Senin, 21 Februari 2011

TRIGUNA DAN SRADDHA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
           Guna ada tiga perincianya yaitu : sattvam, rajas, dan tamas. Ketiganya disebut triguna. Guna ini berpengaruh terhadap citta sehingga disebut citta sattva, citta rajas dan citta tamas. Pada saat triguna bertemu dengan citta maka lahirlah Bhudhi dan dari budhi lahirlah ahamkara, ahamkara dibedakan menjadi tiga yaitu ahamkara waikreta, taijasa dan bhutadi (Siwa tatwa, 2004, hal:19).
Dengan demikian triguna ini akan memberi pengaruh terhadap tingkat (Sraddha) keyakinan/kepercayaan dalam pengembangan budhi pekerti. Faktor inilah menjadi penyebab dari perbedaan perilaku manusia yang hidup, sehingga berjalan sesuai dengan svadharmanya masing-masing. Oleh karena sifat rajas dan tamas cenderung lebih  dominant mempengaruhi pada setiap individu yaitu dalam wujud “Sadripu” (Kama, Lobha, Kroda, Mada, Moha, Matsarya) ini merupakan enam musuh utama yang menyelimuti pikiran manusia menjadi gelap dan bodoh atau linglung, sehingga terperangkap oleh jerat Maya, akan sering membawa penderitaan bagi dirinya dan mahluk-mahluk yang lainnya.
Tingkat keyakinan (Sraddha) yang bersifat sattvam ini menunjukkan kemurnian atau kesucian orang-orang dengan sifat ini, yaitu hanya memuja Tuhan Yang Maha Esa (Brahman). Tingkat keyakinan (Sraddha) yang sifat-sifat rajas adalah sifat-sifat yang penuh dengan energi, nafsu kekuasaan, nafsu harta-benda, dan nafsu-nafsu laninya, punya keyakinan  memuja para (yaksha/raksasa) setan dan iblis. Sedangkan tingkat keyakinan sifat-sifat tamas adalah sifat-sifat kegelapan total yang dimiliki oleh mereka-mereka yang kurang sekali pengetahuannya akan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, mereka amat serakah dan tidak suci, amat sensual, malas dan penuh akan sifat-sifat gelap lainnya, demi hasrat dengan jalan pintas ke arah sukses dan pencapaian kesejahteraan duniawi ini mereka memuja roh-roh yang sesat dan hantu-hantu (Bhagavad Gita 17.4)
Apapun kedudukan seseorang saat ini akan dipengaruhi oleh sifat alami yang diperolehnya sejak lahir yaitu (sattvam) kebaikan, (rajas) nafsu, dan (tamas) kebodohan. Dengan demikian segala pikiran, perkataan, dan perbuatan masing-masing individu merupakan cerminan dari perilaku seseorang dalam masyarakat, maka pengaruh  dari sifat sattvam,  sifat rajas dan sifat tamaspun akan memberi dampak terhadap tingkat keyakinan dalam  mengembangkan budhi pekerti masing-masing individu.
     Dalam ajaran agama Hindu, Veda adalah sumber dari segala dharma, kemudian barulah sruti, disamping sila, acara dan atmanastuti, oleh sebab itu semua ini seharusnya merupakan pedoman bagi umat Hindu untuk  berpikir, berkata dan berbuat dalam hidup ini, karena akan mengakibatkan karmaphala yang akan diterimanya, sekarang, nanti maupun yang akan datang, tanpa dapat dihindari.  Sebab dinyatakan bahwa: ”Tuhan Yang Maha Esa menyaksikan tindakan (perbuatan-perbuatan) dari semuanya. Dan ada dimana-mana, baik di masa lampau, di masa kini maupun di masa datang” ( Regveda I.164.20 dan Atharvaveda X.7.35)
     Sebaiknya semua tindakan dilakukan dengan sadar, karena perilaku merupakan karma seseorang, dimana karma akan berakibat pula terhadap hasilnya. Ini merupakan langkah dari seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan dalam mengarungi kehidupan, dimana akibat dari perbuatan (karma) tentu hasilnya akan dapat diterima  nanti sekarang maupun yang akan datang, ia tidak pernah salah kembali terhadap pelakunya tanpa dapat dihindari.
Kesempatan dalam kehidup ini, yang mendapatkan pengaruh dari triguna, walaupun memiliki pemahaman tingkat keyakinan dalam pengembangan budhi pekerti yang berbeda-beda, semua ini dapat dipergunakan menjadi modal dasar untuk merubah segala perilaku ke arah yang lebih baik. Ini dapat terwujud pada saat menentukan pilihan dalam bertindak atau berbuat, apabila selalu dengan mengutamakan sifat sattvam. Adapaun sifat rajas dan sifat tamas dipergunakan dalam situasi dan kondisi yang tepat. Dengan demikian, segala tindakan (perbuatan-perbuatan) yang dipengaruhi lebih dominan oleh nafsu dan kebodohan/hayalan  dapatlah diminimalkan. Untuk mengurangi kerugian terhadap manusia dan segala ciptaan-Nya. Juga disebutkan : ”Dari sifat sattvam yang mulia memberi penerangan dan kesehatan, membelengu dengan ikatan kebahagiaan dan ilmu pengetahuan, wahai anangga” (Bhagavad Gita XIV.6)
  Hindu dengan ajarannya yang luas mampu menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Selain itu hindu dengan lambang svastikanya mampu menelan suatu konsep ruang dan waktu, konsep watak dan sifat makhluk pada episode dharma. Manusia merupakan makhluk monodualis (jasmaniah dan rokhaniah), Tri Pramana (sabda,bayu dan idep) juga makhluk sosial yang selalu cenderung untuk bermasyarakat, hidup dalam satu kelompok, perkumpulan atau paguyuban, maka saat berperilaku  hendaknya tidak melupakan akan penerapan  tuntunan dharma (ajaran agama hindu). Yaitu sebagai sumber datangnya kebahagiaan. Bila dapat melampaui segala pengaruh triguna, tentunya akan dapat pula mewujudkan tujuan dari ajaran agama hindu mencapaian kebebasan (moksa).    
            Pengembangkan budhi pekerti adalah suatu hal yang sangat penting dilakukan, untuk dapat mengantisipasi keselamatan manusia dari kehancuran yang disebabkan oleh moralitas dan tindakan manusia itu sendiri. Karena dengan mengembangkan budhi pekerti, segala prilaku yang berdampak buruk dan kekacauan terhadap manusia beserta ciptaan-Nya, yang disebabkan oleh manusia itu sendiri dapat berubah menjadi kebaikan dan bermanfaat bagi manusia beserta ciptaan-Nya. Kehancuran yang disebabkan oleh keburukan moralitas dan segala perilaku yang tidak diinginkanpun akan dapat dihindari.
            Dengan demikian pengembangan budhi pekerti merupakan suatu peningkatan perilaku manusia baik, tepat, benar dan mulia untuk mencegah terjadinya segala bencana, yang berasal dari perbuatan-perbuatan manusia itu sendiri. Seperti halnya perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari dharma, tentunya membawa malapetaka bagi kehidupan ini, sebagai contoh : tindakan-tindakan pencemaran terhadap lingkungan, air, dan udara, pembuangan sampah tidak pada tempatnya penyebab adanya polusi udara yang menyebabkan bencana gangguan pernafasan, juga sebagai penyebab adanya penyumbatan saluran atau aliran sungai yang menyebabkan adanya banjir, disamping penebangan hutan secara liar tanpa meremajakan kembali hutan sangat jelas sebagai faktor utama terjadinya tanah longsor dan banjir dan lain-lainya.
Oleh sebab itu perilaku manusia sangat signifikan sebagai faktor penyebab datangnya bencana, untuk itu pengendalian nafsu atau keinginan serakah manusia dalam pengembangan bhudi pekerti sesuai dengan ajaran dharma, sangatlah perlu diupayakan dalam segala tindakan dan perbuatan. Inilah diuraikan: nafsu (kama/keinginan) yang dianggap penyebab sorga ataupun neraka, keterangannya, jika nafsu itu dapat dikendalikan, itulah merupakan sorga, namun apabila tidak dapat dikuasai pengendaliannya itulah merupakan neraka (Sarasamuscaya : 71)
Sifat serakah dan malas dapat menimbulkan kerugian terhadap orang lain sedangkan sifat kebaikan yang berguna untuk orang lain haruslah dilaksanakan, dalam terapannya berupa pengembangan budhi pekerti, karena ia juga bisa menguntungkan terhadap diri sendiri, dan mahluk hidup lainnya untuk mengetahui dan memahami hal tersebut skripsi ini penulis memberi berjudul “Pengaruh Triguna Terhadap Tingkat Sradha Dalam Pengembangan Budhi Pekerti” (Analisis Bentuk Fungsi dan Makna dalam Teologi Hindu )      
B. Rumusan Masalah
          Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, untuk mempermudah dalam kajian analisis  bentuk, fungsi dan makna tentang pengaruh tri guna terhadap tingkat sraddha dalam pengembangan budhi pekerti, maka penulis merumuskan masalahnya  sebagai berikut:
1. Bagaimana Pengaruh sifat sattvam terhadap tingkat sraddha dalam pengembangan budhi pekerti ?.
 2. Bagaimana Pengaruh sifat rajas terhadap tingkat sraddha dalam pengembangan budhi pekerti ?
3. Bagaimana Pengaruh sifat tamas terhadap tingkat sraddha dalam pengembangan budhi pekeri ?
4. Bagaimana cara meningkatkan sifat sattvam untuk pengembangan budhi pekerti dalam ajaran Hindu?
C. Model Penelitian
Dari bagan tersebut diatas menjelaskan bahwa penulis akan melakukan penelitian dalam menjelaskan kebenaran (Tuhan) melalui Veda, karena veda yang berisikan wahyu dari Brahman juga sebagai pengetahuan suci, sehingga perumusan masalah yang akan diteliti yaitu tentang pengaruh triguna terhadap tingkat sraddha dalam pengengembangan budhi pekerti suatu analisis bentuk fungsi dan makna dalam teologi hindu. Dengan  menggunakan teori samkhya, Nyaya dan teori Panca Sraddha, Sehingga korelasi dan relevansi dari konsep tersebut dapat diketahui, Om avighnamastu Pembebasan (Moksa) dapat dicapai oleh yang melaksanakannya.
D. Tujuan Penelitan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Memperoleh data tentang bentuk, fungsi dan makna triguna terhadap tingkat sradha dalam pengembangkan budhi pekerti.
2.      Mendapatkan informasi tingkat sraddha yang di dominasi oleh rajas dan tamas, sebagai penghambat dalam pengembangan budhi pekerti.
3.      Memperoleh cara yang tepat untuk meningkatkan sifat sattvam terhadap tingkat sraddha dalam pengembangan budhi pekerti.
4.      Dapat memberikan keyakinan bahwa melalui pengembangan budhi pekerti yang tepat,  tujuan agama hindu tentang moksa dapat dicapai.
E. Kerangka Berpikir
 Brahman adalah realitas tertinggi dalam kehidupan ini. Sumber ajaran Hindu adalah Veda menurut Frof. Dr. Rajendra Misra, MA., D.Phil., pada bukunya yang berjudul Sejarah Kesusastraan Sansekerta menguraikan bahwa :
”kata Veda berasal dari kata kerja Vid ditambah akhiran Ghan (Vid +Ghan = Veda) maka menjadi kata Veda. Veda artinya pengetahuan, maka mempunyai konsekwensi sebagai sumber segala pengetahuan apapun bentuknya (Donder,2001 : 4)”
Dari pemahaman Veda secara etimologi (pengetahuan kata) maka dapat diungkapkan bahwa Veda mengandung kebenaran, merupakan sumber utama dari ajaran agama seperti yang disebutkan dalam Menawa Dharma Sastra XII.99 disebutkan :
”Vibharti sarva bhutani veda sanatanam,
 Tasmad etatparam manye yajjantorasya sadhanam
Artinya:
”Ajaran veda menyangga semua ciptaan ini, karena itu harus dijunjung tinggi sebagai jalan menuju kepada kebahagiaan semua insan.(Donder, 2001 : 4)”

Berpedoman pada ajaran-ajaran suci agama Hindu yaitu Veda, dapatlah diketahui adanya sifat-sifat yang tidak dapat dihindari oleh manusia yang disebut dengan triguna. Adapun analisis data yaitu tentang bentuk fungsi dan makna ketiga sifat ini, pengaruhnya terhadap tingkat sradha dalam pengembangan budhi pekerti, dapat digambarkan sebagai berikut :
 
            Untuk mendapatkan gambaran yang sistimatis tentang lingkup permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini, maka diperlukan penjelasan mengenai pokok-pokok pengertian yang akan menjadi landasan seperti yang dijelaskan dalam judul tulisan ini.
Adapun teori yang akan dipergunakan seperti: teori Samkhya-Vedànta. Penciptaan mulai dengan prinsip dasar yang disebut Mahat dan berakhir dengan Visesa, yakni perbedaan antara lima unsur  yang sangat halus dan yang kasar (kasat mata) yang disebut Panca Mahabhuta dan Panca Tanmatra.
Nyaya Darsana menjelaskan bahwa: ”alam semesta merupakan gabungan atom-atom yang abadi yang tak berubah-ubah, tanpa penyebab, yang keberadaannya melampaui pikiran manusia. Alam semesta merupakan modifikasi dari atom-atom (paramaanu) dari unsur-unsur fisik, yaitu: tanah (prathivi), air (apah), api (tejas) dan udara (vayu), ether (kham), waktu, ruang, pikiran, dan sang diri (atma)” (sivananda, 2003 : 181).
            Teori Panca sraddha, Ida Bagus Oka Punia Atmaja (1971) telah merumuskan 5 keyakinan atau keimanan umat Hindu yaitu:
1.      Widhi Tattwa atau Widhi sraddha, keimanan terhadap Tuhan Yang Mahaesa dengan berbagai manifestasi-Nya.
2.      Atma tattwa atau Atma Sraddha, keimanan terhadap Atma yang menghidupkan semua mahluk.
3.      Karmaphala tattwa atau Karmaphala Sraddha, keimanan terhadap hukum sebab akibat atau buah dari perbuatan.
4.      Samsara atau punarjanma tattwa/Sraddha, keimanan terhadap lahir kembali.
        5.   Moksa tattwa atau Moksa Sraddha, keimanan terhadap kebebasan tertinggi bersatunya Atma dengan Brahman, Tuhan Yang Maha Esa.
F. Tinjauan Pustaka
            Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut di atas, untuk memudahkan pembahasannya, maka penulis menggunakan penelitian kajian kepustakaan agar mendapatkan pengertian dan pemahaman  dalam menguraikan permasalahnya yaitu tentang berapa besar pengaruh triguna terhadap tingkat keyakinan dalam mengembangkan budhi pekerti, sebagai acuan berdasarkan ajaran agama Hindu yang terdapat pada beberapa referensi :
            1. Seluruh pustaka suci weda adalah sumber pertama dari pada Dharma (Menawa Dharma Sastra G.Pudja MA, II.6:62).
            2. Triguna : Tri artinya tiga Guna artinya sifat atau bakat. Triguna ialah tiga sifat dasar yang terdapat pada setiap yang ada di jagat raya ini baik itu mahluk hidup maupun benda mati (Pengetahuan Dasar Agama Hindu Gede Rudia Adipura, :56)
            3. Golongan-golongan keyakinan (Bhagavad Gita Bab 17.4:749)
            4. Pengertian Etika dan Susila (Pengantar Etika dan Moralitas Hindu, Drs K.M.Suhardana Bab II;19).
            5. Menumbuh Kembangkan Pendidikan Budhi Pekerti Pada Anak (Pengertian budhi pekerti Dr. Imade Titib,: 1)

G. Anggapan Dasar
            Berdasarkan rumusan masalah di ajukan, maka anggapan dasar dalam penelitian ini adalah :
1.   Bentuk, fungsi, dan makna Pengaruh triguna itu masing-masing berbeda untuk setiap orang, bergantung dari bakat sifat kelahirannya dan aktivitas latihan rohani sepanjang perjalanan hidupnya, Dengan demikian tentunya akan berdampak pula terhadap pengembangan budhi pekerti.
2.   Sikap dan perilaku merupakan aktualisasi dalam perbuatan yang diawali dengan sraddha mendapat pengaruh oleh sifat sattvam lebih dominan akan menguntungkan dalam hidup ini dari pada menuruti pengaruh sifat rajas, apalagi sifat tamas.
3.   Bentuk, fungsi dan makna dari triguna akan dapat dilihat setelah seseorang melakukan interaksi sesama, maupun dengan ciptaan-ciptaan Tuhan lainya, ini bisa dilihat dari : sikap, perilaku, karakter, tatakrama, tatasusila, sopan santun, cara berpikir dan lain-lain dari seseorang tersebut.
4.  Bentuk, fungsi dan makna Pengaruh triguna terhadap tingkat sraddha dalam pengembangan budhi pekeri, dapat pula dilihat dari manfaat positif  dari ketiga guna ini yang sangat berarti bagi kesejahteraa, kebahagiaan dan  kedamaian dalam kehidupan manusia.
5.   Pemahaman bentuk, fungsi dan makna dapat memudahkan untuk menentukan pilihan-pilihan dalam melaksanakan praktek berperilaku mulia terhadap sesama begitu pula dengan ciptaanya yang lain untuk saling  menguntungkan.
H. Metode Penelitian
            Metode penelitian adalah kegiatan yang secara sistimatis, direncanakan oleh para peneliti untuk memecahkan masalah yang hidup dan berguna bagi masyarakat maupun bagi peneliti itu sendiri. Didalam buku Metode Penelitian dinyatakan sebagai berikut : Metode berasal dari kata ”Metthodos” (dari Bahasa Yunani) yang terdiri dari dua akar kata yaitu ”Metha” dan ”Hodos” . Metha artinya dilalui dan hodos artinya jalan. Dapat diartikan bahwa Metode adalah jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan. Sedangkan Penelitian adalah suatu penyelidikan ilmiah.
            Suatu metode yang tepat  sangat bermanfaat dan membantu penulis dalam meneliti obyek penelitian untuk mendapat data dan informasi yang sesuai dengan realitas, sehingga keabsahan hasil penelitian tersebut dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Berdasarkan penulisan penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif deskritif.
1. Metode Pengumpulan Data.
a.       Studi dokumen atau kepustakaan
Digunakan untuk melengkapi penulisan studi kepustakaan penulis memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai konsep-konsep ajaran agama (Sayuti Ali, 2002:64)
          

Tehnik kepustakaan:
Cara untuk memperoleh data dengan mempelajari buku-buku yang ada kaitannya dengan masalah yang diteliti. Untuk mencari teori-teori, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi yang dapat dijadikan teoritis bagi penelitian yang akan dilakukan (Suryadibrata, 2004:18).
       b.  Observasi (pengamatan)
Tehnik yang digunakan dengan cara melakukan pengamatan dan pencatatan  secara sistimatis terhadap gejala atau fenomena yang diselidiki tanpa mengajukan pertanyaan meskipun obyeknya adalah orang (Marzuki,2001:58)
   c.  Wawancara yaitu suatu metode yang dilakukan untuk mendapat keterangan secara lisan dari seorang responden dapat dilakukan dengan bercakap-cakap berhadap muka dengan seorang, hal ini dilakukan untuk mendapatkan penjelasan yang sejelas-jelasnya mengenai masalah yang diteliti ( Hadi Sutrisno 1986:136)
2.      Metode pengolahan data
a.       Deskriptif  kualitatif (penelitian paparan)
Komparatif Deskriptif adalah suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan menyusun secara sistimatis sehingga diperoleh suatu kesimpulan (Netra, 1976:75)
      b.  Komparatif adalah suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan   mengadakan bandingan secara sistimatis secara terus menerus sehingga diperoleh suatu kesimpulan umum (Netra, 1976:76)
c.       Metode Deskriftif adalah suatu metode atau cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan menyusun secara sistimatis sehingga memperoleh kesimpulan atau membuat deskripsinya (Sumadi Surya Brata, 1983 : 40)
d.      Analisis data dilakukan secara induktif yaitu penganalisaan terhadap obyek ilmiah tertentu melalui pengamatan atas hal-hal masalah-kasus-kasus yang sejenis kemudian menarik kesimpulan yang bersifat umum(Arbi,1989:23)
             Dalam analisa data penulis tidak mendiskripsikan secara kuantitatif, melainkan  kualitatif. Pengertian kualitatif bermakna bahwa data disajikan berwujud kata-kata dan bukan angka. Analisis kualitatif penelitian ini dilaksanakan melalui tahapan sebagai berikut :
             Pertama, reduksi data yaitu suatu proses pemilihan, pemusatan perhatian dengan menyederhanakan data yang diambil dari catatan tertulis selama dilapangan. Kegiatan ini tidak hanya dilaksanakan setelah penelitian, tetapi berlangsung secara terus menerus selama penelitian berlangsung, dengan membuat ringkasan data, menelusuri tema yang tersebar dan merumuskannya sebagai dasar penyajian dan analisis selanjutnya.
            Kedua, penyajian data dengan penyusunan sekumpulan informasi menjadi satu pernyataan yang memungkinkan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Sebagaimana reduksi data bahwa data diperoleh secara terpencar diupayakan penyederhanaan, selektif sehingga mudah difahami. Dimungkinkan membuat tabel berupa isu pembaharuan dan status quo yang dapat diambil dari data tertulis.
            Ketiga, penarikan kesimpulan terhadap reduksi dan tampilan data sebelumnya. Bahwa dalam tahap ini simpulan yang ditarik secara persial dalam tahap reduksi disempurnakan lagi dalam tampilan atau penyajian data dan kemudian final pada tahap penarikan kesimpulan. Artinya pada analisis kualitatif ini dilakukan tahap reduksi data, penyajian data pada penarikan kesimpulan secara terus menerus dan berulang sebagai sebuah lingkaran.













BAB II

LANDASAN TEORI


A.    Teologi Hindu

Dengan menggunakan kajian teologi hindu, Kata teologi berasal dari kata theos yang artinya ‘Tuhan’ dan ‘logos’ yang artinya ‘ilmu’ atau ‘pengetahuan’. Jadi teologi adalah pengetahuan tentang Tuhan. Secara harfiah teologi berarti teori atau studi tentang Tuhan. Dalam praktek , istilah ini dipakai untuk kumpulan doktrin dari kelompok keagamaan atau pemikiran individu (Maulana, 2003:500).
         Istilah teologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata theologia. Theos artinya Tuhan dan logos berarti wacana atau ilmu. Secara etimologis teologi berarti ilmu tentang Tuhan. Aristoteles adalah filsuf pertama yang menganggap teologi sebagai sebuah disiplin dan megidentikkannya dengan filsafat pertama yang tertinggi dari semua ilmu teoritis, suatu studi yang kemuadian bernama metafisika. Akan tetapi kemudian dipandang sebagai bagian dari metafisika, yaitu disiplin yang mempelajari prinsip semesta yang terakhir, Tuhan, hakikat, keberadaan dan aktivitas-Nya (Ananda, 2004:14).
Hinduisme yang bersumber pada veda memiliki konsep tentang asal mula alam semesta, yang dipertautkan langsung dengan Tuhan dan dapat diuji kebenarannya berdasarkan konsep kebenaran sains. Faham-faham dasar Hiduisme misalnya mengatakan: bahwa Tuhan atau yang diistilahkan dengan Brahman berada diluar kekuasaan manusia, dan Tuhan merupakan penyebab segala kejadian dan keberadaan (Suryadipura, 1958 : 36)
Adapun kitab suci Veda yang merupakan tuntunan ajaran suci agama Hindu seharusnya menjadi pedoman atau acuan, yang ditaati dan diterapkan dalam hidup ini. Oleh karena hidup dan kehidupan manusia adalah merupakan anugrah Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa. Menurut ajaran agama Hindu (Veda), manusia dan semua mahluk dihidupkan oleh atman atau jìvatman (yang menjadikan sesuatunya hidup atau bernyawa). Jìvatman berasal dan merupakan percikan sinar suci (Brahman)Tuhan Yang Maha Esa. Untuk itu setiap umat manusia dituntut untuk memanfaatkan kehidupan ini dengan sebaik-baiknya sehingga atman atau jivatmannya dapat bersatu kembali dengan paramatman atau Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya mengenai hubungan manusia dengan alam lingkungan hidupnya (alam semesta ini ) hendaknya dilandasi oleh kesadaran bahwa seluruh alam ini berasal dari Tuhan dan diberi makan oleh Tuhan Yang Maha Sempurna sebagaimana dinyatakan dalam Atharwa Veda X.8.29 dengan kalimat : " Purnat purnam udacati purnanena vasisyate ". Demikianlah manusia harus menyadari bahwa dirinya merupakan suatu kesatuan dengan alam semesta ini didalam Tuhan.

1. Teologi Sebagai Brahmavidya

Mahadevan (1984:300) menyebut teologi sebagai brahmavidya, yakni the knowledge of Brahman, sedang Apte dalam Student Sanskrit English Dictionary (1987:466) menerjemahkan kata teologi dengan Isvara-brahmajnanam, paramarthavidya, adhyatmajnanavidya yang secara leksikal berarti pengetahuan tentang ketuhanan, pengetahuan tertinggi, dan pengetahuan rohani (spiritual).
Berdasarkan uraian tersebut brahmavidya berarti pengetahuan tentang Tuhan Yang Maha Esa, mencakup semua manifestasi-Nya, ciptaan-Nya dan segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya. Pengertian yang terakhir ini sudah mencakup pengertian yang amat luas tentang brahmavidya. Sejalan dengan penjelasan Mahadevan di atas, S. Radhakrishan 1961:5) menyatakan bahwa teologi adalah Brahmavidya atau Brahma-tattva-jnana  atau ilmu pengetahuan mengenai ke-Abadian yang menjadi dasar dari semua ilmu pengetahuan lainnya.
         Teologi Hindu atau Brahmavidya berdasarkan pada wahyu dan pengalaman rohani para rsi (Pereira, 1991: 42 ; Viresvarananda, 2002:1).
Pengalaman itu dituliskan dalam berbagai kitab-kitab Veda. Upanishad dan Aranyaka banyak membahas soal Tuhan dalam berbagai pengertiannya. Begitu pula kitab-kitab Brahmana yang membahas masalah ketuhanan dalam rangkaiannya dengan upacara dan penghormatan yang berbeda dengan kitab Aranyaka dan Upanishad yang mencoba melukiskan secara filosofis dan dokriner. Tuhan juga dibahas dalam kitab smrti, Brahma Sùtra dan kitab agama. Kata Brahma dalam pengertian ini diartikan sebagai Tuhan pemberi kehidupan kepada semua ciptaannya dan juga unsur sabda atau aksara (Yang Maha Kuasa).Vidya atau Jnana mempunyai arti yang sama  yaitu ilmu. Sedangkan Tattva berarti hakekat tentang Tat (Itu, Tuhan dalam wujud Nirguna Brahman). Tat menunjukkan Tuhan yang jauh. Sebagai lawannya adalah Tuhan yang dekat atau Idam. Tattvajnana adalah ilmu tentang hakekat Tuhan (Pudja, 1999 : 2-3)


2. Pendekataan Teologis Dalam Studi Agama
Ada lima macam pendekatan teologis dalam studi agama, yaitu:
1)      Teologi agama-agama (theologies of religions), yaitu teologi tertentu yang  muncul dalam tradisi keagamaan tertentu. Jadi teologi agama-agama adalah teologi yang mempelajari tentang teologi tertentu yang mucul dari tradisi-tradisi keagamaan. Pada setiap agama merniliki tradisi-tradisi yang sulit dicari sumbernya dalam kitab suci.
2)      Teologi-teologi agama (theologies of religion) yaitu  berbagai sikap teologis dalam tradisi keagamaan partikular yang diadopsi dari luar agama. Jadi  teologi-teologi agama adalah  teologi yang mempelajari tentang sikap teologis suatu agama terhadap tradisi-tradisi keagamaan yang diambilnya dari luar agamanya. Misalnya orang Kristen di Bali menggunakan banten’ ke gereja, menggunakan ‘penjor’ saat hari raya Natal dan Tahun Baru, menggunakan pakaian adat Bali yang lazim digunakan ke pura oleh umat Hindu namun digunakan oleh umat Kristen Bali ke gereja.
3)      Teologi agama (theology of religion) yaitu upaya membangun suatu teologi agama yang lebih universal yang dalam hal ini mengkonsentrasikan pada kategori-kategori transenden. Jadi pendekatannya mempelajari tentang teologi yang universal yang memfokuskan diri pada yang transenden (spiritual, kesucian).
4)      Teologi agama-agama global (a global theology of relegion) yaitu dimulai dari situasi global dalam seluruh kompleksitas,  moral manusia, natural, dan dari sana kemudian mengkonseptualisasikan kembali kategori-kategori teologis yang muncul dan tradisi keagamaan tertentu yang dapat mengarahkan perkembangan situasi global, yang mempengaruhi setiap orang. Jadi teologi agama-agama global adalah teologi yang mempelajari kompleksitas agama termasuk di dalamnya; moral, manusia, natural, serta mengkonstruksi atau mengkonseptualisasikan kembali kategori-kategori teologis itu.
5)      Teologi agama perbandingan (comparative theology of religion). Melalui membaca teologi-teologi agama tertentu, kita akan mengeksplorasikan beberapa titik temu dan perbandingan teologis. Jadi teologi agama perbandingan adalah teologi yang mempelajari agama-­agama melalui memperbandingkan lewat uraian-uraian teologis setiap agama.
3. Perbedaan studi keagamaan dan teologi.
2)      Studi keagamaan, selain bersifat multireligius, studi-studi keagamaan juga menggunakan beragam pendekatan dan metode. Sehingga; filsafat, sosiologi, antropologi, sejarah, fenomenologi, psikologi, linguistik, dan sebagainya merupakan komponen-komponen dari studi keagamaan.
3)      Teologi lebih merupakan suatu disiplin tersendiri dan meskipun teologi menggunakan berbagai metode yang dipaparkan di atas, metode-metode itu berada di bawah concern teologi dan sering kali juga gereja atau komunitas relegius yang terkait.
4)      Teologi sering berpusat pada persoalan doktrin. Ortodoksi agama cenderung menitikberatkan terhadap doktrin-doktrin dan elemen-­elemen konseptual dalam agama sebagai salah satu yang lebih sentral dibandingkan dengan praktek spiritual atau perilaku.
5)      Studi keagamaan memberi titik tekan yang sama terhadap elemen-elemen lain yang ada dalam agama seperti  praktik sosial, ritual, estetika, spiritualitas, mite, simbol dan seterusnya. Tidak ada penekanan yang berlebihan terhadap doktrin atau  konsep.
6)      Teologi memiliki perhatian khusus pada gagasan transendensi yang "dianggap tidak perlu diperdebatkan" sejauh ada hubungannya dengan teologi.
7)      Studi keagamaan titik fokusnya lebih kepada orang-orang beriman dan pengalaman atau keyakinannya ketimbang objek keyakinan.
8)      Teologi berkepentingan dengan transendensi, sedangkan studi keagamaan tidak.
B.     Filsafat Hindu (Sad Darsana)
Secara Epistemologi Filsafat yang mengkaji keberadaan sesuatu tentang sumber dan kebenaran pengetahuan (episteme), batas-batas pengetahuan, struktur pengetahuan dengan  Logika, kebenaran dan Filsafat Ilmu. Secara Ontologi Filasafat yang mengkaji “keberadaan sesuatu” baik kongkrit (fisis), abstrak (metafisis)  sejauh sesuatu itu (“ADA”). Seperti : Fisika (alam fisik), Biologi (manusia, binatang, tumbuhan) dan  Metafisika (atman, Brahman, waktu). Secara Aksiologi Filsafat yang berbicara masalah nilai-nilai atau norma-norma yang ada pada manusia, berkaitan dengan “baik” dan “buruk”; “indah” dan “tidak indah”.
Sad Darsana berarti enam pandangan filsafat hindu yaitu : 1) Nyaya  : Pendiri ajaran ini adalah Rsi Gotama. Kadang-kadang beliau juga memakai Aksapada atau Dirghatapa. Pokok ajaran Nyaya adalah logika (Tarka Veda). (2) Vaisiseka : Pendirinya adalah Rsi Kanada.Beliau juga dikenal dengan nama Kanabhaksaka. Vaisiseka mengajarkan tentang pengetahuan yang menuntut orang untuk realisasi sang diri. (3) Samkhya : Menurut tradisi yang mula-mula mengajarkan ajaran Samkhya ialah Rsi Kapila. Samkhya mengajarkan ajaran yang sistematis tentang proses perkembangan kejadian alam semesta. (4) Yoga : Pendiri ajaran ini adalah Rsi Patanjali. Yoga mengajarkan latihan mengendalikan badan dan pikiran untuk mencari tujuan terakhir yang disebut samadhi. (5) Purwa Mimamsa : Ajaran Mimamsa didirikan oleh Rsi Jaimini. Ajaran ini mengajarkan tentang dasar-dasar ajaran dharma, lebih menekankan kepada ritual dan etika dari pada filsafat. (6) Vedanta artinya: akhir dari Veda. Ajaran ini disebut juga Utara Mimamsa Vedanda, merupakan puncak filsafat india yang berdasarkan atas ajaran Upanisad. Pokok ajaran Vedanta ialah membicarakan hubungan antara Tuhan dengan dunia, antara Atma dengan Paramatma. Tokoh pendiri Vedanta adalah Rsi Badrayana didalam kitab Bhagavadgita, Vedanta disebut Brahma Sutra. (Sura,1984:13)
1.      Filsafat Samkya (Guna Merupakan Trinitas Samkhya)
            Menurut filsafat Samkya, prakerti disusun dari 3 guna atau kekuatan yang disebut sattvam (kemurnian sinar, selaras), rajas (nafsu, kegiatan, gerak) dan tamas (kemalasan tanpa kegiatan). Guna artinya tali, yang membelenggu roh dengan 3 pintal ikatan, guna disini bukanlah guna-Nya dari filsafat Nyaya-vaisesika. Ia adalah substansi sesungguhnya atau unsur yang menyusun prakerti. Ia menyusun keseluruhan alam yang berkembang dari prakerti. Ia tidak digabungkan dalam jumlah yang sama, tetapi dalam proporsi (imbangan) yang bermacam-macam, salah satunya berlebihan. Seperti Sat-Cit-Ananda yang merupalan trinitas vedantik.
            Sattva adalah keseimbangan. Bila sattva menang, terjadi kedamaian atau ketenangnan, Rajas adalah aktifitas yang dinyatakan sebagai raga dvesa, suka atau tidak suka, cinta atau tidak cinta, benci menarik atau jijik. Sedangakan tamas membelenggu dengan kecenderungan untuk kelesuan, kemalasan dan kegiatan yang dungu, yang menyebabkan khayalan tanpa pembedaan. Bila sattva lebih berpengaruh ia mengatasi rajas atau tamas. Bila rajas lebih berpengaruh, ia mengatasi sattvam dan tamas. Bila tamas yang lebih berpengaruh ia menguasai rajas dan sattvam.
Sistem Samkhya umumnya dipelajari setelah sistem Nyaya, karena secara pasti ia menekankan dualitas dan pluralitas, karena mengajarkan bahwa ada Purusa  atau roh yang banyak sekali. Samkya menyangkal  bahwa suatu benda dapat dihasilkan dari ketiadaan. Prakrti dan Purusa adalah Anadi (tanpa awal) dan Ananta (tanpa akhir: tak terbatas). Ketidak beradaan (Aviveka) antara keduanya merupakan penyebab adanya kelahiran dan kematian. Perbedaan antara Purusa dan Prakrti memberikan Mukti (pembebasan). Baik Purusa maupun Prakrti adalah Sat (nyata). Purusa bersifat Asanga (tak terikat) dan merupakan kesadaran yang meresapi segalanya dan abadi. Prakrti merupakan sipelaku dan sipemikat, yang tersusun dari materi dan rohani yang memiliki atau terpengaruh oleh 3 Guna atau sifat, yaitu Sattvam, Rajas dan Tamas.(Maswinara, 1999 : 156)
Sistem filsafat samkhya disebut sebagai Nir-Isvara Samkhya atau samkhya tanpa Tuhan, yaitu tidak mempercayai adanya Tuhan atau Isvara, sehingga sifat Atheis. Penciptaan berasal dari Prakerti yang ada dengan sendirinya dan tak ada sangkutpautnya dengan Purusa tertentu yang menjadikannya.(Maswinara,1999 : 157)
2. Nyaya Darsana
Nyaya Darsana menjelaskan bahwa: ”alam semesta merupakan gabungan atom-atom yang abadi yang tak berubah-ubah, tanpa penyebab, yang keberadaannya melampaui pikiran manusia. Alam semesta merupakan modifikasi dari atom-atom (paramaanu) dari unsur-unsur fisik, yaitu: tanah (prathivi), air (apah), api (tejas) dan udara (vayu), ether (kham), waktu, ruang, pikiran, dan sang diri (atma)” (sivananda, 2003 : 181).
Dalam Nyaya Darsana dikenal adanya 9 substansi atau Dravya, yaitu : Prathivi, apah, tejah, vayu, akasa, kala, dis, atman dan manah; dimana lima buah yang pertama telah kita kenal sebagai panca bhuta. Sedangkan kala (waktu) dis (dik) yaitu arah menyatakan tentang atas, bawah, disana, disini dsb. Atama atau roh yang menyebabkan sang pikiran mampu menggambarkan prinsip-prinsip tersebut.
Menurut Nyaya jumlah jivatman adalah banyak sekali, sedangkan paramatman hanya satu. Vedanta menyatakan bahwa kesadaran atau kecerdasan itu sendiri adalah atma, sebaliknya Nyaya sastra menyatakan  bahwa yang memiliki kesadaran adalah Atma, dimana kesadaran ini dibhaktikan kepada guna. Nyaya menganggap Atma sebagai materi, sedangkan kesadaran adalah sifat dari Atma tersebut. Karena Nyaya menyebut jivatma atau roh pribadi disebut dengan “kincittajna” yang artinya memiliki pengetahuan yang sangat sedikit dan paramatma adalah  disebut “sarvajna” atau serba tahu, mengetahui segalanya.  
1. Sumber Ajaran Agama Hindu

Sumber ajaran agama hindu adalah veda, ini dapat dilihat dan dirasakan dalam kehidupan-kehidupan masyarakat yang menganut agama hindu, dimana dalam Menawadharmasastra II.6 disebutkan : Seluruh pusaka suci veda adalah sumber pertama daripada dharma, kemudian adat-istiadat dan lalu tingkah laku yang terpuji dari orang-orang budiman yang mendalami ajaran suci veda, juga tata cara perikehidupan orang-orang suci dan akhirna kepuasan dari pribadi.(Pudja, dan sudharta, 1966: 62). Begitu pula dinyatakan dalam Menawadharmasastra II.10 menyebutkan : yang dimaksud dengan sruti adalah veda dan dengan smrti, adalah dharma sastra, kedua macam pustaka suci ini tidak boleh diragu-ragukan kebenarannya mengenai apapun juga karena dari keduanya itu hukum.(Pudja, dan sudharta,1996: 63)
           Adapun Sruti, kitab suci Veda yang merupakan wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang terdiri dari : Rgveda, Yajurveda, Samaveda dan Atharvaveda. Dalam pengertian yang lebih luas juga termasuk kitab-kitab Sruti adalah Brahmana, Aranyaka dan Upanisad, semuanya itu merupakan sumber hukum Hindu yang tertinggi dan bersifat absolut. Smrti, Kitab Manavadharmasastra secara tegas menyatakan bahwa: Smrti itu adalah semua kitab Dharmasastra atau bersumber dari tafsir yang benar. Sila merupakan tingkah laku atau teladan orang-orang suci, ajaran atau contoh tingkah laku ini dapat kita temukan di dalam kitab-kitab Purana (ancient history) dan Itihasa seperti Ramayana dan Mahabharata. Acara, adalah tradisi yang hidup dalam suatu masyarakat yang merupakan hukum yang positip dan relevan dengan sastra suci. Atmanastusti, artinya kepuasan hati nurani yang tercerahi oleh atma jnana/pengetahuan tentang yang absolut, atau keputusan yang di ambil dapat memuaskan diri setiap orang.
                  Berdasarkan keyakinan pada kebenaran agama sebagai norma yang membatasi dan mengatur tingkah laku manusia baik kepada sesamanya, alamnya dan kepada Tuhan, maka yang pertama-tama kita tunjuk sebagai sumber pokok ajaran Hindu adalah yang dinyatakan dalam kitab Manawadharmasastra II.6. menyebutkan sebagai berikut:
Idanim dharma pramananyaha vedo’khilo dharmaulam smrticile ca tadvidam
acaraccaiva sudhunam atmanastutireva ca

Artinya:

Seluruh pustaka suci veda adalah sumber pertama daripada dharma, kemudian adat istiadat, dan lalu tingkah laku yang terpuji dari orang-orang budiman yang mendalami ajaran pustaka suci veda, juga tata cara peri kehidupan orang-orang suci,  akhirnya kepuasan dari pribadi (Pudja dan sudharta.1996:62).

1. Veda sebagai ilmu pengetahuan
Kata veda dapat dikaji melalui 2 pendekatan, yaitu berdasarkan etimologi (akar katanya) dan berdasarkan semantik (pengertiaanya). Kata veda berasal dari bahasa sansekerta dari akar kata vid, yang berarti mengetahui dan dari akar kata ini berubah menjadi kada benda veda yang artinya kebenaran, pengetahuan suci atau kitab suci agama hindu.
Veda dalam bentuk tunggal (dalam bahasa Inggris biasanya ditulis Veda) berarti pengetahuan suci sedang dalam bentuk jamaknya (dalam bahasa Inggris biasanya ditulis Vedas) berarti dalam pengertian yang luas yakni seluruh kitab Sruti yang terdiri dari 4 Veda ( Mantra Samhita) kitab-kitab Brahmana, Aranyaka dan kitab-kitab Upanisad (Titib, 1998 ; 15)
             Ilmu pengetahuan, seperti yang didefinisikan oleh Tagore berarti tidak hanya pemecahan sesuatu yang ada sebagai sesuatu entitas tunggal dan menemukan komponen-komponennya, atau bagaimana membentuk suatu tatanan atau urutan dalam membentuk entitas ini.
            Pada sisi lain ilmu pengetahuan terdiri atas pembentukan kembali fragmen-fragmen yang terlepas dari suatu obyek atau ide atau sebuah fosse menjadi satu kesatuan yang menyeluruh dengan cara menemukan hubungan-hubungan dan urutannya. Dengan demikian, ilmu pengetahuan juga merupakan sebuah sintesis. (Dr.S.K.Chaterji dalam Tagore Centenary Volume, hal 120)
Veda sebagai pengetahuan yang diwahyukan paling awal, disebutkan bersifat apuruseya dan anadi ananta, adalah abadi, tanpa awal dan tanpa akhir yaitu kebenaran yang dikemukakannya senantiasa valid bagi segala waktu, segala jaman dan pada segala tempat : karena ia juga bersifat universal. Ilmu pengetahuan atau filsafat berurusan dengan kebenaran universal tersebut, sehingga menjadi gagasan yang dicintai dari ilmu pengetahuan manusia untuk menemukan kebenaran universal. Veda berasal dari bahasa sansekerta kata vid yang artinya mengetahui (to know).
Sarasamuscaya sloka 5 menyebutkan : Tatan hana aji ring bwana, tanpa kacraya ikang Byasa wacana, kadyangganing carira tan hana ya tan pakacrayang ahara. Artinya: Tidak akan ada ilmu di dunia tanpa bantuan ajaran bhagawan Byasa ini, laksana tubuh tidak akan ada tanpa makanan.(Pudja, 1990:7)
Dengan demikian ilmu pengetahuan yang sekarang ada, dan diterapkan di dunia ini tentunya bersumber  dari veda.
2.      Veda Petunjuk Spiritual
           Agama Hindu mengajarkan bahwa segala jenis aktivitas berkaitan dengan spiritual, semua dan segala keberadaannya ini adalah sesungguhnya berasal dari Tuhan Yang Maha Esa, berada dalam Tuhan Yang Maha Esa dan kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini dinyatakan dalam sastra-sastra agama Hindu, baik yang berbahasa Sansekerta, maupun yang berbahasa Jawa Kuna atau Bahasa Bali.
          Dengan Tuhan adalah sebagai sumber dari segalanya maka lebih jauh, jika seseorang yang telah maju kehidupan spiritualnya dengan ketentuan yang benar akan mudah merealisasikan Atman dalam dirinya. Dari mereka cinta kasih yang sejati (prema) selalu bersemi, tumbuh dan berkembang mempengaruhi lingkungannya. Baginya semua makhluk adalah satu keluarga, saling bersaudara (vasudhaiva kutumbakam). Untuk menumbuhkan kesadaran ini, seseorang secara bertahap mampu pula merealisasikan makna Mahavakya Upanisad yang sebagai berikut: (1)Aham brahma asmi (Brhadaranyaka Upanisad I.4.10, yang artinya: Aku adalah (perwujudan) Brahman. Maitreyi Upanisad menyatakan, badan adalah tempat suci, jiwa adalah Siva yang Mahakuasa. (2)So’ham asmi (Isa Upanisad, 16), artinya: ia adalah aku. (3)Tat tvam asi (Chandogya Upanisad VI.14.1), artinya: ia adalah engkau juga. (4) Ayam atma Brahma (Mandhuka Upanisad, 2), artinya: sesungguhnya Atman dan Brahman adalah sama. (5) Sarvam khal idam Brahma (Chandogya Upanisad III.14.3), artinya: segala sesuatu sesungguhnya adalah Brahman.
Seperti halnya kebenaran, hukum yang abadi, penyucian, pengendalian diri begitu juga pemujaan memberikan perlindungan dalam hidup ini, disebutkan dalam Atharvaveda XII.1.1 yang  menyatakan :
satyam brhadrtamugram diksa tapo brahma yajnah prthvim dharayanti,
sa no bhutasya bhavyasya patnyurum lokam prthivi nah krnotu.

Artinya :
Kebenaran agung (brhat) dan kokoh, penyucian, penebusan kesalahan, Brahman, dan persembahan suci yang menunjang keberadaan bumi ini;semoga ia melimpahkan kebahagiaan kepada kita, yakni ia yang merupakan penguasa bagi yang telah ataupun akan ada- semoga dunia ini menyediakan tempat yang lapang dan leluasa bagi kita.( Bhasya Of Sanayanacarya: 642)

Petunjuk spiritual pada hakekatnya terletak pada kebenaran akan keyakinan dari ajaran-ajaran agama, yang dilaksanakan sebagai ritual sehari-hari. Agama adalah : Satya (kebenaran), Rta (hukum), Diksa (pensucian), Tapa (pengendalian diri), Brahma dan yajna (pemujaan)  semuanya ini sesungguhnya memberikan tempat dan mengatur tempat hidup kita, baik dulu, sekarang dan maupun yang akan datang di dunia ini. Karena Veda adalah sumber dari segala dharma, kemudian barulah sruti, disamping sila acara dan atmanastuti, seharusnya semuanya ini merupakan sumber dari seseorang untuk dapat berpikir, berkata dan berbuat, sebagai terapan ajaran (Trikaya parisudha) dalam hidup ini, yang mana akan mengakibatkan karma yang akan diterima nanti sekarang maupun yang akan datang tanpa dapat dihindari, Maka veda  dapat disebutkan sebagai petunjuk spiritual.
            Walaupun sesungguhnya orang-orang didunia ini sama menghendaki kebahagiaan yang tiada taranya, akan tetapi oleh sebab mereka hanya dapat melaksanakan dharma sesuai dengan kemampuannya, maka karmaphala yang diperoleh olehnya tidak bisa lain tentu sesuai dengan dharmanya. Sesungguhnya dharma adalah sumber kebahagiaan. Dalam Sarassamuscaya sloka 18 disebutkan : dharma sada hitah pumsam dharmascaivasrayah satam, dharmalokastrayastata pravrttah sacaracarah. Artinya : Lagi pula keisimewaan dharma itu sesungguhnya merupakan sumber datangnya kebaikan bagi yang melaksanakan dan merupakan perlindungan bagi para pendeta. singkatnya dharma dapat melebur dosa triloka itu. (Pudja, 1990:17)
         Ada kebaikannya ada pula keburukannya. Tidak ada manusia dilahirkan yang bebas dari kesalahan. Walaupun ia itu dipuji, dikagumi, kaya, cantik, pandai dalam ilmu pengetahuan dan lain-lainnya namun demikian dengan lahir sebagai manusia tidak luput degan kesalahan. Dengan demikian maka berbagai jenis Upakara-Upacara Yajnapun dilakukan  seperti: Deva Yajna, Rsi Yajna, Manusa Yajna, Pitra Yajna dan Bhuta Yajna, masing-masing jenis inipula membedakan kelompoknya menurut cara pelaksanaan daripada upacara itu sendiri, yang dibedakan menjadi lima macam dalam Rg Weda IV.25 yaitu : Ahuta, Huta, Prahuta, Brahmahuta, Prasita. Setiap upacara yajna mempunyai tujuan tertentu dan untuk memperoleh suasana kesucian alam lahir spiritualisme.  Akan tetapi korban suci apa pun yang dilakukan tanpa mempedulikan petunjuk Kitab Suci, tanpa membagikan prasadam (makanan rohani), tanpa mengucapkan mantra-mantra Veda, tanpa memberi sumbangan kepada pendeta dan tanpa kepercayaan dianggap korban suci dalam sifat kebodohan.
3. Veda adalah kebenaran sejati
Teisme veda telah menggabungkan sejumlah konsep, antara lain: (i) penerimaan akan konsep keberadaan Tuhan tertinggi takterbatas, maha kuasa, maha tahu, maha mulia, maha cemerlang dsb.nya; (ii) penerimaan akan realitas ciptaan Tuhan yang dinamis dan berguna, serta penghargaan atas seni ilahi ini; (iii) penerimaanakan konsep bahwa Tuhan memperlihatkan diri-Nya dalam ciptaan dan seni-Nya ini; dan ciptaan didasarkan pada prinsip, hukum, tatanan dan kegunaan yang seragam, dan (iv) penerimaan atas prinsip bahwa Tuhan merupakan sumber segala pengetahuan, yang diperlihatkannya kepada manusia melalui tiga jalan: melalui penciptaan ilahi, melalui kata-kata ilahi dan melalui inspirasi ilahi,  Bagi umat Hindu, otoritas kitab veda adalah tertinggi dan utama.
Sedangkan penempuhan jalan dharma, salah satunya adalah tidak melaksanakan kepada orang lain, segala perbuatan, perkataan dan pikiran yang tidak menyenangkan dirimu sendiri, yang menimbulkan kesusahan dan sakit hati; bagai membuat baju, tentu harus diukur ke badan sendiri, prilaku demikian itu dapat disebut dharma, penyimpangan dari itu janganlah dilakukan. Apabila ada orang bijaksana, jujur, selalu berkata-kata benar, mampu mengalahkan hawa nafsu, tulus ikhlas lahir bathin, serta setiap perbuatannya berlandaskan  dharma, itulah orang yang harus diikuti, jika mengikutnya disebut dharma prawrtti.
Yang namanya dharma itu, pergi kemana-mana keseluruh yang ada, tidak ada yang mengakui, tidak ada juga yang diakuinya, sangat sukar untuk dapat mengetahui asalnya dharma itu. Adalah suatu keharusan, untuk mengerahkan segala daya upaya, untuk mencari makna yang dianggap sebagai dharma, setelah mendapatkannya, camkan baik-baik di hati, dan sebagaimana yang telah dikatakan sebelumnya, segala sesuatu yang tidak berkenan di hati, yang itu janganlah dilakukan kepada orang lain. Manusia yang tidak melaksanakan dharma, bagaikan padi yang hampa atau telur yang busuk, tampak ada namun tiada berguna, karena keangkuhan, dia merendahkan perbuatan dharma, serta tetap melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Dharma, percayalah, orang seperti itu dan juga yang mengikutinya, niscaya akan mendapatkan penderitaan.
Apapun tantangannya, dharma patut dilakukan, karena dia adalah harta kekayaan yang tidak dapat dirampas, tak dapat dicuri, yang terbawa dan mengikuti sampai mati, bukankah harta kekayaan seperti itu, yang patut kita usahakan untuk memperolehnya, sebab perbuatan dharma itulah merupakan harta kekayaan yang harus terus diusahakan oleh orang yang memiliki sradha dan bhakti. Karena tak dapat dicuri dan dirampasnya harta kekayaan berupa dharma itu, sebaiknya ada ketekunan melaksanakannya, pasti tidak akan tidak memperoleh penghidupan, karena segala macam makanan, sayur-sayuran, air, dan segala kebutuhan lainnya, mendekat seakan-akan menawarkan dirinya. Harta kekayaan duniawi, tak layak dikejar mati-matian, itu akan membuang-buang waktu saja, namun yang patut diupayakan adalah, walau sibuk bahkan terengah-engah dalam melaksanakan dharma, usahakan sebagai sambilan mencari harta dalam kegiatan itu, laksana lembu yang menyandang bajak, mengelilingi sawah, disambilkannya juga mecabut rumput yang dekat padanya, maka ia senang. Ajaran dharma sangat mulia juga amat rahasia, tak beda seperti jejaknya ikan dalam air, pelaksanaannya menuntut ketenangan, kesabaran, keteguhan iman dan usaha yang terus menerus dilakukan dan tidak mudah menyerah. 
Agama Hindu mengajarkan tentang nilai-nilai kebenaran yang luhur itu dengan tujuan yang sama pula, walaupun cara pengamalan atau prakteknya berbeda-beda. Namun demikian ajaran yang bersifat absolut (theologis) yang berkaitan dengan keimanan (Sraddha) tak pernah ditinggalkan, sedangkan cara dalam pencarian Yang Absolut itu tidak selalu sama (relatif) bergantung dari bakat sifat kelahiran manusia itu sendiri. Oleh karena itu Agama Hindu mengajarkan empat jalan menuju Tuhan (Brahman, Sanghyang Widhi Wasa) yaitu :
a. Bhakti Margha ialah jalan mencapai kebenaran sejati melalui penyerahan diri yang dilandasi cinta-kasih yang murni kepada Tuhan dan memancar kepada sesama ciptaan-Nya. Bhagavad Gita adyaya 12.2 menyebutkan : sri bhagavan uvaca, mayy avasya mano ye mam nitya- yukta upasate, sraddhaya parayopetas te me yuktatama matah. Kepribadiaan Tuhan Yang Mahaesa  bersabda : Orang yang memusatkan pikirannya terhadap bentuk pribadi-Ku dan selalu tekun menyembah-Ku dengan keyakinan besar yang rohani dan melampaui hal-hal duniawi Aku anggap paling sempurna.(Prabhupada, 1986:593)
b. Karma Margha ialah jalan mencapai kebenaran sejati melalui amal perbuatan tanpa pamrih dan segala akibat/hasilnya terserah kepada (Brahman)Tuhan Yang Maha Esa. Seperti telah disebutkan dalam kitab Bhagavad Gita Adyaya 3.19 : tasmad asaktah satatam karham karma samacara, asakto hy acaran karma param apnoti purusah. Karena itu, hendaknyaseseorang bertindak karena kewajiban tanpa terikat terhadap hasil kegiatan, sebab dengan bekerja tanpa ikatan terhadap hasil seseorang sampai kepada Yang Mahakuasa. (Prabhupada, 1986: 178)
c. Jnana Margha ialah jalan mencapai kebenaran sejati melalui pengetahuan atau olah-pikir atau jalan filsafat sampai terwujud suatu kesadaran bahwa Sang Pencipta itu absolut, sedangkan eksistensi ciptaan-Nya bersifat maya, ilusi, relatif. Namun demikian disadari bahwa inti kehidupan bukanlah relatif, melainkan absolut pula. salah satu sloka Bhagavad Gita adyaya 7.18 menyebutkan: udarah sarva evaite jnani tvatmaiva me matam, asthitah sa hi yuktatma mam evanuttamam gatim. Semua penyembah tersebut tentu saja roh yang murah hati, tetapi orang yang mantap dalam pengetahuan-Ku Aku anggap seperti Diri-Ku Sendiri. Oleh karena dia tekun dalam bhakti rohani kepada-Ku dia pasti mencai kepada-Ku, tujuan tertinggi yang paling sempurna. (Prabhupada, 1986: 379).
d.  Raja Yoga Margha ialah jalan mencapai kebenaran sejati melalui disiplin spiritual dengan cara bertapa dan selalu menghubungkan sang Diri dengan sang Pencipta, antara Atman (Jiwa Sejati) dengan Brahman (TuhanYang Maha Esa). Bhagavad Gita adyaya 6.19 menyebutkan : yatha dipo nivata-stho nengate sopama smrta yogino yata-cita-cittasya yunjato yogam atmanah. Ibarat lampu ditempat tanpa angin tidak bergoyang, seorang rohaniwan yang pikirannya terkendalikan selalu mantap dalam samadhinya pada sang diri yang rohani dan melampaui hal-hal duniawi.(Prabhupada,1986: 317)
Keempat jalan tersebut barangkali secara implisit terdapat juga dalam agama yang lain walaupun istilahnya berbeda. Dengan adanya empat jalan tersebut diharapkan agar keanekaragaman atau kebhinekaan pilihan tidak akan mengarah menjadi pertentangan atau konflik, karena: “jalan manapun yang kau tempuh asalkan kepada-Ku akan Ku-terima”, sebaliknya perbedaan pilihan akan dapat menumbuhkan simpati dan kerjasama dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis, rukun dan damai (Jagadhita), sedangkan secara individual dapat membebaskan jiwanya dari belenggu duniawi yang bersifat maya serta mencapai kebahagiaan sejati (Moksa).
B. Pengertian Triguna dan Bagian-Bagianya
 Ada tiga sifat alam material diseluruh jagat yang didapat oleh manusia, untuk melakukan sesuatu, namun ketiganya ini merupakan bagian-bagian yang tak dapat dipisahkan antara satu dengan bagian yang lainnya walaupun ketiga sifat ini berbeda-beda, karena merupakan satu kesatuan yang utuh. Dalam Bhagavad Gita Adyaya 18.40 dan Adyaya 18.60 disebutkan:
Na tad asti prthivyam va divi devesu va punah
Sattvam prakrti-jair muktam yad ebhih syat tribhir gunaih
                                                                                          
Artinya :
Tiada makhluk yang hidup, baik disini maupun dikalangan para dewa disusunan planet yang lebih tinggi, yang bebas dari tiga sifat tersebut yang dilahirkan dari alam material. (Prabhupada, 1986: 797)

svabhava-jena kaunteya nibaddhah svena karmana
kartum necchasi yan mohat karisyasy avaso ‘pi tat

Artinya :
akibat khayalan, engkau sekarang menolak bertindak menurut perintah Ku. Tetapi didorong oleh pekerjaan yang dilahirkan dari sifatmu sendiri, engkau akan bertindak juga, wahai putra kunti.(Prabhupada, 1986: 814)

1. Pengertian Triguna
Tri artinya tiga Guna artinya sifat atau bakat jadi Triguna adalah tiga sifat dasar yang terdapat pada setiap yang ada dijagat raya ini baik makhluk hidup maupun benda mati. Ketiga sifat itu mempengaruhi manusia sejak masih dalam kandungan sampai akhir hidupnya, hanya saja dalam prosentase yang berbeda-beda dan selalu berubah-ubah. Perubahan pengaruh guna itulah menyebabkan tabiat manusia berubah-ubah dan triguna tidak seimbang menjadikan bermacam-macam sifat manusia. (Rudia Adipura, 2003 : 56)
      Dalam Werespati tattva disebutkan, sattvam bersinar terang-bersih-tenang, rajas bergejolak dan dinamis, tamas malas-lamban dan dungu/gelap demikianlah ketiga guna ini membelenggu manusia sehingga terjadinya bermacam-macam sifat manusia tesebut seperti : Tenang, suci, bijaksana, cerdas, jujur, desiplin, rajin Lincah, gesit, kasar, cepat tersinggung, keras kepala, congkak, emosi, ego Mengantuk, bodoh, malas, kumal, lambat 
Dengan demikian ketiga sifat-sifat itu terdiri dari : sattvam, rajas tamas terlahir dari prakerti membelenggu penghuni badan (jiva) yang tak termusnahkan, dari sifat sattvam yang mulia memberikan penerangan dan kesehatan, membelenggu dengan ikatan kebahagiaan dan ilmu pengetahuan dapat mengantar kearah yang positip sesuai dengan norma agama, sifat rajas yang bernafsu menjadi sumber kehausan bahkan jika lebih dominan dapat mengarah kearah sombong dan keinginan akan segalanya berlebihan dalam hidup ini, sedangkan sifat tamas adalah ketidaktahuan dan kemalasan berdampak terjerumus kearah yang  tidak bermanfaat dalam meraih perbaikan karma saat menjalani kesempatan pada hidup ini. Juga terdapat dalam kitab suci Bhagawad Gita Adyaya 3.33 disebutkan :
sadrsam cestate svasyah prakrter jnanavan api
 prakrtim yanti bhutani nigrahah kim karisyati

Artinya:
Orang yang berpengetahuan pun bertindak mengikuti sifatnya sendiri, sebab semua orang mengikuti sifat yang telah diperolehnya dari tiga sifat alam.apa yang dapat dicapai dengan pengekangan?(Prabhupada, 1986:192)

Pada kenyataannya kalau seseorang belum mantap pada tingkat rohani, ia tidak dapat dibebaskan dari pengaruh sifat-sifat alam material terdiri dari tiga sifat-kebaikan, nafsu dan kebodohan, bila makhluk hidup yang bakal berhubungna dengan alam, ia diikat oleh sifat-sifat tersebut, karena pergaulannya sejak lama berada di dalam ikatan ini. Dengan keyakinan yang tinggi mengikuti petunjuk dharma dan dengan latihan yang diaktualisasikan dalam perbuatan sehari-hari tanpa mengharapkan hasil dan selalu menyerahkannya kepada Tuhan, menyadari ini semua adalah sudah merupakan kehendak-Nya, keberadan ini semua hanya tugas dan kewajiban yang harus dijalankan sesuai dengan swadharma masing-masing.
Alam material yang memiliki tiga sifat sangat kuat mengikat yang kekal dalam makhluk yang hidup, seperti dikatakan dalam kitab suci Bhagavad Gita adyaya 14.5 sebagi berikut :
sattvam rajas tama iti gunah prakrti-sambhavah
nibadhnanti maha-baho dehe dehinam avyayam

Artinya :
Alam material terdiri dari tiga sifat-kebaikan, nafsu dan kebodohan. Bila makhluk hidup yang kekal berhubungan dengan alam, ia diikat oleh sifat-sifat tersebut, wahai Arjuna yang berlengan perkasa.(Prabhupada, 1986: 663)

            Dengan demikian walaupun makhluk hidup bersifat rohani, yang tidak  mempunyai hubungan dengan alam material, akan tetapi oleh karena para makhluk hidup memilih jenis badan, dimana badan yang memiliki dunia material, ini sangat mungkin mengakibatkan dorongan untuk bertindak menurut sifat alam yaitu kebaikan, nafsu dan kebodohan. Semua tindakan ini meninbulkan karma yang hasilnya tentu akan menyesuaikan, karena seperti anak seekor lembu tidak akan pernah keliru mencari susu induknya.  
          Kerjasama ketiga guna tersebut laksana minyak sumbu dan api yang bersama-sama menyebabkan nyala lampu, walaupun masing-masing elemen itu berbeda-beda yang sifatnya bertentangan ketiga guna berubah terus menerus. Ada dua perubahan bentuk tiguna itu, yaitu: svarupaparinama dan virupaparinama. Pada waktu pralaya masing-masing guna berubah pada dirinya sendiri, tanpa mengganggu yang lain. Perubahanan seperti ini disebut svarupaparinama. Pada waktu demimikian tidak mungkin ada penciptaan, karena tidak ada kerjasama antara ketiga guna itu. Namun bila guna yang menguasai yang lain, maka terjadi suatu penciptaan. Perubahan ini disebut virupaparinama (Ngurah made,1999:119)
2. Bagian-Bagian Triguna
            Bagian-bagian merupakan suatu kompenen yang tidak dapat dipisahkan walaupun hal yang nampaknya berbeda akan tetapi menjadi satu kesatuan yang utuh, bagian-bagian  triguna adalah terdiri dari Sattvam, Rajas, Tamas. Sattvam, rajas dan tamas ini adalah merupakan sifat yang membuat kecenderungan untuk bisa memilih dalam menjalani hidup ini bila salah satu sifat yang lebih dominan maka perilaku akan nanpak seperti memiliki karakter yang berbeda satu individu dengan individu yang lainnya.
             Ketiga sifat tersebut terdiri dari: sattvam, rajas tamas terlahir dari prakerti membelenggu penghuni badan (jiva) yang tak termusnahkan, dari sifat sattvam yang mulia memberikan penerangan dan kesehatan, membelenggu dengan ikatan kebahagiaan dan ilmu pengetahuan, sifat rajas yang bernafsu menjadi sumber kehausan dan keinginan akan hidup, sedangkan sifat tamas adalah ketidaktahuan. Berbagai jenis pertapaan dan kesederhanaan, yang dapat dilakukan dengan badan yaitu untuk melatih menyucikan diri secara lahiriah dan bathiniah, berbicara tidak mengganggu pikiran orang lain, seharusnyalah berbicara mengutip dari kekuasaan kitab suci untuk memberikan apa yang akan dikatakan, dan perlahan tapi dengan serius untuk melepaskan ikatan pikiran terhadap indria-indria dari kenikmatan maya, dimana pikiran haruslah dilatih supaya merenungkan perbuatan baik untuk orang lain. Dalam Bhagavad Gita adyaya 17.14-16) sebagai berikut :
deva-dvija-guru-prajna saucam arjavam
Brahmacaryam ahimsa ca sariram tapa ucyate

Artinya:
Pertapaan jasmani terdiri dari sembahyang kepada Tuhan Yang Mahaesa, para brahmana, guru kerohanian dan atasan seperti ayah dan ibu, dan kebersihan, kesederhanaan, berpantang hubungan suami istri dan tidak melakukan kekerasan. (Prabhupada, 1986: 757).

anudvega-karam vakyam satyam priya-hitam ca yat
svadhyayabhysayam caiva van-mayam tapa ucyate

Artinya :
pertapaan suara terdiri dari mengeluarkan kata-kata yang jujur, menyenangkan, bermanfaat, dan tidak mengganggu orang lain, dan juga membacakan kesusastraan veda secara teratur. (Prabhupada, 1986: 758).

manah-prasadah sumyatvam maunam atma-vinigrahah
bhava-samsuddhir ity etat tapo manasam ucyate

artinya:
kepuasan, kesederhanaan, sikap yang serius, mengendalikan diri dan menyucikan kehidupan adalah pertapaan pikiran. (Prabhupada, 1986: 759).

         Dengan demikian jelas sekarang bagian-bagian triguna tersebut terdri dari tiga sifat karena akan membentuk karakter atau watak manusia yang sesungguhnya telah diporelehnya sejak lahir dan tidak dapat dihindari, maka untuk dapat melakukan karma baik, melebur karma buruk dapat di uraikan bagian-bagian triguna sebagai berikut :
a.  Sattvam
Sattvam adalah sifat kebaikan dimana sifat ini membentuk karakter manusia untuk selalu berbuat kebaikan karenanya manusia bisa berpikir berkata melakukan sesuatu dengan baik, bijaksana, cerdas, sopan, desiplin, jujur dalam menegakkan dharma. 
b.      Rajas
Rajas adalah sifat nafsu dimana sifat ini membentuk karakter manusia untuk selalu memiliki pengaruh kecendrungan berpikir berkata dan berbuat penuh dengan nafsu, angkuh, sombong, cepat tersinggung, rakus, haus kekuasaan dan dalam melakukan apa saja tidak pernah mau mengalah atau tidak pernah merasa salah menganggap dirinya selalu paling benar.
c. Tamas
Tamas adalah suatu sifat yang dimiliki oleh manusia yang memberi pengaruh malas, pasif dan masa bodoh. Sehingga ini terkadang manusia bisa tidak mengindahkan apapun yang terjadi selalu cuek atau masa bodoh, selalu berhayal tidak mau tahu apapun yang akan terjadi terkadang resiko yang fatalpun siap diterimanya.
3. Ciri-Ciri Triguna
Ciri-ciri triguna ialah suatu tanda-tanda yang dihadirkan oleh sifat-sifat sattvam, rajas dan tamas di dalam aktivitas yang dilakukan oleh seseorang. adapun bentuk, fungsi dan makna yang nampak ini semua merupakan cerminan dari sifat-sifat tersebut. Adapun sebagai contoh dijelaskan dalam hal-hal seperti : 1) memilih makanan, (2) Pertapaan atau pengendalian diri, (3) beryajna dan berdana punya.  
1. Ciri-Ciri Sifat Sattvam
Dalam Menawadharmasastra XII.31 disebutkan :
Mempelajari veda, bertapa, belajar segala macam, ilmu pengetahuan, berkesucian, mengendalikan atas budi indriya, melakukan perbuatan perbuatan yang bajik, bersamadhi tentang jiwa: semua merupakan ciri-ciri sifat sattva. (Pudja dan Sudharta, 1996 : 723)

              Sifat satvam adalah diartikan dengan sifat kebaikan sehinga memiliki ciri-ciri dalam prilaku sebagai berikut: Tenang, suci, bijaksana, cerdas, jujur, desiplin, rajin.  Sattvam adalah keseimbangan. Bila sattvam yang menang, terjadi kedamaian  atau ketenangan.  Dalam hal memlih makanan sifat sattvam dsebutkan sebagai berikut : ayuh sattva balarogya sukha-priti-vivardhanah rasyah snigdhah stira hrya aharah sattvika-priyah artinya: makanan yang disukai oleh orang dalam sifat kebaikan memperpanjang usia hidup, menyucikan kehidupan dan memberi kekuatan, kesehatan, kebahagiaan dan kepuasan. Makanan tersebut penuh sari, berlemak, bergizi dan menyenangkan hati. (Bhagavad gita 17.8), melakukan yadnya disebutkan : apalakansibhir yajno vidhi-disto ya ijyate yastavyam eveti manah samadhaya sa satvikah. artinya : Diantara korban-korban suci yang dilakukan menurut kitab suci, karena kewajiban, oleh orang yang tidak mengharapkan pamrih, adalah korban suci bersifat kebaikan. (Bagavad Gita 17.11), melakukan pertapaan disebutkan : Sraddhaya paraya taptam tapas tat tri-vidham naraih aphalakanksibhir yuktaih sattvikam paricaksate. Artinya : Tiga jenis pertapaan tersebut, yang dilakukan dengan keyakinan rohani oleh orang yang tidak mengharapkan keuntungan material tetapi tekun hanya demi yang mahakuasa, disebut pertapaan dalam sifat kebaikan. (Ghagavad Gita 17.14), Dalam hal kedermawanan atau dana punia : datavyam iti yad danam diyate ‘nupakarine dese kale ca patre ca tad danam sattvikam smrtam Artinya: Kedermawanan yang diberikan karena kewajiban, tanpa mengharapkan pamerih, pada waktu yang tepat dan ditempat yang tepat, kepada orang yang patut menerimanya dianggap bersifat kebaikan (Bhagavad Gita 17.20)

2. Ciri-Ciri Sifat Rajas
Menawadharmasasta XII.32 disebutkan :
Sangat bergairah akan melakukan tugas-tugas pekerjaan, kurang didalam ketekunan, melakukan perbuatan-perbuatan berdosa, dan selalu terikat akan kesenangan-kesenangan jasmani, semuanya merupakan sifat rajas.(Pudja dan Sudharta, 1996 : 724)
            
             Sifat Rajas adalah diartikan dengan sifat nafsu, sifat ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut : Lincah, gesit, kasar, cepat tersinggung, keras kepala, congkak, emosi, ego. Rajas adalah aktifitas yang dinyatakan sebagai raga-dwesa, suka tau tidak suka, cinta atau benci, menarik atau jijik. Dalam hal memlih makanan sifat Rajas sebagai berikut : katv-amala-lavanaty-usna tiksa ruksa vidahinah ahara rajasasyeta dhukha-sokamaya pradah artinya: Makanan yang terlalu pahit, terlalu asam, terlalu manis, panas sekali atau menyebabkan badan menjadi panas sekali, terlalu pedas, terlalu kering dan berisi terlalu banyak bumbu yang keras sekali disukai oleh orang dalam sifat nafsu. Makanan seperti itu menyebabkan dukacita, kesengsaraan dan penyakit. (Bhagavad Gita 17.9), melakukan yadnya: abhisandhaya tu phalam dambhartham api caiva yat, ijyate bharata-srestha tam yajnam viddhi rajasam. Artinya: Tetapi hendaknya engkau mengetahui bahwa korban suci yang dilakukan demi keuntungan material, atau demi rasa bangga adalah korban suci yang bersifat nafsu, wahai yang paling utama diantara para bharata.(Bhagavad gita 17.12), Dalam hal pertapaan disebutkan: Satkara-mana-pujartham tapo dambhena caiva yat, Kriyate tad iha proktam rajasam calam adhruvam Artinya: Pertapaan yang dilakukan berdasarkan rasa bangga untuk memperoleh pujian, penghormatan dan pujaan disebut pertapaan dalam sifat nafsu (Bhagavad Gita 17.15), Dalam hal kedermawanan atau dana punia disebutkan : yat tu pratyupakarartham phalam uddisya va punah, diyate ca pariktistam tad danam rajasam smrtam Artinya : Tetapi sumbangan yang diberikan dengan mengharapkan pamrih, atau dengan keinginan untuk memperoleh hasil atau pahala, atau dengan rasa kesal, dikatakan sebagai kedermawanan dalam sifat nafsu (Bhagavad Gita 17.21)
3. Ciri-Ciri Sifat Tamas
Menawadharmasasta XII.33 menyebutkan :
Loba, pemalsu, kecil hati, kejam atheis, berusaha yang tidak baik, berkebiasaan hidup atas belas kasih pemberian orang lain dan tidak berperhatian adalah ciri-ciri sifat tamas. (Pudja dan Sudharta, 1996 : 724)         

                 Sifat tamas adalah sifat yang diartikan kebodohan, sitaf ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut : Mengantuk, bodoh, malas, kumal, lambat. Tamas adalah yang membelenggu dengan kecendrungan untuk kelesuan, kemalasan dan kegiatan yang dungu,  yang menyebabkan khayalan atau tanpa pembedaan. Dalam hal memlih makanan sifat Tamas sebagai berikut : yata-yamam gata-rasam puti paryusitam ca yat, uccistam api camedhyam bhojanam tamasa-priyam. artinya: Makanan yang dimasak lebih dari tiga jam sebelum dimakan, makanan yang hambar, basi dan busuk, dan makanan terdiri dari sisa makananorang lain dan bahan-bahan haram disukai oleh orang yang bersifat kegelapan (Bhagavad Gita 17.10), Dalam hal melakukan yadnya : viddhi-hinam asrstannam mantra-hinam adaksinam, sraddha-virahitam yajnam tamasam paricaksate Artinya : Korban suci apa pun yang dilakukan tanpa mempedulikan petunjuk Kitab Suci, tanpa membagikan prasadam (makanan rohani), tanpa mengucapkan mantra-mantra veda, tanpa memberi sumbangan kepada para pendeta dan tanpa kepercayaan dianggap korban suci kebodohan. (Bhagavad Gita 17.13), Dalam hal melakukan pertapaan: Mudha-grahenatmano yat pidaya kriyate tapah, Parasyotsadanartham va tat tamasam udahrtam Artinya: Pertapaan yang dilakukan berdasarkan kebodohan, dengan menyiksa diri atau untuk menghancurkan atau menyakiti orang lain dikatakan sebagai pertapaan dalam sifat kebodohan. (Bhagavad Gita 17.16), Dalam hal kedermawanan atau dana punia : adese-kale yad danam apatrebhyas ca diyate asat-krtam avajnatam tat tamasam udahrtam artinya: sumbangan-sumbangan yang diberikan ditempat yang tidak suci, pada waktu yang tidak suci, kepada orang yang tidak patut menerimanya, atau tanpa perhatian dan rasa hormat yang benar dikatakan sebagai sumbangan dalam sifat kebodohan. (Bhagavad Gita 17.22)

C. Sraddha Sebagai Wujud Bhakti
             Karena keyakinan atau meyakini akan suatu ajaran suci maka pengamalanya adalah merupakan bhakti dalam mengikuti ajaran suci tersebut. Jika  yang diuraikan dalam kitab suci Veda dan susastra Veda (kepustakaan Hindu) lainnya, bila tidak diamalkan berupa bhakti dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta dalam hubungannya dengan pergaulan antar bangsa-bangsa di dunia ini tidaklah ada artinya. Karena pengamalan berupa bhakti menyentuh nurani manusia bila segala yang baik dapat diamalkan pula secara baik.
  Sesungguhnya Sraddha adalah wujud akan bhakti, karena jika suatu keyakinan yang bersifat baik,  tentu akan timbul perilaku-perilaku yang baik pula. Dimana Sraddha sebagai sumber aktivitas yang berupa bhakti yaitu dengan tidak diiringi penyerahan diri terhadap Yang Mahaesa maka akan menjadi tidak maksimal, karena dengan melakukan bhakti semuanya merupakan wujud apa yang diinginkan, sesungguhnya Tuhan maha pengasih dan maha penyayang hal ini secara tegas dikataka dalam Bhagavadgita (VII.22) menyebutkan sebagai berikut :
sa taya sraddhaya yuktas tasyaradhanam ihate
labhate cha tatah kaman mayaiva vihitam hi tan

Artinya :
Setelah diberi kepercayaan seperti itu, dia berusaha menyembah dewa tertentu dan memperoleh apa yang diinginkanya. Tetapi sebenarnya hanya Aku Sendiri yang menganugrahkan berkat-berkat itu.

Terjemahan sloka yang inipun menunjukkan betapa toleransi atau penghargaan terhadap keimanan atau keyakinan seseorang sangat dihargai, sebab pada hakekatnya kebhaktiannya itu akan terkabulkan diberi anugrah  oleh Tuhan Yang Maha Esa. Bila kita memperhatikan uraian tersebut di atas, maka jelaslah bagi kita bahwa pendalaman Sraddhàa adalah dalam rangka pengamalan ajaran agama yang dikenal dengan istilah Dharma Sadhana. Dharma Sadhana artinya merealisikan (ajaran) Dharma dalam kehidupan sehari-hari.
 Agar tidak agama akan menjadi slogan yang kering, tergantung di awang-awang, sedang umat manusia dan masyarakat telah jauh dari ajaran agama.  Bilamana hal ini terjadi maka masyarakat, bangsa dan negara, cepat atau lambat niscaya akan hancur, karena perbuatan-perbuatan yang jauh dengan Dharma dan bahkan bertentangan dengan Dharma, yakni Adharma akan merajalela.
            Dalam kehidupan modern, di era globalisasi, di tengah-tengah derasnya arus informasi dan teknologi, ajaran agama yang bersumber dari veda, dengan sraddha sebagai wujud bhakti hendaknya benar-benar menjadi faktor penggerak hati nurani dan perilaku, untuk itu diperlukan berbagai upaya dan metodologi untuk revitalisasi dan mengaktualisasikan kembali ajaran agama dalam setiap langkah kehidupan ini.
Revitalisasi dan reaktualisasi ajaran agama memerlukan kearifan dalam diri manusia. Langkah-langkah strategis yang bisa dimanfaatkan, mewujudkan bhakti dapat berupa :1) Dharmawacana adalah pencerahan melalui ceramah ini disesuaikan dengan sifat, tema, bentuk dan jenis kegiatan keagamaan yang dilaksanakan menurut desa (tempat), Kala (waktu) dan Patra (keadaan). 2)Dharmagita  adalah aktivitas  keagaman   berupa  melagukan   nyanyian keagamaan seperti : Kakawin, Kidung atau di Jawa disebut Macapatan  dan lain-lain. Pada umumnya lagu-lagu keagamaan itu digunakan sebagai pengiring acara keagamaan (Panca Yajna). Dharma Gita disebut juga Gitañjali. Di samping lagu-lagu keagamaan, kesenian tradisional lainnya yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan perlu dikembangkan seperti di Bali tari topeng, arja, rejang dan sebagainya,  juga kesenian lainnya yang terdapat di Jawa, Sulawesi Selatan atau Kalimantan Tengah dan lain-lain. Dharma Gita adalah sarana untuk mempelajari kitab suci Veda dan susastra Hindu lainnya. Hal ini perlu digalakkan terutama di  kalangan  generasi  muda  dan  seniman  untuk menciptakan lagu-lagu yang bisa diterima secara Nasional. 3)Dharmatula adalah kegiatan berupa diskusi keagamaan yang secara tradisional dikaitkan dengan acara Dharma Gita. Biasanya seluruh peserta Dharma Gita ikut aktip berperan serta dalam membahas topik-topik yang menarik dalam kitab suci Veda atau susastra Hindu. Dalam pelaksanaannya lebih jauh (dewasa ini) dilaksanakan mandiri dengan pemilihan topik-topik yang menarik disesuaikan dengan tema-tema tertentu dan umumnya dikaitkan dengan perayaan hari-hari raya keagamaan. 4) Dharmayatra mempunyai pengertian yang hampir sama dengan Tìrtha Yatra, yakni usaha untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran agama dengan ziarah atau persembahyangan ke tempoat-tempat suci, patirthan baik yang terletak di pegunungan atau di tepi pantai. Dalam Dharma Yatra ini di samping melakukan persembahyangan juga sangat baik diikuti dengan Japa dan meditasi atau juga diikuti dengan Dharma Gita. 5) Dharmasadhana artinya realisasi ajaran Dharma dalam diri seseorang. Hal ini dapat dilakukan melalui Catur Marga/Yoga, yakni : Bhakti, Karma, Jñàna dan Ràja atau Yoga Marga secara terpadu, bulat dan utuh. Di antara keemapt jalan itu,  secara khusus  dan lebih  intensif perlu dimasyarakatkan adalah Jñàna dan Yoga Marga, sehingga kedalaman kehidupan kerohanian umat semakin mantap dan seimbang. 6) Dharma Santi  adalah  suatu  acara  berupa  pertemuan  untuk saling  maaf-memaafkan atas segala dosa, noda dan kekhilafan di antara sesama umat manusia.  Acara Dharma Śànti untuk  Upaksama (saling memaafkan atas berbagai kesalahan) ini dapat dilaksanakan sesuai dengan keperluan,situasi dan relevansinya dengan kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan (Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat,1990:16)
1. Pengertian Sraddha
Kata sraddha atau kepercayaan/keyakinan sangat penting dalam kehidupan ini, dari sraddha memiliki pengaruh yang kuat dalam berperilaku. Dalam ajaran agama hindu. Sraddha atau kepercayaan adalah pada permulaannya kebaikan, tapi karena kehidupan ini adalah merupakan pengikatan antara sifat yang murni (abadi) dengan sifat alam material (maya), maka sifat rohani (Jiva) yang selalu ingin mencari persatuan kembali kepada yang abadi (Brahman), walaupun dengan berbagai cara, seperti seseorang bisa percaya kepada Dewa atau Tuhan yang  berbentuk atau diwujudkan (arca/patung/pratima) dalam konsep ketuhanan saguna Brahman (imandent) atau Tuhan sesuatu yang tidak dapat di samakan dengan yang lain, tidak dapat di wujudkan dalam bentuk apapun, bahkan tak terpikiran Nirguna Brahman (tansendent). Tetapi dengan terjadinya kehidupan  yang selalu terikat oleh sifat alam material, tidak ada pekerjaan yang bersifat suci sepenuhnya.
Ada pun pekerjaan tersebut akhirnya bersifat campuran, karena pekerjaan itu tidak berada dalam sifat kebaikan murni, maka kebaikan murni  bersifat rohani yang melampaui hal-hal duniawi. Sifat kebaikan yang disucikan seseorang dapat memahami sifat sejati Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa (Brahman). Selama kepercayaan seorang belum mantap sepenuhnya dalam kebaikan murni kepercayaan dipengaruhi oleh suaatu sifat alam material, yaitu kebaikan, nafsu dan kebodohan, menurut kedudukan hati seseorang berhubungan dengan sifat alam tertentu, kepercayaannya akan dimantapkan. Berbagai sifat alam material dapat disucikan melalui pergaulan dengan yang memiliki sifat-sifat rohani.
Sraddha merupakan sumber inspirasi karena sebagai sebuah keyakinan yang dapat merubah segala perilaku manusia, bagi agama hindu karena segala sesuatu yang akan dilakukan secara sadar tentunya akan berasal melalui suatu keyakinan.  Keyakinan sebagai sumber Inspirasi adalah gagasan atau ide yang akan kita lakukan dengan demikian semua ini datang dari pikiran. Dalam Sarasamuscaya sloka 79 disebutkan : manasa nicayam krtva tato vaca vidhiyate, kriyate karmana pascat pradhanam vai manastatah. Artinya : Pikiran adalah unsur yang menentukan jika penentuan perasaan hati telah terjadi mulailah orang berkata atau berbuat jadi pikiranlah sumber pokoknya. Orang yang memiliki keyakinan yang mantap akan senantiasa percaya diri dan dengan keyakinan pula seseorang akan memperoleh kesejahtraan. Karena mereka yang selalu mengikuti ajaran-Ku (Brahman) dengan  penuh keyakinan (Sraddha) serta bebas dari keinginan duniawi, juga  akan bebas dari keterikatan, ia yang memiliki keimanan yang mantap (Sraddha) memperoleh ilmu pengetahuan, dapat menguasai panca indrianya, setelah memiliki ilmu pengetahuan dengan segera mencapai kedamaian yang abadi. Tetapi sesungguhnya hanya mereka yang dungulah, yang tidak memiliki ilmu pengetahuan, tidak memiliki keimanan dan selalu diliputi oleh keragu-raguan, orang yang demikian ini tidak memperoleh kebaha-giaan di dunia ini dan dunia lainnya.
2. Lima Dasar Keyakinan Umat hindu                  
            Lima Dasar Keyakinan Umat Hindu adalah dasar-dasar yang diyakini oleh umat hindu sesuai dengan ajarannya terdiri dari :1) Keyakinan adanya Brahman (Ida Sang Hyang Widhi), (2) Keyakinan adanya atman, (3) Keyakinan adanya Karma Phala, (4) Keyakinan adanya Reinkarnasi (Punarbhawa) dan (5) Keyakinan adanya Moksa (pembebasan) yaitu kembalinya bersatu atman dengan Brahman.
Tentang Brahman, Teologi Hindu terbagi atas dua macam, yaitu teologi Nirguna Brahma dan teologi Saguna Brahma. Teologi Nirguna Brahma mengajarkan bahwa Tuhan itu tidak dapat dibayangkan seperti apa-apa (tidak dapat diberi nama apa-apa, dan tidak dapat dibayangkan wujud-Nya seperti apa-apa). Jika manusia mengharuskan diri untuk memberikan simbol dan nama, maka Tuhan Yang Maha Esa hanya boleh dibayangkan dan disebut dengan kata Om. Kata Om merupakan kata gabungan yang berasal dari tiga buah huruf, yaitu huruf A (mulut waktu terbuka) dan huruf U ketika mulut hendak menutup, serta huruf M ketika mulut benar-benar tertutup, AUM = OM adalah nama Tuhan yang tiada bandingnya (Soebadio, 1985).
Di dalam konsep Nirguna Brahma, Tuhan Yang Maha Esa tidak dapat dibayangkan seperti apa-apa, maka pembahasan-Nya hanya mungkin dilakukan oleh dan untuk para yogi atau rsi yang telah mapan dengan berbagai konsep ketuhanan. Konsep ketuhanan Nirguna Brahma nampaknya bukan konsumsi bagi kebanyakan umat manusia. Konsep teologi yang mungkin dapat dibahas secara luas adalah konsep ketuhanan Saguna Brahma, dalam teologi inilah Tuhan dihadirkan dengan berbagai macam manifestasi yang disebut dewa. Inilah yang menjadi alasan mengapa bagi kebanyakan orang, sosok dewa harus dihadirkan dalam pemujaan kepada Tuhan. Bagi kebanyakan orang kehadiran Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai para dewa juga masih dianggap belum mampu dihayati secara nyata, karena masih mengandung unsur simbol yang abstrak. Dikatakan demikian karena kehadiran Tuhan dalam manifestasi sebagai sosok dewa hanya mengandung simbol satu dimensi (niskala) saja, yang sulit dibayangkan. Untuk membantu kepentingan  manusia dalam memuja Tuhan, maka para dewa lebih dikonkritkan lagi dalam bentuk simbol dua dimensi, yakni dimensi sakala dan niskala. Berdasarkan alasan inilah para dewa sebagai manifestasi Tuhan dihadirkan sebagai wujud Energi yang ada di balik bentuk-bentuk kosmis (Donder, 2007 :329-359). Secara teologis semua atribut kemahakuasaan Tuhan dilekatkan kepada seluruh segmen-segmen alam. Metode teologis ini tidak dapat dikatakan sebagai tindakan dosa karena “mempersekutukan Tuhan dengan benda”. Stigma “mempersekutukan” tidak ada dalam kamus teologi Saguna Brahma dan pandangan Advaita. Berdasarkan alasan itulah, maka kemahakuasaan Tuhan dimanifestasikan ke dalam segmen-segmen alam seperti; (1) Dewa Surya adalah manifestasi Tuhan yang ada di balik planet matahari, (2) Dewa Soma (Chandra) manifestasi Tuhan di balik bulan, (3) Dewa Vayu (Bayu) manifestasi Tuhan di balik udara, (4) Dewa Agni manifestasi Tuhan di balik api, (5) Dewa Marut manifestasi Tuhan di balik angin, (6) Dewa Sangkara manifestasi Tuhan di balik pohon atau tumbuhan, (7) Dewa Varuna manifestasi Tuhan di balik samudera, (7) Akasa merupakan manifestasi Tuhan sebagai Sang Ayah di balik angkasa, dan (8) Prthivi merupakan manifestasi Tuhan di balik planet bumi ini, (9) dan Dewa-dewa lainnya. Inilah yang mendasari filosofi teologi Saguna Brahma sehingga kehadiran para dewa dalam sistem pemujaan sangat popular dalam Agama Hindu. Dalam teologi Saguna Brahma-lah tersedia berbagai metodologi-teologis, hal tersebut secara metodologis dirancang untuk membantu setiap manusia bagaimanapun adanya dapat sampai kepada Tuhan. Itulah sebabnya teologi Hindu lebih tepat disebut Teologi Kasih Semesta (Donder, 2006). 
            Tentang Keyakinan adanya Atman adalah kondisi Atma yang ada di  dalam tubuh mahluk, sebagai sumber hidup yang menghidupkan semua mahluk hidup dinyatakan dalam kitab suci Veda sebagai berikut :Brahman memasuki tubuh manusia dan Ia disebut Prajapati.” (Atharvaveda, XI. 8. 30). “Seseorang yang memahami jiwa individu (Atman), menjadi cerdas, bijaksana, tidak mengalami kehancuran, seantiasa muda,. Tidak takut kepada kematian, lepas dari berbagai keinginan, ada dengan sendirinya, senantiasa bahagia dan sempurna dalam segala hal.” (Atharvaveda X. 8. 44). “Sesungguhnya Atman yang aktif dapat mengangkat kesadaran manusia.” (Yajurveda XI. 44). “Badan manusia memiliki jantung seperti bunga teratai dengan sembilan kelopak bunga. Ia dikelilingi oleh Tri Guna (Sattvam, Rajah dan Tamah). Di dalamnya merupakan tempat tinggal Atman. Hanya para rsi dapat melihat Atman itu.” (Atharvaveda X. 8. 43). “Atman memasuki kandungan seorang ibu. Ia (lahir) menghidupkan badan dan akhirnya meninggalkannya.”(Atharvaveda IX.10. 11).
Keyakinan tentang Atman yang sesungguhnya identik dengan Brahman di dalam kitab suci Veda diuraikan kembali secara mendalam di dalam kitab-kitab Upanisad, dan ajaran ini merupakan landasan dari sistem filsafat Hindu (darsana) yang disebut Vedanta. Atman yang tinggal pada relung hati yang paling dalam, di dalam Taittiriya Upanisad digambarkan  sebagai terbungkus atau ditutupi oleh lima selubung (kosa) yang terdiri dari: 1)Annamayakosa, selubung atau badan yang terdiri dari berbagai jenis makanan. (2)Pranamayakosa, selubung atau badan energi yang merupakan tenaga yang memberi kehidupan. (3)Manomayakosa, selubung atau badan berupa pikiran atau mental. (4) Vijnanamayakosa, selubung atau badan  berupa  kecerdasan. (5)Anandamayakosa, selubung atau badan berupa kebahagiaan.

Demikian keyakinan adanya Atman yang terbelenggu oleh badan, indria, ahamkara, manas. Buddhi dan citta sehingga tidak dapat memancarkan sinarnya yang asli dan terang. Sifat-sifat sesungguhnya identik dengan Brahman. Kirab-kitab Upanisad menyatakan sebagai berikut :
  1. Vijnanam Anandam Brahma (Brhadaranynaka Upanisad III.9.28.7). Artinya: Barhman adalah pengetahuan sejati, kebahagaiaan dan tujuan tertinggi.
  2. Satyasya satyam (Brhadarayanaka II.1.20, Mait.VI.32). Artinya Atman kebenaran dari kebenaran. Radhakrishnan menyatakan, dunia ini janganlah dianggap hal yang palsu. Hal ini adalah benar, tetapi kebenaran ini ditunjang oleh kebenaran akhir.
  3. Jyotisam jyotis (Brhadarayanaka IV.4.16) artinya : sinarnya sinar. Paramjyojyotis (ChandogyaUpanisad VIII.3.4 dan VIII.12.3) yang artinya: cahaya yang sangat murni atau suci
  4. Anandam nandanatìtam (Tejobindu Upanisad. 8, juga Sarva Upanisad 9-13, dan lain-lain, artinya : Atma adalah perwujudan kebahagiaan dan kegembiraan yang tiada hentinya. Atman terbebas dari noda, kejahatan, kematian, penderitaan, bebas dari lapar dan dahaga. Itulah yang harus dicari dan yang seharusnya dimengerti. Dia yang menemukannya memperoleh seluruh alam semesta.
Lebih jauh, seseorang yang telah maju kehidupan spiritualnya akan mudah merealisasikan Àtman dalam dirinya. Dari mereka cinta kasih yang sejati (prema) bersemi, tumbuh dan berkembang mempengaruhi lingkungannya. Baginya semua makhluk adalah satu keluarga, saling bersaudara (vasudhaiva kutumbakam)
            Tentang keyakinan adanya Karmaphala Konsepsi berlandaskan hukum sebab akibat karena perbuatan yang baik akan selalu menghasilkan pahala yang baik dan demikian sebaliknya. Konsepsi ini merupakan  landasan bagi pengendalian diri dan dasar penting bagi pembinaan moral dalam berbagai segi kehidupan. Kata karma arti sebenarnya ialah  perbuatan. Tetapi karma sebagai dokterin atau teori ( karma veda) berarti bahwa semua perbuatan diperintah oleh suatu hukum. Dalam arti sempit, perbuatan ialah apa yang dikerjakan oleh manusia. Dalam arti luas  
Sesungguhnya bahwa segala jenis kehidupan dimungkinkan oleh kelahiran dialam material ini, apapun yang dipikirkan, dikerjakan tentang kebaikan, nafsu dan kebodohan setelah dapat direalisasikan menjadi kenyataan sebuah hasil, hasilnya belum tentu menemukan kebaiknya, akan tetapi pikiran nafsu dan kebodohan sudah tentu hasilnya tidak baik. Dengan demikian hendaknya selalu tekun untuk melaksanakan kebaikan (berdasarkan dharma) untuk memperoleh hasil yang memang diinginkan hendaknya jangan sesekali berpikiran akan berbuat kejahatan hasilnya menjadi baik. Seperti menanam padi rumput disekeliling padi dapat tumbuh akan tetapi menanam rumput padi belum tentu akan tumbuh.
Keyakinan adanya Reinkarnasi atau punarbhawa adalah suatu keyakinan dalam ajaran agama hindu. Bentuk atau wujud reinkarnasi atma sangat tergantung karma wasananya atma pada saat penjelmaannya terdahulu. Salah satu bentuk reinkarnasi itu adalah ”sthawara janggama” yang disebutkan sebagai penjelmaan yang paling jelek. Bentuk reinkarnasi seperti itu adalah suatu penderitaan luar biasa harus dihindari (Siwa tatwa, 2004, hal : 9).
Karena jiwa tak pernah mati maka ia akan mengambil bentuk tubuh yang lain sesuai dengan karma wasananya ini dijelaskan pula dalam (Atharva veda IX.10.8) menyebutkan sebagai berikut : Jivo mrtasya carati svadhabhih                                          Artinya : jiwa sebuah tubuh yang mati mengambil bentuk yang lain menurut             tindakan/ perbuatan dimasa lampau.
      
Demikianlah sesungguhnya jiwa tak pernah mati, selama jiwa belum bersatu dengan Brahman atau kembali ke asalnya, akan mengisi badan baru yang berupa kelahiran seperti sekarang ini, dimana tentu ada kelahiran yang terdahulu karena segala sesuatu yang ada tentu ada yang mengadakan. Sehingga hidup ini merupakan warisan dari sisa-sisa perbuatan dimasa kehidupan terdahulu inilah saatnya untuk dapat memperbaiki segala perbuatan yang buruk kearah perbuatan yang baik, karena sebelum dapat mencapai pembebasan dimana segala sesuatu seharusnya kembali bersatunya dengan Brahman, maka akan mengakibatkan lahir kembali. “Seseorang yang memperoleh kesempatan menjelma sebagai manusia, ingkar dengan perbuatan Dharma  (wimukha ring Dharma Sadhàna), sebaliknya amat suka mengejar harta,  kepuasan  nafsu  serta  berhatitamak, orang itu disebut tersesat, menyimpang dari jalan yang benar”(Sarasamuscaya Sloka 9). Demikian juga disebutkan : sariram yad avapnoti yac capy utkramatisvarah grhitvaitani samyati vayur gandhan ivasayat artinya : Makhluk hidup didunia material membawa berbagai paham hidupnya dari satu badan ke badan yang lain seperti udara membawa berbagai bau. Dengan cara demikian ia menerima jenis badan tertentu, lalu sakali lagi meninggalkan badan itu untuk menerima badan lain. (Bhagavad Gita 15.8)
Keyakinan adanya Moksa adalah merupakan keyakinan akan pembebasan dari keterikatan juga disebut dengan berakhirnya penjelmaan kembali karena telah bersatunya jiwa dengan brahman sehingga jiwa tidak dilahirkan kembali atau tidak mengambil bentuk badan lain inipun merupakan tujuan akhir dari ajaran agama hindu. Hubungan manusia dengan Tuhan hendaknya dilandasi oleh kesadaran bahwa " Tuhan adalah kebenaran pengetahuan yang tak terbatas (Sat Citta Ananda Brahman) dan Ia adalah dari mana semua ini berasal (Janmadhyasya yatah) ", sebagaimana diungkapkan didalam kitab Maha Nirvana Tantra dan Brahma Sutra I.1.2. Sehubungan dengan itu kitab suci Bhagawad Gita adhyaya XI sloka 55 dan XVIII.65 menyatakan : " Yang bekerja bagi-Ku, menjadikan Aku sebagai tujuan tertinggi, berbakti kepada-Ku tanpa kepentingan pribadi, tiada bermusuhan terhadap segala insani, dialah yang datang kepada-Ku, oh Pandawa " dan "Pusatkan pikiranmu pada-Ku, berbakti pada-Ku bersujud pada-Ku, sembahlah Aku engkau akan tiba pada-Ku, Aku berjanji setulusnya padamu sebab engkau Ku-kasihi "
Badan manusia (selubung makanan) terdiri dari kulit, darah, daging, tulang, sumsum dan lain-lain. Badan jasmani terdiri dari lima unsur (Panca Mahabhuta). Disebut selubung makanan karena unsur makanan mendukung pertumbuhan tubuh. Badan aau selubung makanan adalah badan yang paling jelas terlihat oleh mata (badan awadag) dan memrupakan penutup Atman yang paling luar. Selubung yang lebih di dalam adalah prana atau energi, halus dan tidak kasat mata. Wujud  yang nyata dari selubung ini adalah napas. Ada 10 jenis atau tingkatan prana dan dari pranalah biokimia tubuh berfungsi. Badan atau selubung yang lebih di dalam lagi dari prana adalah Manomayakosa. Selubung ini terdiri dari instrumen pengertian yaitu yang paling luar adalah manas (pikiran atau tanggapan), ahamkara (ego), buddhi (intelek atau kecerdasan) dan citta (kesadaran atau kesanggupan berpikir murni).
Lebih di tengah dari selubung pikiran  ini adalah Vijnanamayakosa yakni kebijaksanaan. Melalui selubung ini pengetahuan yang sejati dan abadi dipancarkan kepada intelek. Badan yang paling dalam adalah anandamayakosa yaitu berupa keadaan bahagia yang sejati  yang memrupakan penutup Atman  yang paling tengah. Itulah sebabnya badan ini langsung bersentuhan dengan Atman. Anandamayakosa ini jangan dirancukan pengertiannya dengan Brahman, sumber kebahagiaanyanfg sejati yang tiada taranya. Membandingkan Brahman dengan selubung terdalam (anandamayakosa) dan yang lebih di luarnya (vijnanamayakosa) adalah tidak mungkin. Kedua badan terakhir ini sebagian masih ditutupi avidya, kegelapan atau kebodohan. Atman pada tingkatan ini sangat dekat untuk direalisasikan sebagai esensi alam semesta, tetapi belun juga bebas untuk melihat keagungan dan kesempurnaan-Nya.
Atman memasuki badan tetapi badan bukanlah Atman. Atman tertutup oleh indria dan obyeknya, karena pada saat ini, ia disamakan  dengan badan. Pada saat seseorang sadar terhadap sifat Atman (Sang Diri) yang sejati, maka lima selubung (pancamayakosa) pada saat itu pula ia melepaskan diri dari kenikmatan dan belengguan duniawi. Sistem filsafat Vedanta tidak menyangkal pentingnya selubung itu, tetapi diingatkan bahwa seseorang jangan mengidentikan diri dengan hal itu. Hendaknya seseorang pergi lebih jauh dalam Atman (lebih di dalam dari pancamayakosa) untuk memperoleh kebahagiaan yang sejati dan kehidupan yang abadi atau merelaisasikan moksa dalam kehidupan ini.
Lima selubung itu (pancamayakosa) dapat pula dibedakan menjadi tiga badan, yaitu: sthula sarìra badan wadag, sukma sarìra (badan halus) dan karana sarìra (badan sebab). Badan wadag sama dengan annnamayakosa. Kesadaran Atman terpikat dan terperangkap oleh badan ini dalam keadaan jaga (jagrapada). Badan halus merupakan kombinasi dari energi (pranamayakosa), mental (manomayakosa) dan kebijaksanaan (vijnanamayakosa). Kesadaran Atman “terperangkap” oleh badan halus ini berhubungan dengan ide dan mimpi-mimpi (svapnapada). Karana sarira (badan penyebab) sama dengan anandamayakosa yang berhubungan dengan keadaan tidur nyenyak (sptapada). Di dalam Upaniûad, kesadaran manusia itu dikembangkan dalam tiga badan, yaitu : Vaisvanara, Taijasa dan Prajna.
Untuk kepentingan studi praktis, seseorang hendaknya memahami dirinya melalui pengkajian terhadap badan (sarira), energi dalam diri (prana), pikiran (manah) dan Sang Diri (Atman). Pengkajian yang mendalam terhadap keempat hal ini menumbuhkan kesadaran untuk merealisasikan Atman dalam kehidupan sehari-hari. Tentang penjelmaan (Atman terikat oleh berbagai selubung atau badan), Mahàbhàrata menggambarkan sebagai berikut :
Ketika Aku dilahirkan ai antara para yaksa, Aku memandang, berbicara, berpakaian dan bertingkah laku seperti para yaksa itu. Ketika Aku lahir di antara para gandharva atau dewa-dewa, maka Aku memandang, berbicara, berpakaian dan bertingka laku seperti mereka. Mereka pun tidak mengetahui siapa sebenarnya Aku. Pada saat ini Aku lahir dalam wujud manusia untuk suatu tujuan tertentu, hanya beberapa orang saja yang mengetahui sifat kedewataan-Ku yang asli.” (Asvamedhaparva, Anugita 54. 14-20).

3. Tingkatan Sraddha
            Sraddha adalah keyakinan, dimana keyakinan tersebut karena terikat oleh sifat alam material, memiliki tingkat keyakinan bersifat sattvam, rajas dan tamas. Dengan demikian akan ada tiga jenis tingkat keyakinan, yang masing-masing berkembang dari salah satu diantara tiga sifat alam, tentu perbuatan yang dilakukan oleh orang yang keyakinannya bersifat kebaikan, nafsu dan kebodohan. ini hanya membuahkan hasil material yang bersifat sementara. Dalam Bhagavad Gita 17.1-4 disebutkan :
arjuna uvaca
ye sastra-vidhim utsrjya yajante sraddhayanvitah
tesam nistha tu ka krsna sattvam aho rajas tamah

Artinya:
Arjuna bertanya : O Krina, bagaimana kedudukan orang yang tidak mengikuti prinsip-prinsip Kitab suci tetapi sembahyang menurut angan-angan sendiri? Apakah mereka berada dalam kebaikan, nafsu atau dalam kebodohan. (Prabhupada, 1986 : 745)

Sri-bhagavan uvaca
Tri-vidah bhavati sraddha dehinam sa svabhava-ja
Sattviki rajasi caiva tamasi ceti tam srnu

Artinya:
Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Bersabda : Menurut sifat-sifat alam yang diperoleh oleh roh di dalam badan, ada tiga jenis kepercayaan yang dapat dimiliki seseorang-kepercayaan dalam kebaikan, dalam nafsu atau dalam kebodohan denganrkanlah tentang hal ini. (Prabhupada, 1986 : 746)

sattvanurupa sarvasya sraddha bhavati barata
sraddha-mayo ’yam puruso yo yac-craddhah sa eva sah

Artinya :
Wahai putra bharata, menurut kehidupan seseorang dibawah berbagai sifat alam, ia mengembangkan jenis kepercayaan tertentu. Dikatakan bahwa makhluk hidup memiliki kepercayaan tertentu menurut sifat-sifat yang teleh diperolehnya. (Prabhupada, 1986 : 747)

yajante sattvika devan yaksa-raksamsi rajasah
pretan bhuta-ganams canye yajante tamasah janah

Artinya:
orang dalam sifat kebaikan menyembah para deva: orang dalam sifat nafsu menyembah raksasa atau orang jahat: orang yang berada dalam sifat kebodohan menyembah hantu-hantu dan roh-roh halus.(Prabhupada, 1986 : 748)

1. Sraddha dalam tingkat sattvam
            Keyakinan yang didasari oleh sifat sattvam adalah merupakan keyakinan akan segala sesuatunya yang berdasarkan kebaikan dan memberi manfaat terhadap semua makhluk hidup beserta ciptaannya. Selalu berpedoman dengan kebaikan bisa berdasarkan ajaran : Tri Kaya Parisudha, Catur Paramita dan Panca sraddha. Karena : ajaran masing-masing mengandung pengertian sebagai berikut : “Tat Twam Asi” Tat berarti itu, Twam berarti Kamu dan Asi berarti Adalah jadi arti Tat Twam Asi adalah Dikaulah itu, semua mahkluk adalah Engkau. “Tri Kaya Parisudha” Tri artinya tiga, Kaya artinya perbuatan dan Parisudha artinya disucikan jadi Tri Kaya Parisudha mengandung arti tiga perbuatan yang harus disucikan yang terdiri dari : (manacika) berpikir, (wacika) berkata dan Kayika (berbuat). “Catur Paramita” Catur Paramita yaitu empat sifat yang harus kita miliki, kembangkan dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu: (Maitri) Cinta Kasih universal, (Karuna) Kasih sayang untuk menolong, (Mudita) menarik meninbulkan  rasa simpati ramah tamah, (Upeksa) yaitu sifat mawas diri. Dan “Panca Sradha” yaitu memiliki lima keyakinan antara lain : (1) Widhi Tattwa atau Widhi sraddha, keimanan terhadap Tuhan Yang Mahaesa dengan berbagai manifestasi-Nya. (2)Atma tattwa atau Atma Sraddha, keimanan terhadap Atma yang menghidupkan semua mahluk. (3)Karmaphala tattwa atau Karmaphala Sraddha, keimanan terhadap hukum sebab akibat atau buah dari perbuatan. (4) Samsara atau punarjanma tattwa/Sraddha, keimanan terhadap lahir kembali. (5) Moksa tattwa atau Moksa Sraddha, keimanan terhadap kebebasan tertinggi bersatunya Atma dengan Brahman, Tuhan Yang Maha Esa.
2. Sraddha dalam tingkat Rajas
            Keyakinan yang didasari oleh sifat rajas adalah merupakan keyakinan akan segala sesuatunya yang berdasarkan sifat nafsu dan selalu ingin menguasai secara berlebihan lebihan disini Sad Ripu (enam musuh) susah diajak kompromi yaitu :
1.      Kama berarti keinginan atau nafsu
Keinginan yang dimiliki oleh manusia adalah tanpa batas, dapat diibaratkan seberapa besar alam makrokosmos, sebesar itu pula keinginan yang dimiliki oleh manusia. Maka dengan demikian keinginan atau hawa nafsu setiap insan manusia yang tiada terbatas tersebut perlua adanya alat bantu atau pengendali. Alat pengendalinya adalah trikaya parisudha, panca yama dan niyama bratha. keinginan dan nafsu tidak dapat membedakan ruang, tempat dan waktu, keinginan ini dipergunakan semaunya.
2.      Lobha berarti ketamakan atau rakus selalu tidak akan merasa puas, ada rasa gusar, resah, gelisah, tidak senang dan tidak bisa menggunakan akal sehat. Bekerja tidak mengenal waktu bagai robot, dengan tidak memikirkan kesehatan demi mendapatkan materi yang banyak semata-mata untuk memenuhi keinginan seseorang yang memiliki sifat loba, ia hanya lebih cenderung mengutamakan dan memikirkan dirinya saja dan tidak peduli dengan orang lain.
3.      Krodha kemarahan atau kebencian :
Kemarahan merupakan sumber penderitaan dan kesangsaraan. Muak jengkel, bosan, tersinggung, kecewa, capek, merasa terhina, difitnah, merasa tertekan, merasa disepelekan, merupakan sumber kemarahan. Marah meninbulkan lupa diri, pikiran tidak terkontrol, emosi yang tinggi. Oleh karenanya kemarahan merupakan pusat malapetaka baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, dari kemarahan kita dijauhi semua orang. (Sarasamuscaya 102 : 77)
4.      Moha berarti bingung
Pikiran bingung menyebabkan kegelapan, bingung tidak dapat berpikir jernih, apalagi melakukan pekerjaan dengan baik. Pikiran bingung berpengaruh besar terhadap kesehatan baik secara jasmani maupun rohani. Sifat tamak atau lobha ingin memiliki sesuatu yang lebih dari orang lain, namun kemampuan untuk itu tidak ada maka timbullah kegusaran dalam diri, muncul pikiran kalut sehingga muncul moha/bingung. Adapun sebab-sebab timbulnya bingung antara lain kesusahan yang amat mendesak, kehilangan yang amat dicintai, mempunyai masalah yang tidak terpecahkan atau tidak tersolusikan. (Bhagavad Gita, 18.25)
5.      Mada berarti mabuk atau kemabukan
Mabuk dikonotasikan dengan minuman keras dengan obat-obatan terlarang hal ini akan mengakibatkan lupadiri karena organ tubuh yang berfungsi vital dilemahkan juga bisa muncul perilaku sombong/angkuh, terbuka karena alat kontrolnya tidak berfungsi dengan baik.
Adanya kemabukan disebabkan oleh sapta timira yang artinya tujuh macam kegelapan.
6.      Matsarya berarti iri hati :
Perasaan iri hati adalah seseorang yang tidak mau menerima jika ada orang lain maju, sukses, berhasil maupun bahagia. Mengapa demikian, orang mempunyai sifat irsya iri hati merasa disaingi, maka dalam hatinya tidak menerima kesuksesan orang lain, sehingga ia tidak akan bisa maju, karena selalu memikirkan orang lain tidak pernah sempat memikirkan kemajuan diri sendiri.(Sarasamuscaya 88).

3. Sraddha dalam tingkat Tamas
            Keyakinan yang didasari oleh sifat tamas yang merupakan kegelapan ini akan dapat membawa kehancuran sesama dan ciptaannya apabila tidak tepatnya cara mengatasinya seperti, Sapta timira (Tujuh sifat kegelapan) terdiri dari :
1.      Surupa (rupa, wajah) adalah Mabuk karena rupa tampan atau kecantikan menyebabkan dibutakan akan cinta, karena sangat cintanya seorang laki-laki atau perempuan dia relakan korbankan agamanya.
2.      Dana (kekayaan) adalah Karena kekayaan seseorang menjadi mabuk dan tidak pernah merasa puas akan harta benda yang dimilikinya, ia pun tergiur ketika ada seseorang menawarkan sejumlah uang.
3.      Guna (kepandaian) adalah Karena kepandaian atau kepintarannya seseorang akan melakukan tipu muslihat kepada yang lain karena mengganggap orang lain selalu lebih bodoh
4.      Kulina (keturunan) adalah Karena mabuk akan keturunan, status, kedudukan, jabatan dalam pekerjaan menyebabkan seseorang lupa akan dirinya, sehingga dikucilkan masyarakat
5.      Yowana (keremajaan) adalah Karena mabuk dengan masa muda atau keremajaan seseorang menjadi lupa akan agamanya dan melakukan pergaulan bebas tidak pernah ia berpikir tentang akibat yang akan terjadi pada dirinya.
6.      Sura (keberanian) adalah Karena mabuk akan keberanian seseorang tidak pernah merasa berdosa, semua orang dianggap sebagai pengecut, karena keberanianya itu ia menjadi sombong dan angkuh. Agama menurutnya bukanlah sesuatu ajaran yang wajib urusan duniawi menjadi tujuannya, kekuasaan menjadi citacitanya ia tidak pernah takut akan hukum karma, karena menurutnya manusia setelah mati tidak akan merasakan apa-apa.
7.      Kasuran (kemenangan) adalah Karena mabuk akan kesaktian atau kekuatan menyebabkan seseorang tidak butuh agama padahal bila kesaktian atau ilmu tanpa dilandasi oleh moral atau agama maka semua itu tidak ada artinya. Semua itu hanya mengantarkan kita kedalam kegelapan dan tidak pernah mencapai kebahagiaan yang abadi.
F. Pengembangan Budhi Pekerti
Pengertian budi pekerti berasal dari dua kata Sansekerta yakni Buddhi dan Krti. Buddhi artinya budi, pengertian, pendapat, akal kesadaran, persepsi. (Pemda Tk I Bali, 1985/1986 : 265). Krti (kerti) berarti laksana, laku, perilaku. Pekerti artinya perbuatan atau perilaku/laksana yang disengaja (Pemda Tk I Bali : 136)
Dalam perkembangan selanjutnya kata budhi juga berarti kecerdasan. Dalam kosa kata bahasa Indonesia kata budhi, seperti disebutkan dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (1991:150) berarti : 1)alat batin yang merupakan paduan akal dan perasaan untuk meninbang baik dan buruk; 2) tabiat,akhlak, watak; 3)perbuatan baik, atau kebaikan; 4) daya upaya, atau ikhtisar; 5)akal (dalam arti kecerdikan)
 Dengan demikian Budhi Pekerti adalah perbuatan atau tingkah laku sengaja dengan sadar yang dilakukan dilandasi oleh akal sehat dan hati nurani, maka kata budhi pekerti bermakna perbuatan tingkahlaku yang baik dan benar atau perilaku yang mulia untuk menjaga hubungan yang harmonis antar sesama umat manusia beserta ciptaan-Nya. Bila setiap orang dapat membina hubungan yang harmonis dengan Sang Maha Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa dengan mengikuti segenap ajaran-Nya, maka sesungguhnya akan memancar kasih sayang kepada sesama manusia bahkan kepada segala mahluk hidup (sarvaprani hitankara). Setiap ajaran agama termasuk ritual sebagai salah satu perwujudan ajaran agama mengandung ajaran untuk membina hubungan yang harmonis antara sesama umat manusia, mahluk hidup dan alam lingkungannya.
            Pengembangan budhi pekerti adalah usaha untuk meningkatkan perilaku dalam memperoleh tujuan dari kehidupan yang lebih baik. Dengan demikian pengembangan budhi pekerti sangatlah penting agar tercapai segala yang  menjadi tujuan dalam hidup ini. Adapun usaha-usaha dalam mencapai kehidupan yang lebih baik ini, ajaran agama hindu memiliki banyak konsep tentang untuk meningkatkan sraddha dan bhakti dalam menumbuh kembangkan bhudhi pekerti. Pengembangan budhi pekerti yang luhur adalah segala perilaku yang tepat diterapkan dalam berperilaku, maka mengacu kepada sastra suci sebagai berikut :
  1. Dengan Tri Kaya Parisudha yaitu tiga perbuatan yang harus disucikan, mulai dari berpikir, berkata, dan berbuat.
  2. Dengan Tri Hita Karana yaitu tiga hubungan harmonisasi yang selalu dijaga seperti : Hubungan dengan sang pencipta, hubungan sesama dan hubungan dengan alam beserta ciptaanya yang lain.
  3. Dengan mengimplementasikan ajaran Tri Rna yaitu mengingat tiga kewajiban antaranya : Ada tiga hutang yang harus dibayar oleh setiap orang : (1) Hutang hidup kepada Tuhan (2) Hutang budi kepada orang tua dan leluhur (3) Hutang ilmu kepada Guru (Rsi) (SLTA.2 : 126).
  4. Karena perilaku manusia yang menyimpang dari tertib kosmos memiliki hubungan terhadap terjadinya bencana, maka umat manusia sangat perlu mempertimbangkan segala perilakunya.
  5. Manusia perlu lebih menyadari tindakan-tindakan yang dapat suatu waktu dapat mendatangkan bencana baik pada dirinya sendiri, orang lain dan lingkungannya.
Di dalam Bhagavadgita (XVI.21) disebutkan adanya tiga pintu gerbang neraka yang merupakan dosa atau papa yang mengantarkan ke tiga pintu gerbang neraka, yakni: kama (moha), lobha, dan krodha. Ketiga perbuatan buruk (papakrt) merupakan papa atau dosa yang mesti dihindari oleh setiap orang, terutama yang ingin sukses menempuh jalan rohani (Tri Marga). di dalam Manavadharmasastra atau Manusmrti (XII.105-106) dinyatakan: “Seseorang yang ingin memperoleh penyucian dari dharma (dharmasuddhi) seharusnya menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan. Hanya mereka yang menguasai ‘tarka’ (kemampuan untuk menganalisis sesuatu) dan tidak mempertentangan susastra Veda (Vedasastra) dengan ajaran suci Veda, yang merupakan ajaran dharma yang diajarkan oleh para rsi, yang akan menguasai dharma, tidak yang lain”. Lebih jauh di dalam kitab yang sama (IV.175-176) juga dinyatakan: “Oleh karena itu seseorang hendaknya selalu bergembira melaksanakan kebenaraan, taat kepada ajaran suci (Veda), bertingkah laku terpuji, sebagai orang yang mulia, selalu suci hati. Suatu perbuatan yang bila pada akhirnya tidak memberikan kebahagiaan dan sangat dikutuk di dunia ini (lokavikrusþha) bukanlah Dharma dan harus ditinggalkan”. Hal yang sama juga diungkapkan dalam Yajnavalkya Smrti (VI.156).
1. Pengertian Pendidikan Budhi Pekerti               
            Dalam the Encyclopedia Americana (Vol.9:642) dijelaskan pengertian pendidikan yang lingkupnya amat luas, yakni suatu proses seseorang mendapatkan pengetahuan, pemahaman, mengembangkan sikap-sikap atau ketrampilan-keterampilan. Sedangkan Budhi pekerti berasal dari kosa kata bahasa sansekerta yang terdiri dari dua kata, yakni budhi dan pekerti. Kata budhi berasal dari urat kata budh yang berarti mengetahui, kemudian berubah menjadi kata benda budhi (bentuk tunggal) yang berarti pengetahuan dalam bentuk jamak berubah menjadi buddhayah. Kata prakerti berasal dari kata prakrti atau pravrti yang berarti perilaku.
            Dalam kamus besar bahasa indonesia disebutkan:
“Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan perhatian, proses perubahan cara mendidik” (KamusBesar Bahasa Indonesia Dep.Dik.Bud Balai Pustaka, 1994:232.cetakan II)
           
      Dengan demikian pendidikan budhi pekerti adalah suatu proses seseorang untuk mendapatkan pengetahuan untuk mengembangkan kecerdasan dalam bersikap dan berperilaku. Pendidikan budhi Pekerti tentunya mempelajari tentang tingkah laku manusia yang mulia, sesuai dengan norma-norma yang berkembang dalam masyarakat. Sebagai pedoman dalam berbuat yang baik dan berdasarkan kepada sebagai salah satu hasil dari kebudayaan manusia, menyebabkan kegiatan pendidikan tidak akan terlepas dari nilai-nilai kebudayaan manusia.
            Berarti pendidikan budhi pekerti adalah refleksi dari kebudayaan dimana didalam pendidikan budhi pekerti itu tercermin suatu kebudayaan yang menjadi sumbernya. Tujuan pendidikan menurut kitab suci Veda adalah tercapainya pencerahan dan kesempurnaan hidup (Atmavidya), yang pada hakekatnya membangun watak atau kepribadian seseorang seperti dinyatakan dalam Tattirìya Upaniûad (I.11.1-4), yang menyatakan seseorang hendaknya senantiasa berbicara jujur dan benar, berpegangan atas Dharma, senantiasa belajar dan berbhakti tidak  pernah lalai, senantiasa memberikan kegembiraan kepada guru, menghormati orang tua dan keluarga, mencintai lingkungan, memberikan penghargaan yang sama terhadap mereka yang menganut agama/kepercayaan, bahasa dan budaya yang berbeda-beda. Hal yang sangat  penting, tujuan pendidikan pada umumnya seperti dinyatakan oleh Svami Sathya Narayana (2000:5) adalah untuk pembentukan karakter yang baik (character building),  atau akhlak mulia selengkapnya sebagai berikut:
tujuan pengetahuan adalah kearifan,
tujuan peradaban adalah kesempurnaan,
tujuan kebijaksanaan adalah kebebasan, dan
tujuan pendidikan adalah karakter yang baik

Menyangkut pembangunan karakter atau watak, utamanya karakter bangsa, hal ini sering diungkapkan oleh Bung Karno (Presiden I Republik Indonesia) pada saat menjelang kemerdekaan maupun ketika kemerdekaan 17 Agustus 1945 sudah dapat diwujudkan. Bung Karno sejak anak-anak dan ketika ia meningkat dewasa sudah sangat memahami tentang pembangunan atau pembentukan karakter manusia ini, seperti yang ia serap dari pemikiran Svami Vivekananda yang terhimpun dalam buku The Complete Works of Vivekananda. Mengapa pembentukan karakter ini demikian rupa sebagai tujuan pendidikan sangat penting dan bahkan yang terpenting,  karena pendidikan ini sangat terkait dengan keluaran (output) anak didik atau anak-anak yang suputra seperti diharapkan oleh orang tua, guru dan masyarakat.(Menubuh kembangkan Pendidikan Budhi Pekerti Pada Anak, Titib, 2002; 9)
Di samping itu, pendidikan budhi pekerti agar mengarah pada pemahaman nilai-nilai bersama dan upaya kolaboratif untuk mengatasi masalah-masalah bersama, seperti: kejahatan, kemiskinan, kelaparan, kesehatan, dan keterbelakangan; dengan kata lain untuk mewujudkan kepedulian bersama atau di dalam Veda disebut Jagadhita dan Lokasmgraham (kesejahteraan masyarakat), karena hakekatnya semua makhluk adalah bersaudara (Vasudhaivakutumbhakam).
Dalam hubungan ini, model pendidikan Agama Hindu yang berwawasan multikultural yang diajarkan oleh Sri Sathya Narayana (13-11-2003) seorang yogi besar dewasa ini yang menekankan kembali betapa pentingnya 5 (lima) dasar nilai-nilai kemanusiaan, yang terdiri dari:
1)      Satya: kebenaran (truth), seseorang hendaknya berpegang teguh kepada ajaran agama yang dianutnya.
2)      Dharma: tindakan yang benar (right conduct), seseorang hendaknya senantiasa berbuat baik dan benar.
3)      Prema: cinta kasih (love), seseorang hendaknya senantiasa mengembangkan cinta kasih kepada semua makhluk dan alam semesta ciptaan-Nya.
4)      Santi: kedamaian (peace), seseorang hendaknya dapat mewujudkan kedamaian hati dan membuat suasana sejuk terhadap lingkungannya.
5)      Ahimsa: tanpa kekerasan (non violence), seseorang hendaknya tidak melakukan tindakan kekerasan, tidak menyiksa apalagi sampai membunuh seseorang.      
2. Pengembangan Budhi Pekerti dalam Pendidikan
            Usaha pengembangan budhi pekerti dalam pendidikan adalah suatu pengembangan yang dilakukan terhadap perilaku-perilaku yang mulia dalam pendidikan. Agar pengembangan budhi pekerti dalam pendidikan, dapat selalu menjadi pedoman atau tuntunan berperilaku bagi seseorang, maka pengembangan budhi pekerti ini haruslah memiliki acuan yang jelas. Dalam hal ini pengembangan budhi pekerti mengacu pada ajaran suci agama hindu (dharma).
Karena pengembangan budhi pekerti, merupakan masalah yang sangat penting dalam kehidupan manusia sehari-hari, maka perlulah dilakukan peningkatan berperilaku yang mulia. Ini semua dilakukan untuk pencapaian sebuah tujuan. Melalui pendidikan-pendidikan inilah yang akan dapat menghasilkan perubahan perilaku-perilaku dalam kehidupan ini. Perilaku mulia, seperti yang diharapkan. Begitu pula dengan mendapatkan ilmu pengetahuan,  tanpa diiringi oleh budhi pekerti yang mulia, tidak akan menjadi berguna karena pemanfaat ilmu pengetahuan yang benar tentu akan memiliki arti apabila dapat dipergunakan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan didunia ini.
Kepandaian yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dalam pendidikan, jika diiringi oleh budhi pekerti individunya akan menjadi kecerdas dan bijaksana, sehingga kecerdasan dan kebijaksanaan ini pastilah sangat berguna bagi semua mahkluk yang ada. semakin terasa dampaknya dalam individu-individu seseorang dalam bermasyarakat karena akan dapat saling menguntungkan. Sehingga pengembangan budhi pekerti dengan baik dapatlah dihasilkan, yang tidak dapat dipisahkan dari hidup dan kehidupan manusia ini.
Pelaksanaan Budhi Pekerti adalah merupakan pelaksanaan yang sangat diharapkan karena merupakan pelaksanaan yang baik dan luhur dapat menghasilkan perbaikan-perbaikan yang berguna bagi sesama manusia dan beserta ciptaannya. Pendidikan Agama Hindu berwawasan multikultural merupakan hal yang sangat mendesak untuk segera dilaksanakan di Indonesia guna sedini mungkin mencegah hal-hal yang dapat merupakan potensi konflik yang berbau agama, suku, ras dan antar golongan dalam masyarakat (SARA). Untuk mencegah hal tersebut di masa yang akan datang pendidikan multikultural dapat dilakukan mulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat dengan penekanan, seperti halnya peendidikan pada umumnya adalah keteladanan dari orang tua di rumah, para guru di sekolah, tokoh-tokoh agama dan tokoh-tokoh masyarakat di masing-masing komunitas masyarakat.
Penerapan pendidikan multikultural di sekolah dimulai dengan revisi kurikulum dan bahan ajar, pengadaan bahan ajar yang memadai, serta peningkatan kualitas guru dan dosen dalam meningkatkan pemahaman terhadap pendidikan multikultural ini.
Pendidikan Agama Hindu multi berwawasan kultural hendaknya ditanamkan sejak dini kepada setiap  anak didik dengan demikian pada masanya generasi muda ini akan mudah beradaptasi dengan lingkungan bersama yang terdiri dari berbagai etnis, budaya dan agama. Berhasilnya pendidikan Agama Hindu berwawasan  multikultural ini dikembangkan di Indonesia bila didukung oleh Pemerintah dan semua komponen bangsa, untuk itu sosialisasi pendidikan multikultural ini sangat perlu lebih ditingkatkan. Salah satu upaya untuk hal tersebut adalah mengadakan berbagai seminar, dialog, lokakarya, sarasehan  dan diskusi untuk menyatukan visi dan menyamakan misi dalam membangun dan mengembangkan pendidikan multikultural.
Salah satu unsur budaya yang paling rentan mendapatkan tantangan di era globalisasi ini adalah sistem religi dan upacara keagamaan. Salah satu dari sistem religi tersebut adalah masalah etika dan sopan santun prilaku anggota masyarakat, karena pengaruh globalisasi, maka sesuatu di masa silam yang dianggap tabu, kini hal itu tidak lagi  menjadi sesuatu yang tabu. Demikian melalui berbagai media TV kita dapat menyaksikan hal-hal yang oleh sebagian anggota masyarakat dianggap sebagai pornografi atau pornoaksi, namun sebagian lainnya menganggap hal tersebut hal yang biasa. Kini semakin maraknya penyalahgunaan obat-obat psikotropika (narkoba) di kalangan generasi muda bangsa merupakan kendala dalam membangun pendidikan multikultural. Sejalan dengan hal tersebut, dalam berbagai kesempatan Menteri Agama H. Said Agil Husin Al’ Munawar menyampaikan tentang berbagai tantangan yang dihadapi umat beragama, di antaranya dirumuskan sebagai empat tantangan besar bagi umat beragama yang patut kita antisipasi yaitu :
1). Mencuatnya fanatisme yang sempit, mengganggap dirinya sendiri yang      paling baik dan benar, sehingga yang lainnya dianggap sesat
2).  Anarkis, pemaksaan kehendak, sehingga terjadi konflik yang   berkepanjangan.
3). Sadisme, sikap yang kejam di luar tatanan dan batas kemanusiaan.
4). Merosotnya mental moral yang diakibatkan oleh berbagai faktor seperti pornografi,  narkoba dan lain-lain.
Mengantisipasi empat tantangan umat beragama di atas, sekaligus pula juga merupakan tantangan budaya, Menteri Agama menetapkan  Program Inti Departemen Agama, yakni:
1)      Terwujudnya masyarakat yang agamis, berperadaban luhur, berbasiskan hati nurani yang disinari oleh ajaran agama.
2)      Terhindarnya prilaku radikal, ekstrim,  tidak  toleran  dan  eksklusif  dalam kehidupan beragama, sehingga terwujud masyarakat yang rukun dan damai dalam kebersamaan dan ketentraman.
3)      Terbinanya masyarakat agar menghayati, mengamalkan ajaran agama dengan sebenar-benarnya, mengutamakan persamaan, menghormati perbedaan, melalui internalisasi ajaran agama.


G. Etika dan Moralitas
Di dalam Kamus Besar Bahasa  Indonesia (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988) dipaparkan makna kata etika yang berasal dari bahasa Yunani ethos, dalam tiga pengertian, yaitu: (1) ilmu tentang apa yang baik dan buruk dan tentang hak dan kewajiban  moral (akhlak); (2) kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak; (3) nilai mengenai benar dan salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat. K. Berten dalam bukunya Etika (Seri Filsafat Ātmàjaya: 15)(1997:6) mempertajam rumusan makna dalam kamus tersebut di atas, menyatakan:
pertama, kata etika bisa dipakai dalam arti: nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau sesuatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.   Misalnya, jika orang berbicara “etika suku-suku Indian”, “etika Agama Buddha”, “etika Protestan”, maka tidak dimaksudkan sebagai “ilmu”, melainkan arti pertama tadi. Secara singkat arti ini bisa juga dirumuskan sebagai “sitem nilai”, dan boleh dicatat lagi, sistem nilai itu bisa berfungsi dalam hidup perorangan maupun pada taraf sosial.
Kedua, etika berarti  juga kumpulan asas atau nilai moral, yang dimaksud di sini adalah kode etik, seperti “Etika Rumah Sakit Indonesia (1986). Ketiga, etika mempunyai arti  “ilmu tentang yang baik atau buruk”.
            Kata etika sangat dekat maknanya dengan kata moral. Kata moral yang berasal dari kosa kata bahasa Latin (berasal dari kata mos bentuk singular, mores bentuk jamak) yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988) disamakan maknanya dengan kata etika. Jika sekarang kita memandang arti kata moral, perlu kita simpulkan bahwa artinya sama dengan etika menurut arti pertama tadi, yaitu nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau sesuatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Kita mengatakan, misalnya bahwa perbuatan seseorang tidak bermoral. Dengan itu dimaksudkan bahwa kita menganggap orang itu melanggar nilai-nilai dan norma-norma etis yang berlaku dalam masyarakat. Atau kita mengatakan bahwa kelompok pemakai narkotika mempunyai moral yang bejat, artinya mereka berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang tidak baik. Moralitas (dari kata sifat Latin moralis) mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan moral, hanya terdapat nada yang lebih abstrak.
            Kita berbicara tentang moralitas suatu perbuatan, artinya, segi moral suatu perbuatan atau baik buruknya. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik buruk (Berten, 1997:7). Di samping kata moral seperti tersebut di atas, kita masih mendengar atau membaca istilah amoral dan immoral. Menurut K. Berten, kata amoral diartikan sebagai netral dari sudut moral atau tidak mempunyai relevansi etis, sedangkan immoral berarti bertentangan dengan moralitas yang baik. Masih terkait dengan moral dan etika dan etiket. Etiket lebih menekankan pada sopan santun, di samping berarti label.    
            Kata etika berasal dari bahasa yunani “ethos” yang mempunyai banyak arti seperti watak, perasaan, sikap, perilaku, karakter, tatakrama, tatasusila, sopan santun, cara berpikir dan lain-lain. Sementara itu bentuk jamak dari kata “ethos adalah “ta etha” yang berarti adat kebiasaan. Sedangakan moralitas dengan kata asal moral yang memiliki pengertian sama dengan etika berasal dari bahasa Latin “mos” (jamaknya “mores”) yang berarti kebiasaan atau adat. Jadi pengertiaannya sama dengan “ta etha” atau ethos yaitu adat kebiasaan. Dengan latar belakang pengertian yang sama seperti itu, maka sudah zaman dahulu etika dipakai untuk menunjukakan filsafat moral. Etika lalu diartikan sebagai ilmu tenang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan atau sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak atau moral (W.J.S.Purwadarminta, 1966)
            Disamping pengertian termaksud diatas, makna lain mengenaietika dan moralitas dapat pula dijelaskan seperti dibawah ini (ketutRindjin, 2004):
Etika yang mempunyai makna hampir sama dengan moral yaitu kebiasaan atau adat. Dalam hal ini moral mengandung makna berkenaan dengan perbuatan yang baik dan buruk, atau memahami perbedaan antara yang baik dan yang buruk. Disamping itu dikenal pula konsep moralitas, yaitu sistem nilai yang terkandung dalam petuah, nasihat, perintah atau aturan yang diwariskan secara turun tumurun melalui agama kebudayaan, tentang bagaimana manusia harus hidup agar menjadi benar-benar baik.
            Moralitas memberikan manusia petunjuk atau aturan tentang bagaimana harus hidup, bertindak yang baik dan menghindari perilaku yang tidak baik. Moralitas juga bisa diartikan sebagai kualitas perbuatan manusia, sehingga perbuatan seseorang dapat dikatakan baik atau buruk, salah atau benar. Disini dapat dikatakan bahwa moralitas itu bersifat universal dalam arti terlepas dari budaya, suku, agama maupun tingkat perbedaan masyarakatnya.
            Dalam hal ini dikatakan bahwa moralitas itu bersumber dari hati nurani. Sedangkan etika berdasarkan kepada hal-hal diluar dirinya seperti kebiasaan atau norma-norma berlaku dimasyarakat.
1. Pengertian Etika dalam Agama Hindu
            Etika adalah ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak/moral, sebuah refeksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujud dalam sikap dan pola perilaku hidup manusia, baik secara pribadi maupun sebagai kelompok.
            Pengertian etika lebih jauh diuraikan juga dalam kamus besar bahasa indonesia edisi tahun 1988 (bertens,2004) kamus termaksud membedakan tiga makna mengenai etika yaitu :
a.       Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).
b.      Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
c.       Nilai mengenai benar dan salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat.
            Pengertian etika  dalam agama hindu adalah bagaimana menentukan sikap, tingkah laku yang seharusnya dilakukan berdasarkan ajaran agama hindu, yang mana dalam ajaran agama hindu  merupakan ajaran kebenaran, kebaikan atas perintah Tuhan itu sendiri, yang berkaitan dengan sebuah tujuan mulia yaitu untuk mencapai tujuan hidup dalam ajaran agama hindu.(Moksartam jagat hita ya caiti dharma).

2. Etika dan Moralitas Dalam Kerangka Dasar Agama Hindu
            Dalam kerangka agama hindu yaitu terdiri dari : 1) Tattwa atau filsafat agama hindu, 2) Susila atau Etika, dan 3) Upacara atau Ritual Agama Hindu. Dengan demikian etika merupakan salah satu dari ketiga kerangka Agama Hindu, yang merupakan pelaksanaan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari walaupun ketiganya tidak dapat dipisah-pisahkan karena merupakan suatu kesatuan yang utuh.
            Etika adalah pengetahuan tentang kesusilaan. Kesusilaan berbentuk kaidah-kaidah yang berisi larangan-larangan atau suruhan-suruhan untuk berbuat sesuatu. Tentunya etika yang didasari oleh ajaran agama hindu begitu juga moralitas yang merupakan implementasi dari ajaran agama hindu dalam berhubungan dan berhadapan dengan sesama beserta ciptaannya secara harmonis.  
Etika dan moralitas adalah  merupakan salah satu kerangka agama hindu dari tiga kerangka agama hindu yaitu yaitu terdiri dari: filsafat atau tatwa dan upacara dan susila, dengan demikian apa yang baik dan apa yang buruk untuk melaksanakan etika dan moral akan dapat dipahami dengan jelas karena acuan beretika dan pentingnya menjaga moralitas sangat jelas sumber dan referensinya dari sastra-sastra suci di dalam ajaran agama hindu.
 Berdasarkan uraian tersebut di atas, Agama Hindu sangat menekankan kemurnian atau kesucian hati sebagai wujud transformasi diri, karena sesungguhnya akhir dari pendidikan agama adalah perubahan karakter, dari karakter manusia biasa menuju karakter manusia devatà, yakni manusia berkeperibadian mulia (dari manava menuju madhava). Usaha untuk menyucikan diri merupakan langkah menuju kesatuan dengan-Nya, yang berarti juga menumbuhkan kesadaran persaudaraan sejati terhadap semua makhluk ciptaan-Nya, karena dalam pandangan kesatuan ini (advaita) semua makhluk adalah bersaudara (vasudhaivakutumbhakam).
Maharsi Manu peletak dasar hukum yang mesti ditegakkan, dalam mengembangkan pendidikan moralitas baik dalam rumah tangga, di sekolah maupun dalam masayarakat, setiap anggota masyarakat hendaknya dapat merealisasikan 10 jenis pelaksanaan Dharma, yaitu:   “Sepuluh macam bentuk pelaksananan Dharma hendaknya dilaksanakan oleh seseorang, yaitu: (1). Dhritih (merasa puas, bersyukur atas apa yang diperoleh), (2). Ksama (mampu dan mau memberi maaf), (3). Dama (rendah hati) (4). Asteyam (tidak mencuri/mengambil milik orang lain). (5). Saucam (hidup suci), (6). Indriyangraha (mengendalikan nafsu indria), (7). Dhìh (mengembangkan intuisi dan kecerdasan),   (8). Vidya (mencari & menambah ilmu pengetahuan), (9). Satyam (senantiasa hidup jujur) dan (10). Akrodha (mampu mengendalikan emosi/ kemarahan)”.  Manavadharmasastra VI.92.
3. Etika Sebagai Aturan Tingkah Laku Yang Baik
            Untuk dapat melaksanakan etika sebagai aturan tingkah laku yang baik, dapat dengan menerapkan ajaran-ajaran Hindu seperti : a) catur marga yaitu empat jalan kesempurnaan hidup, b) Tri kaya Parisudha yaitu tiga perilaku yang baik, c) Panca yama brata yaitu lima cara pengendalian diri, d) dasa yama brata yaitu sepuluh cara pengendalian diri, e) Panca niyama brata yaitu lima cara pengendalian diri lanjutan, f) dasa niyama brata yaitu sepuluh cara pengendalian diri lanjutan, g) dasa dharma yaitu sepuluh perbuatan baik berdasarkan agama h) catur purusa artha yaitu empat cara untuk memenuhi hidup, i) catur paramita yaitu empat berbuat luhur, j) tri hita karana yaitu tiga cara mencapai kebahagiaan hidup, k) asta brata yaitu delapan cara pengendalian dan mengikuti sifat-sifat para dewa.(Suhardana, 2006 : 22)
            Etika sebagai aturan tingkah laku yang baik adalah merupakan aturan-aturan yang harus diterapkan dalam hal melakukan sesuatu sehingga dapat berguna baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, oleh karena etika dapat memberikan pelajaran tentang tingkah lalu manusia bukan saja untuk menentukan kebenaran, tetapi juga memahami kebaikan atas perilaku manusia.
            Menerapkan konsepsi berlandaskan hukum sebab akibat karena perbuatan yang baik akan selalu menghasilkan pahala yang baik dan demikian sebaliknya. Konsepsi ini merupakan  landasan bagi pengendalian diri dan dasar penting bagi pembinaan moral dalam berbagai segi kehidupan, sebagai aturan tingkah laku yang baik seharusnya terus dikembangkan dan dijalankan sehingga tercapai tujuan utama.
Lebih jauh dalam pergaulan hidup bermasyarakat, seseorang hendaknya dapat merealisasikan/mengaktualisasikan 10 (sepuluh) prinsip hidup, yaitu.
1)      Cinta dan bhakti kepada tanah air, tumpah darah tempat kita dilahirkan, jangan membenci atau merugikan tanah air sendiri dan tanah air orang lain.
2)      Hormati semua agama dengan rasa hormat yang sama, setiap agama adalah jalan menuju Tuhan Yang Maha Esa.
3)      Cintai semua orang tanpa membeda-bedakan, karena semua manusia adalah satu komunitas yang tunggal.
4)      Pelihara kebersihan dan ketentraman rumah tangga dan lingkungan, maka kesehatan dan kebahagiaan masyarakat akan dapat diwujudnyatakan.
5)      Jadilah dermawan, jangan buat sesuatu yang menjadikan seseorang menjadi pengemis. Bantulah orang yang memerlukan sesuai kebutuhan dan menjadikan mereka mandiri.
6)      Jangan menggoda seseorang dengan menawarkan/memberi hadiah atau merendahkan diri dengan menerima suap.
7)      Jangan membenci, dengki, irihati dengan alasan apapun.
8)      Jangan bergantung pada siapapun, usahakan untuk melaksanakan sendiri sebanyak mungkin, walaupun seseorang kaya raya dan memiliki banyak pembantu, tetapi pelayanan masyarakat (seva) agar dilaksanakan langsung sendiri. Jadilah pelayan bagi diri sendiri dan orang lain.
9)      Jangan sekali-kali melanggar hukum yang berlaku di negara kita. Patuhilah peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jadilah warga negara teladan.
10)  Cintailah Tuhan Yang Maha Esa, dan segenap ciptaan-Nya dan jauhilah dosa dan perbuatan buruk.






                                                           BAB III                                      
GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN
A.Peranan Filsafat Samkhya dan Niaya dalam Pendidikan Hindu
Peranan filsafat samkhya dan Niaya dalam pendidikan Hindu adalah sangat penting artinya karena dengan aspek ontologis, epistemologis dan aksiologis dapatlah difamahami segala sesuatunya melalui pemikiran-pemikiran  yang bersifat kritis, Rasional, Radikal, Intergral, Reflektif, Logis, Sistimatis dan Universal.
            Filsafat memiliki obyek material yaitu seluruh fenomena kehidupan manusia dan obyek formal yaitu fokus perhatian atau sudut pandang terhadap fenomena kehidupan manusia. Dengan aspek Epistemologi Filsafat yang mengkaji keberadaan sesuatu tentang sumber dan kebenaran pengetahuan (episteme), batas-batas pengetahuan, struktur pengetahuan. Seperti Logika, Kebenaran dan Filsafat Ilmu. Aspek Ontologi yaitu filasafat yang mengkaji “keberadaan sesuatu” baik kongkrit (fisis), abstrak (metafisis)  sejauh sesuatu itu “ADA”). Seperti :1)Fisika (alam fisik), 2) Biologi (manusia, binatang, tumbuhan) dan 3) Metafisika (atman, Brahman, waktu). Aspek Aksiologi yaitu filsafat yang berbicara masalah nilai-nilai atau norma-norma yang ada pada manusia, berkaitan dengan “baik” dan “buruk”; “indah” dan “tidak indah”.
Filsafat dengan memiliki metode : 1) Kritis reflektif yaitu melihat secara mendalam suatu obyek/permasalahan dan kemudian merenungkannya kembali secara mendalam pula, 2) Dialektik yaitu cara memahami obyek/permasalahan dengan cara dialog, berkomunikasi secara dua arah secara mendalam. Dan 3) Metoda Hermeneutika (penafsiran) : menafsirkan simbol-simbol (mitos, upacara, teks dan lain lainya) untuk mendapatkan makna yang hakiki.
Dengan demikian kegunaan filsafat secara umum :1)Mengajak orang lain untuk hidup secara arif dan bijaksana yang berwawasan luas dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. 2)Merencanakan kehidupan secara lebih kreatif, berdasarkan ide-ide, pandangan hidup yang beragam, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. 3)Membentuk sikap kritis dalam kehidupan sehari-hari dan akademis.
            Filsafat Samkhya Pendirinya adalah Sri Kapila Muni, Samkhya artinya “jumlah”, bahwa ada 25 unsur yang membentuk alam semesta. Menurut pemikiran Samkhya : Alam semesta berawal dari Prakerti yang berkembang menghasilkan sesuatu yang lain. Samkhya tidak setuju bahwa, suatu benda dapat dihasilkan dari ketiadaan. Dua prinsip tanpa awal yaitu Purusa dan Prakerti, tanpa akhir dan tak terbatas. Dan bertujuan yaitu menghilangkan tiga macam penderitaan yaitu : 1) Penderitaan muncul dari dalam diri kita sendiri (adhyatmika) seperti : kelemahan organ tubuh sendiri  contohnya demam, cacar, campak dan lain lainya. 2) Penderitaan yang muncul karena bencana alam (adhidaivika) contohnya banjir, longsor, gempa dan lain lainya. Dan 3) Penderitaan yang disebabkan oleh sesuatu yang berasal dari luar dirinya (adhibautika) contohnya disebabkan gigitan binatang, kalajengking, ular dan lain lainnya.
Pemikiran samkhya masalah lahir mati dan moksa : Lahir-Mati terjadi oleh karena kita tidak mampu membedakan (awiweka) antara Purusa dan Prakerti. Moksa (mukti, pembebasan) tercapai kalau kita mampu membedakan Purusa dan Prakerti. Karena baik Purusa maupun Prakerti adalah nyata (sat), tapi berbeda. Tujuan “hidup ini” adalah untuk merencanakan “hidup yang akan datang, sampai akhirnya mencapai “pembebasan” atau Moksa “Kematian” adalah sebuah “inisiasi terbesar” bagi manusia Atman berkali-kali mendapatkan badan baru, sampai ia menyadari siapa dirinya yang sejati. Seperti halnya, mengganti baju kita yang robek dengan baju yang baru.
Purusa adalah : 1) Tak terikat (asanga), merupakan kesadaran yang meresapi segala sesuatu. 2) Abadi. 3) Sadar. 4) Pasif. Sedangkan Prakerti adalah : 1) Pra artinya sebelum, Kri artinya membuat, Prakerti artinya yang mula-mula yang mendahului apa yang dibuat. 2) Merupakan sumber dari alam semesta. 3) Semua akibat ditemukan padanya. 4)Tersusun dari azas materi dan azas kejiwaan. 5) Aktif, sebagai pelaku, penikmat. 6) Dipengaruhi oleh 3 Guna (satwam,rajas,tamas). 6) Kekal, meresapi segalanya. 7) Penyebab yang tak disebabkan. 8) Tidak bergerak sendiri, tapi digerakkan oleh Guna.
Hubungan purusa dan prakerti :1) Seperti hubungan antara orang lumpuh (purusa) dengan orang buta (prakerti). 2) Pertemuan Purusa dan Prakerti menyebabkan ketidakseimbangan 3 Guna (energi). 3) Ketidak seimbangan energi menyebabkan dimulainya evolusi Prakerti (perwujudan). 4) Pertama-tama muncul : Kecerdasan Utama (Mahat). 5) Dari Mahat muncul Micro Cosmos (manusia) dan Macro Cosmos (alam semesta).
Evolusi samkhya melibatkan 25 Katagori ini berdasarkan kriteria Produsen dan Produk, dibagi 4 kelompok yaitu : Pertama : Dua Produsen Murni (Prakerti) yaitu: Purusa (non produsen dan non produk) dan prakrti (produsen murni non produk). Kedua yaitu : Tujuh Produsen-Produk (Prakerti-Wikerti). Terdiri dari : Buddhi, Ahamkara, dan panca tan matra yaitu: Sari Suara, Sari Raba, Sari Warna, Sari Rasa dan Sari Bau. Ketiga yaitu : Enam belas Produk (Wikerti). Pengelihatan, Pendengaran, Penciuman,  Perasa, Peraba disebut (Panca Jnana Indriya), Daya berbicara, Daya memegang, Daya berjalan, Daya buang kotoran, dan Daya mengeluarkan benih. (Panca Karma Indriya). Ether, Udara, Api, Air,dan Tanah. (Panca Maha Bhuta). Dan Pikiran (Manas). Sedangkan keempat adalah : Non Produsen-Non Produk (Anubhayarupa) adalah merupakan bekerjanya panca indriya, seperti : 1) Intelek + Keakuan + Pikiran + Mata melihat benda,   2) Intelek + Keakuan + Pikiran + Lidah mengecap seperti  Manis, pahit, asam dan rasa lainnya, 3) Intelek + Keakuan + Pikiran + Kulit merasakan dengan rabaan seperti  Lembut halus kasar dan lainnya, 4) Intelek + Keakuan + Pikiran + Hidung penciuman  seperti bau Harum. 5). Intelek + Keakuan + Pikiran + Kuping mendengar seperti suara merdu, dan lainnya.
            Nyaya sastra atau Nyaya Darsana secara umum juga dikenal sebagai Tarka Vada atau diskusi dan perdebatan tentang suatu darsana atau pandangan filsafat, karena nyaya mengandung tarka vidya (ilmu perdebatan) dan vada-vidya (ilmu diskusi). Sistem filsafat Nyaya membicarakan bagian umum darsana (=filsafat) dan metoda (cara) untuk melakukan pengamatan yang kritis. Sistem ini timbul karena adaya pembicaraan yang dilakukan oleh para rsi atau pemikir, dalam usahamereka mencari arti yang benar dari ayat-ayatatau sloka-sloka veda sruti, guna dipakai dalam pengembangan yajna. (Maswinara, 1999 : 125)
Pendirinya :  Rsi Gautama atau Aksapada. Filsafat yang mengedepankan analisa logis, logika formal, epistemologi dan teori kebenaran. Yang bertujuan pengujian kritis dari obyek ilmu pengetahuan dengan mempergunakan kaidah-kaidah pembuktian logika.
            Filsafat nyaya ini dapat disebut sebagai sistem yang relistis (nyata).Pengetahuan itu dapat disebut “benar” atau “salah”, tergantung dari pada alat-alat yang dipergunakan untuk mendapatkan pengetahuan tersebut, dimana secara sistematik semua pengetahuan menyatakan 4 keadaan :1) Subyek sipengamat (Pramata), 2) Obyek yang diamati (Prameya), 3) keadaan hasil dari pengamatan (Pramiti), dan 4) Cara untuk mengamati atau mengetahui (Pramana).
Prameya obyek yang diamati, dengan nama pengetahuan yang dapat diperoleh, ada 12 banyaknya yaitu: 1) Roh (atman), 2) Badan (sarira), 3) Indriya, 4) Obyek  Indriya (artha), 5) Kecerdasan(buddhi), 6) Pikiran (manas), 7) Aktifitas (prawrtti), 8)  Kesalahan (dosa), 9) Perpindahan (pretyabhawa), 10) Buah atau hasil (phala), 11) Penderitaan (duhkha) dan 12) Pembebasan (apawarga).
Nyaya darsana mendiskusikan kebenaran mendasar melalui dari 4 cara pengamatan, yaitu :1) Pratyaksa Pramana (pengamatan indra-indra), 2) Anumana Pramana (penarikan kesimpulan), 3) Upamana (perbandingan), dan 4) Sabda (kesaksian).
Pada pratyaksa pramana atau pengamatan secara langsung dimana hubungan ini sangat nyata, karena setiap indra di jadikan dari salah satu unsur semesta yang jumlahnya lima buah (panca mahabhuta), sebagaimana dunia (alam semesta) ini yang juga terdiri dari lima unsur yaitu akasa, vayu, teja, apah dan prthivi atau ether, angin (udara), api (sinar), air dan tanah : dimana masing-masing unsur halusnya (tanmatra) adalah suara (bunyi), sentuhan (raba), rupa (warna), rasa (kecap) dan bau (penciuman).
Proses penyimpulan dalam anumana pramana, melalui lima tahapan (avayava), yaitu: Pertama Pratijna, memperkenalkan obyek permasalahan tentang kebenaran pengamatan, misalnya gunung itu berapi. Kedua Hetu, penyimpulan, dimana dalam hal ini adalah terlihatnya asap yang keluar dari gunung tersebut. Ketiga Udaharana, menghubungkan dengan aturan umum tentang masalah, segala yang berasap tentu ada apinya. Keempat pada kenyataannya yang dilihat bahwa jelas gunung berapi. Kelima nigamana berupa penyimpulan yang benar dan pasti dari seluruh proses sebelumnya, dengan pernyataan bahwa gunung tersebut berapi.
Upamana pramana merupakan cara pengamatan dengan membandingkan kesamaan-kesamaan yang mungkin terjadi atau terdapat didalam obyek yang diamati dengan obyek yang sudah ada atau pernah diketahui.
Sabda pramana adalah pengetahuan yang diperoleh melalui kesaksian (sabda) dari seseorang yang dapat dipercaya kata-katanya atau pun dari naskah-naskah yang diakui kebenarannya. Ada dua jenis kesaksian yaitu: 1) laukika sabda bentuk kesaksian yang berasal dari orang yang dapat dipercaya dan kesaksian dapat diterima menurut logika atau akal sehat. 2) vaidika sabda bentuk kesaksian yang didasarkan pada naskah-naskah suci veda sruti, yang merupakan sabda Brahman yang tak mungkin salah. 
Nyaya darsana ada enam belas padartha/katagori : 1) Cara mengetahui yang benar, 2) Obyek pengetahuan Yang benar, 3) Kebimbangan, 4) Tujuan, 5) Contoh yang dikenal, 6) Argumentasi. 7) Penegakan ajaran, 8)Anggota-anggota, 9) Penentuan, 10) Diskusi, 11) Perbantahan, 12) Pengecaman, 13) Kecurangan, 14) Berdalih, 15) Kesia-siaan, 16) Kesempatan mencela.
Dua jenis Pratyaksa : 1) Nirvikalpa Pratyaksa : Pengamatan obyek sebagai obyek dan 2) Savikalpa Pratyaksa : Pengamatan suatu obyek, lengkap dengan sifat-sifatnya. Ada keterbatasan Paratyaksa yaitu Tidak selalu benar, dapat salah. Dan Dapat ragu-ragu. Dan Khayalan. Contoh : Gulungan tali dikira ular disaat kegelapan karena keterbatasan kemampuan penglihatan, atau Semua ini disebabkan kerena keterbatasan dari kemampuan alat-alat persepsi manusia.
Kesimpulan filsafat nyaya adalah :1) Filsafat Nyaya adalah filsafat yang berbicara bidang filsafat Epistemologi diantara tiga bidang lainnya (Axiologi, Ontologi, Epistemologi). 2) Filsafat Nyaya merupakan filsafat awal yang membuka kita kepada pemikiran filsafat India yang lainnya. 3)Tanpa filsafat Nyaya kita tidak akan dapat memahami filsafat yang terkandung dalam Brahma Sutra dan filasafat Vedanta lainnya.
Kegunaan filsafat adalah :1) Mengajak orang lain untuk hidup secara arif dan bijaksana yang berwawasan luas dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. 2) Merencanakan kehidupan secara lebih kreatif, berdasarkan ide-ide, pandangan hidup yang beragam, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. 3) Membentuk sikap kritis dalam kehidupan sehari-hari dan akademis.
B. Pendidikan Teologi Hindu
Sebagai sebuah ilmu teologi dirumuskan sebagai usaha sistematis untuk menampilkan, menafsirkan, dan membenarkan kepercayaan pada dewa-dewa dan atau Tuhan dengan cara yang konsisten dan bermakna (Liputo, 1995 :342) ; Bagus, 2002 : 1091). William memandang teologi sebagai suatu disiplin yang bertumpu pada suatu kebenaran yang diwahyukan dan tidak tergantung pada filsafat maupun ilmu. Objeknya adalah Tuhan; eksistensi-Nya esensi-Nya dan aktivitas-Nya (Bagus, 2002 : 1091-1092). Pandangan lain menyatakan teologi sebagai ilmu yang mengkaji hakikat Tuhan dan hubungan Tuhan dengan manusia dan alam semesta (Lupito, 1995 : 341)
Berkaitan dengan teologi dan tealogi, dikenal pula spiritualisme, yakni paham yang meyakini bahwa di balik jagad kasar ini terdapat rohani yang mengatasi dan mengaturnya. Manifestasi spiritualisme adalah agama. Keyakinan manusia terhadap yang rohani terungkap secara batiniah, tampak dalam pola-pola perasaan, sistem pemikiran (keyakinan religius, ajaran agama, mitos, dan dogma) sedang manifestasi lahiriah dalam sistem kelakuan sosial (ritual-ritual) dan organisasi dengan undang-undang dan jabatan-jabatan tertentu (Syukur dalam Adian, 2001:51).
           Ada tiga alasan bagi teologi maupun studi-studi keagamaan tentang pentingnya model pengetahuan yaitu :
           Pertama,  Konsep-konsep yang begitu penting bagi teologi hanyalah salah satu dari delapan elemen yang dikemukakan dalam model ini. Studi-studi keagamaan berkaitan dengan kedelapan elemen; (1) komunitas keagamaan (2) ritual, (3) etika, (4) keterlibatan sosial dan politik (5) kitab suci dan mite, (6) konsep-konsep, (7) estetika, dan (8) spiritualitas, tanpa melebihkan salah satunya. Terlebih lagi studi-studi keagamaan bersifat lintas budaya dan tidak ada kepentingan tertentu untuk mengembangkan salah satu tradisi.
Kedua, Model ini membahas gagasan transendensi, fokus yang memediasi dan keyakinan atau intensinalitas yang juga terdapat dalam teologi. Bagi tradisi keagamaan tertentu, keyakinan adalah keyakinan terhadap transendensi mereka sendiri, melalui fokus yang memediasikan yang begitu penting, dan ini tampak jelas dalam teologi-teologi tertentu. Namun, selain pengertian ini, model ini  dapat menjelaskan struktur umum dan makna dari tradisi keagamaan tertentu, ia memiliki asumsi-asumsi dasar yakni kepentingan umum (general interest). Model ini juga dapat menunjukkan bahwa agama-agama secara radikal berbeda jika kita membandingkannya secara terbuka melalui model ini. Di sisi lain, model ini juga dapat dipahami guna menunjukkan arah keyakinan, dan transendensi sebagai kategori teologis universal dan oleh karenanya juga arah teologi agama general.
Ketiga, Meskipun teologi memiliki suatu kecenderungan terhadap formulasi doktrinal, model ini menunjukkan bahwa formulasi-formulasi itu bisa jadi luas dan beragam. Teologi memberi perhatian pada delapan elemen terkait dan dalam tahun-tahun terakhir perhatian ini berkembang dalam tradisi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kita melihat meningkatnya minat pada teologi komunitas­-komunitas keagamaan, teologi skriptural, teologi doktrinal, teologi seni, dan teologi ritual dan liturgi, etika teologi, teologi praksis sosial dan politis, dan teologi spiritual.
Singkatnya, meskipun batas-batas dan perhatian teologi dan studi-studi keagamaan itu terpisah, namun bukan pemisahan yang mendasar. Keduanya, saling berjalin dengan cara seperti yang telah disampaikan yaitu kaitannya dengan model-model pengetahuan barat dan dengan suatu model agama general.
Globalisasi telah menimbulkan semakin tingginya intensitas pergulatan antara nilai-nilai budaya lokal dan global. Sistem nilai budaya lokal yang selama ini digunakan sebagai acuan oleh masyarakat tidak jarang mengalami perubahan karena pengaruh nilai-nilai budaya global, terutama dengan adanya kemajuan teknologi informasi mempercepat proses perubahan tersebut. Proses globalisasi telah pula merambah kehidupan agama yang serba sakral menjadi sekuler, yang dapat menimbulkan ketegangan bagi umat beragama. Nilai-nilai yang mapan selama ini telah mengalami perubahan yang pada gilirannya menimbulkan keresahan psikologis dan krisis identitas di kalangan masyarakat (Ardika, 2005:18).
Agama Hindu sesuai dengan namanya yakni Sanatana Dharma, agama yang abadi atau berlaku sepanjang jaman benar-benar menjadi pedoman, suluh penerang yang memberikan kebahagiaan kepada umatnya. Kondisi masyarakat dewasa ini nampaknya persis sama dengan penggambaran yang terdapat dalam Visnu Purana (IV. 24. 21-22), sebagai berikut :                                             

“Masyarakat hancur karena  harta  benda  hanya berfungsi meningkatkan status sosial/kemewahan bagi seseorang, materi menjadi dasar kehidupan kepuasan  hidup  hanyalah  kenikmatan  seks antara laki-laki dan wanita, dusta menjadi sumber kesuksesan hidup. Seks merupakan satu-satunya sumber  kenikmatan  dan  kesalahan  merupakan  hiasan  bagi  kehidupan spiritual.

              Begitu juga yang dijelaskan, di dalam kitab Vanaparva, Mahabharata (CLXXXVIII.32-33, 42-43, 48-49, 51, 53, 55, 60-61, 63) dijumpai keterangan serupa dapat kita jumpai sebagai berikut.

“Pada jaman Kaliyuga para Brahmana tidak lagi melakukan upacara yajña dan mempelajari kitab suci Veda. Mereka meninggalkan tongkat dan kulit  menjangannya  dan  menjadi  pemakan segala (sarvabhàkûa). Para Brahmana  berhenti  melaksanakan pemujaan dan para Sudra menggantikan hal itu (32-33)”.

“Kelaparan membinasakan kehidupan manusia, jalan-jalan raya dipenuhi oleh wanita yang reputasinya jelek. Setiap perempuan bertengkar/bermusuhan dengan suaminya dan tidak memiliki sopan santun (42)”

 “Para Brahmana diliputi oleh dosa dengan membunuh para dwijati dan menerima sedekah dari para pemimpin yang tidak jujur (43)”

“Pada  jaman  itu orang - orang bertentangan hidupnya dengan nilai-nilai moralitas, mereka kecanduan dengan minuman keras, mereka melakukan penyiksaan walaupun di tempat tidur gurunya. Mereka sangat terikat oleh keduniawian. Mereka hanya mencari kepuasan duniawi terutama daging dan darah (48)”

“Pada jaman itu ashram-ashram para pertapa dipenuhi oleh orang-orang berdosa dan orang-orang angkara murka yang malang yang selalu mengabdikan hidupnya pada ketergantungan duniawi (49)”

“Pada jaman itu orang-orang tidak suci baik dalam pikiran dan perbuatannya karena mereka  iri  hati  dan  dengki.  Bumi  ini dipenuhi oleh orang-orang yang penuh dosa dan tidak bermoral (51)”.                   

 “Pada jaman Kaliyuga para pedagang melakukan berbagai bentuk penipuan, menjual barang - barangnya  dengan  ukuran dan timbangan yang tidak benar (53)”.
                     
“Pada jaman Kaliyuga orang-orang budiman hidupnya miskin dan umurnya pendek. Orang-orang yang penuh dosa menjadi kaya raya dan memiliki umur panjang (55)”.

 “Gadis-gadis berumur 7 dan 8 tahun sudah melahirkan anak-anak dan anak-anak laki berumur 10 atau 12 tahun telah menjadi ayah (60)”.

 “Orang-orang ketika berumur 16 tahun sudah jompo dan segera setelah itu ajalpun menjemput (61)”

 “Para wanita mudah celaka,  melakukan perbuatan yang tidak pantas dan melakukan  perbuatan  yang  tidak  terpuji,  menipu suami-suami mereka yang berbudi pekerti luhur, melupakan mereka bahkan berhubungan dengan pelayannya dan atau dengan binatang sekalipun (63)”
                                                                                   
Lebih jauh di dalam kakawin berbahasa Jawa Kuno, Nìtiúàstra yang rupanya merupakan saduran dari Cànakya Nìtisàstra (IV.7) dalam bahasa Sanskerta dinyatakan sebagai berikut.
  
 “Sesungguhnya bila jaman Kali datang pada akhir yuga, hanya kekayaan /harta benda yang sangat dihargai. Tidak perlu dikatakan  lagi,  bahwa orang yang saleh, orang-orang yang pandai akan mengabdi kepada orang orang yang kaya. Semua ajaran rahasia kepanditaan lenyap, keluarga-keluarga dan para pemimpin yang bijaksana menjadi hina papa. Anak-anak menipu dan mengumpat  orang  tuanya. Orang-orang  hina  akan menjadi  saudagar kaya (memperoleh  kekayaan  dengan  jalan curang), mendapat kemuliaan dan kepandaian”.     

Bila nilai-nilai moralitas tidak diindahkan lagi oleh orang-perorangan (individu) maupun oleh masyarakat, maka ciri-ciri yang digambarkan pada jaman Kaliyuga itu merupakan kebenaran. Nilai-nilai moralitas semestinya menjadi pegangan hidup setiap orang, namun karena trend jaman Kali lebih menekankan pleasure oriented , maka hal itu akan mudah ditinggalkan.

Dengan demikian perlulah pengembangan budhi pekerti yang akan mencegah segala sesuatunya dapat membawa pengerusak atau kehancuran kekacauan atau ketidak teraturan, yang akibat dari keyakinan untuk berperilaku yang tidak diharapkan.
C.    Susila dalam Pendidikan Hindu
Dalam sarasamuscaya sloka 159 disebutkan : sebab triloka ini sekalipun pasti akan kalah dan dikuasai oleh orang yang teguh imannya melaksanakan kesusilaan, karena tidak ada sesuatu yang tidak tercapai oleh orang yang susila (Pudja, 1979 : 89). Landasan susila adalah : 1) Tat Twam Asi berarti Dikau itu, semua mahluk adalah Engkau. 2) Trikaya Parisudha artinya tiga perbuatan yang harus disucikan antara lain : manacika, wacika dan kayika, 3) Catur Paramita artinya empat sifat yang harus dikembangkan seperti : maitri cinta kasih yang universal, karuna : sifat kasih sayang sesama untuk menolong mahluk lain dari kesusahan, mudita : meninbulkan rasa simpati dan ramah tamah, upeksa:mawasdiri. 4) Panca Sraddha yaitu percaya adanya: Brahman, Atman, Karmaphala, Punarbhawa dan Moksa.
Adapun tujuan susila atau etika dan moralitas Agama Hindu : a) Untuk membina agar umat hindu dapat memelihara hubungan baik, hidup rukun dan harmonis dengan keluarganya ataupun dengan orang lain. b) Untuk menghindarkan adanya hukum rimba, dimana yang kuat menindas atau memperalat yang lemah. c) Untuk membina umat hindu dapat menjadi manusia yang baik dan berbudhi luhur. d) Untuk membina agar umat hindu selalu bersikap dan bertingkah laku baik, termasuk selalu berbuat baik dengan siapapun (Suhardana, 2006 : 21)
Demikian pula disebutkan dalam sastra suci “sesungguhnya bahwa apapun tingkah laku ciptaan itu, demikian pula kedudukannya menurut kelahirannya, saya akan sampaikan berikut ini dengan sesungguhnya”. (Pudja, Menawadharmasastra I.42:39)
Ajaran susila memiliki arti: su adalah indah, baik dan sila artinya perbuatan, tingkah laku, jadi susila artinya perbuatan (laksana, tingkah laku) yang baik. Lawan kata susila adalah asusila tingkah laku yang tidak baik (dursila). Susila adalah juga disebut dengan etika hindu, etika sangat dekat maknanya dengan kata moral. Kata moral yang berasal dari kosa kata bahasa Latin (berasal dari kata mos bentuk singular, mores bentuk jamak) yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988) disamakan maknanya dengan kata etika. Jika sekarang kita memandang arti kata moral, perlu kita simpulkan bahwa artinya sama dengan etika menurut arti pertama tadi, yaitu nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau sesuatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Kita mengatakan, misalnya bahwa perbuatan seseorang tidak bermoral. Dengan itu dimaksudkan bahwa kita menganggap orang itu melanggar nilai-nilai dan norma-norma etis yang berlaku dalam masyarakat. Atau kita mengatakan bahwa kelompok pemakai narkotika mempunyai moral yang bejat, artinya mereka berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang tidak baik.
Moralitas (dari kata sifat Latin moralis) mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan moral, hanya terdapat nada yang lebih abstrak. Kita berbicara tentang moralitas suatu perbuatan, artinya, segi moral suatu perbuatan atau baik buruknya. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik buruk (Berten, 1997:7).
Etika dan moralitas dalam pendidikan Hindu adalah hal yang sangat penting karena merupakan aktualisasi konsep ajaran veda yang nyata dalam kehidupan sehari hari. Aneka perubahan budaya sebagai akibat terjadinya kontak belajar budaya antara lain :
(a)    Internalisasi adalah proses penanaman budaya yang menyangkut kepribadian, seperti perasaan, hasrat, nafsu, dan sebagainya.
(b)   Enkulturasi adalah pembudayaan atau lebih tepatnya pemberdayaan yang ke arah positif, misalkan membudayakan tradisi selamatan, gotong royong, sumbangan, dan sebagainya.
(c)    Akulturasi  adalah kontak budaya satu dengan yang lain sehingga terjadi penyatuan budaya.
(d)   Asimilasi adalah campuran kental dari dua budaya atau lebih, misalkan saja  terjadinya sinkritisme antara Hindu-Jawa menjadi kaum abangan.
(e)    Invensi adalah temuan-temuan baru budaya sehingga menghasilkan inovasi (pembaharuan) yang meyakinkan, dan
(f)     Inovasi  adalah langkah strategis untuk memperbaharui budaya tertentu agar lebih fungsional bagi pendukungnya, inovasi juga sering disebut invention of tradition.    
Sejalan dengan tujuan agama adalah untuk mencapai “Jagadhita” dan “Moksa” yang diformulasikan dalam sebuah kalimat sanskerta sebagai berikut: “Àtmano Moksartham Jagadhitàya ca” maka tujuan pendidikan Hindu pada hakikatnya adalah sama dengan formulasi tujuan agama tersebut di atas, yakni untuk mencapai “Jagadhita” (kesejahtraan dan kebahagiaan di dunia ini) dan “Mokûa” (kebahagiaan abadi, bersatunya Àtmà dengan Brahman. Di Indonesia, tujuan pendidikan dinyatakan untuk mengantarkan seorang anak didik menuju tingkat kedewasaan. Kata dewasa berasal dari kata “devasya” (bahasa Sanskerta) yang berarti seseorang memiliki sifat-sifat dewa. Di dalam Bhagavadgìtà sifat-sifat atau kecenderungan seperti sifat-sifat dewa disebut “Daivi-Sampat”, yaitu semua sifat dan prilaku yang mulia. Swami Sivananda dalam All About Hinduism menjelaskan tujuan pendidikan adalah untuk mengantarkan menuju jalan yang benar dan mewujudkan kebajikan, yang dapat memperbaiki karakter seseorang (menuju karakter yang mulia) yang dapat menolong seseorang mencapai kebebasan, kesempurnaan dan pengetahuan tentang sang Diri (Àtmà), dan dengan demikian seseorang akan dapat hidup dengan kejujuran, hal-hal yang mengarahkan seperti tersebut adalah merupakan pendidikan yang sejati (1988: 259).
Sejalan dengan penjelasan di atas, maka secara sederhana dapat dikatakan bahwa latar belakang falsafah dalam pendidikan menurut Veda, adalah untuk menjadikan “manava” (umat manusia) meningkat kualitas hidup dan kehidupannya menjadi para “madhava”, yakni umat manusia yang memiliki kelembutan, kasih sayang dan kearifan atau kebijaksanaan yang tinggi, tidak sebaliknya “manava” jatuh menjadi “danava-danava”, yakni manusia dengan karakter raksasa, rakus, dengki dan berbagai sifat buruk lainnya. Di dalam Taittirìya Upaniûad (7) dapat ditemukan tentang kewajiban seorang siswa untuk dengan sungguh-sungguh menempa diri, berbicara benar/membicarakan kebenaran, rajin belajar dan mengikuti ajaran Dharma serta tidak lalai dan membuang waktu (satyavada-dharmacara-svadhyaya-na pramada).
Dengan memahami hakikat dan tujuan pendidikan menurut ajaran suci Veda yang merupakan sabda Tuhan Yang Maha Esa, kiranya kita dapat memetik nilai-nilai yang terkandung dalam sistem pendidikan tersebut, mengingat ajaran suci Veda bersifat “anadi-ananta-nirvigraha” yakni tidak berawal-tidak berakhir, tidak berubah, abadi dan dapat berlaku sepanjang masa. Dalam Konsepsi Desa, Kala, dan Patra, yaitu :  manusia yang berintikan penyesuaian atau keselarasan serta dapat menerima perbedaan dan persatuan sesuai dengan motto Bhineka Tunggal Ika. Konsepsi ini memberikan landasan yang luwes dalam komunikasi ke dalam maupun ke luar, sepanjang tidak menyimpang dari essensinya.Namun nama yang paling agung yang pernah diberikan oleh manusia pada Tuhan adalah Kebenaran. Kebenaran adalah buah dari kesadaran; oleh karena itu carilah di dalam jiwa.
Dalam hubungan ini, dari perspektif Hindu diketengahkan model pendidikan agama yang inklusif yang diajarkan oleh Sri Sathya Narayana (23-11-2003), seorang yogi besar dewasa ini,  seorang guru spiritual yang menekankan kembali betapa pentingnya 5 (lima) dasar nilai-nilai kemanusiaan, yang terdiri dari:
1)      Satya: kebenaran (truth), seseorang hendaknya berpegang teguh kepada ajaran agama yang dianutnya.
2)      Dharma: tindakan yang benar (right conduct), seseorang hendaknya senantiasa berbuat baik dan benar.
3)      Prema: cinta kasih (love), seseorang hendaknya senantiasa mengembangkan cinta kasih kepada semua makhluk dan alam semesta ciptaan-Nya.
4)      Shanti: kedamaian (peace), seseorang hendaknya dapat mewujudkan kedamaian hati dan membuat suasana sejuk terhadap lingkungannya.
5)      Ahimsa: tanpa kekerasan (non violence), seseorang hendaknya tidak melakukan tindakan kekerasan, tidak menyiksa apalagi sampai membunuh seseorang.
D. Bentuk Fungsi Makna Triguna
Walaupun triguna yang tidak dapat diamati dengan indrya, akan tetapi dapat dirasakan, karena adanya suatu yang disimpulkan atas obyek dunia ini merupakan akibat dari padanya (pengaruh dari triguna), maka untuk mendapatkan bentuk fungsi dan makna sebuah sifat ini, dapatlah diuraikan dengan persamaan yang timbul dari yang dihasilkan oleh sifat-sifat tersebut. “Sifat kebaikan mengikat seseorang pada kebahagiaan; nafsu mengikat dirinya pada kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala; dan kebodohan, yang menutupi pengetahuannya mengikat dirinya sendiri” (Prabhupada, 1986:667).
 Dan sifat-sifat ini saling mengalahkan seperti disebutkan : kadang-kadang sifat kebaikan menonjol, dan mengalahkan sifat nafsu dan kebodohan, wahai putra barata. Kadang-kadang sifat nafsu mengalahkan sifat kebaikan dan kebodohan dan pada waktu yang lain kebodohan mengalahkan kebaikan dan nafsu. Dengan demikian selalu ada persaingan kekuasaan. (Bhagavad Gita 14.10) dalam hal ini bila dihubungkan dengan (Bhagavad Gita 17.4) yang mesebutkan : “orang dalam sifat kebaikan menyembah para deva: orang dalam sifat nafsu menyembah raksasa atau orang jahat: orang yang berada dalam sifat kebodohan menyembah hantu-hantu dan roh-roh halus”.(Prabupada, 1986 : 749)
Dengan demikian dapatlah dijelaskan bentuk atau wujud lahiriyahnya dari sifat-sifat ini, yaitu : yang dimaksud deva adalah Tuhan (Brahman), yang dimaksud raksasa (Yaksa) yang dimaksud Hantu dan roh-roh halus adalah identik dengan kegelapan (Avydya). Untuk memberikan gambaran tentang bentuk, fungsi dan makna dari sifat-sifat ini dalam berperilaku  disebutkan Menawadharmasasta XII.37 sebagai berikut :
tetapi yang mempunyai tanda-tanda sifat-sifat kebaikan yang dengan sepenuhnya hatinya ia ingin mengetahuinya, yang ia tidak malu-malu untuk melakukannya dan atas perbuatan mana menyenangkan jasmaninya inilah sifat-sifat sattvam.(Pudja dan sudharta, 1976 :725)

Bentuk Sifat Sattvam adalah suatu prakrti yang merupakan alam kesenangan yang ringan, terang dan bercahaya. Wujudya berupa: kesadaran akan kebajikan yang tanpa cacad (suci nirmala), suci hati, dermawan, jujur, lembut, penuh kasih sayang, tidak gentar, tidak sombong dan tidak pula angkuh, senang mendalami yoga dan ilmu pengetahuan, menguasai indria, melakukan kebaktian, mempelajari kitab-kitab suci, tanpa kekerasan, sifat ringan menimbulkan gerak keatas, angin dan air di udara dan semua bentuk kesenangan seperti kepuasan, kegirangan, bersyukur dan sejenisnya. Bentuk sifat kebaikan manusia yang dapat berguna bagi keselamatan, kesehatan dan juga kelangsungan dari pada perbaikan-perbaikan dalam wujud pelaksanaannya.
Segala perilaku yang mengarah kepada kebaikan adalah berfungsi untuk sebagai kontrol atau keseimbangan, dapat pula untuk meningkatkan kwalitas kearah kebaikan dalam hidup ini. Makna sifat ini adalah tentunya selalu berhubungan dengan kebaikan. Hal inipun akan selalu memberi masukan terhadap keyakinan dalam sifat kebaikan. Maka dapat segera memberitahukan untuk hal-hal yang dalam berperilaku sehari-hari semestinya dilaksanakan, yaitu yang berkaitan dengan kebaikan seperti: kecerdas dalam bertindak, bahkan benar dalam berperilaku (sesuai tuntunan dharma).
Adapun keputusan yang ditimbulkanpun mengarah selalu berbentuk kebajikan, arif, jujur, bijaksana dapat menolong sesama dan ciptaanya, dan selalu membuat  kebahagia, memiliki kelembut dan penuh kasih sayang,  tidak gentar, suci hati, mendalami yoga dan ilmu pengetahuan, dermawan, menguasai indria, melakukan kebaktian, mempelajari kitab-kitab suci, hidup sederhana dan jujur. Tanpa kekerasan, bebas dari kemarahan (emosional), tanpa rasa aku, tenang, tidak suka mamfitnah,  kepada sesama makhluk, sopan, dalam keseimbangan jiwa kuat, suka mengampuni, teguh iman, tidak membenci, bebas dari rasa sombong. Dapat sebagai wujud pengendalian diri dari berperilaku yang jahat.
Menawadharmasasta XII.36 menyebutkan :
Tetapi bila seseorang berkeinginan memperoleh dengan banyak berbuat jasa didunia ini dan tidak merasakan sedih terhadap kegagalan, ketahuilah ini adalah sifat yang dimiliki oleh rajas(Pudja dan Sudharta, 1976 :725)

Bentuk sifat rajas adalah dari nafsu yang berlebihan, merupakan unsur gerak pada ciptaanya, ia selalu bergerak, atau yang menyebabkan mahkluk bergerak, wujudnya seperti: kerakusan aktif, sibuk untuk kebaikan atau untuk kepentingan pribadi, rakus, nafsu loba, sombong, takabur, bengis,  angkuh, membanggakan diri, pemarah, kasar, egoistis dan angkuh dan memandang dirinya yang paling hebat, Hari ini aku dapatkan ini, keinginan ini harus aku capai, itu punyaku dan kekayaan itu, juga akan menjadi milikk rajas menyebabkan api berkobar, angin berhembus, dan pikiran berkeliaran kesana kemari dan sejenisnya dengan itu.
Fungsi sifat rajas yang mengarah ke nafsu, enerjik untuk dapat memotifasi dalam menguasai sesuatu, tentu memerulakan kontrol yang kuat untuk rajas ini. Dalam hal motivasi dari keinginan-keinginan untuk perbaikan sifat rajas sendiri juga diperlukan rajas juga. merupakan hal pokok yang memegang peranan karena sifat ini memberi pengaruh nafsu, bergerak cepat, maunya menang sendiri, dan yang sejenisnya, pentingnya menguasai sifat ini agar dalam keyakinan selalu berhati-hati dapat dengan tepat dilaksanakan. Berbahayanya adalah:  jika orang yang dikuasai oleh rajas, nafsu dan amarah tak terkendali pasti akan melakukan perbuatan jahat ia mampu membakar hati orang yang saleh sampai mengeluarkan kata-kata yang kasar.
Makna sifat rajas adalah nafsu, dengan sifat ini bermakna untuk melakukan sesuatu tidak memperhitungkan baik, buruk, salah ataupun benar yang akan dilakukan. Rajas, sifat aktif, keras, serakah dan sejenisnya dari Rajas timbullah kerakusan tak terhingga, sibuk untuk kebaikan untuk kepentingan pribadi, tidak adanya pertimbangan, kalau kerakusan yang berlebihan, serakah yang berlebihan (Bingung oleh berbagai pikiran/keinginan) bahkan keyakinanpun jika dipengaruhi oleh sifat ini akan sering goyah atau tidak mantap, sehingga berperilaku sering terlibat dalam jaringan keonaran, tersesat atau menyimpang dari dharma (ajaran dalam agama hindu) kepuasan nafsu birahi, mereka jatuh ke dalam neraka jahanam tetapi sebaliknya sifat-sifat keraksasaan akan mempererat belenggu duniawi dan akan menjerumuskannya ke dalam neraka, keserakah, giat dalam berusaha, kegelisahan dan kerinduan merajalela, bilamana Rajas yang dominan, dari adanya tiga sifat salah satu yaitu rajas dengan kecendrungan sifatnya yang mempengaruhi diri manusia, maka sifat manusiapun menjadi rajas. sibuk untuk kebaikan atau untuk kepentingan pribadi, rakus, serakah Rajas dengan kegiatan, pahala dari Rajasika adalah duka nestapa, sedang Serakah, giat dalam berusaha, kegelisahan dan kerinduan merajalela, begitu juga bilamana Rajas makin dominan, kecendrungan atau prilaku manusia, seperti halnya  nafsu loba, sombong,  sifat-sifat yang buruk, seperti : takabur. sombong, bengis, Sifat tekebur, angkuh, membanggakan diri, pemarah, kasar dan bodoh sifat keraksasaan Sifat-sifat keraksasaan sifat egoistis dan angkuh dan memandang dirinya yang paling hebat, Hari ini aku dapatkan ini, keinginan ini harus aku capai, itu punyaku dan kekayaan itu, juga akan menjadi milikku, musuh ini telah terbunuh olehku dan yang lainnya akan aku sembelih pula. Aku adalah raja dan aku yang menik-matinya, aku adalah sempurna, berkuasa dan bahagia sifat-sifat keraksasaan akan makin mempererat belenggu duniawi dan akan menjerumuskannya ke dalam neraka. Bingung oleh berbagai pikiran/keinginan, terlibat makin jauh dalam jaringan keonaran, makin tersesat dalam kepuasan nafsu birahi, tekebur, angkuh, membanggakan diri, pemarah, kasar dan bodoh, semuanya ini adalah tergolong pada orang yang dilahirkan dengan sifat keraksasaan.
Menawadharmasasta XII.35 menyebutkan :
Kalau seseorang setelah mengerjakan, tengah mengerjakan atau lagi tengah akan memulaisuatu perbuatan, merasa malu, mereka yang bijaksana dapat mengetahui sifat-sifat seperti itu sebagai pertanda dari tingkah laku tamas (Pudja dan sudharta, 1976 : 725)

Bentuk sifat tamas adalah suatu unsur sifat yang menyebabkan sesuatu keyakinan dalam berperilaku menjadi pasif, dan bersifat negatif, ia bersifat keras, menentang aktivitas, menahan gerak pikiran, sehingga meninbulkan kebodohan, mengantarkan seseorang pada kebingungan. Karena menentang aktivitas, menyebabkan seseorang menjadi malas, acuh, suka tidur pada waktu, tempat keadaan  yang tidak tepat. 
Fungsi sifat tamas dapat sebagai pengendali nafsu Sifat ini berfungsi untuk menetralisir kondisi tubuh apabila telah mengalami kecapaian atau kelelahan maka fungsi sifat tamas karena berperan untuk tidak menindak lanjuti dari nafsu agar dapat istirahat. Berbahayanya jika tidak dapat menggunakan sifat ini dengan cermat, segala sesuatunya menjadi macet dan tidak mendapatkan solusi apa-apa, hanya menunggu kehancuran saja.
Makna sifat tamas adalah kebodohan, malas, lambat dan sejenisnya sesuai dengan maknanya, dari sifat ini yang malas, lambat, gelap dan selalu diliputi oleh kebingungan  bahkan tidak dapat melakukan tindakan yang benar karena akan menentang kebaikan sehingga lebih mengutamakan diam atau pasif, kecendrungan dari sifat ini selalu melakukan tindakan kesalah. Karena kekacauan dan kebodohan, malas, lamban, gelap dan sejenisnya. pemalas, lamban, kegelapan dan kebodohan sifat ini sering merugikan mahluk lainya yang membutuhkan pertolongan. Akan meninbulkan pula kekacauan dan kerusakan, bahkan kehancuran.






















BAB IV

PENGARUH TRIGUNA TERHADAP TINGKAT SRADDHA

DALAM PENGEMBANGAN BUDHI PEKERTI


Di dalam kamus besar bahasa Indonesia lengkap (KBBI) dijelaskan pengertian pengaruh yaitu “ daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yang berkuasa atau yang berkekuatan gaib, yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang, besar sekali orang tua terhadap anaknya” (Poerwardaminta,1997: TH)

A.    Pengaruh sifat sattvam terhadap tingkat sraddha dalam pengembangan budhi pekerti
Dari Sifat Sattvam (Triguna), tentu memberi pengaruh pemahaman terhadap tingkat keyakinan dalam pengembangan tingkah laku dalam kehidup ini. Sekarang dapatlah dijelaskan sikap-perilaku  yang  memberi sebuah gambaran nyata tentang perilaku yang dibangun oleh sifat sattvam. Sattvam (Triguna) yang merupakan salah satu unsur atau komponen penyusun tak terpisahkan dari sifat alam material yang membentuknya. walaupun  sattvam yang tidak dapat diamati dengan indrya, akan tetapi dapat dirasakan, karena adanya suatu yang disimpulkan atas obyek dunia ini merupakan akibat dari padanya dapat dijelaskan sebagai berikut :
Sraddha adalah keyakinan, melaksanakan sesuatu secara sadar tentu diawali dengan suatu keyakinan. Segala tindakan dan perbuatan yang dilakukan, akan menimbulkan hasil dari perbuatan yang dilakukan itu, ini adalah merupakan konsekwensi logis mengingat adanya rtam (hukum alam yang abadi).  Sehingga apabila perbuatan yang mendapat pengaruh dari sifat sattvam terntu hasilnya adalah kebaikan.
Dengan demikian sifat sattvam yang secara makna berarti kebaikan memang akan lebih mudah untuk meningkatkan budhi pekerti (perilaku baik, luhur dan mulia), dimana sifat sattvam sesuai dengan bentuk fungsi dan maknanya adalah mengandung sifat kebaikan. Ini tentunya semua akan dapat lebih memudahkan mengembangkan budhi pekerti yang luhur. sehingga dengan pengaruh sifat sattvam ini segala perilaku yang berhubungan dengan budhi pekerti cepat terlaksana, karena dilihat dari banyaknya kesamaan bentuk fungsi dan maknanya, yaitu sifat kebaikan untuk mengembangkan perilaku yang baik.
Tingkat keyakinan yang dipengaruhi oleh sifat kebaikan ini, sejalan pula dengan budhi pekerti luhur, sifat baik dan perilaku baik ini akan tumbuh subur dan dapat terpelihara dengan baik pula, sehingga mempercepat dalam proses peningkatan perilaku yang baik, tepat, benar dan luhur menjadi perlahan mencapai tujuan dharma yaitu awighnam mastu berkembang menjadi terlepasnya keterikatan (moksa) dapat dicapai setelah tidak semata-mata hanya sampai pada kebaikan saja, karena dasar dari kebaikan jika berkembang terus menerus meningkat akan menjadi kebaikan menuju kebaikan murni yaitu tentunya dekat dengan kebebasan, apabila kebaikan murni terus berkembang menjadi kebaikan utama (Brahman).
Dalam usaha pengembangan budhi pekerti sifat yang didominasi oleh sattvam memiliki peluang paling besar dalam hal ini. Karena memang memiliki pesamaan-persamaan yang merupakan modal dalam berperilaku mulia, dan dengan menggunakan kecerdasan yang ada. Dalam sastra suci disebutkan sebagai berikut :
Buddhir jnanam asammohah ksama satyam damah samah sukham duhkham bhavo ‘ bhavo bhayam cabhayam eva ca . ( Bhagavad Gita 10.4) dan Ahimsa samata tustis tapo danam yaso’ yasah  bhavanti bhava bhutanam matta eva prthga vidhah. (Bhagavad Gita 10.5)
                                                                                
Artinya :
Kecerdasan, pengetahuan, kebebasan dari keragu-raguan dan khayalan, pengampunan, kejujuran, pengendalian indria-indria, pengendalian pikiran, kebahagiaan dan dukacita, kelahiran, kematian, rasa takut, kebebasan dari rasa takut, tidak melakukan kekerasan, keseimbangan sikap, kepuasan, kesederahanaan, kedermawanan, kemasyuran dan penghinaan-berbagai sifat tersebut dimiliki oleh para makhluk hidup semua diciptakan oleh Aku Sendiri (Prabhupada, 1986 : 493)

Pengaruh sifat sattvam yang memiliki buddhi, kecerdasan yang artinya kuat dalam menganalisis hal-hal yang menurut pandangan sebenarnya, dan mengerti arti sang roh dan apa arti alam, jnanam, memiliki pengetahuan rohani. Asammoha, kebebasan dari keragu-raguan dan khayalan berangsur-angsur tapi pasti. Ksama, memaafkan kesalahan kecil yang dilakukan orang lain. Satyam, kejujuran berarti kenyataan harus disampaikan menurut kedudukan yang sebenarnya,untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Sama, mengekang pikiran untuk tidak memikirkan yang tidak diperlukan. Sukam yaitu kesenangan dan kebahagiaan untuk pengembangan pengetahuan rohani. Bhava, kelahiran dimengerti sebagai hal yang berhubungan dengan badan. Ahimsa, tidak melakukan kekerasan. Danam sifat kedermawanan. Dengan demikian pengaruh sifat sattvam sangatlah mudah untuk dapat mengembangkan dan meningkatkan tingkah laku kearah yang lebih baik.
Kelemahanya dari sifat kebaikan ini adalah masih mengikatkan diri terhadap kebaikan semata, sehingga sering merasa puas dengan kebaikan saja inilah yang menghambatnya untuk pencapaian pembebasan dari keterikatan (moksa).
B.     Pengaruh sifat rajas terhadap tingkat sraddha dalam pengembangan budhi pekerti
Rajas yang memiliki arti nafsu (ajaran suci agama hindu), dari sifat rajas (Triguna), tentu pengaruhnya sifat nafsu ini terhadap tingkat keyakinan dalam pengembangan tingkah laku (budhi pekerti) dalam kehidup ini, dapatlah dijelaskan yaitu : suatu keyakinan bila dipengaruhi oleh sifat nafsu, serakah,  haus akan kekuasaan dan sejenisnya, maka segala perilakunya pun akan selalu dapat  menyebabkan kekacauan ataupun keresahan, karena tidak ada keselarasan, keserasian dan keseimbangan. Karena sifat ini dilahirkan dari keinginan dan hasrat yang tidak terhingga, selalu tidak pernah puas degan kenikmatan indria-indrianya.
Bila sifat nafsu mendominasi, dimana sifat kebaikan dan kebodohan dikalahkan oleh sifat ini maka memberi pengaruh terhadap keyakinan jelas dalam pengembangan tingkah laku pasti menemukan konflik yang berakibat kehancuran. Disebutkan rasa tidak pernah puas oleh apa yang telah didapat dalam hal kenikmatan material,
Dalam sarassamuscaya 106 menyebutkan : Lawan lwirning kakawaca dening krodha, tan wruh juga ya ri salah kenaning ujar, tatan wruh ya ring ulah larang, lawan adharma, wenang umajaraken irikang tan yukti wuwusakena. artinya: Selain dari pada itu, orang yang dikuasai oleh nafsu amarah, tidaklah dia mengetahui salah benarnya perkataan,tidak mengetahui tentang perbuatan terlarang dan yang bertentangan dengan dharma, sanggup mengatakan kata-kata yang tidak benar untuk dikatakan (Pudja, 1979 : 63).
Sraddha adalah pada awalnya kebaikan yaitu berupa keyakinan, dengan mengikuti petunjuk dharma, maka kebahagiaan dapat diwujudkan.  mereka yang selalu mengikuti ajaran-Ku (Brahman) dengan  penuh keyakinan (Sraddha) serta bebas dari keinginan duniawi, juga  akan bebas dari keterikatan, ia yang memiliki keimanan yang mantap (Sraddha) memperoleh ilmu pengetahuan, dapat menguasai panca indrianya, setelah memiliki ilmu pengetahuan dengan segera mencapai kedamaian yang abadi. Akan tetapi jika melaksanakan atau melakukan sesuatu kegiatan yang akan di awali dengan keyakinan yang dipengaruhi nafsu, Bhagavad Gita 16.10) menjelaskan : “Dengan berlindung kepada hawa nafsu yang tidak dapat dipuaskan, terlena dalam rasa sombong dan kemasyuran yang palsu, orang jahat yang berhayal seperti itu selalu bertekad melakukan pekerjaan yang tidak bersih, sebab mereka tertarik kepada hal-hal yang tidak kekal”.(Prabhupada, 1986 : 729)
Dalam berperilaku seperti ini, maka segala perbuatan itu pasti meninbulkan kekacauan. Karena terjadi kekeliruan arah (dharma) pemaksaan kehendak sesuka hati  terus-menerus yang berlebihan, sehingga rasa bangga berlebihan akan hasilnya melupakan penderitaan orang lain. perilaku seperti ini tentu meninbulkan  keonaran, keributan, kekacauan bahkan kerusakan terhadap sesama, lingkungan dan ciptaan yang lainnya.
Oleh karena sifat ini memiliki bentuk, fungsi dan makna yang tidak mengindahkan kebaik, dalam melakukan sesuatu tidak memperhitungkan baik, buruk yang akan dilakukan. rajas sifat nafsu, aktif, keras, serakah dan sejenisnya dari rajas timbullah kerakusan yang semakin aktif, semakin sibuk untuk kebaikan atau untuk kepentingan pribadi, makin rakus dan makin serakah (Bingung oleh berbagai pikiran/keinginan) bahkan keyakinan baikpun jika dipengaruhi oleh sifat ini akan sering goyah atau tidak mantap, sehingga dalam berperilaku sering terlibat dalam jaringan keonaran, tersesat menyimpang semakin jauh dari dharma.
Dalam ketidak puasan nafsu birahi, mereka jatuh ke dalam neraka jahanam, tetapi sebaliknya sifat-sifat keraksasaan akan mempererat belenggu duniawi dan akan menjerumuskannya ke dalam neraka, keserakah, giat dalam berusaha, kegelisahan dan kerinduan merajalela, bilamana Rajas yang dominan kecendrungan yang mempengaruhi diri manusia, maka sifat manusiapun ada yang nampak lebih aktif, sibuk untuk kebaikan atau untuk kepentingan pribadi, rakus, serakah Rajas dengan kegiatan, pahala dari Rajasika adalah duka nestapa, sedang Serakah, giat dalam berusaha, kegelisahan dan kerinduan merajalela, bilamana Rajas semakin dominan, kecendrungan atau prilaku manusia, seperti halnya semakin nafsu loba, semakin sombong,  sifat-sifat yang burukpun semakin hebat, karena memuaskan nafsu seperti api disiram bensin perilaku akan semakin takabur. Semakin sombong, semakin bengis, seperti disebutkan sifat-sifat keraksasaan sifat egoistis dan angkuh dan memandang dirinya yang paling hebat, Hari ini aku dapatkan ini, keinginan ini harus aku capai dengan perilaku walaupun tidak memperhatikan ajaran dharma. Aku adalah raja dan aku yang paling berhak menikmatinya, aku adalah paling sempurna dan berkuasa, sifat-sifat keraksasaan akan mempererat belenggu duniawi dan akan menjerumuskannya ke dalam neraka. Bingung oleh berbagai pikiran/keinginan yang terlalu berlebihan, terlibat dalam jaringan keonaran, tersesat dalam kepuasan nafsu birahi, tekebur, angkuh, membanggakan diri, pemarah, kasar dan bodoh, semuanya ini adalah tergolong pada orang yang dilahirkan menuruti sifat keraksasaan.
Dengan demikian tentu dapat dianalisis tentang Pengaruh sifat rajas terhadap tingkat sraddha dalam pengembangan budhi pekerti sebagai berikut :
1.  Sraddha (keyakinan) yang awalnya adalah kebaikan jika pengaruh rajas dominan, melihat bentuk, fungsi dan makna sifat rajas tentu akan diperoleh kesimpulan sraddha menjadi goyah, (tidak teguh) tidak mantap /labil.
2.  Pegembangan budhi pekerti (tingkah laku yang baik) untuk kearah lebih baik dan menjadi perilaku yang mulia, dengan pengaruh sifat rajas tidak akan pernah dapat dicapai, karena yang didapat adalah perilaku buruk dan sering meninbulkan konflik.
C. Pengaruh sifat tamas terhadap tingkat sraddha dalam pengembangan budhi pekeri
Keberadaan ketiga sifat-sifat yang telah diberikan oleh Hyang Widhi (Tuhan Maha Pencipta) tentu merupakan sebuah anugrah menjadi renungan yang patut disyukuri yang dapat menjadi pedoman dan sekaligus untuk diterapkan sesuai dengan kebutuhan guna mencapai tujuan dalam kehidupan ini, adapun caranya dengan memanfaatkan mengikuti kata hati yang baik (berdasarkan ajaran agama) yang tidak dapat dibohongi dalam keyakinan. Kebenaran hanya ada dalam kenyataan, Karena kenyataan adalah yang sesungguhnya.
Berperilaku dengan keyakinan sifat tamas, haruslah dapat dikendalikan dengan konsep desa kala patra, dimana keyakinan yang dapat dipengaruhi oleh suatu sifat tamas yang ada tidak dapat dihindari oleh siapapun, maka haruslah diketahui  sifat ini adalah sifat kebodohan, lambat, kegelapan dan hendaknya jangan biarkan ia tumbuh subur terhadap perilaku. Karena akan berdampak tidak saja kepada sipelaku juga dapat berakibat terhadap mahluk lainnya.
Makna dari sifat-sifat ini tentunya akan sangat berbeda-beda, karena dari masing-masing sifat dalam tingkat keyakinan dalam melaksanakan sesuatunya tentu akan berbeda sesuai dengan sifat-sifat yang memberi pengaruh. Adapun dari sifat-sifat ini yang merupakan kandungan-kandungan yang di muat oleh masing masing sifat tersebut, maka untuk mewujudkan keyakinan dalam berperilaku sehingga dapat dengan mudah melakukan sesuatu identivikasi sesuai dengan maksud dan tujuannya. dapat dijelaskan sebagai berikut tamas berarti : malas, lamban, kegelap, bodoh dan sejenisnya (avidya).
Dengan demikian tentu dapat dianalisis tentang Pengaruh sifat tamas terhadap tingkat sraddha dalam pengembangan budhi pekerti sebagai berikut :
1.  Sraddha (keyakinan) yang awalnya adalah kebaikan jika pengaruh tamas yang dominan, melihat bentuk, fungsi dan makna sifat tamas tentu akan diperoleh kesimpulan sraddha menjadi bingung, ragu-ragu, malas, lambat, bahkan kegelapan (avydya).
2.  Pegembangan budhi pekerti (tingkah laku yang baik) untuk kearah yang lebih baik dan menjadi perilaku yang mulia, luhur dengan pengaruh sifat tamas tidak akan pernah dapat dicapai, karena yang adalah perilaku yang dipengaruhi oleh sifat tamas sangat menyimpang dari ajaran dharma.
D. Upaya meningkatkan sifat sattvam dalam pengembangan budhi pekerti
Usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan sifat sattvam dalam mengembangkan perilaku yang mulia adalah dengan meningatkan pelaksanaan-pelaksanaan ajaran dharma (Agama Hindu) secara intensif melalui pelatihan kerohanian terus menerus yang berkaitan dengan mengatasi sifat rajas dan sifat tamas yaitu :
1.  Mengatasi sifat-sifat rajas dengan cara sebagai berikut:
a).  Melasanakan Pengendalian diri dengan jalan melakukan : Tapa (pengendalian diri),  Brata (berpantang), Yoga (menghubungkan atman dengan brahman) dan samadhi (meditasi)
b).      Panca yama brata yaitu lima cara pengendalian diri.
                  c).     Dasa yama brata yaitu sepuluh cara pengendalian diri.
                  d).     Panca niyama brata yaitu lima cara pengendalian diri lanjutan.
                  e).     Dasa niyama brata yaitu sepuluh cara pengendalian diri lanjutan.
f).   Menerapkan Tat Twam Asi berarti Dikau itu, semua mahluk adalah Engkau.
g).     Melaksanakan Penyucian pikiran, perkataan dan perbuatan.
h).     Mengembangkan cinta kasih yang universal,  kasih sayang sesama untuk menolong mahluk lain dari kesusahan, meninbulkan rasa simpati dan ramah tamah, mawasdiri. (Catur Paramita).  

  1. Mengatasi sifat-sifat tamas dapat dengan cara memahami dan menghayati sastra suci untuk memberikan motivasi yaitu seperti yang dijelaskan dalam Sarasamuscaya Sloka 2 sebagai berikut :
Manusah sarvabhutesu varttate vai cubhachubhe
Acubