiksa apalagi sampai membunuh seseorang.     
2. Pengembangan Budhi Pekerti dalam Pendidikan
            Usaha pengembangan budhi pekerti dalam pendidikan adalah suatu pengembangan yang dilakukan terhadap perilaku-perilaku yang mulia dalam pendidikan. Agar pengembangan budhi pekerti dalam pendidikan, dapat selalu menjadi pedoman atau tuntunan berperilaku bagi seseorang, maka pengembangan budhi pekerti ini haruslah memiliki acuan yang jelas. Dalam hal ini pengembangan budhi pekerti mengacu pada ajaran suci agama Hindu (dharma).
Karena pengembangan budhi pekerti, merupakan masalah yang sangat penting dalam kehidupan manusia sehari-hari, maka perlulah dilakukan peningkatan berperilaku yang mulia. Ini semua dilakukan untuk pencapaian sebuah tujuan. Melalui pendidikan-pendidikan inilah yang akan dapat menghasilkan perubahan perilaku-perilaku dalam kehidupan ini. Perilaku mulia, seperti yang diharapkan. Begitu pula dengan mendapatkan ilmu pengetahuan,  tanpa diiringi oleh budhi pekerti yang mulia, tidak akan menjadi berguna karena pemanfaat ilmu pengetahuan yang benar tentu akan memiliki arti apabila dapat dipergunakan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan didunia ini.
Kepandaian yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dalam pendidikan, jika diiringi oleh budhi pekerti individunya akan menjadi kecerdasan dan bijaksana, sehingga kecerdasan dan kebijaksanaan ini pastilah sangat berguna bagi semua mahkluk yang ada. semakin terasa dampaknya dalam masing-masing individu dalam bermasyarakat karena akan dapat saling menguntungkan. Sehingga pengembangan budhi pekerti dengan baik dapatlah dihasilkan, yang tidak dapat dipisahkan dari hidup dan kehidupan manusia ini.
Pelaksanaan budhi pekerti adalah merupakan pelaksanaan yang sangat diharapkan karena merupakan pelaksanaan yang baik dan luhur, dapat menghasilkan perbaikan-perbaikan yang berguna bagi sesama manusia dan beserta ciptaan-Nya. Pendidikan agama Hindu berwawasan multikultural merupakan hal yang sangat mendesak untuk segera dilaksanakan di Indonesia, guna sedini mungkin mencegah hal-hal yang dapat merupakan potensi konflik yang berbau agama, suku, ras dan antar golongan dalam masyarakat (SARA). Untuk mencegah hal tersebut di masa yang akan datang pendidikan multikultural diprioritaskan, hal ini dapat dilakukan mulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat, seperti halnya pendidikan pada umumnya adalah keteladanan dari orang tua di rumah, para guru di sekolah, tokoh-tokoh agama dan tokoh-tokoh masyarakat di masing-masing komunitas masyarakat.
Penerapan pendidikan multikultural di sekolah dimulai dengan revisi kurikulum dan bahan ajar, pengadaan bahan ajar yang memadai, serta peningkatan kualitas guru dan dosen dalam meningkatkan pemahaman terhadap pendidikan multikultural ini.
Pendidikan agama Hindu berwawasan multikultural hendaknya ditanamkan sejak dini kepada setiap  anak didik, dengan demikian pada masanya generasi muda ini akan mudah beradaptasi dengan lingkungan bersama, yang terdiri dari berbagai etnis, budaya dan agama. Berhasilnya pendidikan agama Hindu berwawasan  multikultural ini dikembangkan di Indonesia bila didukung oleh Pemerintah dan semua komponen bangsa, untuk itu sosialisasi pendidikan multikultural ini perlu lebih ditingkatkan. Salah satu upaya untuk hal tersebut adalah mengadakan berbagai seminar, dialog, lokakarya, sarasehan  dan diskusi untuk menyatukan visi dan menyamakan misi dalam membangun dan mengembangkan pendidikan multikultural.
Salah satu unsur budaya yang paling rentan mendapatkan tantangan di era globalisasi ini adalah sistem religi dan upacara keagamaan. Salah satu dari sistem religi tersebut adalah masalah etika dan sopan santun prilaku anggota masyarakat, karena pengaruh globalisasi, maka sesuatu di masa silam yang dianggap tabu, kini hal itu tidak lagi  menjadi sesuatu yang tabu. Demikian melalui berbagai media TV kita dapat menyaksikan hal-hal yang oleh sebagian anggota masyarakat dianggap sebagai pornografi atau pornoaksi, namun sebagian lainnya menganggap hal tersebut hal yang biasa. Kini semakin maraknya penyalahgunaan obat-obat psikotropika (narkoba) di kalangan generasi muda bangsa merupakan kendala dalam membangun pendidikan multikultural.
Sejalan dengan hal tersebut, dalam berbagai kesempatan Menteri Agama H. Said Agil Husin Al’ Munawar menyampaikan tentang berbagai tantangan yang dihadapi umat beragama, di antaranya dirumuskan sebagai empat tantangan besar bagi umat beragama yang patut kita antisipasi yaitu :1)Mencuatnya fanatisme yang sempit, mengganggap dirinya sendiri yang  paling baik dan benar, sehingga yang lainnya dianggap sesat, 2)Anarkis, pemaksaan kehendak, sehingga terjadi konflik yang  berkepanjangan, 3)Sadisme, sikap yang kejam di luar tatanan dan batas kemanusiaan, 4) Merosotnya mental moral yang diakibatkan oleh berbagai faktor seperti pornografi,  narkoba dan lain-lain.
Mengantisipasi empat tantangan umat beragama di atas, sekaligus pula juga merupakan tantangan budaya, Menteri Agama menetapkan  Program Inti Departemen Agama, yakni: 1)Terwujudnya masyarakat yang agamis, berperadaban luhur, berbasiskan hati nurani yang disinari oleh ajaran agama, 2)Terhindarnya perilaku radikal, ekstrim,  tidak  toleran  dan  eksklusif  dalam kehidupan beragama, sehingga terwujud masyarakat yang rukun dan damai dalam kebersamaan dan ketentraman, 3)Terbinanya masyarakat agar menghayati, mengamalkan ajaran agama dengan sebenar-benarnya, mengutamakan persamaan, menghormati perbedaan, melalui internalisasi ajaran agama.
C. Pengertian Moksa
            Moksa adalah keadaan pada tingkat tidak adanya rasa senang atau duka melainkan disadari sebagai satu tingkat kebahagiaan yang paling tinggi. Moksa adalah tujuan terakhir dari seluruh umat agama Hindu. Dengan jalan sembahyangan bathin dengan dharana (menetapkan cipta), dhyana (memusatkan cipta), manusia berangsur-angsur akan dapat mencapai tujuan hidupnya yang tertinggi ialah bebas dari segala ikatan keduniawian, untuk bersatunya atman dengan Brahman.
Dalam Bhagavad Gita VII.19 disebutkan :
Bahunam janmanam ente jnanavan mam prapadyate
Vasudevah sarvam iti sa mahatma su-durlabhuh



Artinya:
Sesudah dilahirkan dan meninggal berulangkali, orang yang sungguh-sungguh memiliki pengetahuan menyerahkan diri kepada-Ku, dengan mengenal-Ku sebagai sebab segala sebab segala yang ada. Roh yang mulia seperti itu jarang sekali ditemukan.(Prabhupada, 1986 : 380)
            Moksa adalah merupakan keyakinan akan pembebasan dari keterikatan juga disebut dengan berakhirnya penjelmaan kembali karena telah bersatunya jiwa dengan brahman sehingga jiwa tidak dilahirkan kembali atau tidak mengambil bentuk badan lain inipun merupakan tujuan akhir dari ajaran agama hindu. Hubungan manusia dengan Tuhan hendaknya dilandasi oleh kesadaran bahwa "Tuhan adalah kebenaran pengetahuan yang tak terbatas (Sat Citta Ananda Brahman) dan Ia adalah dari mana semua ini berasal (Janmadhyasya yatah)", sebagaimana diungkapkan didalam kitab Maha Nirvana Tantra dan Brahma Sutra I.1.2.
            Moksa dapat dicapai melalui tiga jalan: dengan mempelajari segala ilmu pengetahuan, dengan melepaskan diri (ayoga) dari segala indrya, dan dengan menghilangkan pengaruh nafsu. (Wrhaspati Tattva Sloka 52, Putra dan Sadia, 1988:57).
            Dalam kitab Bhagawad Gita adhyaya XI sloka 55 menyatakan : "Arjuna yang baik hati, orang yang menekuni bhakti yang murni kepada-Ku, bebas dari pengaruh kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala dan pengaruh angan-angan, yang bekerja demi-Ku, menjadikan Aku sebagai tujuan utama dalam hidupnya, dan ramah terhadap semua makhluk hidup-dia pasti datang kepada-Ku" (Prabhupada, 1986: 587), dan Bhagavad Gita adyaya XVIII.65 menyebutkan: “Berpikir tentang-Ku senantiasa, jadilah penyembah-Ku, bersembahyang kepada-Ku dan bersujud kepada-Ku. Dengan demikian, pasti engkau akan datang kepada-Ku. Aku berjanji demikian kepadamu karena engkau kawan-Ku yang sangat Kucintai”. (Prabhupada, 1986 : 818). 
            Dengan demikian dalam kehidupan ini tujuan utama adalah Tuhan. Jadi sudah seharusnya untuk berperilaku sehari-hari dalam hal apapun, setiap orang berpikir dan bertindak demi dan untuk Tuhan, tidak untuk kepentingan yang lain, atau selalu mengikuti petunjuk Dharma (ajaran agama Hindu) yang dapat mengantarkan untuk meraih kebahagiaan sejati. Akhirnya segalanya karena berawal dari Tuhan sehingga kembali pula kepada Tuhan.
Badan manusia (selubung makanan) terdiri dari kulit, darah, daging, tulang, sumsum dan lain-lain. Badan jasmani terdiri dari lima unsur (Panca Mahabhuta). Disebut selubung makanan karena unsur makanan mendukung pertumbuhan tubuh. Badan inilah yang paling jelas terlihat oleh mata (badan awadag) dan merupakan penutup Atman yang paling luar. Selubung yang lebih di dalam adalah prana atau energi, halus dan tidak kasat mata. Wujud  yang nyata dari selubung ini adalah napas.
Adanya prana, dari pranalah biokimia tubuh berfungsi. Badan atau selubung yang lebih di dalam lagi dari prana adalah Manomayakosa. Selubung ini terdiri dari instrumen pengertian yaitu yang paling luar adalah manas (pikiran atau tanggapan), ahamkara (ego), buddhi (intelek atau kecerdasan) dan citta (kesadaran atau kesanggupan berpikir murni).
Ditengah dari selubung pikiran  ini adalah Vijnanamayakosa yakni kebijaksanaan. Melalui selubung ini pengetahuan yang sejati dan abadi dipancarkan kepada intelek. Badan yang paling dalam adalah anandamayakosa yaitu berupa keadaan bahagia yang sejati  yang memrupakan penutup Atman  yang paling tengah. Itulah sebabnya badan ini langsung bersentuhan dengan Atman. Anandamayakosa ini jangan dirancukan pengertiannya dengan Brahman, sumber kebahagiaanyang sejati yang tiada taranya.
Membandingkan Brahman dengan selubung terdalam (anandamayakosa) dan yang lebih di luarnya (vijnanamayakosa) adalah tidak mungkin. Kedua badan terakhir ini sebagian masih ditutupi avidya, kegelapan atau kebodohan. Atman pada tingkatan ini sangat dekat untuk direalisasikan sebagai esensi alam semesta, tetapi belun juga bebas untuk melihat keagungan dan kesempurnaan-Nya.
Atman memasuki badan tetapi badan bukanlah Atman. Atman tertutup oleh indria dan obyeknya, karena pada saat ini, ia disamakan  dengan badan. Pada saat seseorang sadar terhadap sifat Atman (Sang Diri) yang sejati, maka lima selubung (pancamayakosa) pada saat itu pula ia melepaskan diri dari kenikmatan dan belengguan duniawi. Sistem filsafat Vedanta tidak menyangkal pentingnya selubung itu, tetapi diingatkan bahwa seseorang jangan mengidentikan diri dengan hal itu. Hendaknya seseorang pergi lebih jauh dalam Atman (lebih di dalam dari pancamayakosa) untuk memperoleh kebahagiaan yang sejati dan kehidupan yang abadi atau merelaisasikan moksa dalam kehidupan ini.
Lima selubung itu (pancamayakosa) dapat pula dibedakan menjadi tiga badan, yaitu: sthula sarìra (badan wadag), sukma sarìra (badan halus) dan karana sarìra (badan sebab). Badan wadag sama dengan annnamayakosa. Kesadaran Atman terpikat dan terperangkap oleh badan ini dalam keadaan jaga (jagrapada). Badan halus merupakan kombinasi dari energi (pranamayakosa), mental (manomayakosa) dan kebijaksanaan (vijnanamayakosa). Kesadaran Atman “terperangkap” oleh badan halus ini berhubungan dengan ide dan mimpi-mimpi (svapnapada). Karana sarira (badan penyebab) sama dengan anandamayakosa yang berhubungan dengan keadaan tidur nyenyak (sptapada).
Pengkajian Penjelmaan (Atman yang terikat oleh berbagai selubung atau badan), dalam Mahabharata menggambarkan sebagai berikut :
Ketika Aku dilahirkan ai antara para yaksa, Aku memandang, berbicara, berpakaian dan bertingkah laku seperti para yaksa itu. Ketika Aku lahir di antara para gandharva atau dewa-dewa, maka Aku memandang, berbicara, berpakaian dan bertingka laku seperti mereka. Mereka pun tidak mengetahui siapa sebenarnya Aku. Pada saat ini Aku lahir dalam wujud manusia untuk suatu tujuan tertentu, hanya beberapa orang saja yang mengetahui sifat kedewataan-Ku yang asli.” (Asvamedhaparva, Anugita 54. 14-20).
     
            Dengan demikian bila atman mengambil bentuk tubuh-tubuh tertentu, maka sifat-sifatnyapun akan mengikutinya. mengambil tubuh raksasa, maka perilakunya adalah seperti raksasa, bila mengambil wujud dewa maka perilakunya seperti dewa. Bila lahir menjadi manusia perilaku inilah yang patut dikembangkan kearah yang baik, benar dan luhur agar bermanfaat untuk yang lainnya. Jnanabhudreka artinya pengetahuan tentang semua tattva, indriyayogamarga yang berarti orang yang tidak menikmati indriya, trsnadosaksaya yang berarti orang yang memusnahkan buah perbuatan baik dan buruk.
D. Pengertian Filsafat Hindu (Sad Darsana)
”Filsafat adalah tidak lebih dari suatu usaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan terakhir, tidak secara dangkal atau dogmatis seperti yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari atau bahkan dalam kebiasaan ilmu pengetahuan. Akan tetapi secara kritis, dalam arti: setelah segala sesuatu diselidiki problem-problem apa yang dapat ditimbulkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang demikian itu dan setelah kita menjadi sadar dari segala kekaburan dan kebingunan,yang menjadi dasar bagi pengertian kita sehari hari...”(Bertand Rusel)

Filsafat Hindu (Sad Darsana) adalah merupakan enam sistem pandangan para rsi terhadap kebenaran kitab suci Veda. Secara Epistemologi Filsafat yang mengkaji keberadaan sesuatu tentang sumber dan kebenaran pengetahuan (episteme), batas-batas pengetahuan, struktur pengetahuan dengan  Logika, kebenaran dan Filsafat Ilmu. Secara Ontologi Filasafat yang mengkaji “keberadaan sesuatu” baik kongkrit (fisis), abstrak (metafisis)  sejauh sesuatu itu (“ADA”). Seperti : Fisika (alam fisik), Biologi (manusia, binatang, tumbuhan) dan  Metafisika (atman, Brahman, waktu). Secara Aksiologi Filsafat yang berbicara masalah nilai-nilai atau norma-norma yang ada pada manusia, berkaitan dengan “baik” dan “buruk”; “indah” dan “tidak indah”.
Sad Darsana berarti enam pandangan filsafat Hindu yaitu : 1) Nyaya  : pendiri ajaran ini adalah Rsi Gotama. Kadang-kadang beliau juga memakai Aksapada atau Dirghatapa. Pokok ajaran Nyaya adalah logika (Tarka Veda). 2) Vaisiseka : pendirinya adalah Rsi Kanada. Beliau juga dikenal dengan nama Kanabhaksaka. Vaisiseka mengajarkan tentang pengetahuan yang menuntut orang untuk realisasi sang diri. 3) Samkhya : Menurut tradisi yang mula-mula mengajarkan ajaran Samkhya ialah Rsi Kapila. Samkhya mengajarkan ajaran yang sistematis tentang proses perkembangan kejadian alam semesta. 4) Yoga : pendiri ajaran ini adalah Rsi Patanjali. Yoga mengajarkan latihan mengendalikan badan dan pikiran untuk mencari tujuan terakhir yang disebut samadhi. 5) Purwa Mimamsa : ajaran Mimamsa didirikan oleh Rsi Jaimini.
Ajaran ini mengajarkan tentang dasar-dasar ajaran dharma, lebih menekankan kepada ritual dan etika dari pada filsafat. 6) Vedanta artinya: akhir dari Veda. Ajaran ini disebut juga Utara Mimamsa Vedanda, merupakan puncak filsafat india yang berdasarkan atas ajaran Upanisad. Pokok ajaran Vedanta ialah membicarakan hubungan antara Tuhan dengan dunia, antara Atma dengan Paramatma. Tokoh pendiri Vedanta adalah Rsi Badrayana didalam kitab Bhagavadgita, Vedanta disebut Brahma Sutra. (Sura,1984:13)
Dalam Filsafat Samkhya (Guna Merupakan Trinitas Samkhya). Sistem Samkhya umumnya dipelajari setelah sistem Nyaya, karena secara pasti ia menekankan dualitas dan pluralitas, karena mengajarkan bahwa ada Purusa  atau roh yang banyak sekali. Samkhya menyangkal  bahwa suatu benda dapat dihasilkan dari ketiadaan.
Prakrti dan Purusa adalah Anadi (tanpa awal) dan Ananta (tanpa akhir: tak terbatas). Ketidak beradaan (Aviveka) antara keduanya merupakan penyebab adanya kelahiran dan kematian. Perbedaan antara Purusa dan Prakrti memberikan Mukti (pembebasan). Baik Purusa maupun Prakrti adalah Sat (nyata). Purusa bersifat Asanga (tak terikat) dan merupakan kesadaran yang meresapi segalanya dan abadi. Prakrti merupakan sipelaku dan sipemikat, yang tersusun dari materi dan rohani yang memiliki atau terpengaruh oleh 3 Guna atau sifat, yaitu Sattvam, Rajas dan Tamas.(Maswinara, 1999 : 156)
E. Pengertian Fisafat Samkhya Nir-Isvara
Sistem filsafat samkhya disebut sebagai Nir-Isvara Samkhya atau samkhya tanpa Tuhan, yaitu tidak mempercayai adanya Tuhan atau Isvara, sehingga sifat Atheis. Penciptaan berasal dari Prakerti yang ada dengan sendirinya dan tak ada sangkutpautnya dengan Purusa tertentu yang menjadikannya. (Maswinara,1999 : 157)
Sistem filsafat samkhya disebut sebagai filsafat nir-Isvara Samkhya atau filsafat tanpa Tuhan. Filsafat Samkhya bersifat ateis karena tidak percaya dan tidak menerima adanya Tuhan (Isvara). Menurut filsafat Samkhya penciptaan berasal dari prakerti yang ada dengan sendirinya dan tak ada sangkut pautnya dengan purusa tentu yang menjadikannya. Oleh sebab itu menurut penganut filsafat Samkhya menyatakan bahwa tidak perlu adanya pencipta yang cerdas atau satu bahkan satu kekuatan yang mengatasinya (Sivananda, 2003 :190-191).
Menurut filsafat Samkhya prakrti tersusun atas tiga guna atau kekuatan sifat, yaitu: 1) sifat sattva guna (kemurnian, selaras, keseimbangan), 2) rajas guna (nafsu, kegiatan, gerak, kreatifitas), 3) tamas guna (lambat, kegelapan, kemalasan, tanpa kegiatan). (I Ketut Donder, 2006 : 271).
Menurut samkhya, sumber dari segala kebingungan ini adalah pengaruh alami dari guna, yakni ”konstituen, kekuasaan atau sifat” prakrti yang telah disinggung dalam pembahasan tentang lesya dalam jaina, yakni: sattvam adalah sebuah kata benda yang dibentuk berdasarkan kata sat (atau sant) dan berasal dari kata as, kata kerja yang berarti ”menjadi” (to be). Sat berarti being apa yang seharusnya : baik, sempurna, dan sattvam berarti ” keadaan yang ideal: kebaikan kesempurnaan, kesucian yang bening, kejelasan yang bersih dan kesunyian yang sempurna.” sifat sattvam dominan pada para dewa dan makhluk-makhluk langit, orang-orang yang tidak egois dan berkonsentrasi pada pencarian spiritual yang murni. Inilah guna yang membibing kearah pencerahan. (Heinrich Zimmer, 2003: 286)
Dengan demikian, tujuan pertama ajaran yoga dalam yoga sutra karya Patanjali adalah meningkatkan sattvam, dan kemudian secara bertahap membersihkan sifat rajah dan tamas manusia. Dua  kata benda rajas cara literer berarti ”kekotoran.”, yang mengacu pada fisiologi tubuh perempuan, yakni ”menstruasi”. Arti yang lebih umum adalah ”debu”. Kata ini berkaitan dengan ranj, rakta, ”kemerahan, warna”, juga dengan raga ”nafsu”. Debu yang dimaksud adalah tanah yang secara terus-menerus disapu oleh angin karena tidak ada hujan setidaknya selama sepuluh bulan dalam satu tahun.
Rajas meredupkan penampilan semua benda, mengaburkan pandangan bukan hanya tentang alam semesta, tetapi juga pandangan tentang diri. Makanya,rajas menciptakan kegelapan intelektual dan moral. Diantara makhluk-makhluk yang dimitoskan, rajas itu adalah raksasa, anti/dewa atau setan jahat yang menggambarkan keinginan untuk berkuasa sepenuhnya, kenekatan untuk berkuasa dan bermegah ria, penuh dengan ambisi, kesombongan dan egotisme.
Rajas melekat pada setiap orang di setiap tempat, sebagai kekuatan yang mendorong upaya untuk bereksitensi. Kekuatan ini mengipas-ngipasi nafsu, perasaan suka dan tidak suka, kompetisi, dan hasrat untuk menikmati dunia. Kekuatan ini memaksa manusia dan binatang untuk memerangi kebaikan tanpa memperdulikan kebutuhan dan penderitaan orang lain.
Tamas (dalam bahasa Latin tene-brae, Prancis tene-bres) yang secara literer berarti ”kegelapan, hitam, biru-hitam” : secara spiritual berarti ”kebutaan”-bermakna ketidaksadaran yang melekat pada binatang, tumbuhan dan mineral.tamas merupakan dasar dari hilangnya semua perasaan, ketumpulan, kezaliman, tidak sadar dan kelambanan. Tamas menyebabkan kemurungan mental, kebodohan, kesalahan dan ilusi.(Heinrich Zimmer, 2003: 287-288)
Menurut samkhya ketiga guna itu berada didalam keseimbangan kekuatan. Oleh karena itu prakerti berada dalam keadaan tenang, dan tidak terjadi apa-apa. Ketika keseimbangan kekuatan-kekuatan didalam prakrti itu terganggu, terjadilah gerak, dan berkembanglah prakerti. Gangguan keseimbangan itu terjadi ketika purusa berhubungan dengan prakrti. Sebab, dari purusa itu dengan sendirinya keluarlah perangsang, seperti halnya dengan besi berani (magnet) terhadap besi yang ditariknya.
Kerjasama antara purusa dan prakerti ini menimbulkan perkembangan alam semesta dengan segala isinya yang keluar dari prakrti. Akan tetapi sebaliknya, karena hubungan ini, prakrti mengubah bentuk purusa yang banyak itu menjadi jiwa perorangan didalam dunia. Prakrti menahan purusa dan membelenggunya didalam tubuh (Harun Hadiwijono, 1989 : 65)
Perkembangan prakerti dari yang satu menjadi yang banyak itu adalah suatu perubahan bentuk, suatu transformasi, bukan suatu perubahan tempat. Demikian juga perubahan itu tidak hanya terjadi dalam satu jurusan saja melainkan dalam banyak jurusan. Juga disebutkan, bahwa perkembangan prakerti berkala, artinya ada masa perkembangan dan ada masa peleburan.
Tiap masa perkembangan (srsti) disusul oleh masa peleburan (pralaya) pada masa peleburan itu seluruh keanekaragaman alam semesta ini menjadi terpendam, ditidurkan didalam prakrti. Perputaran masa ini tidak ada batasnya (Harun Hadiwijono, 1989 : 65)
Pemikiran samkhya masalah lahir mati dan moksa : Lahir-Mati terjadi oleh karena kita tidak mampu membedakan (awiweka) antara Purusa dan Prakerti. Moksa (mukti, pembebasan) tercapai kalau kita mampu membedakan Purusa dan Prakerti. Karena baik Purusa maupun Prakerti adalah nyata (sat), tapi berbeda. Tujuan “hidup ini” adalah untuk merencanakan “hidup yang akan datang, sampai akhirnya mencapai “pembebasan” atau Moksa “Kematian” adalah sebuah “inisiasi terbesar” bagi manusia Atman berkali-kali mendapatkan badan baru, sampai ia menyadari siapa dirinya yang sejati. Seperti halnya, mengganti baju kita yang robek dengan baju yang baru.
Purusa adalah : 1) Tak terikat (asanga), merupakan kesadaran yang meresapi segala sesuatu. 2) Abadi. 3) Sadar. 4) Pasif. Sedangkan Prakerti adalah : 1) Pra artinya sebelum, Kri artinya membuat, Prakerti artinya yang mula-mula yang mendahului apa yang dibuat, 2) Merupakan sumber dari alam semesta. 3) Semua akibat ditemukan padanya. 4)Tersusun dari azas materi dan azas kejiwaan. 5) Aktif, sebagai pelaku, penikmat, 6) Dipengaruhi oleh 3 Guna (satwam, rajas, tamas). 6) Kekal, meresapi segalanya. 7) Penyebab yang tak disebabkan. 8) Tidak bergerak sendiri, tapi digerakkan oleh Guna.
Hubungan purusa dan prakerti :1) Seperti hubungan antara orang lumpuh (purusa) dengan orang buta (prakerti). 2) Pertemuan Purusa dan Prakerti menyebabkan ketidakseimbangan 3 Guna (energi). 3) Ketidak seimbangan energi menyebabkan dimulainya evolusi Prakerti (perwujudan). 4) Pertama-tama muncul: Kecerdasan Utama (Mahat). 5) Dari Mahat muncul Micro Cosmos (manusia) dan Macro Cosmos (alam semesta).
            Evolusi samkhya melibatkan 25 Katagori ini berdasarkan kriteria Produsen dan Produk, dibagi 4 kelompok yaitu : Pertama : Dua Produsen Murni (Prakerti) yaitu: Purusa (non produsen dan non produk) dan prakrti (produsen murni non produk). Kedua yaitu : Tujuh Produsen-Produk (Prakerti-Wikerti). Terdiri dari : Buddhi, Ahamkara, dan Panca Tanmatra yaitu: Sari Suara, Sari Raba, Sari Warna, Sari Rasa dan Sari Bau. Ketiga yaitu : Enam belas Produk (Wikerti). Pengelihatan, Pendengaran, Penciuman,  Perasa, Peraba disebut (Panca Jnana Indriya), Daya berbicara, Daya memegang, Daya berjalan, Daya buang kotoran, dan Daya mengeluarkan benih. (Panca Karma Indriya). Ether, Udara, Api, Air,dan Tanah. (Panca Maha Bhuta). Dan Pikiran (Manas).
            Sedangkan keempat adalah : Non Produsen-Non Produk (Anubhayarupa) adalah merupakan bekerjanya panca indriya, seperti : 1) Intelek + Keakuan + Pikiran + Mata melihat benda,   2) Intelek + Keakuan + Pikiran + Lidah mengecap seperti  Manis, pahit, asam dan rasa lainnya, 3) Intelek + Keakuan + Pikiran + Kulit merasakan dengan rabaan seperti  Lembut halus kasar dan lainnya, 4) Intelek + Keakuan + Pikiran + Hidung penciuman  seperti bau Harum. 5). Intelek + Keakuan + Pikiran + Kuping mendengar seperti suara merdu, dan lainnya.















BAB III
GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN

A. Sraddha Sebagai Wujud Bhakti
             Karena keyakinan atau meyakini akan suatu ajaran suci maka pengamalannya adalah merupakan bhakti dalam mengikuti ajaran suci tersebut. Jika  yang diuraikan dalam kitab suci Veda dan susastra Veda (kepustakaan Hindu) lainnya, bila tidak diamalkan berupa bhakti dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta dalam hubungannya dengan pergaulan antar bangsa-bangsa di dunia ini tidaklah ada artinya. Karena pengamalan berupa bhakti menyentuh nurani manusia bila segala yang baik dapat diamalkan pula secara baik.
  Sesungguhnya Sraddha adalah wujud akan bhakti, karena jika suatu keyakinan yang bersifat baik,  tentu akan timbul perilaku-perilaku yang baik pula. Dimana Sraddha sebagai sumber aktivitas yang berupa bhakti, bila tidak diiringi penyerahan diri terhadap Yang Mahaesa maka akan menjadi tidak maksimal. Karena dengan melakukan bhakti semuanya merupakan wujud apa yang diinginkan, sesungguhnya Tuhan maha pengasih dan maha penyayang hal ini secara tegas dikatakan dalam Bhagavadgita (VII.22) menyebutkan sebagai berikut:
sa taya sraddhaya yuktas tasyaradhanam ihate
labhate cha tatah kaman mayaiva vihitam hi tan




Artinya :
Setelah diberi kepercayaan seperti itu, dia berusaha menyembah dewa tertentu dan memperoleh apa yang diinginkanya. Tetapi sebenarnya hanya Aku Sendiri yang menganugerahkan berkat-berkat itu. (Prabhupada, 1986: 385).

Terjemahan sloka yang inipun menunjukkan betapa toleransi atau penghargaan terhadap keimanan atau keyakinan seseorang sangat dihargai, sebab pada hakekatnya kebhaktiannya itu akan terkabulkan diberi anugrah  oleh Tuhan Yang Mahaesa. Dengan memperhatikan uraian tersebut di atas, maka dapat dijelaslah bahwa: pendalaman dan peningkatan sraddha adalah merupakan penerapan, pengamalan dan melaksanakan ajaran agama yang dikenal dengan istilah Dharma Sadhana. yang artinya merealisikan ajaran agama (Dharma) dalam kehidupan sehari-hari.
 Agar agama tidak menjadi slogan yang kering, tergantung di awang-awang, sedang umat manusia dan masyarakat telah jauh menyimpang dari ajaran agama (Dharma).  Bilamana hal ini terjadi maka masyarakat, bangsa dan negara, cepat atau lambat niscaya akan hancur, karena perbuatan-perbuatan yang jauh semakin menyimpang dengan Dharma dan bahkan bertentangan dengan Dharma, yakni Adharma akan merajalela tentu akan mengakibatkan kehancuran.
            Dalam kehidupan modern, di era globalisasi, di tengah-tengah derasnya arus informasi dan teknologi, ajaran agama yang bersumber dari Veda, dengan sraddha sebagai wujud bhakti hendaknya benar-benar menjadi faktor penggerak hati nurani dan perilaku, untuk itu diperlukan berbagai upaya dan metodologi untuk revitalisasi dan mengaktualisasikan kembali ajaran agama dalam setiap langkah kehidupan ini.
1. Pengertian Sraddha
Kata sraddha atau kepercayaan/keyakinan sangat penting dalam kehidupan ini, dari sraddha memiliki pengaruh yang kuat dalam berperilaku. Dalam ajaran agama hindu. Sraddha atau kepercayaan adalah pada permulaannya kebaikan, tapi karena kehidupan ini adalah merupakan pengikatan antara sifat yang murni (abadi) dengan sifat alam material (maya), maka sifat rohani (Jiva) yang selalu ingin mencari persatuan kembali kepada yang abadi (Brahman), walaupun dengan berbagai cara, seperti seseorang bisa percaya kepada Dewa atau Tuhan yang  berbentuk atau diwujudkan (arca/patung/pratima) dalam konsep ketuhanan saguna Brahman (imanden) atau Tuhan sesuatu yang tidak dapat di samakan dengan yang lain, tidak dapat di wujudkan dalam bentuk apapun, bahkan tak terpikiran Nirguna Brahman (tansenden).
Tetapi dengan terjadinya kehidupan  yang selalu terikat oleh sifat alam material, tidak ada pekerjaan yang bersifat suci sepenuhnya. Ada pun pekerjaan tersebut akhirnya bersifat campuran, karena pekerjaan itu tidak berada dalam sifat kebaikan murni, maka kebaikan murni  bersifat rohani yang melampaui hal-hal duniawi. Sifat kebaikan yang disucikan seseorang dapat memahami sifat sejati Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa (Brahman).
Selama kepercayaan seorang belum mantap sepenuhnya dalam kebaikan murni, kepercayannya dipengaruhi oleh suatu sifat alam material, yaitu kebaikan, nafsu dan kebodohan. Menurut kedudukan hati seseorang, kepercayaan yang berhubungan dengan sifat alam tertentu, kepercayaannya akan dimantapkan. Berbagai sifat alam material dapat disucikan melalui pergaulan dengan yang memiliki sifat-sifat rohani.
Sraddha merupakan sumber inspirasi karena sebagai sebuah keyakinan yang dapat merubah segala perilaku manusia, bagi agama Hindu karena segala sesuatu yang akan dilakukan secara sadar, tentunya akan berasal dari suatu keyakinan.  Keyakinan sebagai sumber inspirasi adalah gagasan atau ide yang akan dilakukan, dengan demikian semua ini datang dari pikiran. Dinyatakan pula dalam Sarasamuscaya sloka 79 disebutkan : manasa nicayam krtva tato vaca vidhiyate, kriyate karmana pascat pradhanam vai manastatah. Artinya : adapun kesimpulannya, pikiranlah yang merupakan unsur yang menentukan; jika penentuan perasaan hati, maka mulailah orang berkata atau melakukan berbuatan. Oleh karena itu pikiranlah yang menjadi pokok sumbernya. (Pudja, 1990:48)
 Orang yang memiliki keyakinan yang mantap akan senantiasa percaya diri dan dengan keyakinan pula seseorang akan memperoleh kesejahteraan. Karena mereka yang selalu mengikuti ajaran-Ku (Brahman) dengan  penuh keyakinan (Sraddha) serta bebas dari keinginan duniawi, juga  akan bebas dari keterikatan, ia yang memiliki keimanan yang mantap (Sraddha) memperoleh ilmu pengetahuan, dapat menguasai panca indrianya, setelah memiliki ilmu pengetahuan dengan segera mencapai kedamaian yang abadi (moksa).
 Tetapi sesungguhnya hanya mereka yang dungulah, yang tidak memiliki ilmu pengetahuan, tidak memiliki keimanan dan selalu diliputi oleh keragu-raguan, orang yang demikian ini tidak memperoleh kebahagiaan di dunia ini dan dunia lainnya.
2. Lima Dasar Keyakinan Umat Hindu                 
            Lima dasar keyakinan umat Hindu adalah dasar-dasar yang diyakini oleh umat Hindu sesuai dengan ajarannya terdiri dari : (1) Keyakinan adanya Brahman (Ida Sang Hyang Widhi), (2) Keyakinan adanya Atman, (3) Keyakinan adanya Karma Phala, (4) Keyakinan adanya Reinkarnasi (Punarbhawa) dan (5) Keyakinan adanya Moksa (pembebasan) yaitu bersatunya Atman dengan Brahman.
Tentang Brahman, Teologi Hindu terbagi atas dua macam, yaitu teologi Nirguna Brahma dan teologi Saguna Brahma. Teologi Nirguna Brahma mengajarkan bahwa Tuhan itu tidak dapat dibayangkan seperti apa-apa (tidak dapat diberi nama apa-apa, dan tidak dapat dibayangkan wujud-Nya seperti apa-apa). Jika manusia mengharuskan diri untuk memberikan simbol dan nama, maka Tuhan Yang Mahaesa hanya boleh dibayangkan dan disebut dengan kata Om. Kata Om merupakan kata gabungan yang berasal dari tiga buah huruf, yaitu huruf A (mulut waktu terbuka) dan huruf U ketika mulut hendak menutup, serta huruf M ketika mulut benar-benar tertutup, AUM = OM adalah nama Tuhan yang tiada bandingnya (Soebadio, 1985).
Di dalam konsep Nirguna Brahma, Tuhan Yang Mahaesa tidak dapat dibayangkan seperti apa-apa, maka pembahasan-Nya hanya mungkin dilakukan oleh dan untuk para yogi atau rsi yang telah mapan dengan berbagai konsep ketuhanan. Konsep ketuhanan Nirguna Brahma nampaknya bukan konsumsi bagi kebanyakan umat manusia. Konsep teologi yang mungkin dapat dibahas secara luas adalah konsep ketuhanan Saguna Brahma, dalam teologi inilah Tuhan dihadirkan dengan berbagai macam manifestasi yang disebut dewa. Inilah yang menjadi alasan mengapa bagi kebanyakan orang, sosok dewa harus dihadirkan dalam pemujaan kepada Tuhan.
Bagi kebanyakan orang kehadiran Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai para dewa juga masih dianggap belum mampu dihayati secara nyata, karena masih mengandung unsur simbol yang abstrak. Dikatakan demikian karena kehadiran Tuhan dalam manifestasi sebagai sosok dewa hanya mengandung simbol satu dimensi (niskala) saja, yang sulit dibayangkan. Untuk membantu kepentingan  manusia dalam memuja Tuhan, maka para dewa lebih dikonkritkan lagi dalam bentuk simbol dua dimensi, yakni dimensi sakala dan niskala. Berdasarkan alasan inilah para dewa sebagai manifestasi Tuhan dihadirkan sebagai wujud Energi yang ada di balik bentuk-bentuk kosmis (Donder, 2007 :329-359).
            Keyakinan adanya Atman adalah kondisi Atma yang ada di  dalam tubuh mahluk, sebagai sumber hidup yang menghidupkan semua mahluk hidup dinyatakan dalam kitab suci Veda sebagai berikut :Brahman memasuki tubuh manusia dan Ia disebut Prajapati.” (Atharvaveda, XI. 8. 30). “Seseorang yang memahami jiwa individu (Atman), menjadi cerdas, bijaksana, tidak mengalami kehancuran, seantiasa muda,. Tidak takut kepada kematian, lepas dari berbagai keinginan, ada dengan sendirinya, senantiasa bahagia dan sempurna dalam segala hal.” (Atharvaveda X. 8. 44). “Sesungguhnya Atman yang aktif dapat mengangkat kesadaran manusia.” (Yajurveda XI. 44). “Badan manusia memiliki jantung seperti bunga teratai dengan sembilan kelopak bunga. Ia dikelilingi oleh Tri Guna (Sattvam, Rajah dan Tamah). Di dalamnya merupakan tempat tinggal Atman. Hanya para rsi dapat melihat Atman itu.” (Atharvaveda X. 8. 43). “Atman memasuki kandungan seorang ibu. Ia (lahir) menghidupkan badan dan akhirnya meninggalkannya.”(Atharvaveda IX.10. 11).
Keyakinan tentang Atman yang sesungguhnya identik dengan Brahman di dalam kitab suci Veda diuraikan kembali secara mendalam di dalam kitab-kitab Upanisad, dan ajaran ini merupakan landasan dari sistem filsafat Hindu (darsana) yang disebut Vedanta. Atman yang tinggal pada relung hati yang paling dalam, di dalam Taittiriya Upanisad digambarkan  sebagai terbungkus atau ditutupi oleh lima selubung (kosa) yang terdiri dari: 1) Annamayakosa, selubung atau badan yang terdiri dari berbagai jenis makanan. 2) Pranamayakosa, selubung atau badan energi yang merupakan tenaga yang memberi kehidupan. 3) Manomayakosa, selubung atau badan berupa pikiran atau mental. 4) Vijnanamayakosa, selubung atau badan  berupa  kecerdasan. 5) Anandamayakosa, selubung atau badan berupa kebahagiaan.

Demikian keyakinan adanya Atman yang terbelenggu oleh badan, indria, ahamkara, manas. Buddhi dan citta sehingga tidak dapat memancarkan sinarnya yang asli dan terang. Sifat-sifat sesungguhnya identik dengan Brahman. Kitab-kitab Upanisad menyatakan sebagai berikut :
  1. Vijnanam Anandam Brahma (Brhadaranynaka Upanisad III.9.28.7). Artinya: Barhman adalah pengetahuan sejati, kebahagaiaan dan tujuan tertinggi.
  2. Satyasya satyam (Brhadarayanaka II.1.20, Mait.VI.32). Artinya Atman kebenaran dari kebenaran. Radhakrishnan menyatakan, dunia ini janganlah dianggap hal yang palsu. Hal ini adalah benar, tetapi kebenaran ini ditunjang oleh kebenaran akhir.
  3. Jyotisam jyotis (Brhadarayanaka IV.4.16) artinya : sinarnya sinar. Paramjyojyotis (ChandogyaUpanisad VIII.3.4 dan VIII.12.3) yang artinya: cahaya yang sangat murni atau suci
  4. Anandam nandanatìtam (Tejobindu Upanisad. 8, juga Sarva Upanisad 9-13, dan lain-lain, artinya : Atma adalah perwujudan kebahagiaan dan kegembiraan yang tiada hentinya. Atman terbebas dari noda, kejahatan, kematian, penderitaan, bebas dari lapar dan dahaga. Itulah yang harus dicari dan yang seharusnya dimengerti. Dia yang menemukannya memperoleh seluruh alam semesta.
Dengan demikian seseorang yang telah maju kehidupan spiritualnya akan mudah merealisasikan Atman dalam dirinya. Dari mereka cinta kasih yang sejati (prema) bersemi, tumbuh dan berkembang mempengaruhi lingkungannya. Baginya semua makhluk adalah satu keluarga, saling bersaudara (vasudhaivakutumbakam).
            Keyakinan adanya Karmaphala Konsepsi berlandaskan hukum sebab akibat karena perbuatan yang baik akan selalu menghasilkan pahala yang baik dan demikian sebaliknya. Konsepsi ini merupakan  landasan bagi pengendalian diri dan dasar penting bagi pembinaan moral dalam berbagai segi kehidupan. Kata karma arti sebenarnya ialah  perbuatan. Tetapi karma sebagai dokterin atau teori (karma veda) berarti bahwa semua perbuatan diperintah oleh suatu hukum.
            Dalam arti sempit, perbuatan ialah apa yang dikerjakan oleh manusia. Dalam arti luas sesungguhnya bahwa segala jenis kehidupan dimungkinkan oleh kelahiran dialam material ini, apapun yang dipikirkan, dikerjakan tentang kebaikan, nafsu dan kebodohan setelah dapat direalisasikan menjadi kenyataan sebuah hasil, hasilnya belum tentu menemukan kebaiknya, akan tetapi pikiran nafsu dan kebodohan sudah tentu hasilnya tidak baik.
            Dengan demikian hendaknya selalu tekun untuk melaksanakan kebaikan (berdasarkan Dharma) untuk memperoleh hasil yang memang diinginkan hendaknya jangan sesekali berpikiran akan berbuat kejahatan hasilnya menjadi baik. Seperti menanam padi rumput disekeliling padi dapat tumbuh akan tetapi menanam rumput padi belum tentu akan tumbuh.
Keyakinan adanya Reinkarnasi atau punarbhawa adalah suatu keyakinan dalam ajaran agama Hindu. Bentuk atau wujud reinkarnasi atma sangat tergantung karma wasananya atma pada saat penjelmaannya terdahulu. Salah satu bentuk reinkarnasi itu adalah ”sthawara janggama” yang disebutkan sebagai penjelmaan yang paling jelek. Bentuk reinkarnasi seperti itu adalah suatu penderitaan luar biasa harus dihindari (Siwa tatwa, 2004, hal : 9).
Karena jiwa tak pernah mati maka ia akan mengambil bentuk tubuh yang lain sesuai dengan karma wasananya ini dijelaskan pula dalam (Atharva veda IX.10.8) menyebutkan sebagai berikut : Jivo mrtasya carati svadhabhih                                          Artinya : jiwa sebuah tubuh yang mati mengambil bentuk yang lain menurut             tindakan/ perbuatan dimasa lampau.
      
Demikianlah sesungguhnya jiwa tak pernah mati, selama jiwa belum bersatu dengan Brahman atau kembali ke asalnya, akan mengisi badan baru yang berupa kelahiran seperti sekarang ini, dimana tentu ada kelahiran yang terdahulu karena segala sesuatu yang ada tentu ada yang mengadakan. Sehingga hidup ini merupakan warisan dari sisa-sisa perbuatan dimasa kehidupan terdahulu inilah saatnya untuk dapat memperbaiki segala perbuatan yang buruk kearah perbuatan yang baik, karena sebelum dapat mencapai pembebasan dimana segala sesuatu seharusnya kembali bersatunya dengan Brahman, maka akan mengakibatkan lahir kembali.
Dalam Sarasamuscaya Sloka 9 disebutkan: “Ada yang mendapat kesempatan menjadi manusia, menyimpang dari pelaksanaan dharma, senang mengejar harta dankama, loba pikirannya, dia itu yang disebut kesasar atau terbencana”(Pudja, 1990 :14) dan demikian juga Bhagavad Gita 15.8 disebutkan: sariram yad avapnoti yac capy utkramatisvarah grhitvaitani samyati vayur gandhan ivasayat artinya : Makhluk hidup didunia material membawa berbagai paham hidupnya dari satu badan ke badan yang lain seperti udara membawa berbagai bau. Dengan cara demikian ia menerima jenis badan tertentu, lalu sakali lagi meninggalkan badan itu untuk menerima badan lain. (Prabhupada, 1986:698)
Dengan demikian berarti bila seorang yang ingkar dengan perbuatan Dharma  (wimukha ring Dharma Sadhàna), dalam perilaku akan amat sukar mengejar harta yang berdasarkan kebenaran atau kebaikan, karena sifat,  nafsu yang berlebihan  serta  berhati tamak, dapat mengakibatkan kekacauan dan keonaran, orang seperti inilah disebut tersesat, menyimpang dari jalan yang benar.
Keyakinan adaya Moksa  yaitu bersatunya Atman dengan Brahman. Ini merupakan tujuan terakhir dari ajaran agama Hindu. Dengan demikian kehidupan ini adalah paling utama untuk kesempatan berbuat baik, segala pekerjaan jika dilaksanakan dengan sungguh-sungguh berdasarkan kewajiban yang harus dilakukan tanpa pamerih, selalu berdasarkan rasa bhakti terhadap Tuhan, segala hasilnya juga diserahkan kepada Tuhan, tidak mengharapkan hasil berupa pujian, senang berlebihan akan keberhasilan, sedih yang berkepanjangan tentang kegagalan, ini semua diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan, tentu akan mengakibatkan beban yang berat, menjadi ringan dalam melakukan sesuatu.
3. Tingkatan Sraddha
            Sraddha adalah keyakinan, dimana setiap orang memiliki suatu keyakinan tertentu, yang terpengaruh oleh sifat alam material, maka memiliki tingkat keyakinan bersifat sattvam, rajas dan tamas. Dengan demikian akan ada tiga jenis tingkat keyakinan, yang masing-masing berkembang dari salah satu diantara tiga sifat alam, tentu perbuatan yang dilakukan oleh orang yang keyakinannya bersifat kebaikan, nafsu dan kebodohan. Ini hanya membuahkan hasil material yang bersifat sementara. Dalam Bhagavad Gita 17.1-4 disebutkan:
arjuna uvaca
            ye sastra-vidhim utsrjya yajante sraddhayanvitah
tesam nistha tu ka krsna sattvam aho rajas tamah

Artinya:
Arjuna bertanya : O Krisna, bagaimana kedudukan orang yang tidak mengikuti prinsip-prinsip Kitab suci tetapi sembahyang menurut angan-angan sendiri? Apakah mereka berada dalam kebaikan, nafsu atau dalam kebodohan. (Prabhupada, 1986 : 745)

Sri-bhagavan uvaca
Tri-vidah bhavati sraddha dehinam sa svabhava-ja
Sattviki rajasi caiva tamasi ceti tam srnu

Artinya:
Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa Bersabda : Menurut sifat-sifat alam yang diperoleh oleh roh di dalam badan, ada tiga jenis kepercayaan yang dapat dimiliki seseorang-kepercayaan dalam kebaikan, dalam nafsu atau dalam kebodohan dengarkanlah tentang hal ini. (Prabhupada, 1986 : 746)

sattvanurupa sarvasya sraddha bhavati barata
sraddha-mayo ’yam puruso yo yac-craddhah sa eva sah

Artinya :
Wahai putra bharata, menurut kehidupan seseorang dibawah berbagai sifat alam, ia mengembangkan jenis kepercayaan tertentu. Dikatakan bahwa makhluk hidup memiliki kepercayaan tertentu menurut sifat-sifat yang telah diperolehnya. (Prabhupada, 1986 : 747)

            yajante sattvika devan yaksa-raksamsi rajasah
            pretan bhuta-ganams canye yajante tamasah janah

            Artinya:
Orang dalam sifat kebaikan menyembah para deva: orang dalam sifat nafsu menyembah raksasa atau orang jahat: orang yang berada dalam sifat kebodohan menyembah hantu-hantu dan roh-roh halus. (Prabhupada, 1986 : 748)


                                      Sraddha dalam tingkat sattvam
            Keyakinan yang didasari oleh sifat sattvam adalah merupakan keyakinan akan segala sesuatunya yang berdasarkan kebaikan dan memberi manfaat terhadap semua makhluk hidup beserta ciptaannya.
            Selalu berpedoman dengan kebaikan bisa berdasarkan ajaran : Tri Kaya Parisudha, Catur Paramita dan Panca sraddha. Karena : ajaran masing-masing mengandung pengertian sebagai berikut : “Tat Twam Asi” Tat berarti itu, Twam berarti kamu dan Asi berarti adalah, jadi arti Tat Twam Asi adalah Dikaulah itu, semua mahkluk adalah Engkau. “Tri Kaya Parisudha” Tri artinya tiga, Kaya artinya perbuatan dan Parisudha artinya disucikan jadi Tri Kaya Parisudha mengandung arti tiga perbuatan yang harus disucikan yang terdiri dari : (Manacika) berpikir, (Wacika) berkata dan (Kayika) berbuat. “Catur Paramita”  yaitu empat sifat yang harus kita miliki, kembangkan dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu: (Maitri) cinta kasih universal, (Karuna) Kasih sayang untuk menolong, (Mudita) menarik meninbulkan  rasa simpati ramah tamah, (Upeksa) yaitu sifat mawas diri.
            Demikian juga dengan pelaksanaan yang didasari oleh“Panca Sradha” yaitu memiliki lima keyakinan antara lain :  Widhi Tattwa atau Widhi sraddha, keimanan terhadap Tuhan Yang Mahaesa dengan berbagai manifestasi-Nya. Atma tattwa atau Atma Sraddha, keimanan terhadap Atma yang menghidupkan semua mahluk. Karmaphala tattwa atau Karmaphala Sraddha, keimanan terhadap hukum sebab akibat atau buah dari perbuatan. Samsara atau punarjanma tattwa/Sraddha, keimanan terhadap lahir kembali. Moksa tattwa atau Moksa Sraddha, keimanan terhadap kebebasan tertinggi bersatunya Atma dengan Brahman, Tuhan Yang Mahaesa.
3.2. Sraddha dalam tingkat Rajas
            Keyakinan yang didasari oleh sifat rajas adalah merupakan keyakinan akan segala sesuatunya yang berdasarkan sifat nafsu dan selalu ingin menguasai secara berlebihan lebihan disini Sad Ripu (enam musuh) susah diajak kompromi yaitu :
1.      Kama berarti keinginan atau nafsu yaitu : Keinginan yang dimiliki oleh manusia adalah tanpa batas, dapat diibaratkan seberapa besar alam makrokosmos, sebesar itu pula keinginan yang dimiliki oleh manusia. Maka dengan demikian keinginan atau hawa nafsu setiap insan manusia yang tiada terbatas tersebut perlua adanya alat bantu atau pengendali. Alat pengendalinya adalah trikaya parisudha, panca yama dan niyama bratha. keinginan dan nafsu tidak dapat membedakan ruang, tempat dan waktu, keinginan ini dipergunakan semaunya.
2.      Lobha berarti ketamakan atau rakus selalu tidak akan merasa puas, ada rasa gusar, resah, gelisah, tidak senang dan tidak bisa menggunakan akal sehat. Bekerja tidak mengenal waktu bagai robot, dengan tidak memikirkan kesehatan demi mendapatkan materi yang banyak semata-mata untuk memenuhi keinginan seseorang yang memiliki sifat loba, ia hanya lebih cenderung mengutamakan dan memikirkan dirinya saja dan tidak peduli dengan orang lain.
3.      Krodha kemarahan atau kebencian yaitu : Kemarahan merupakan sumber penderitaan dan kesangsaraan. Muak jengkel, bosan, tersinggung, kecewa, capek, merasa terhina, di fitnah, merasa tertekan, merasa disepelekan, merupakan sumber kemarahan. Marah menimbulkan lupa diri, pikiran tidak terkontrol, emosi yang tinggi. Oleh karenanya kemarahan merupakan pusat malapetaka baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, dari kemarahan kita dijauhi semua orang. (Sarasamuscaya 102 : 77).
4.      Moha berarti bingung yaitu : Pikiran bingung menyebabkan kegelapan, bingung tidak dapat berpikir jernih, apalagi melakukan pekerjaan dengan baik. Pikiran bingung berpengaruh besar terhadap kesehatan baik secara jasmani maupun rohani. Sifat tamak atau lobha ingin memiliki sesuatu yang lebih dari orang lain, namun kemampuan untuk itu tidak ada maka timbullah kegusaran dalam diri, muncul pikiran kalut sehingga muncul moha/bingung. Adapun sebab-sebab timbulnya bingung antara lain kesusahan yang amat mendesak, kehilangan yang amat dicintai, mempunyai masalah yang tidak terpecahkan atau tidak tersolusikan. (Bhagavad Gita, 18.25).
5.       Mada berarti mabuk atau kemabukan yaitu : Mabuk dikonotasikan dengan minuman keras dengan obat-obatan terlarang hal ini akan mengakibatkan lupa diri karena organ tubuh yang berfungsi vital dilemahkan juga bisa muncul perilaku sombong/angkuh, terbuka karena alat kontrolnya tidak berfungsi dengan baik. Adanya kemabukan disebabkan oleh sapta timira yang artinya tujuh macam kegelapan.
6.      Matsarya berarti iri hati yaitu : Perasaan iri hati adalah seseorang yang tidak mau menerima jika ada orang lain maju, sukses, berhasil maupun bahagia. Mengapa demikian, orang mempunyai sifat irsya iri hati merasa disaingi, maka dalam hatinya tidak menerima kesuksesan orang lain, sehingga ia tidak akan bisa maju, karena selalu memikirkan orang lain tidak pernah sempat memikirkan kemajuan diri sendiri. (Sarassamuscaya 88).
3.3. Sraddha dalam tingkat Tamas
            Keyakinan yang didasari oleh sifat tamas yang merupakan kegelapan ini akan dapat membawa kehancuran sesama dan ciptaannya apabila tidak tepatnya cara mengatasinya seperti, Sapta timira (Tujuh sifat kegelapan) terdiri dari :
1.      Surupa (rupa, wajah) adalah mabuk karena rupa tampan atau kecantikan menyebabkan dibutakan akan cinta, karena sangat cintanya seorang laki-laki atau perempuan dia relakan korbankan agamanya.
2.      Dana (kekayaan) adalah karena kekayaan seseorang menjadi mabuk dan tidak pernah merasa puas akan harta benda yang dimilikinya, ia pun tergiur ketika ada seseorang menawarkan sejumlah uang.
3.      Guna (kepandaian) adalah karena kepandaian atau kepintarannya seseorang akan melakukan tipu muslihat kepada yang lain karena mengganggap orang lain selalu lebih bodoh.
4.      Kulina (keturunan) adalah karena mabuk akan keturunan, status, kedudukan, jabatan dalam pekerjaan menyebabkan seseorang lupa akan dirinya, sehingga dikucilkan masyarakat.
5.      Yowana (keremajaan) adalah karena mabuk dengan masa muda atau keremajaan seseorang menjadi lupa akan agamanya dan melakukan pergaulan bebas tidak pernah ia berpikir tentang akibat yang akan terjadi pada dirinya.
6.      Sura (keberanian) adalah karena mabuk akan keberanian seseorang tidak pernah merasa berdosa, semua orang dianggap sebagai pengecut, karena keberanianya itu ia menjadi sombong dan angkuh. Agama menurutnya bukanlah sesuatu ajaran yang wajib urusan duniawi menjadi tujuannya, kekuasaan menjadi cita-citanya ia tidak pernah takut akan hukum karma, karena menurutnya manusia setelah mati tidak akan merasakan apa-apa.
7.      Kasuran (kemenangan) adalah karena mabuk akan kesaktian atau kekuatan menyebabkan seseorang tidak butuh agama padahal bila kesaktian atau ilmu tanpa dilandasi oleh moral atau agama maka semua itu tidak ada artinya. Semua itu hanya mengantarkan kita kedalam kegelapan dan tidak pernah mencapai kebahagiaan yang abadi.
Revitalisasi dan reaktualisasi ajaran agama memerlukan kearifan dalam diri manusia. Langkah-langkah strategis yang bisa dimanfaatkan, mewujudkan bhakti dapat berupa :
1. Dharmawacana adalah pencerahan melalui ceramah ini disesuaikan dengan sifat, tema, bentuk dan jenis kegiatan keagamaan yang dilaksanakan menurut Desa (tempat), Kala (waktu) dan Patra (keadaan).
2. Dharmagita  adalah aktivitas  keagaman   berupa  melagukan   nyanyian keagamaan seperti : Kakawin, Kidung atau di Jawa disebut Macapatan  dan lain-lain. Pada umumnya lagu-lagu keagamaan itu digunakan sebagai pengiring acara keagamaan (Panca Yajna). Dharma Gita disebut juga Gitanjali. Di samping lagu-lagu keagamaan, kesenian tradisional lainnya yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan perlu dikembangkan, seperti di Bali ada tari topeng, arja, rejang dan sebagainya,  juga kesenian lainnya yang terdapat di Jawa, Sulawesi Selatan atau Kalimantan Tengah dan lain-lain. Dharma Gita adalah sarana untuk mempelajari kitab suci Veda dan susastra Hindu lainnya. Hal ini perlu digalakkan terutama di  kalangan  generasi  muda  dan  seniman  untuk menciptakan lagu-lagu yang bisa diterima secara Nasional.
3.  Dharmatula adalah kegiatan berupa diskusi keagamaan yang secara tradisional dikaitkan dengan acara Dharma Gita. Biasanya seluruh peserta Dharma Gita ikut aktip berperan serta dalam membahas topik-topik yang menarik dalam kitab suci Veda atau susastra Hindu. Dalam pelaksanaannya lebih jauh (dewasa ini) dilaksanakan mandiri dengan pemilihan topik-topik yang menarik disesuaikan dengan tema-tema tertentu dan umumnya dikaitkan dengan perayaan hari-hari raya keagamaan.
4. Dharmayatra mempunyai pengertian yang hampir sama dengan Tìrtha Yatra, yakni usaha untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran agama dengan  persembahyangan ke tempoat-tempat suci, patirthan baik yang terletak di pegunungan atau di tepi pantai. Dalam Dharma Yatra ini di samping melakukan persembahyangan juga sangat baik diikuti dengan Japa dan meditasi atau juga diikuti dengan Dharma Gita.
5. Dharmasadhana artinya realisasi ajaran Dharma dalam diri seseorang. Hal ini dapat dilakukan melalui Catur Marga/Yoga, yakni : Bhakti, Karma, Jnana dan Raja atau Yoga Marga secara terpadu, bulat dan utuh. Di antara keempat jalan itu,  secara khusus  dan lebih  intensif perlu dimasyarakatkan adalah Jnana dan Yoga Marga, sehingga kedalaman kehidupan kerohanian umat semakin mantap dan seimbang.
6. Dharma Santi  adalah  suatu  acara  berupa  pertemuan  untuk saling  maaf-memaafkan atas segala dosa, noda dan kekhilafan di antara sesama umat manusia.  Acara Dharma Santi untuk  Upaksama (saling memaafkan atas berbagai kesalahan) ini dapat dilaksanakan sesuai dengan keperluan,situasi dan relevansinya dengan kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan (Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat,1990:16)
B. Peranan Filsafat Samkhya Untuk Mencapai Moksa
Peranan filsafat samkhya adalah sangat penting artinya karena dengan aspek ontologis, epistemologis dan aksiologis dapatlah difahami segala sesuatunya melalui pemikiran-pemikiran  yang bersifat kritis, rasional, radikal, integral, reflektif, logis, sistematis dan universal.
            Filsafat memiliki obyek material yaitu seluruh fenomena kehidupan manusia dan obyek formal yaitu fokus perhatian atau sudut pandang terhadap fenomena kehidupan manusia. Dengan aspek epistemologi filsafat yang mengkaji keberadaan sesuatu tentang sumber dan kebenaran pengetahuan (episteme), batas-batas pengetahuan, struktur pengetahuan. Seperti logika, kebenaran dan filsafat ilmu. Aspek ontologi yaitu filasafat yang mengkaji “keberadaan sesuatu” baik kongkrit (fisis), abstrak (metafisis)  sejauh sesuatu itu “ADA”. Seperti :1)Fisika (alam fisik), 2) Biologi (manusia, binatang, tumbuhan) dan 3) Metafisika (Atman, Brahman, Waktu). Aspek aksiologi yaitu filsafat yang berbicara masalah nilai-nilai atau norma-norma yang ada pada manusia, berkaitan dengan “baik” dan “buruk”; “indah” dan “tidak indah”.
Filsafat dengan memiliki metode : 1) Kritis reflektif yaitu melihat secara mendalam suatu obyek/permasalahan dan kemudian merenungkannya kembali secara mendalam pula, 2) Dialektik yaitu cara memahami obyek/permasalahan dengan cara dialog, berkomunikasi secara dua arah secara mendalam. Dan 3) Metoda Hermeneutika (penafsiran) : menafsirkan simbol-simbol (mitos, upacara, teks dan lain lainya) untuk mendapatkan makna yang hakiki.
Dengan demikian kegunaan filsafat secara umum :1)Mengajak orang lain untuk hidup secara arif dan bijaksana yang berwawasan luas dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. 2)Merencanakan kehidupan secara lebih kreatif, berdasarkan ide-ide, pandangan hidup yang beragam, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. 3)Membentuk sikap kritis dalam kehidupan sehari-hari dan akademis.
            Filsafat Samkhya Pendirinya adalah Sri Kapila Muni, Samkhya artinya “jumlah”, bahwa ada 25 unsur yang membentuk alam semesta. Menurut pemikiran Samkhya : Alam semesta berawal dari Prakerti yang berkembang menghasilkan sesuatu yang lain. Samkhya tidak setuju bahwa, suatu benda dapat dihasilkan dari ketiadaan. Dua prinsip tanpa awal yaitu Purusa dan Prakerti, tanpa akhir dan tak terbatas. Dan bertujuan yaitu menghilangkan tiga macam penderitaan yaitu : 1) Penderitaan muncul dari dalam diri kita sendiri (adhyatmika) seperti : kelemahan organ tubuh sendiri  contohnya demam, cacar, campak dan lain lainya. 2) Penderitaan yang muncul karena bencana alam (adhidaivika) contohnya banjir, longsor, gempa dan lain lainya. Dan 3) Penderitaan yang disebabkan oleh sesuatu yang berasal dari luar dirinya (adhibautika) contohnya disebabkan gigitan binatang, kalajengking, ular dan lain lainnya.
Sistem filsafat Samkhya yang didirikan oleh Rsi Kapila merupakan sistem filsafat tertua di dunia. Sistem filsafat Samkhya  berpendirian ”tidak ada Tuhan yang berpribadi” (personal God). Sistem filsafat ini melihat alam semesta sebagai kekuatan-kekuatan dari  purusha (jiwa) dan prakrti (materi) (Visvanatha, 2000 : 56).
Dalam pandangan teori Samkhya-yoga dan Agama dari  tapa brata yoga, mukti atau pembebasan berarti penghentian sempurna yang mutlak dari jenis penderitaan tanpa ada kemungkinan kembalinya. Sekian jauh idea pembebasan ini sama seperti Nyaya-vaiseseka. Tetapi akan dilihat bahwa itu berbeda dari konsepsi yang mendahului dalam dua aspek yang penting.
Menurut Samkhya-Yoga, sang diri individual bukanlah suatu substansi dengan kualitas kesadaran, tetapi itu adalah kesadaran murni sendiri yang sangat berbeda dari pada badan dan pikiran, intelek dan ego. Sang diri merupakan subjek melampaui yang intisarinya ialah kesadaran murni, kebebasan, dan keabadian. Apa yang membuatnya dapat dikenai oleh belenggu dan kesangsaraan sebagai akibatnya ialah identifikasi sang diri yang salah dengan badan-pikiran, teristimewa dengan ego.
Bila sang diri dengan jelas menyadari perbedaannya dari semua objek-objek ini, ia dibebaskan dan bebas dari pada penderitaan pikiran, penyakit pada badan, keinginan dan nafsu ego. Maka apa yang tinggal ialah yang diri sebagai intisarinya (svarupa), yaitu seperti kesadaran murni (caitanya) yang merupakan saksi (drsta) dari semua perubahan tetapi ia sendiri tidak terlibat dalam suatu perubahan. Ini merupakan keadaan eksistensi sang diri individual dalam mana taksatupun dari kesangsaraan-kesangsaraan pada mana jiwa itu tunduk atas belenggunya. Disini sang diri berhenti dikenai oleh perubahan badan dan pikiran, dan istirahat dalam pikirannya sendiri semata-mata sebagai saksi dri perubahan-perubahan fisik dan kejiwaan.
Adalah mungkin bagi sang diri individual mencapai keadaan kebebasan yang sempurna dalam kehidupan didunia ini. Jenis pembebasan ini disebut jivanmukti (emansifasi jiva sementara hidup dibadan ini) Dan setelah kematian badan ini , sangdiri yang dibebaskan, mencapai apa yang disebut vidhamukti (emansipasi roh daripada semua badan kasar atau halus). Ini meyakinkan kebebassan sempura dan mutlak dari semua penderitaan yang akan datang.  (Satischandra C, Dasar-dasar agama Hindu :101-102)  
Sedangkan Nyaya Darsana menjelaskan bahwa: ”alam semesta merupakan gabungan atom-atom yang abadi yang tak berubah-ubah, tanpa penyebab, yang keberadaannya melampaui pikiran manusia. Alam semesta merupakan modifikasi dari atom-atom (paramaanu) dari unsur-unsur fisik, yaitu: tanah (prathivi), air (apah), api (teja) dan udara (vayu), ether (kham), waktu, ruang, pikiran, dan sang diri (atma)” (sivananda, 2003 : 181).
Dalam Nyaya Darsana dikenal adanya 9 substansi atau Dravya, yaitu : Prathivi, apah, tejah, vayu, akasa, kala, dis, atman dan manah; dimana lima buah yang pertama telah kita kenal sebagai panca bhuta. Sedangkan kala (waktu) dis (dik) yaitu arah menyatakan tentang atas, bawah, disana, disini dsb. Atama atau roh yang menyebabkan sang pikiran mampu menggambarkan prinsip-prinsip tersebut.
Menurut Nyaya jumlah jivatman adalah banyak sekali, sedangkan paramatman hanya satu. Vedanta menyatakan bahwa kesadaran atau kecerdasan itu sendiri adalah atma, sebaliknya Nyaya sastra menyatakan  bahwa yang memiliki kesadaran adalah Atma, dimana kesadaran ini dibhaktikan kepada guna. Nyaya menganggap Atma sebagai materi, sedangkan kesadaran adalah sifat dari Atma tersebut. Karena Nyaya menyebut jivatma atau roh pribadi disebut dengan “kincittajna” yang artinya memiliki pengetahuan yang sangat sedikit dan paramatma adalah  disebut “sarvajna” atau serba tahu, mengetahui segalanya.
Nyaya sastra atau Nyaya Darsana secara umum juga dikenal sebagai Tarka Vada atau diskusi dan perdebatan tentang suatu darsana atau pandangan filsafat, karena nyaya mengandung tarka vidya (ilmu perdebatan) dan vada-vidya (ilmu diskusi).
            Sistem filsafat Nyaya membicarakan bagian umum darsana (=filsafat) dan metoda (cara) untuk melakukan pengamatan yang kritis. Sistem ini timbul karena adaya pembicaraan yang dilakukan oleh para rsi atau pemikir, dalam usahamereka mencari arti yang benar dari ayat-ayatatau sloka-sloka veda sruti, guna dipakai dalam pengembangan yajna. (Maswinara, 1999 : 125)
Pendirinya :  Rsi Gautama atau Aksapada. Filsafat yang mengedepankan analisa logis, logika formal, epistemologi dan teori kebenaran. Yang bertujuan pengujian kritis dari obyek ilmu pengetahuan dengan mempergunakan kaidah-kaidah pembuktian logika.
            Filsafat nyaya ini dapat disebut sebagai sistem yang relistis (nyata).Pengetahuan itu dapat disebut “benar” atau “salah”, tergantung dari pada alat-alat yang dipergunakan untuk mendapatkan pengetahuan tersebut, dimana secara sistematik semua pengetahuan menyatakan 4 keadaan :1) Subyek sipengamat (Pramata), 2) Obyek yang diamati (Prameya), 3) keadaan hasil dari pengamatan (Pramiti), dan 4) Cara untuk mengamati atau mengetahui (Pramana).
Prameya obyek yang diamati, dengan nama pengetahuan yang dapat diperoleh, ada 12 banyaknya yaitu: 1) Roh (atman), 2) Badan (sarira), 3) Indriya, 4) Obyek  Indriya (artha), 5) Kecerdasan(buddhi), 6) Pikiran (manas), 7) Aktifitas (prawrtti), 8)  Kesalahan (dosa), 9) Perpindahan (pretyabhawa), 10) Buah atau hasil (phala), 11) Penderitaan (duhkha) dan 12) Pembebasan (apawarga).
Nyaya darsana mendiskusikan kebenaran mendasar melalui dari 4 cara pengamatan, yaitu :1) Pratyaksa Pramana (pengamatan indra-indra), 2) Anumana Pramana (penarikan kesimpulan), 3) Upamana (perbandingan), dan 4) Sabda (kesaksian).
Pada pratyaksa pramana atau pengamatan secara langsung dimana hubungan ini sangat nyata, karena setiap indra di jadikan dari salah satu unsur semesta yang jumlahnya lima buah (panca mahabhuta), sebagaimana dunia (alam semesta) ini yang juga terdiri dari lima unsur yaitu akasa, vayu, teja, apah dan prthivi atau ether, angin (udara), api (sinar), air dan tanah : dimana masing-masing unsur halusnya (tanmatra) adalah suara (bunyi), sentuhan (raba), rupa (warna), rasa (kecap) dan bau (penciuman).
Proses penyimpulan dalam anumana pramana, melalui lima tahapan (avayava), yaitu: Pertama Pratijna, memperkenalkan obyek permasalahan tentang kebenaran pengamatan, misalnya gunung itu berapi. Kedua Hetu, penyimpulan, dimana dalam hal ini adalah terlihatnya asap yang keluar dari gunung tersebut. Ketiga Udaharana, menghubungkan dengan aturan umum tentang masalah, segala yang berasap tentu ada apinya. Keempat (kenyataan) pada kenyataannya yang dilihat bahwa jelas gunung berapi. Kelima nigamana berupa penyimpulan yang benar dan pasti dari seluruh proses sebelumnya, dengan pernyataan bahwa gunung tersebut berapi.
Upamana pramana merupakan cara pengamatan dengan membandingkan kesamaan-kesamaan yang mungkin terjadi atau terdapat didalam obyek yang diamati dengan obyek yang sudah ada atau pernah diketahui.
Sabda pramana adalah pengetahuan yang diperoleh melalui kesaksian (sabda) dari seseorang yang dapat dipercaya kata-katanya atau pun dari naskah-naskah yang diakui kebenarannya. Ada dua jenis kesaksian yaitu: 1) laukika sabda bentuk kesaksian yang berasal dari orang yang dapat dipercaya dan kesaksian dapat diterima menurut logika atau akal sehat. 2) vaidika sabda bentuk kesaksian yang didasarkan pada naskah-naskah suci veda sruti, yang merupakan sabda Brahman yang tak mungkin salah. 
Nyaya darsana ada enam belas padartha/katagori : 1) Cara mengetahui yang benar, 2) Obyek pengetahuan Yang benar, 3) Kebimbangan, 4) Tujuan, 5) Contoh yang dikenal, 6) Argumentasi. 7) Penegakan ajaran, 8)Anggota-anggota, 9) Penentuan, 10) Diskusi, 11) Perbantahan, 12) Pengecaman, 13) Kecurangan, 14) Berdalih, 15) Kesia-siaan, 16) Kesempatan mencela.
Dua jenis Pratyaksa : 1) Nirvikalpa Pratyaksa : Pengamatan obyek sebagai obyek dan 2) Savikalpa Pratyaksa : Pengamatan suatu obyek, lengkap dengan sifat-sifatnya. Ada keterbatasan Paratyaksa yaitu Tidak selalu benar, dapat salah. Dan Dapat ragu-ragu. Dan Khayalan. Contoh : Gulungan tali dikira ular disaat kegelapan karena keterbatasan kemampuan penglihatan, atau Semua ini disebabkan kerena keterbatasan dari kemampuan alat-alat persepsi manusia.
Kesimpulan filsafat Nyaya adalah :1) Filsafat yang berbicara bidang filsafat Epistemologi diantara tiga bidang lainnya (Axiologi, Ontologi, Epistemologi). 2) Filsafat Nyaya merupakan filsafat awal yang membuka kepada pemikiran filsafat India yang lainnya. 3)Tanpa filsafat Nyaya tidak akan dapat memahami filsafat yang terkandung dalam Brahma Sutra dan filasafat Vedanta lainnya.
Kegunaan filsafat adalah :1) Mengajak orang lain untuk hidup secara arif dan bijaksana yang berwawasan luas dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. 2) Merencanakan kehidupan secara lebih kreatif, berdasarkan ide-ide, pandangan hidup yang beragam, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. 3) Membentuk sikap kritis dalam kehidupan sehari-hari dan akademis.
Menurut pandangan Nyaya-vaisesika pembebasan berarti bukan penghapusan eksistensi individual, tetapi penghentian sempurna dan akhir penderitaannya tanpa kemungkinan kembalinya (atyantika duhkha-nivrtti) ini merupakan keadaan dimana jiva individual disadari dari semua belenggu hubungan hubunganya dengan badan dan indria-indria dan ada sebagai substansi yang murni. Kondisi luhur jiva itulah yang telah digambarkan secara bermacam-macam dalam sastra-sasta Hindu, bebas rasa takut (abhayam) bebas perubahan dan kerusakan (ajaran) bebas dari kematian (ametyupadam).
Menurut Nyaya, bila orang secara demikian bebas dari keinginan dan gerak hati, ia berhenti dipengaruhi oleh akibat dari perbuatannya yang sekarang yang dikerjakan tanpa keinginan akan hasil. Karma-karmanya yang lampau karena habis dengan menghasilkan akibat-akibat mereka, individual itu harus tidak menjalani kelahiran didunia ini (janma). Berhentinya kelahiran berarti akhir hubungannya dengan badan dan sebagai akibatnya dari semua kesangsaraan dan penderitaan (duhkha): dan itulah merupakan pembebasan akhir (apavarga atau nirvana mukti) karena itu pembebasan akhir dicapai hanya setelah mati. (Satischandra C, Dasar-dasar agama Hindu : 99-101)
C. PendidikanTeologi Hindu
            Dengan menggunakan landasan teologi Hindu yaitu: Kata teologi berasal dari kata theos yang artinya ‘Tuhan’ dan ‘logos’ yang artinya ‘ilmu’ atau ‘pengetahuan’. Jadi teologi adalah pengetahuan tentang Tuhan. Secara harfiah teologi berarti teori atau studi tentang Tuhan. Dalam praktek , istilah ini dipakai untuk kumpulan doktrin dari kelompok keagamaan atau pemikiran individu (Maulana, 2003:500).
         Istilah teologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata theologia. Theos artinya Tuhan dan logos berarti wacana atau ilmu. Secara etimologis teologi berarti ilmu tentang Tuhan. Aristoteles adalah filsuf pertama yang menganggap teologi sebagai sebuah disiplin dan mengidentikannya dengan filsafat pertama yang tertinggi dari semua ilmu teoritis, suatu studi yang kemudian bernama metafisika. Akan tetapi kemudian dipandang sebagai bagian dari metafisika, yaitu disiplin yang mempelajari prinsip semesta yang terakhir, Tuhan, hakikat, keberadaan dan aktivitas-Nya (Ananda, 2004:14).
Hinduisme yang bersumber pada veda memiliki konsep tentang asal mula alam semesta, yang dipertautkan langsung dengan Tuhan dan dapat diuji kebenarannya berdasarkan konsep kebenaran sains. Faham-faham dasar Hinduisme misalnya mengatakan: bahwa Tuhan atau yang diistilahkan dengan Brahman berada diluar kekuasaan manusia, dan Tuhan merupakan penyebab segala kejadian dan keberadaan (Suryadipura, 1958 : 36)
Adapun kitab suci Veda yang merupakan tuntunan ajaran suci agama Hindu seharusnya menjadi pedoman atau acuan, yang ditaati dan diterapkan dalam hidup ini. Oleh karena hidup dan kehidupan manusia adalah merupakan anugerah Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Mahaesa. Menurut ajaran agama Hindu (Veda), manusia dan semua mahluk dihidupkan oleh atman atau jìvatman (yang menjadikan sesuatunya hidup atau bernyawa). Jìvatman berasal dan merupakan percikan sinar suci (Brahman)Tuhan Yang Mahaesa.
Untuk itu setiap umat manusia dituntut untuk memanfaatkan kehidupan ini dengan sebaik-baiknya sehingga atman atau jivatmannya dapat bersatu kembali dengan paramatman atau Tuhan Yang Mahaesa. Selanjutnya mengenai hubungan manusia dengan alam lingkungan hidupnya (alam semesta ini ) hendaknya dilandasi oleh kesadaran bahwa seluruh alam ini berasal dari Tuhan dan diberi makan oleh Tuhan Yang Maha Sempurna sebagaimana dinyatakan dalam Atharwa Veda X.8.29 dengan kalimat : " Purnat purnam udacati purnanena vasisyate ". Demikianlah manusia harus menyadari bahwa dirinya merupakan suatu kesatuan dengan alam semesta ini didalam Tuhan.

1. Teologi Sebagai Brahmavidya

Mahadevan (1984:300) menyebut teologi sebagai brahmavidya, yakni the knowledge of Brahman, sedang Apte dalam Student Sanskrit English Dictionary (1987:466) menerjemahkan kata teologi dengan Isvara-brahmajnanam, paramarthavidya, adhyatmajnanavidya yang secara leksikal berarti pengetahuan tentang ketuhanan, pengetahuan tertinggi, dan pengetahuan rohani (spiritual).
Berdasarkan uraian tersebut brahmavidya berarti pengetahuan tentang Tuhan Yang Mahaesa, mencakup semua manifestasi-Nya, ciptaan-Nya dan segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya. Pengertian yang terakhir ini sudah mencakup pengertian yang amat luas tentang brahmavidya. Sejalan dengan penjelasan Mahadevan di atas, S. Radhakrishan 1961:5) menyatakan bahwa teologi adalah Brahmavidya atau Brahma-tattva-jnana  atau ilmu pengetahuan mengenai ke-Abadian yang menjadi dasar dari semua ilmu pengetahuan lainnya.
         Teologi Hindu atau Brahmavidya berdasarkan pada wahyu dan pengalaman rohani para rsi (Pereira, 1991: 42 ; Viresvarananda, 2002:1).
Pengalaman itu dituliskan dalam berbagai kitab-kitab Veda. Upanisad dan Aranyaka banyak membahas soal Tuhan dalam berbagai pengertiannya. Begitu pula kitab-kitab Brahmana yang membahas masalah ketuhanan dalam rangkaiannya dengan upacara dan penghormatan yang berbeda dengan kitab Aranyaka dan Upanisad yang mencoba melukiskan secara filosofis dan doktriner. Tuhan juga dibahas dalam kitab smrti, Brahma Sutra dan kitab agama. Kata Brahma dalam pengertian ini diartikan sebagai Tuhan pemberi kehidupan kepada semua ciptaannya dan juga unsur sabda atau aksara (Yang Maha Kuasa).Vidya atau Jnana mempunyai arti yang sama  yaitu ilmu. Sedangkan Tattva berarti hakekat tentang Tat (Itu, Tuhan dalam wujud Nirguna Brahman). Tat menunjukkan Tuhan yang jauh. Sebagai lawannya adalah Tuhan yang dekat atau Idam. Tattvajnana adalah ilmu tentang hakekat Tuhan (Pudja, 1999 : 2-3).
Ada lima macam pendekatan teologis dalam studi agama, yaitu:
1. Teologi agama-agama (theologies of religions), yaitu teologi tertentu yang muncul dalam tradisi keagamaan tertentu. Jadi teologi agama-agama adalah teologi yang mempelajari tentang teologi tertentu yang muncul dari tradisi-tradisi keagamaan. Pada setiap agama memiliki tradisi-tradisi yang sulit dicari sumbernya dalam kitab suci.
2. Teologi-teologi agama (theologies of religion) yaitu  berbagai sikap teologis dalam tradisi keagamaan partikular yang diadopsi dari luar agama. Jadi  teologi-teologi agama adalah  teologi yang mempelajari tentang sikap teologis suatu agama terhadap tradisi-tradisi keagamaan yang diambilnya dari luar agamanya. Misalnya orang Kristen di Bali menggunakan banten ke gereja, menggunakan ‘penjor’ saat hari raya Natal dan Tahun Baru, menggunakan pakaian adat Bali yang lazim digunakan ke pura oleh umat Hindu namun digunakan oleh umat Kristen Bali ke gereja.
3. Teologi agama (theology of religion) yaitu upaya membangun suatu teologi agama yang lebih universal yang dalam hal ini mengkonsentrasikan pada kategori-kategori transenden. Jadi pendekatannya mempelajari tentang teologi yang universal yang memfokuskan diri pada yang transenden (spiritual, kesucian).
4. Teologi agama-agama global (a global theology of relegion) yaitu dimulai dari situasi global dalam seluruh kompleksitas,  moral manusia, natural, dan dari sana kemudian mengkonseptualisasikan kembali kategori-kategori teologis yang muncul dan tradisi keagamaan tertentu yang dapat mengarahkan perkembangan situasi global, yang mempengaruhi setiap orang. Jadi teologi agama-agama global adalah teologi yang mempelajari kompleksitas agama termasuk di dalamnya; moral, manusia, natural, serta mengkonstruksi atau mengkonseptualisasikan kembali kategori-kategori teologis itu.
5. Teologi agama perbandingan (comparative theology of religion). Melalui membaca teologi-teologi agama tertentu, kita akan mengeksplorasikan beberapa titik temu dan perbandingan teologis. Jadi teologi agama perbandingan adalah teologi yang mempelajari agama-­agama melalui memperbandingkan lewat uraian-uraian teologis setiap agama.
Adapun Perbedaan Studi Keagamaan dan Teologi adalah sebagai berikut :
1.      Studi keagamaan, selain bersifat multireligius, studi-studi keagamaan     juga menggunakan beragam pendekatan dan metode. Sehingga; filsafat, sosiologi, antropologi, sejarah, fenomenologi, psikologi, linguistik, dan sebagainya merupakan komponen-komponen dari studi keagamaan.
2.      Teologi lebih merupakan suatu disiplin tersendiri dan meskipun teologi menggunakan berbagai metode yang dipaparkan di atas, metode-metode itu berada di bawah concern teologi dan sering kali juga gereja atau komunitas relegius yang terkait.
3.      Teologi sering berpusat pada persoalan doktrin. Ortodoksi agama cenderung menitikberatkan terhadap doktrin-doktrin dan elemen-­elemen konseptual dalam agama sebagai salah satu yang lebih sentral dibandingkan dengan praktek spiritual atau perilaku.
4.       Studi keagamaan memberi titik tekan yang sama terhadap elemen-elemen lain yang ada dalam agama seperti  praktik sosial, ritual, estetika, spiritualitas, mite, simbol dan seterusnya. Tidak ada penekanan yang berlebihan terhadap doktrin atau  konsep.
5.      Teologi memiliki perhatian khusus pada gagasan transendensi yang "dianggap tidak perlu diperdebatkan" sejauh ada hubungannya dengan teologi.
6.      Studi keagamaan titik fokusnya lebih kepada orang-orang beriman dan pengalaman atau keyakinannya ketimbang objek keyakinan.
7.      Teologi berkepentingan dengan transendensi, sedangkan studi keagamaan tidak.
Secara teologis semua atribut kemahakuasaan Tuhan dilekatkan kepada seluruh segmen-segmen alam. Metode teologis ini tidak dapat dikatakan sebagai tindakan dosa karena “mempersekutukan Tuhan dengan benda”. Stigma “mempersekutukan” tidak ada dalam kamus teologi Saguna Brahma dan pandangan Advaita.
Berdasarkan alasan itulah, maka kemahakuasaan Tuhan dimanifestasikan ke dalam segmen-segmen alam seperti; 1) Dewa Surya adalah manifestasi Tuhan yang ada di balik planet matahari, 2) Dewa Soma (Chandra) manifestasi Tuhan di balik bulan, 3) Dewa Vayu (Bayu) manifestasi Tuhan di balik udara, 4) Dewa Agni manifestasi Tuhan di balik api, 5) Dewa Marut manifestasi Tuhan di balik angin, 6) Dewa Sangkara manifestasi Tuhan di balik pohon atau tumbuhan, 7) Dewa Varuna manifestasi Tuhan di balik samudera, 7) Akasa merupakan manifestasi Tuhan sebagai Sang Ayah di balik angkasa, dan 8) Prthivi merupakan manifestasi Tuhan di balik planet bumi ini, 9) dan Dewa-dewa lainnya. Inilah yang mendasari filosofi teologi Saguna Brahma sehingga kehadiran para dewa dalam sistem pemujaan sangat popular dalam Agama Hindu.
Dalam teologi Saguna Brahma-lah tersedia berbagai metodologi-teologis, hal tersebut secara metodologis dirancang untuk membantu setiap manusia bagaimanapun adanya dapat sampai kepada Tuhan. Itulah sebabnya teologi Hindu lebih tepat disebut Teologi Kasih Semesta (Donder, 2006). 
D. Susila Dalam Pendidikan Hindu
Dalam sarasamuscaya sloka 159 disebutkan : sebab triloka ini sekalipun pasti akan kalah dan dikuasai oleh orang yang teguh imannya melaksanakan kesusilaan, karena tidak ada sesuatu yang tidak tercapai oleh orang yang susila (Pudja, 1979 : 89).
Landasan susila adalah : 1) Tat Twam Asi berarti Dikau itu, semua mahluk adalah Engkau. 2) Trikaya Parisudha artinya tiga perbuatan yang harus disucikan antara lain : manacika, wacika dan kayika, 3) Catur Paramita artinya empat sifat yang harus dikembangkan seperti : maitri cinta kasih yang universal, karuna : sifat kasih sayang sesama untuk menolong mahluk lain dari kesusahan, mudita : meninbulkan rasa simpati dan ramah tamah, upeksa:mawasdiri. 4) Panca Sraddha yaitu percaya adanya: Brahman, Atman, Karmaphala, Punarbhawa dan Moksa.
Adapun tujuan susila atau etika dan moralitas Agama Hindu : a) Untuk membina agar umat hindu dapat memelihara hubungan baik, hidup rukun dan harmonis dengan keluarganya ataupun dengan orang lain. b) Untuk menghindarkan adanya hukum rimba, dimana yang kuat menindas atau memperalat yang lemah. c) Untuk membina umat hindu dapat menjadi manusia yang baik dan berbudhi luhur. d) Untuk membina agar umat hindu selalu bersikap dan bertingkah laku baik, termasuk selalu berbuat baik dengan siapapun (Suhardana, 2006 : 21)
Demikian pula disebutkan dalam sastra suci “sesungguhnya bahwa apapun tingkah laku ciptaan itu, demikian pula kedudukannya menurut kelahirannya, saya akan sampaikan berikut ini dengan sesungguhnya”. (Pudja, Menawadharmasastra I.42:39)
Ajaran susila memiliki arti: su adalah indah, baik dan sila artinya perbuatan, tingkah laku, jadi susila artinya perbuatan (laksana, tingkah laku) yang baik. Lawan kata susila adalah asusila tingkah laku yang tidak baik (dursila). Susila adalah juga disebut dengan etika hindu, etika sangat dekat maknanya dengan kata moral. Kata moral yang berasal dari kosa kata bahasa Latin (berasal dari kata mos bentuk singular, mores bentuk jamak) yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988) disamakan maknanya dengan kata etika.
Jika sekarang kita memandang arti kata moral, perlu kita simpulkan bahwa artinya sama dengan etika menurut arti pertama tadi, yaitu nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau sesuatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Kita mengatakan, misalnya bahwa perbuatan seseorang tidak bermoral. Dengan itu dimaksudkan bahwa kita menganggap orang itu melanggar nilai-nilai dan norma-norma etis yang berlaku dalam masyarakat. Atau kita mengatakan bahwa kelompok pemakai narkotika mempunyai moral yang bejat, artinya mereka berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang tidak baik.
Moralitas (dari kata sifat Latin moralis) mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan moral, hanya terdapat nada yang lebih abstrak. Kita berbicara tentang moralitas suatu perbuatan, artinya, segi moral suatu perbuatan atau baik buruknya. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik buruk (Berten, 1997:7).
Etika dan moralitas dalam pendidikan Hindu adalah hal yang sangat penting karena merupakan aktualisasi konsep ajaran veda yang nyata dalam kehidupan sehari hari. Aneka perubahan budaya sebagai akibat terjadinya kontak belajar budaya antara lain :
1.      Internalisasi adalah proses penanaman budaya yang menyangkut kepribadian, seperti perasaan, hasrat, nafsu, dan sebagainya.
2.      Enkulturasi adalah pembudayaan atau lebih tepatnya pemberdayaan yang ke arah positif, misalkan membudayakan tradisi selamatan, gotong royong, sumbangan, dan sebagainya.
3.      Akulturasi  adalah kontak budaya satu dengan yang lain sehingga terjadi penyatuan budaya.
4.      Asimilasi adalah campuran kental dari dua budaya atau lebih, misalkan saja  terjadinya sinkritisme antara Hindu-Jawa menjadi kaum abangan.
5.      Invensi adalah temuan-temuan baru budaya sehingga menghasilkan inovasi (pembaharuan) yang meyakinkan, dan
6.       Inovasi  adalah langkah strategis untuk memperbaharui budaya tertentu agar lebih fungsional bagi pendukungnya, inovasi juga sering disebut invention of tradition.    
Sejalan dengan tujuan agama adalah untuk mencapai “Jagadhita” dan “Moksa” yang diformulasikan dalam sebuah kalimat sanskerta sebagai berikut: “Atmano Moksartham Jagadhitaya ca” maka tujuan pendidikan Hindu pada hakikatnya adalah sama dengan formulasi tujuan agama tersebut di atas, yakni untuk mencapai “Jagadhita” (kesejahtraan dan kebahagiaan di dunia ini) dan “Moksa” (kebahagiaan abadi, bersatunya Atman dengan Brahman. Di Indonesia, tujuan pendidikan dinyatakan untuk mengantarkan seorang anak didik menuju tingkat kedewasaan. Kata dewasa berasal dari kata “devasya” (bahasa Sanskerta) yang berarti seseorang memiliki sifat-sifat dewa.
Di dalam Bhagavadgìtà sifat-sifat atau kecenderungan seperti sifat-sifat dewa disebut “Daivi-Sampat”, yaitu semua sifat dan prilaku yang mulia. Swami Sivananda dalam All About Hinduism menjelaskan tujuan pendidikan adalah untuk mengantarkan menuju jalan yang benar dan mewujudkan kebajikan, yang dapat memperbaiki karakter seseorang (menuju karakter yang mulia) yang dapat menolong seseorang mencapai kebebasan, kesempurnaan dan pengetahuan tentang sang Diri (Atman), dan dengan demikian seseorang akan dapat hidup dengan kejujuran, hal-hal yang mengarahkan seperti tersebut adalah merupakan pendidikan yang sejati (1988: 259).
Sejalan dengan penjelasan di atas, maka secara sederhana dapat dikatakan bahwa latar belakang falsafah dalam pendidikan menurut Veda, adalah untuk menjadikan “manava” (umat manusia) meningkat kualitas hidup dan kehidupannya menjadi para “madhava”, yakni umat manusia yang memiliki kelembutan, kasih sayang dan kearifan atau kebijaksanaan yang tinggi, tidak sebaliknya “manava” jatuh menjadi “danava-danava”, yakni manusia dengan karakter raksasa, rakus, dengki dan berbagai sifat buruk lainnya. Di dalam Taittirìya Upaniûad (7) dapat ditemukan tentang kewajiban seorang siswa untuk dengan sungguh-sungguh menempa diri, berbicara benar/membicarakan kebenaran, rajin belajar dan mengikuti ajaran Dharma serta tidak lalai dan membuang waktu (satyavada-dharmacara-svadhyaya-na pramada).
Dengan memahami hakikat dan tujuan pendidikan menurut ajaran suci Veda yang merupakan sabda Tuhan Yang Mahaesa, kiranya kita dapat memetik nilai-nilai yang terkandung dalam sistem pendidikan tersebut, mengingat ajaran suci Veda bersifat “anadi-ananta-nirvigraha” yakni tidak berawal-tidak berakhir, tidak berubah, abadi dan dapat berlaku sepanjang masa. Dalam Konsepsi Desa, Kala, dan Patra, yaitu :  manusia yang berintikan penyesuaian atau keselarasan serta dapat menerima perbedaan dan persatuan sesuai dengan motto Bhineka Tunggal Ika.
Konsepsi ini memberikan landasan yang luwes dalam komunikasi ke dalam maupun ke luar, sepanjang tidak menyimpang dari essensinya.Namun nama yang paling agung yang pernah diberikan oleh manusia pada Tuhan adalah Kebenaran. Kebenaran adalah buah dari kesadaran; oleh karena itu carilah di dalam jiwa.
Dalam hubungan ini, dari perspektif Hindu diketengahkan model pendidikan agama yang inklusif yang diajarkan oleh Sri Sathya Narayana (23-11-2003), seorang yogi besar dewasa ini,  seorang guru spiritual yang menekankan kembali betapa pentingnya 5 (lima) dasar nilai-nilai kemanusiaan, yang terdiri dari:
1)      Satya: kebenaran (truth), seseorang hendaknya berpegang teguh kepada ajaran agama yang dianutnya.
2)      Dharma: tindakan yang benar (right conduct), seseorang hendaknya senantiasa berbuat baik dan benar.
3)      Prema: cinta kasih (love), seseorang hendaknya senantiasa mengembangkan cinta kasih kepada semua makhluk dan alam semesta ciptaan-Nya.
4)      Shanti: kedamaian (peace), seseorang hendaknya dapat mewujudkan kedamaian hati dan membuat suasana sejuk terhadap lingkungannya.
5)      Ahimsa: tanpa kekerasan (non violence), seseorang hendaknya tidak melakukan tindakan kekerasan, tidak menyiksa apalagi sampai membunuh seseorang.
E. Etika dan Moralitas Dalam Pendidikan Hindu
Di dalam Kamus Besar Bahasa  Indonesia (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988) dipaparkan makna kata etika yang berasal dari bahasa Yunani ethos, dalam tiga pengertian, yaitu: 1) ilmu tentang apa yang baik dan buruk dan tentang hak dan kewajiban  moral (akhlak), 2) kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, 3) nilai mengenai benar dan salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat.
K. Berten dalam bukunya Etika (Seri Filsafat Ātmàjaya: 15)(1997:6) mempertajam rumusan makna dalam kamus tersebut di atas, menyatakan: pertama, kata etika bisa dipakai dalam arti: nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau sesuatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
Misalnya, jika orang berbicara “etika suku-suku Indian”, “etika agama Buddha”, “etika Protestan”, maka tidak dimaksudkan sebagai “ilmu”, melainkan arti pertama tadi. Secara singkat arti ini bisa juga dirumuskan sebagai “sistem nilai”, dan boleh dicatat lagi, sistem nilai itu bisa berfungsi dalam hidup perorangan maupun pada taraf sosial. Kedua, etika berarti  juga kumpulan asas atau nilai moral, yang dimaksud di sini adalah kode etik, seperti “Etika Rumah Sakit Indonesia (1986). Ketiga, etika mempunyai arti  “ilmu tentang yang baik atau buruk”.
Kata etika sangat dekat maknanya dengan kata moral. Kata moral yang berasal dari kosa kata bahasa Latin (berasal dari kata mos bentuk singular, mores bentuk jamak) yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988) disamakan maknanya dengan kata etika. Jika sekarang memandang arti kata moral, perlu  simpulkan bahwa artinya sama dengan etika menurut arti pertama tadi, yaitu nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau sesuatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Di katakan, misalnya bahwa perbuatan seseorang tidak bermoral. Dengan itu dimaksudkan bahwa  menganggap orang itu melanggar nilai-nilai dan norma-norma etis yang berlaku dalam masyarakat. Atau dikatakan bahwa kelompok pemakai narkotika mempunyai moral yang bejat, artinya mereka berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang tidak baik. Moralitas (dari kata sifat Latin moralis) mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan moral, hanya terdapat nada yang lebih abstrak.
            Tentang moralitas suatu perbuatan, artinya, segi moral suatu perbuatan atau baik buruknya. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik buruk (Berten, 1997:7). Di samping kata moral seperti tersebut di atas, masih mendengar atau membaca istilah amoral dan immoral. Menurut K. Berten, kata amoral diartikan sebagai netral dari sudut moral atau tidak mempunyai relevansi etis, sedangkan immoral berarti bertentangan dengan moralitas yang baik. Masih terkait dengan moral dan etika dan etiket. Etiket lebih menekankan pada sopan santun, di samping berarti label.    
            Kata etika berasal dari bahasa yunani “ethos” yang mempunyai banyak arti seperti watak, perasaan, sikap, perilaku, karakter, tatakrama, tatasusila, sopan santun, cara berpikir dan lain-lain. Sementara itu bentuk jamak dari kata “ethos adalah “ta etha” yang berarti adat kebiasaan. Sedangakan moralitas dengan kata asal moral yang memiliki pengertian sama dengan etika berasal dari bahasa Latin “mos” (jamaknya “mores”) yang berarti kebiasaan atau adat. Jadi pengertiaannya sama dengan “ta etha” atau ethos yaitu adat kebiasaan. Dengan latar belakang pengertian yang sama seperti itu, maka sudah zaman dahulu etika dipakai untuk menunjukakan filsafat moral. Etika lalu diartikan sebagai ilmu tenang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan atau sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak atau moral (W.J.S.Purwadarminta, 1966)
            Disamping pengertian termaksud diatas, makna lain mengenai etika dan moralitas dapat pula dijelaskan seperti dibawah ini (Ketut Rindjin, 2004):Etika yang mempunyai makna hampir sama dengan moral yaitu kebiasaan atau adat. Dalam hal ini moral mengandung makna berkenaan dengan perbuatan yang baik dan buruk, atau memahami perbedaan antara yang baik dan yang buruk. Disamping itu dikenal pula konsep moralitas, yaitu sistem nilai yang terkandung dalam petuah, nasihat, perintah atau aturan yang diwariskan secara turun tumurun melalui agama kebudayaan, tentang bagaimana manusia harus hidup agar menjadi benar-benar baik.
            Moralitas memberikan manusia petunjuk atau aturan tentang bagaimana harus hidup, bertindak yang baik dan menghindari perilaku yang tidak baik. Moralitas juga bisa diartikan sebagai kualitas perbuatan manusia, sehingga perbuatan seseorang dapat dikatakan baik atau buruk, salah atau benar. Disini dapat dikatakan bahwa moralitas itu bersifat universal dalam arti terlepas dari budaya, suku, agama maupun tingkat perbedaan masyarakatnya.
            Dalam hal ini dikatakan bahwa moralitas itu bersumber dari hati nurani. Sedangkan etika berdasarkan kepada hal-hal diluar dirinya seperti kebiasaan atau norma-norma berlaku dimasyarakat.
Pengertian Etika  dalam Agama Hindu
            Etika adalah ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak/moral, sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujud dalam sikap dan pola perilaku hidup manusia, baik secara pribadi maupun sebagai kelompok.
            Pengertian etika lebih jauh diuraikan juga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi tahun 1988 (Bertens,2004) kamus termaksud membedakan tiga makna mengenai etika yaitu : 1) Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak), 2) Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, 3) Nilai mengenai benar dan salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat.
            Pengertian etika dan moral dalam agama Hindu adalah bagaimana menentukan sikap, tingkah laku yang seharusnya dilakukan berdasarkan ajaran agama Hindu, yang mana dalam ajaran agama Hindu  merupakan ajaran kebenaran, kebaikan atas perintah Tuhan itu sendiri, yang berkaitan dengan sebuah tujuan mulia yaitu untuk mencapai tujuan hidup dalam ajaran agama Hindu (Moksartam jagadhita ya ca iti dharma).














BAB  IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Triguna yang tidak dapat diamati dengan indrya, akan tetapi dapat dirasakan, karena adanya suatu yang disimpulkan atas obyek dunia ini merupakan akibat dari padanya (pengaruh dari triguna), maka untuk mendapatkan fungsi dan makna sebuah sifat ini, dapatlah diuraikan dengan persamaan yang timbul dari yang dihasilkan oleh sifat-sifat tersebut.
Bhagavad Gita 14.9 menyebutkan: “Wahai putra Bharata, sifat kebaikan mengikat seseorang pada kebahagiaan; nafsu mengikat dirinya pada kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala; dan kebodohan, yang menutupi pengetahuannya mengikat dirinya sendiri” (Prabhupada, 1986:667).
 Ketiga sifat ini saling mengalahkan seperti disebutkan dalam Bhagavad Gita 14.10 yaitu: kadang-kadang sifat kebaikan menonjol, dan mengalahkan sifat nafsu dan kebodohan, wahai putra barata. Kadang-kadang sifat nafsu mengalahkan sifat kebaikan dan kebodohan dan pada waktu yang lain kebodohan mengalahkan kebaikan dan nafsu. Dengan cara demikian selalu ada persaingan untuk kekuasaan (Prabhupada, 1986:668)
Dengan adanya persaingan kekuasaan dampak sifat-sifat ini bila dihubungkan dengan (Bhagavad Gita 17.4) yang mesebutkan : “orang dalam sifat kebaikan menyembah para deva: orang dalam sifat nafsu menyembah raksasa atau orang jahat: orang yang berada dalam sifat kebodohan menyembah hantu-hantu dan roh-roh halus”.(Prabupada, 1986 : 749)
Maka bentuk atau wujud lahiriyahnya dari sifat-sifat ini, yaitu : yang dimaksud deva adalah Tuhan (Brahman), yang dimaksud raksasa (Yaksa) yang dimaksud Hantu dan roh-roh halus adalah identik dengan kegelapan (Avydya).
 Untuk memberikan gambaran tentang, fungsi dan makna dari sifat-sifat ini dalam berperilaku yang disebutkan pula dalam Menawadharmasasta XII.37 sebagai berikut :
tetapi yang mempunyai tanda-tanda sifat-sifat kebaikan yang dengan sepenuhnya hatinya ia ingin mengetahuinya, yang ia tidak malu-malu untuk melakukannya dan atas perbuatan mana menyenangkan jasmaninya inilah sifat-sifat sattvam.(Pudja dan sudharta, 1976 :725)

Sifat Sattvam adalah suatu prakrti yang merupakan alam kesenangan yang ringan, terang dan bercahaya. Wujudya berupa: kesadaran akan kebajikan yang tanpa cacad (suci nirmala), suci hati, dermawan, jujur, lembut, penuh kasih sayang, tidak gentar, tidak sombong dan tidak pula angkuh, senang mendalami yoga dan ilmu pengetahuan, menguasai indria, melakukan kebaktian, mempelajari kitab-kitab suci, tanpa kekerasan, sifat ringan menimbulkan gerak keatas, angin dan air di udara dan semua bentuk kesenangan seperti kepuasan, kegirangan, bersyukur dan sejenisnya.
Dengan demikian sifat kebaikan manusia yang dapat berguna bagi keselamatan, kesehatan dan juga kelangsungan dari pada perbaikan-perbaikan dalam wujud pelaksanaannya. Segala perilaku yang mengarah kepada kebaikan adalah berfungsi untuk sebagai kontrol atau keseimbangan, dapat pula untuk meningkatkan kwalitas kearah kebaikan dalam hidup ini.
Adapun keputusan yang ditimbulkanpun mengarah selalu berbentuk kebajikan, arif, jujur, bijaksana dapat menolong sesama dan ciptaanya, dan selalu membuat  kebahagia, memiliki kelembut dan penuh kasih sayang,  tidak gentar, suci hati, mendalami yoga dan ilmu pengetahuan, dermawan, menguasai indria, melakukan kebaktian, mempelajari kitab-kitab suci, hidup sederhana dan jujur. Tanpa kekerasan, bebas dari kemarahan (emosional), tanpa rasa aku, tenang, tidak suka mamfitnah,  kepada sesama makhluk, sopan, dalam keseimbangan jiwa kuat, suka mengampuni, teguh iman, tidak membenci, bebas dari rasa sombong. Dapat sebagai wujud pengendalian diri dari berperilaku yang jahat.
Sifat Rajas adalah merupakan perwujudan sifat-sifat nafsu disebutkan dalam Menawadharmasasta XII.36 sebagai berikut :
Tetapi bila seseorang berkeinginan memperoleh dengan banyak berbuat jasa didunia ini dan tidak merasakan sedih terhadap kegagalan, ketahuilah ini adalah sifat yang dimiliki oleh rajas(Pudja dan Sudharta, 1976 :725)

Dari pembentukan sifat rajas adalah dari nafsu yang berlebihan, merupakan unsur gerak pada ciptaanya, ia selalu bergerak, atau yang menyebabkan mahkluk bergerak, wujudnya seperti: kerakusan aktif, sibuk untuk kebaikan atau untuk kepentingan pribadi, rakus, nafsu loba, sombong, takabur, bengis,  angkuh, membanggakan diri, pemarah, kasar, egoistis dan angkuh dan memandang dirinya yang paling hebat, hari ini aku dapatkan ini, keinginan ini harus aku capai, itu punyaku dan kekayaan itu, juga akan menjadi milik rajas menyebabkan api berkobar, angin berhembus, dan pikiran berkeliaran kesana kemari dan sejenisnya dengan itu.
Sibuk untuk kebaikan atau untuk kepentingan pribadi, rakus, serakah Rajas dengan kegiatan, pahala dari Rajasika adalah duka nestapa, sedang Serakah, giat dalam berusaha, kegelisahan dan kerinduan merajalela, begitu juga bilamana Rajas makin dominan, kecendrungan atau prilaku manusia, seperti halnya  nafsu loba, sombong,  sifat-sifat yang buruk, seperti : takabur. sombong, bengis, sifat tekebur, angkuh, membanggakan diri, pemarah, kasar dan bodoh sifat keraksasaan. Sifat-sifat keraksasaan sifat egoistis dan angkuh dan memandang dirinya yang paling hebat. Hari ini aku dapatkan ini, keinginan ini harus aku capai, itu punyaku dan kekayaan itu, juga akan menjadi milikku, musuh ini telah terbunuh olehku dan yang lainnya akan aku sembelih pula.
Aku adalah raja dan aku yang menik-matinya, aku adalah sempurna, berkuasa dan bahagia sifat-sifat keraksasaan akan makin mempererat belenggu duniawi dan akan menjerumuskannya ke dalam neraka. Bingung oleh berbagai pikiran/keinginan, terlibat makin jauh dalam jaringan keonaran, makin tersesat dalam kepuasan nafsu birahi, tekebur, angkuh, membanggakan diri, pemarah, kasar dan bodoh, semuanya ini adalah tergolong pada orang yang dilahirkan dengan sifat keraksasaan.
Berbahayanya adalah:  jika orang yang dikuasai oleh rajas, nafsu dan amarah tak terkendali pasti akan melakukan perbuatan jahat ia mampu membakar hati orang yang saleh sampai mengeluarkan kata-kata yang kasar.
Sedangkan sifat tamas yang merupakan perwujudan sifat-sifat kegelapan dalam Menawadharmasasta XII.35 menyebutkan :
Kalau seseorang setelah mengerjakan, tengah mengerjakan atau lagi tengah akan memulai suatu perbuatan, merasa malu, mereka yang bijaksana dapat mengetahui sifat-sifat seperti itu sebagai pertanda dari tingkah laku tamas (Pudja dan sudharta, 1976 : 725)

Dari sifat tamas adalah suatu unsur sifat yang menyebabkan sesuatu keyakinan dalam berperilaku menjadi pasif, dan bersifat negatif, ia bersifat keras, menentang aktivitas, menahan gerak pikiran, sehingga meninbulkan kebodohan, mengantarkan seseorang pada kebingungan. Karena menentang aktivitas, menyebabkan seseorang menjadi malas, acuh, suka tidur pada waktu dan tempat keadaan  yang tidak tepat. 
Triguna yang terdiri dari tiga sifat yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, serta saling bercampur. Keeratan hubungannya seperti nyala api, minyak dan sumbu pada sebuah lampu. Ia membentuk substansi Prakrti. Akibat dari pertemuan antara Purusa dan Prakrti timbul ketidak seimbangan dari triguna tersebut yang meninbulkan evolusi atau perwujudan. Guna merupakan obyek-obyek, sedangkan Purusa merupakan subyek saksi. Prakrti berkembang dibawah pengaruh Purusa. (Maswinara, 1999 : 156)
Penyelidikan terhadap filsafat Samkhya ini adalah untuk menemukan cara menghapuskan 3 macam penderitaan yaitu yang didalam (adhyatmika), misalnya demam dan penyakit lainnya: yang bersifat surgawi atau diluar kekuasaan manusia (adhidaivika), seperti: panas, dingin, banjir, geledek dan sebagainya: dan yang diluar diri manusia atau makhluk lain (adhibhautika), seperti: sengatan kalajengking, gigitan ular danlain sebagainya. Serta penyakit akibat kelahiran. 
Dalam teori Samkhya untuk mencapai moksa (pembebasan). dapatlah dijelaskan mengenai sikap-perilaku  yang  memberi sebuah pemahaman tentang perilaku yang dibangun oleh sifat sattvam, rajas, dan tamas. Melalui pengertian dan pemahaman sifat-sifat ini, untuk mewujudkan segala perilaku mulia yang akan mencapai moksa (pembebasan) dalam teori Samkhya dapat diuraikan sebagai berikut: Ketiga guna ini berati tiga unsur atau kompenen yang berkuasa serta mengatur dan bukan atribut atau kualitas.
Jadi dari sattvam, rajas, dan tamas merupakan unsur-unsur substansi utama prakrti yang sangat bermanfaat bagi tujuan akhir purusa. Makna dari sifat-sifat ini tentunya akan sangat berbeda-beda, karena dari masing-masing sifat tersebutlah akan memberikan sebuah arti dan dampak dalam pengembangan budhi pekerti (tingkah laku).
Adapun dari sifat-sifat ini yang merupakan kandungan-kandungan yang di muat oleh masing masing sifat tersebut, maka untuk mewujudkan identivikasi sesuai dengan maksud dan tujuannya, dapat dijelaskan sebagai berikut:
A. Fungsi Triguna Terhadap Pengembangan Budhi Pekerti Untuk Mencapai Moksa (Pembebasan) Dalam Teori Samkhya Nir-Isvara.
Tim penyusun buku Siwa Tattwa (2000:19) menyebutkan bahwa pikiran (citta) yang lahir dan purusa dipengaruhi oleh guna yang lahir dari pradana. Guna tersebut adalah guna sattva, guna rajas dan guna tamas yang disebut dengan Triguna.
Sattvam yang merupakan salah satu unsur atau komponen dari sifat yang ada dalam triguna berfungsi sebagai kebaikan dalam berperilaku, sehingga dengan berperilaku baik jika terus ditingkatkan akan mendapatkan perilaku yang luhur dan mulia artinya: “Perilaku yang dilakukan sesuai dengan ajaran Dharma” yaitu tidak saja akan menjadi baik tetapi akan benar sesuai dengan tuntunan dharma sehingga apa yang menjadi keyakinan jika dharma yang dijalankan dengan sempurna maka tujuan dari dharma itu adalah moksa dimana moksa adalah bersatunya atman dengan Brahman.
Pada hakekatnya sifat inipun tak terpisahkan dari sifat alam material yang membentuknya. Walaupun  sattvam yang tidak dapat diamati dengan indrya, akan tetapi dapat dirasakan keberadaanya, karena adanya suatu yang disimpulkan atas obyek dunia ini merupakan akibat dari padanya dapat dijelaskan sebagai berikut :
Sattvam untuk pengembangan budhi pekerti adalah perubahan perilaku yang terjadi kearah yang lebih baik sesuai dengan sifat ini. jika selalu sadar akan sifat kebaikan, dimana Sraddha adalah suatu keyakinan, maka melaksanakan sesuatu secara sadar tentu diawali dengan suatu keyakinan. Berati segala tindakan dan perbuatan yang dilakukan, tentu menimbulkan hasil dari perbuatan yang dilakukan itu, ini adalah merupakan konsekwensi logis mengingat adanya rtam (hukum alam yang abadi).  Sehingga apabila perbuatan yang mendapat pengaruh dari sifat sattvam terntu hasilnya adalah kebaikan.
Tingkat keyakinan yang dipengaruhi oleh sifat kebaikan ini, sejalan pula dengan budhi pekerti luhur, sifat baik dan perilaku baik ini akan tumbuh subur dan dapat terpelihara dengan baik pula, sehingga mempercepat dalam proses peningkatan perilaku yang baik, tepat, benar, luhur dan mulia menjadi perlahan kearah pencapaian tujuan dharma yaitu awighnam mastu berkembang menjadi terlepasnya keterikatan akan duniawi (moksa) dapat dicapai setelah tidak semata-mata hanya sampai pada kebaikan saja, karena dasar dari kebaikan jika berkembang terus menerus meningkat akan menjadi kebaikan menuju “kebaikan murni” yaitu tentunya dekat dengan “kebebasan”, apabila kebaikan murni terus berkembang menjadi kebaikan utama (Brahman).
Dalam usaha pengembangan budhi pekerti pemanfaatan sifat yang didominasi oleh sattvam memiliki peluang paling besar dalam hal ini. Karena memang memiliki pesamaan-persamaan yang merupakan modal dalam berperilaku mulia, dengan menggunakan keutamaan kecerdasan yang dimiliki oleh sifat sattvam. Dalam sastra suci disebutkan sebagai berikut :
Buddhir jnanam asammohah ksama satyam damah samah sukham duhkham bhavo ‘ bhavo bhayam cabhayam eva ca . ( Bhagavad Gita 10.4) dan Ahimsa samata tustis tapo danam yaso’ yasah  bhavanti bhava bhutanam matta eva prthga vidhah. (Bhagavad Gita 10.5)
                                                                               
Artinya :
Kecerdasan, pengetahuan, kebebasan dari keragu-raguan dan khayalan, pengampunan, kejujuran, pengendalian indria-indria, pengendalian pikiran, kebahagiaan dan dukacita, kelahiran, kematian, rasa takut, kebebasan dari rasa takut, tidak melakukan kekerasan, keseimbangan sikap, kepuasan, kesederahanaan, kedermawanan, kemasyuran dan penghinaan-berbagai sifat tersebut dimiliki oleh para makhluk hidup semua diciptakan oleh Aku Sendiri (Prabhupada, 1986 : 493)

Dengan demikian pengaruh sifat sattvam yang memiliki buddhi, kecerdasan yang artinya akan kuat dalam menganalisis hal-hal yang menurut pandangan sebenarnya, dan dapat mengerti, memahami arti sang roh dan apa arti alam, jnanam, memiliki pengetahuan rohani. Asammoha, kebebasan dari keragu-raguan dan khayalan berangsur-angsur tapi pasti. Ksama, memaafkan kesalahan kecil yang dilakukan orang lain. Satyam, kejujuran berarti kenyataan harus disampaikan menurut kedudukan yang sebenarnya,untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Sama, mengekang pikiran untuk tidak memikirkan yang tidak diperlukan. Sukam yaitu kesenangan dan kebahagiaan untuk pengembangan pengetahuan rohani. Bhava, kelahiran dimengerti sebagai hal yang berhubungan dengan badan. Ahimsa, tidak melakukan kekerasan. Danam sifat kedermawanan.
Fungsi sifat sattvam sangatlah mudah untuk dapat mengembangkan dan meningkatkan tingkah laku kearah yang lebih baik. Kelemahanya dari sifat kebaikan ini adalah masih mengikatkan diri terhadap kebaikan semata, sehingga sering merasa puas dengan kebaikan saja, inilah yang menghambatnya untuk pencapaian pembebasan dari keterikatan (moksa).
Fungsi sifat rajas yang mengarah ke nafsu, enerjik untuk dapat memotifasi dalam menguasai sesuatu, tentu memerulakan kontrol yang kuat untuk rajas ini. Dalam hal motivasi dari keinginan-keinginan untuk perbaikan sifat rajas sendiri juga diperlukan rajas juga. merupakan hal pokok yang memegang peranan karena sifat ini memberi pengaruh nafsu, bergerak cepat, maunya menang sendiri, dan yang sejenisnya, pentingnya menguasai sifat ini agar dalam keyakinan selalu berhati-hati dapat dengan tepat dilaksanakan.
Fungsi sifat rajas dalam pengembangan budhi pekerti adalah : Bila sifat nafsu mendominasi, dimana sifat kebaikan dan kebodohan dikalahkan oleh sifat ini maka memberi dampak terhadap berkeyakinan dalam berperilaku jelas dalam pengembangan tingkah laku pun pasti menemukan konflik yang berakibat kehancuran. Disebutkan rasa tidak pernah puas oleh apa yang telah didapat dalam hal kenikmatan material.
Dalam sarasamuscaya 106 menyebutkan : Lawan lwirning kakawaca dening krodha, tan wruh juga ya ri salah kenaning ujar, tatan wruh ya ring ulah larang, lawan adharma, wenang umajaraken irikang tan yukti wuwusakena. Artinya: Selain dari pada itu, orang yang dikuasai oleh nafsu amarah, tidaklah dia mengetahui salah benarnya perkataan, tidak mengetahui tentang perbuatan terlarang dan yang bertentangan dengan dharma, sanggup mengatakan kata-kata yang tidak benar untuk dikatakan (Pudja, 1979 : 63).
Dalam ketidak puasan nafsu birahi, mereka jatuh ke dalam neraka jahanam, tetapi sebaliknya sifat-sifat keraksasaan akan mempererat belenggu duniawi dan akan menjerumuskannya ke dalam neraka, keserakah, giat dalam berusaha, kegelisahan dan kerinduan merajalela, bilamana Rajas yang dominan kecendrungan yang mempengaruhi diri manusia, maka sifat manusiapun ada yang nampak lebih aktif, sibuk untuk kebaikan atau untuk kepentingan pribadi, rakus, serakah Rajas dengan kegiatan, pahala dari Rajasika adalah duka nestapa, sedang Serakah, giat dalam berusaha, kegelisahan dan kerinduan merajalela, bilamana Rajas semakin dominan, kecendrungan atau prilaku manusia, seperti halnya semakin nafsu loba, semakin sombong.
Pada sifat rajas hal-hal yang buruk pun jadi semakin hebat dan merajalela, karena memuaskan nafsu seperti api disiram bensin perilaku akan semakin takabur. Semakin sombong, semakin bengis, seperti disebutkan sifat-sifat keraksasaan sifat egoistis dan angkuh dan memandang dirinya yang paling hebat. Hari ini aku dapatkan ini, keinginan ini harus aku capai dengan perilaku walaupun tidak memperhatikan ajaran Dharma.
Aku adalah raja dan aku yang paling berhak menikmatinya, aku adalah paling sempurna dan berkuasa, sifat-sifat keraksasaan akan mempererat belenggu duniawi dan akan menjerumuskannya ke dalam neraka. Bingung oleh berbagai pikiran/keinginan yang terlalu berlebihan, terlibat dalam jaringan keonaran, tersesat dalam kepuasan nafsu birahi, tekebur, angkuh, membanggakan diri, pemarah, kasar dan bodoh, semuanya ini adalah tergolong pada orang yang dilahirkan menuruti sifat keraksasaan.
Dengan demikian tentu dapat dianalisis tentang dampak fungsi sifat rajas terhadap budhi pekerti  dalam pengembangannya sebagai berikut : dengan sraddha (keyakinan) yang awalnya adalah kebaikan jika pengaruh rajas dominan, melihat dari fungsi sifat rajas tentu akan diperoleh kesimpulan sraddha (keyakinan) menjadi goyah, (tidak teguh) tidak mantap /labil. Jika dalam berkeyakinan saja tidak baik kalau sifat rajas yang mendominasi, maka pegembangan budhi pekerti (tingkah laku yang baik) untuk kearah lebih baik menjadi perilaku yang mulia, dengan fungsi sifat rajas tidak akan pernah dapat dicapai, karena yang didapat adalah perilaku buruk yaitu menjadi serakah dan sering meninbulkan konflik.
Oleh karena sifat rajas ini memiliki, fungsi yang tidak mengindahkan kebaik, dalam melakukan sesuatu tidak memperhitungkan baik, buruk yang akan dilakukan. Dalam fungsi rajas yaitu untuk melakukan: sifat nafsu, aktif, keras, serakah dan sejenisnya dari rajas timbullah kerakusan yang semakin aktif, semakin sibuk untuk kebaikan atau untuk kepentingan pribadi, makin rakus dan makin serakah (Bingung oleh berbagai pikiran/keinginan) bahkan keyakinan baikpun jika dipengaruhi oleh sifat ini akan sering goyah atau tidak mantap, sehingga dalam berperilaku sering terlibat dalam jaringan keonaran, tersesat menyimpang semakin jauh dari dharma.
Fungsi sifat rajas yang mengarah ke nafsu, enerjik untuk dapat memotifasi dalam menguasai sesuatu, tentu memerulakan kontrol yang kuat untuk rajas ini. Dalam hal motivasi dari keinginan-keinginan untuk perbaikan sifat rajas sendiri juga diperlukan rajas juga. merupakan hal pokok yang memegang peranan karena sifat ini memberi pengaruh nafsu, bergerak cepat, maunya menang sendiri, dan yang sejenisnya, pentingnya menguasai sifat ini agar dalam keyakinan selalu berhati-hati dapat dengan tepat dilaksanakan.
Berbahayanya adalah:  jika orang yang dikuasai oleh rajas, nafsu dan amarah tak terkendali pasti akan melakukan perbuatan jahat ia mampu membakar hati orang yang saleh sampai mengeluarkan kata-kata yang kasar. Dengan demikian tentu sifat rajas yang mendominasi dalam pengembangan budhi pekerti tidak akan dapat mencapai moksa yang sesuai dengan ajaran agama Hindu.
Fungsi sifat tamas dapat sebagai pengendali nafsu Sifat ini berfungsi untuk menetralisir kondisi tubuh apabila telah mengalami kecapaian atau kelelahan maka fungsi sifat tamas karena berperan untuk tidak menindak lanjuti dari nafsu agar dapat istirahat. Berbahayanya jika tidak dapat menggunakan sifat ini dengan cermat, segala sesuatunya menjadi macet dan tidak mendapatkan solusi apa-apa, hanya menunggu kehancuran saja.
Berperilaku dengan keyakinan sifat tamas, haruslah dapat dikendalikan dengan konsep desa kala patra, dimana keyakinan yang dapat dipengaruhi oleh suatu sifat tamas yang ada tidak dapat dihindari oleh siapapun, maka haruslah diketahui  sifat ini adalah sifat kebodohan, lambat, kegelapan dan hendaknya jangan biarkan ia tumbuh subur terhadap perilaku. Karena akan berdampak tidak saja kepada sipelaku juga dapat berakibat terhadap mahluk lainnya.
Dengan demikian tentu dapat dianalisis tentang fungsi dari sifat tamas tdalam pengembangan budhi pekerti sebagai berikut : dengan sraddha (keyakinan) yang awalnya adalah kebaikan jika pengaruh tamas yang dominan, melihat bentuk, fungsi dan makna sifat tamas tentu akan diperoleh kesimpulan sraddha (keyakinan) menjadi bingung, ragu-ragu, malas, lambat, bahkan kegelapan (avydya). untuk pegembangan budhi pekerti (tingkah laku yang baik) untuk kearah yang lebih baik dan menjadi perilaku yang mulia, luhur dengan pengaruh sifat tamas tidak akan pernah dapat dicapai, karena yang adalah perilaku yang dipengaruhi oleh sifat tamas sangat menyimpang dari ajaran dharma. Moksa dalam ajaran agama Hindu tidak akan dapat dicapai dengan sifat tamas.
B. Makna Triguna Terhadap Pengembangan Budhi Pekerti Untuk Mencapai Moksa (Pembebasan) Dalam Teori Samkhya Nir-Isavara.
Makna sifat sattvam adalah tentunya selalu berhubungan dengan kebaikan. Hal inipun akan selalu memberi masukan terhadap keyakinan dalam sifat kebaikan. Maka dapat segera memberitahukan untuk hal-hal yang dalam berperilaku sehari-hari semestinya dilaksanakan, yaitu yang berkaitan dengan kebaikan seperti: kecerdas dalam bertindak, bahkan benar dalam berperilaku (sesuai tuntunan Dharma).
Nyoman S. Pendit (2007:81) menebutkan : Buddhi muncul dari pengaruh besar unsur sattva dalam prakriti. Adalah fungsi alami buddhi untuk memanifestasikan dirinya dan lain-lain obyek. Oleh karena itu dalam kondisinya yang murni (sattvika) buddhi mempunyai atribut seperti kebajikan (dharma), pengetahuan (jnana) tidak memihak dan tidak terpengaruh (vairagya), dan sempurna (aisvaryya).
Seperti yang dinyatakan oleh Putra dan Sadia (1998:15, sloka 15) sattva bersifat terang dan bersinar, rajah berubah-ubah, tamah berat dan kabur. Ketiga sifat itulah yang mewarnai pikiran. Pikiran yang tenang dan jernih disebut sattvam, pikiran yang berubah-ubah disebut rajas, dan pikiran yang berat dan kabur disebut tamas.
Sattvam adalah elemen prakrti yang memiliki sifat nikmat dan ringan (lughu), terang atau bersinar (prakasaka). Manifes obyek adalah kesadaran (jnana), kecenderungan terhadap manifestasi sadar dalam indra, manah dan intek, kecenderungan sinar, dan kekuatan merefleksi di cermin atau kristal, semuanya itu berkat pekerjaan unsur sattvam dalam membentuk benda.  
Dengan demikian sifat sattvam yang secara makna berarti kebaikan memang akan lebih mudah untuk meningkatkan budhi pekerti (perilaku baik, luhur dan mulia), dimana sifat sattvam sesuai dengan bentuk fungsi dan maknanya adalah mengandung sifat kebaikan. Ini tentunya semua akan dapat lebih memudahkan mengembangkan budhi pekerti yang luhur. Sehingga dengan sifat sattvam ini segala perilaku yang berhubungan dengan budhi pekerti dapat cepat terlaksana, karena dilihat dari banyaknya kesamaan  maknanya, yaitu sifat kebaikan untuk mengembangkan perilaku yang baik. Moksa dengan memaknai sifat sattva dapat diwujudkan.
Akan tetapi sifat rajas yang memiliki makna nafsu, tentu dampak sifat nafsu ini terhadap tingkat terhadap pengembangan tingkah laku (budhi pekerti) tidaklah tepat, walaupun sifat ini mengandung makna yang dapat melakukan sesuatunya akan tetapi sesuatu itu dilakukan dengan berlegihan karena serakahnya, iniberdampak terhadap kerugian dari makhluk lain.
Makna sifat rajas adalah nafsu, dengan sifat ini bermakna untuk melakukan sesuatu tidak memperhitungkan baik, buruk, salah ataupun benar yang akan dilakukan. Rajas, sifat aktif, keras, serakah dan sejenisnya dari Rajas timbullah kerakusan tak terhingga, sibuk untuk kebaikan untuk kepentingan pribadi, tidak adanya pertimbangan, kalau kerakusan yang berlebihan, serakah yang berlebihan (Bingung oleh berbagai pikiran/keinginan)
Keyakinanpun jika dipengaruhi oleh sifat ini akan sering goyah atau tidak mantap, sehingga berperilaku sering terlibat dalam jaringan keonaran, tersesat atau menyimpang dari dharma (ajaran dalam agama Hindu) kepuasan nafsu birahi, mereka jatuh ke dalam neraka jahanam tetapi sebaliknya sifat-sifat keraksasaan akan mempererat belenggu duniawi dan akan menjerumuskannya ke dalam neraka, keserakah, giat dalam berusaha, kegelisahan dan kerinduan merajalela, bilamana Rajas yang dominan, dari adanya tiga sifat salah satu yaitu rajas dengan kecendrungan sifatnya yang mempengaruhi diri manusia, maka sifat manusiapun menjadi rajas.
Makna sifat rajas dalam berperilaku seperti: Aku adalah raja dan aku yang menikmatinya, aku adalah sempurna, berkuasa dan bahagia sifat-sifat keraksasaan akan makin mempererat belenggu duniawi dan akan menjerumuskannya ke dalam neraka. Bingung oleh berbagai pikiran/keinginan karena kerakusannya, terlibat makin jauh dalam jaringan keonaran, makin tersesat dalam kepuasan nafsu birahi, tekebur, angkuh, membanggakan diri, pemarah, kasar dan bodoh, semuanya ini adalah tergolong pada orang yang dilahirkan dengan sifat didominasi oleh rajas atau memiliki sifat keraksasaan.
Karena sifat nafsu, serakah,  haus akan kekuasaan dan sejenisnya, maka segala perilakunya pun akan selalu dapat  menyebabkan kekacauan ataupun keresahan, karena tidak ada keselarasan, keserasian dan keseimbangan. Karena sifat ini dilahirkan dari keinginan dan hasrat yang tidak terhingga, selalu tidak pernah puas degan kenikmatan indria-indrianya.
Moksa tidak akan dapat dicapai dengan rajas. Adapun usaha dalam pengembangan budhi pekerti, apabila sifat rajas yang mendominasinya, hendaknya untuk mengatasi hal ini dalam sastra atau ajaran Hindu diatasi dengan cara:
a.       Melasanakan Pengendalian diri dengan jalan melakukan : Tapa (pengendalian diri),  Brata (berpantang), Yoga (menghubungkan atman dengan brahman) dan samadhi (meditasi)
b.      Panca yama brata yaitu lima cara pengendalian diri.
c.        Dasa yama brata yaitu sepuluh cara pengendalian diri.
d.      Panca niyama brata yaitu lima cara pengendalian diri lanjutan.
e.       Dasa niyama brata yaitu sepuluh cara pengendalian diri lanjutan.
f.       Menerapkan Tat Twam Asi berarti Dikau itu, semua mahluk adalah Engkau.
g.      Melaksanakan Penyucian pikiran, perkataan dan perbuatan.
h.       Mengembangkan cinta kasih yang universal,  kasih sayang sesama untuk menolong mahluk lain dari kesusahan, meninbulkan rasa simpati dan ramah tamah, mawasdiri. (Catur Paramita).
Makna sifat tamas adalah kebodohan, malas, lambat dan sejenisnya sesuai dengan maknanya, dari sifat ini yang malas, lambat, gelap dan selalu diliputi oleh kebingungan  bahkan tidak dapat melakukan tindakan yang benar karena akan menentang kebaikan sehingga lebih mengutamakan diam atau pasif, kecendrungan dari sifat ini selalu melakukan tindakan kesalah.
Dalam Menawadharmasasta XII.35 menyebutkan :
Kalau seseorang setelah mengerjakan, tengah mengerjakan atau lagi tengah akan memulai suatu perbuatan, merasa malu, mereka yang bijaksana dapat mengetahui sifat-sifat seperti itu sebagai pertanda dari tingkah laku tamas (Pudja dan sudharta, 1976 : 725)

Dari sifat tamas adalah suatu unsur sifat yang menyebabkan sesuatu keyakinan dalam berperilaku menjadi pasif, dan bersifat negatif, ia bersifat keras, menentang aktivitas, menahan gerak pikiran, sehingga meninbulkan kebodohan, mengantarkan seseorang pada kebingungan. Karena menentang aktivitas, menyebabkan seseorang menjadi malas, acuh, suka tidur pada waktu, tempat keadaan  yang tidak tepat. 
Karena kekacauan dan kebodohan, malas, lamban, gelap dan sejenisnya. pemalas, lamban, kegelapan dan kebodohan sifat ini sering merugikan mahluk lainya yang membutuhkan pertolongan. Akan meninbulkan pula kekacauan dan kerusakan, bahkan kehancuran.
Makna sifat tamas adalah mengandung prinsip kepasifan atau kenegatifan dalam benda atau obyek dengan demikian pengembangan budhi pekerti dengan sifat tamas tidak akan dapat terwujud dimana kemalasan untuk melakukan perubahan perilaku yang buruk kearah perilaku yang baik.
Perwujudan utama tamas adalah kebodohan atau kegelapan dengan demikian dengan sifat tamas moksa dalam ajaran agama hindu tentu tidak akan dapat dicapai. Dalam hal pengembangan budhi pekerti yang didominasi oleh sifat tamas, seperti yang dijelaskan dalam Sarasamuscaya Sloka 2 sebagai berikut :
Manusah sarvabhutesu varttate vai cubhachubhe
Acubhesu samavistam cubhesveva vakarayet

Ri sakwehing sarwa bhuta , iking janma wwang juga wenang gumayakenikang cubhacubhakarma, kuneng panentas akenaring cubhakarma juga ikang acubhakarma phalaning dadi wwang


Artinya:
Di antara semua makhluk, hanya manusia sajalah yang dapat melaksanakan dan membedakan perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk, justru dalam melebur yang buruk menjadi baik itulah tujuan hidup manusia. (Pudja, 1979 : 10)

Dengan demikian maka usaha yang dapat dilakukan antara lain :
                  1.      Melaksanakan mempelajari sastra-sastra suci (Veda).
                  2.      Dhìh yaitu mengembangkan intuisi dan kecerdasan.
                  3.      Memperbayak mengikuti kegiatan kerohanian, seperti menghadiri dan sekaligus berpartisipasi untuk ikut serta memberikan dharmawacana, dharmatula, tirtayatra, dharmagita, dan aktif dalam kegiatan keagamaan lainnya.
                  4.      Melaksanakan Dasa Dharma yaitu: 1)  Bekerja sungguh-sungguh 2) Ksama Mudah memberi maaf. 3) Dama yaitu dapat mengendalikan nafsu. 4) Asetya yaitu Tidak mencuri 5) Sauca yaitu bersih atau suci. 6) indryanigraha yaitu mengendalikan diri. 7)dhira yaitu berani membela yang benar 8)vidya yaitu sanggup belajar. 9) satya yaitu kebenaran kesetiaan dan kejujuran 10) akrodha yaitu tidak marah.
                  5.    Melakukan ajaran Catur marga yaitu empat jalan kesempurnaan hidup.
                  6.   Memahami dan melakukan ajaran Tri hita karana yaitu tiga cara  mencapai kebahagiaan hidup.
                  7.   Mengikuti ajaran asta brata yaitu delapan cara pengendalian dan mengikuti sifat-sifat para dewa. 
C. Triguna Terhadap Pengembangan Budhi Pekerti Untuk Mencapai Moksa Dalam  Teori Samkhya Nir-Isvara.
I Wayan Sukayasa dan Ida Bagus Jelantik (Aji Sangkya, 2008:85) menyebutkan : Purusa sebagai jiwa, Pradhana sebagai badan. Jadi Pradhana tersebut sesungguhnya badannya Sang Purusa. Jika Purusa berpisah dengan Pradhana, Ia kembali ke Siwa Tattwa. Siwa tattwa berpisah dengan Maya, kembali ke Sadasiwa Tattwa. Sadasiwa Tattwa pisah dengan aktivitas-Nya yang berupa Asteswarya, atau yang disebut Padmasana. Ia kemmbali ke tanpa wujud yang sangat gaib, suci tanpa noda. Ia itulah yang dinamai Sang Hyang Paramasiwa. Ia dikatakan langgeng sejati, suci sejati, dan disebut Parama Moksa.
Sifat sattvam, rajas dan tamas tentunya memiliki dampak berbeda-beda dalam pengembangan budhi pekerti sehingga untuk mencapai moksa ini akan memberikan pengaruh yang berbeda pula.
Menurut teori Samkhya manusia berada di dalam samsara, artinya ia dibelenggu oleh kelahiran kembali. Hal itu disebabkan karena ia tidak mampu untuk membedakan antara purusa dan prakrti. Purusanya, yang sebenarnya adalah penonton, dianggap sebagai ikut aktif di dalam segala perbuatan prakrti. Hal yang demikian sudah barang tentu mempengaruhi alat-alat batinnya (antah-karana) yaitu buddhi, ahamkara dan manas. Sebelum orang mendapat kelepasan alat-alat batin ini bersama-sama dengan tubuh kasar lain. oleh karena itu maka tubuh halus ini sebenarnya adalah tempat kegirangan dan kesusahan,dan pembentuk watak manusia.(Harun Hadiwijoyo, 1989 :70)  
      Menurut filsafat Samkhya penyebab itu dipandang sebagai suatu substansi, di dalam penyebab itulah segalanya tersimpan. Seperti seluruh keberadaan pepohonan yang terpendam atau tidur didalam benih (biji), demikian pula seluruh alam semesta ada dalam keadaan tertidur dalam prakrti. Prakrti dalam filsafat Samkhya merupakan ketida-adaan kecerdasan, prakrti hanyalah benda mati (materi) yang dilengkapi dengan kemampuan tertentu yang disebabkan oleh guna (sifat). Materi awalnya adalah tanpa bentuk dan kecerdasan Kosmos adalah bentuk awalnya. Prakrti merupakan dasar dari semua keberadaan obyektif, prakrti tidak menciptakannya. Semua obyek adalah untuk menikmati jiva atau roh. Prakrti hanya menciptakan sesuatu bila ia bergabung dengan purusa. Karya penciptaan dilakukan guna pembebasan setiap roh. (Donder,  2006 : 271)
Pengembangan budhi pekerti yang luhur membentuk perilaku mulia sesuai dengan sifat sattvam dalam teori samkhya, identik dengan tuntunan dharma. Dengan demikian tujuannya yang dapat dicapai jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dengan penuh keyakinan dalam penerapannya, akan menjadi suatu perilaku utama (Brahman)  tentu akan mencapai moksa (pembebasan).
Dalam pengembangan budhi pekerti untuk mencapai moksa, yang diawali dengan sraddha yaitu berupa keyakinan sattvam, dengan mengikuti petunjuk dharma, maka kebahagiaan dapat diwujudkan.  mereka yang selalu mengikuti ajaran-Ku (Brahman) dengan  penuh keyakinan (Sraddha) serta bebas dari keinginan duniawi, juga  akan bebas dari keterikatan, ia yang memiliki keimanan yang mantap (Sraddha) memperoleh ilmu pengetahuan, dapat menguasai panca indrianya, setelah memiliki ilmu pengetahuan dengan segera mencapai kedamaian yang abadi. Akan tetapi jika melaksanakan atau melakukan sesuatu kegiatan yang akan di awali dengan keyakinan yang dipengaruhi nafsu, Bhagavad Gita 16.10) menjelaskan : “Dengan berlindung kepada hawa nafsu yang tidak dapat dipuaskan, terlena dalam rasa sombong dan kemasyuran yang palsu, orang jahat yang berhayal seperti itu selalu bertekad melakukan pekerjaan yang tidak bersih, sebab mereka tertarik kepada hal-hal yang tidak kekal”.(Prabhupada, 1986 : 729)
Dalam berperilaku seperti ini, maka segala perbuatan itu pasti meninbulkan kekacauan. Karena terjadi kekeliruan arah (dharma) pemaksaan kehendak sesuka hati  terus-menerus yang berlebihan, sehingga rasa bangga berlebihan akan hasilnya melupakan penderitaan orang lain. perilaku seperti ini tentu meninbulkan  keonaran, keributan, kekacauan bahkan kerusakan terhadap sesama, lingkungan dan ciptaan yang lainnya.
Usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan sifat sattvam dalam mengembangkan perilaku yang mulia adalah dengan meningatkan pelaksanaan-pelaksanaan ajaran dharma (Agama Hindu) secara intensif melalui pelatihan kerohanian terus menerus yang berkaitan dengan mengatasi sifat rajas dan sifat tamas yaitu : sifat tamas memang paling susah untuk diatasi akan tetapi jika dengan kesungguhan melaksanakan ajaran dharma dengan bersungguh-sungguh  pastilah bisa. Dikatakan dalam sastra suci untuk memberikan inspirasi semangat segeralah berubah untuk kearah yang lebih baik.
Karenanya perilaku seseorang; hendaknyalah masa muda digunakan dengan sebaik-baiknya, selagi badan sedang kuatnya, hendaknya digunakan sepenuhnya untuk mengikuti dan mempelajari Dharma, Artha dan ilmu pengetahuan, sebab tidak sama kekuatan orang tua dengan kekuatan seorang anak muda, contohnya adalah seperti seperti rumput lalang yang telah tua, menjadi rebah, dan ujungnya tidak tajam lagi. (Sarasamuscaya sloka 27)
Dengan mengetahui fungsi dan makna dari triguna tentunya sifat sattvam dalam pengembangan budhi pekerti luhur akan sampai kepada Brahman dalam sastra-sastra Hindu yang disebut dengan moksa.
Menurut teori Samkhya Nir-Isvara, moksa (pembebasan)  dapat memahami keberadaan purusa dan prakerti yang berbeda dan keduanya bersifat abadi yang tidak diciptakan dengan demikian unsur alam akan kembali kepada prakerti sedangkan unsur roh akan kembali kepada purusa.
 mengenai moksa melalui pengembangan budhi pekerti sebagai berikut: dengan pengembangan budhi pekerti sifat sattvam, akan menjadi jelas bahwa perilaku yang dapat mengarah terhadap kebaikan dapat diwujudkan, sehingga tujuan manusia dilahirkan dapat pula diketahui. Dengan jalan mengetahui dan menyadari  petunjuk dharma, sehingga kita tidak tersesat arah, tidaklah surga yang menjadi tujuan akhir kita, karena setelah disurga dinyatakan akan turun kembali ke dunia (reinkarnasi), untuk melanjutkan perbaikan-perbaikan karma dimasa hidup sebelumnya, saat ini, dan yang akan datang sampai akhirnya menjadi tujuan akhir yaitu mencapai moksa (tidak bereinkarnasi). Karena sang roh telah sampai bersatu dengan purusa sedangkan badan yang terdiri dari unsur panca maha buta kembali ke panca tanmatra, dari panca tanmatra berlanjut ke ahamkara, budhi,  mahat hingga berakhir pada prakrti
Dalam ajaran Bhagavad Gita menyebutkan : Semuanya itu akan sukses  bila dilandasi dengan Sraddha (keimanan) dan Bhakti  (ketaqwaan) yang mantap, apabila ini dilakukan dengan sungguh-sungguh, dijelaskan sebagai berikut :
Adyaya IX-22 menyebutkan:
Tetapi orang yang selalu menyembah-Ku dengan bhakti tanpa tujuan lain dan besemadhi pada bentuk rohani-Ku-Aku bawakan apa yang dibutuhkannya, dan Aku memelihara apa yang dimilikinya. (Prabhupada, 1986:467)

Adyaya iX.27 menyebutkan:
Apapun yang engkau lakukan, yang engkau makan, yang engkau persembahkan dan engkau amalkan atau berikan sebagai sumbangan dan pertapaan apa pun yang engkau lakukan-lakukanlah kegiatan sebagai persembahan kepada-Ku,wahai putra kunti. (Prabhupada, 1986:475)

Adyaya IX.29 menyebutkan :
Aku tidak iri kepada siapa pun, dan Aku tidak berat sebelah kepada siapa pun. Aku bersikap sama terhadap semuanya.Tetapi siapa pun yang mengabdikan diri kepada-Ku dalam bhakti adalah kawan, dia berada di dalam Diri-Ku, danAku punkawan baginya. (Prabhupada, 1986:476)

Adyaya IX.30 menyebutkan :
Meskipun seseorang melakukan perbuatan yang paling jijik, kalau ia tekun dalam bhakti, ia harus diakui sebagai orang suci karena ia antap dalam ketabahan hatinya dengan cara yang benar. (Prabhupada, 1986:478)

            Adyaya IX.32 menyebutkan :
Wahai putra Parta, orang yang berlindung kepada-Ku, walaupun mereka dilahirkan dalam keadaan yang lebih rendah, atau wanita, vaisya (pedagang) dan sudra (buruh)-semua dapat mencapai tujuan tertinggi. (Prabhupada, 1986:481)

Pada hakekatnya setiap orang yang dilahirkan memiliki peluang besar untuk menjadi orang yang dapat menjalankan dharma. Dalam ajaran agama Hindu kebahagiaan tertinggi adalah mencapai moksa, seperti yang terdapat dalam salah satu pustaka suci Brahma Purana ditegaskan bahwa dharma, artha, kama dan moksa adalah suatu rangkaian yang erat, sedangkan badan jasmani adalah sarana untuk mencapainya. Dengan demikian jelaslah bahwa dharma, artha, kama dan moksa yang juga disebut catur purusaharta adalah tujuan hidup manusia.
            Dengan menerapkan dharma agama adalah merupakan tugas dan kewajiban yang patut dilaksanakan oleh setiap umat untuk mencapai tujuan agama. Apa-apa yang diajarkan oleh agamanya patut dapat dipedomani, dihayati dan lanjut diamalkan dalam kehidupannya sehari-hari.
Dharma agama merupakan santapan rohani yang patut didalami secara perlahan-lahan proses berpikir mendekatkan diri kepada Tuhan/Hyang Widhi Wasa, karena sebenarnya pada diri kita masing-masing hal itu sudah ada dan tinggal menghubungkan untiuk menjadi lebih dekat lagi. Sarana mendekatkan adalah dengan menuntun sang diri melalui ajarannya.
Setelah tuntunan diperoleh, terangilah diri dengan tuntunan itu agar dapat membedakan mana yang baik dan benar serta manapula yang buruk dan salah dan patut dihindari. Sebab dengan  melaksanakan Dharma Agama tahu caranya. Kemudian setelah dapat menerangi diri, Dharma Agama mengandung ajaran moral yang tinggi, patut untuk dihayati dengan memotifasi diri sehingga dapat mempunyai daya dorong yang lebih meyakinkan, sehingga tak takut akan berbuat, karena apa yang akan diperbuat telah diyakini sesuai dengan Dharma.
Perbuatan didasarkan pada dharma agama akan memberikan kepuasan dan kebahagiaan tersendiri secara dinamis, sehingga menyebabkan pemeluk agama menjadi berani, tidak takut ataupun gelisah dalam berlomba-lomba membuat kebaikan dengan Tuhan.
Jadi dengan mengemban tugas dan tanggungjawab yang sangat mulia ini, yang haruslah dilaksanakan untuk dapat mencapai tujuan yang utama sesuai dengan yang tersurat dan tersirat dalam beberapa pustaka suci yaitu mencapai moksa. Dimana tugas dan tanggungjawab dilahirkan kedunia ini adalah untuk dapat melakukan atau  melaksanakan sesuatu, haruslah sesuai dengan petunjuk ajaran dharma, sehingga apa yang menjadi maksud kelahiran ini dapat menjadikan wujud nyata yang hendak dicapai. 
Pada prinsipnya manusia menginginkan kebahagiaan dan menghindari diri dari penderitaan, akan tetapi dalam perjalanan hidup ini banyaklah pelaksanaan-pelaksanaan yang seharusnya tidak dilakukan yang jelas bertentangan dengan petunjuk dan tuntunan ajaran dharma. Semua ini akan menghambat pencapaian tujuan manusia. Oleh karena itu hendaknya mempergunakan sebaik-baiknya kesempatan menjelma menjadi manusia ini untuk tidak terjatuh dan terjatuh lagi dari keadaan yang tidak diinginkan (samsara).
Bila uraian-uraian dalam pustaka suci ajaran agama Hindu diterapkan dan dilaksanakan, akhirnya akan sampai pada rumusan bahwa tujuan agama Hindu adalah untuk mencapai kehidupan yang memberikan kedamaian rohani dan kesejahteraan hidup jasmani, dalam bahasa sansekerta diformulasikan moksartam jagadhita ya ca iti dharma.
            Moksartam jagadhita ya ca iti dharma mengandung pengertian bahwa tujuan agama adalah untuk mencapai kesejahteraan hidup di dunia dan kebahagiaan abadi, kelak setelah meninggalkan dunia fana ini. Maka dari itu tujuan manusia dilahirkan hendaknya berpedoman kepada prinsip-prinsip ini, agar tidak sia-sia dapat kesempatan dilahirkan menjadi manusia.
Untuk mencari kesejahteraan-kesejahteraan dari semuanya, seperti artha dan kama ini supaya berlandaskan dharma, dengan kata lain kalau tujuan terpenting, bila artha dan kama hendak dituntut, dharma janganlah hendaknya dilakukan lebih dahulu, niat untuk mencapai artha dan kama pasti akan tercapai nantinya. Tapi sebaliknya jika mendahulukan artha dan kama tidak mengindahkan dharma maka yang diperoleh tidak ada artinya karena akan sia-sia bahkan mungkin dapat celaka.
Dalam sarascamuscaya 21 disebutkan: “adapun orang berbuat baik, kelahiran dari surga kelak menjelma menjadi orang rupawan, gunawan, mulyawan, hartawan dan berkuasa phala dari perbuatan baik yang diperolehnya”.(Pudja,1990:19)
Dengan demikian dapatlah dipahami pengertian, moksa artinya mencapai kebebasan jiwatman atau kebahagiaan rokhani yang kekal abadi pada saat jiwatman bersatu kembali dengan sumbernya Brahman. Moksa disebut juga mukti jagat atau jagad artinya dunia, hita artinya baik, bahagia atau makmur. Jagathita berarti kebahagiaan dunia. Kesejahteraan hidup didunia ini. Dalam hubungan ini artham atau artha berarti tujuan, sedangkan dharma berarti agama.
Akan menjadi jelas bahwa tujuan manusia dilahirkan kalau saja mau  menyadari dan mengetahui petunjuk dharma, sehingga tidak tersesat arah, jadi janganlah sekedar surga yang menjadi tujuan akhir, karena setelah disurga akan dinyatakan akan turun kembali ke dunia, tergantung pada sifat amalnya di masa hidup sebelumnya, sampai akhirnya mencapai moksa. Bila paham dan mengerti  tentang Atman maka yakin sampai dengan Moksa dapat dijelaskan sebagai berikut : Atman adalah penyebab segala sesuatu itu hidup. Ia adalah sinar Brahman Yang Esa. Ia berada di dalam setiap makhluk dan juga berada di luar "Tat Tvam Asi" (Itu adalah Engkau, Dia adalah Kamu). Ketika berada didalam tubuh dia disebut Jivo atau Jiwa. Ketika tubuh ini ditinggalkan maka tubuh ini mati dan menjadi hancur, namun Atman tetap kekal ( Katha Upanisad I.2.18 dan II.2.4 ).
Sang Jiwa yang terbungkus dalam Roh pergi membawa kesan karma / perbuatan selama ia berada dalam tubuh yang tidak kekal. Segala bentuk perbuatan atau karmanya selama menghuni tubuh, akan memperoleh pahala yang setimpal dan sang Jiwa/Roh yang masih terikat oleh dunia maya akan mencari badan yang baru atau lahir kembali yang disebut Punarbhava. Tetapi apabila Sang Jiwa selama menghuni badan terbebas dari belenggu dunia maya, ia melihat semua makhluk ada pada dirinya dan dirinya berada pada semua makhluk serta tiada lagi rahasia yang tersembunyi ( Isa Upanisad 6 ), maka Sang Jiwa mencapai identitas Atman yang suci, menemukan kesadaran yang tak terbatas dan menyatu dengan Brahman. Bagaikan lampu yang memperlihatkan sinar yang dapat pergi jauh diluar batas materialnya dan memproklamirkan hubungan persaudaraannya dengan matahari. Itulah cita - cita akhir dari kehidupan, mencapai "ananda rupam", wujud kebahagiaan kekal, terbebas dari suka - duka yang disebut Moksa.
BAB V  
1. KESIMPULAN
Dari uraian maupun pembahasan bab demi bab skripsi ini berjudul Analisis Triguna Terhadap Pengembangan Budi Pekerti Untuk Mencapai Moksa Dalam Teori Samkhya (suatu kajian kualitatif fungsi dan makna pada teks sasta hindu), maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Fungsi Triguna Terhadap Pengembangan Budhi Pekerti Untuk Mencapai Moksa (Pembebasan) Dalam Teori Samkhya Nir-Isvara adalah terdiri dari sattvam, rajas, dan tamas memberi pengaruh yang berbeda-beda pada tingkat keyakinan. Keyakinan merupakan memunculkan cara-cara dalam pengembangan budhi pekerti (tingkah laku). Jika sattvam lebih dominan maka keyakinan dalam berperilaku akan menjadi kebaikan, jika rajas yang mendominasi akan perilakupun menjadi bersifat nafsu dan apabila  tamas yang mendominasi perilaku  menjadi malas. Untuk pencapaian moksa dengan mengutamakan sifat sattvam dalam berperilaku.
2.      Makna Triguna Terhadap Pengembangan Budhi Pekerti Untuk Mencapai Moksa (Pembebasan) Dalam Teori Samkhya Nir-Isavara adalah Berusaha merubah perilaku bersifat rajas (nafsu) dan tamas (kegelapan) dalam pengembangannya kearah sifat sattvam (kebaikan) secara terus menerus dalam kehidupan sehari-hari, untuk mewujudkan berperilaku yang luhur yaitu dapat dengan cara : 1) memahami sifat-sifat yang mempengaruhi keyakinan dalam berperilaku, sehingga mudah untuk mendapatkan atau memilih perilaku yang bersifat sattvam, 2) mengendalikan keyakinan yang dipengaruhi oleh sifat rajas dan tamas, 3) menentukan pilihan keyakinan yang bersifat sattvam setiap tindakan dalam berperilaku. Dengan demikian moksa (pembebasan) dapat dicapai
3.      Tujuan ajaran agama Hindu yaitu moksa dapat dicapai dengan adanya triguna dalam teori Samkhya Nir-Isvara, adalah merupakan suatu pencapaian moksa dengan cara melakukan dan meningkatkan  sifat sattvam secara terus menerus. Diikuti dengan pengendalian sifat rajas dan tamas, sehingga sifat sattvam yang berarti kebaikan, tidak berhenti sampai kebaikan saja, akan tetapi sampai pada “kebaikan murni” (Brahman). Dengan demikian moksa akan terwujud. Dalam ajaran agama Hindu Moksa adalah berarti bersatunya kembali Atman dengan Brahman, ini berarti dalam teori Samkhya nir-Isvara moksa adalah merupakan kembalinya Roh kepada Purusa. Sedangkan tubuh yang terdiri dari Pancamahabhuta, akan kembali ke Pancatanmatra terus  berlanjut ke yang lebih halus yaitu sebagai pembungkus terakhinya Roh yang terdiri dari budhi,ahamkara, dan manas kembali ke Prakerti.
B. SARAN
1. Pembahasan-pembahasan mengenai permasalahan ini sangat mendasar, memang kelihatannya sederhana akan tetapi setiap orang selalu saja mempunyai argumentasi yang berbeda, sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan masing-masing walaupun keyakinan agamanya sama belum tentu memberikan jawaban yang sama pula. Agama sebagai petunjuk suci untuk mencapai kesempurnaan hidup menekankan dharma sebagai pedoman hidup yang terpenting, karena dharma adalah dasar untuk mencapai kesejahteraan diri, masyarakat dan sesama manusia.
2.   Berusaha merubah perilaku dari sifat raksasa menjadi sifat devata dengan memperbanyak melakukan tapa brata yoga semadhi yang teratur niscaya segala yang diajarkan dalam ajaran sicu dapat segera terujud melalui berapa siklus kelahiran perlahan namun yakin jika ini dilaksanakan setiap kelahiran berikutnya pasti akan lebih baik begitu seterusnya sehingga moksapun dapat tercapai.
3. Sesungguhnya bahwa apapun tingkah laku ciptaan itu, demikian pula kedudukannya menurut kelahirannya, saya akan sampaikan berikut ini dengan sesungguhnya Tuhan Yang Mahaesa membimbing umat manusia menuju jalan yang benar Ya Tuhan Yang Mahaesa, engkau mengetahui segala  tingkah laku umat manusia. Ia yang memimpin umat-Nya menuju jalan kebenaran. Menjauhkan dosa-dosa umat manusia. Umat-Nya senantiasa berbakti kepada-Nya). Orang yang memiliki keyakinan yang mantap akan senantiasa percaya diri dan dengan keyakinan pula seseorang akan memperoleh kesejahtraan.
           



Daftar Pustaka
Agastia IBG, 2001, Eksistensi Sadhaka Dalam Agama Hindu, Denpasar: PT  Pustaka Manikgeni
Agung Oka I Gusti, 1993, Slokantara,  Jakarta: Hanuman Sakti
Bagus Wirawan, I Gusti, 2007, Dharma Wacana, Surabaya: Paramita
Donde, I Ketut, 2006,Teologi Kasih Semesta, Surabaya: Paramita
Djelantik, Ida Ktoet, 2008, Aji Sangkya, Denpasar, Widya Dharma
Gunawan Sumodiningrat, 2008, Mencintai Bangsa dan Negara, Jakarta, Arga Printing
Harun Hadiwijoyo, 1989, Sari Filsafat India, Jakarta: P BPK Gunung Mulia
Heinrich Zimmer,2003, Sejarah Filsafat India, Yogyakarta: Pustaka Belajar
Imam Tholkhah, Mewaspadai dan Mencegah Konflik Antatar Umat Beragama, Jakarta, Departemen Agama RI
K.M.Suhardana, 2006, Dan Etika Moralitas Hindu,  Surabaya: Paramita
Mahathera, Kirinde Sri Dhammananda Nayaka, 2003, Keyakinan Umat Buddha, Kwalalumpur: Karaniya.
Maswinara, I Wayan, 1999, Rg Veda Samhita, Surabaya: Paramita
Maswinara, I Wayan, 1999, Sistem Filsafat Hindu, Surabaya: Paramita
Maswinara, I Wayan, 2004, Brahma Sutra, Surabaya: Paramita
Nala, Ngurah, 1992, Usada Bali, Denpasar, Upada Sastra
Prabhupada Swami,1986, Bagawad-Gita, (Pendiri-Acarya International Cociety for Krisna Consciouness), Jakarta: P.O. Box 2694.
Pudja, Gede & Tjokorda Rai Sudharta, 1977, Weda Smerti  Compendium Hukum Hindu, Jakarta: Ditjen Bimas Hidhu & Budha Departemen Agama RI
Pudja, Gede,1980, Sarasamuscaya, Jakarta: Hanuman Sakti
Pudja, Gede, 1984, Pengantar Agama Hindu II Sraddha, Jakarta: Mayasari
Putra, IGAG & I Wayan Sadia, 1998, Wrhaspati-Tattwa, Surabaya: Paramita
P.J Zoetmulder, 2005, Adiparva, Surabaya: Paramita
Rudia Adipura, Gede, 2003, Pengetahuan Dasar Agama Hindu, Jakarta: PT Pustaka Mitra Jaya
Suamba, Ida Bagus Putu & Ida Bagus Gde Yuda Triguna, 2000, Kontribusi Hindu Terhadap Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, Jakarta: Widya Dharma.
S.Pendit, 2007, Filsafat Hindu Dharma, Denpasar: PT Offset BP Denpasar
Taniputera, Ivan, 2005, Atharvaveda samhita I, Surabaya: Paramita
Taniputera, Ivan, 2005, Atharvaveda samhita II, Surabaya: Paramita
Titib, I Made, 2003, Menumbuh kembangkan Pendidikan Budhi Pekerti Pada Anak, Bandung: Ganeca Exact
Titib, I Made, 1996, Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan, Surabaya: Paramita
…………….., 2003, Intisari Ajaran Hindu, Surabaya: Paramita
…….……….., 2004, Siwattawa,  Denpasar: Pemerintah Provinsi Bali
…………….., 1996, Niti Sastra, Jakarta: Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar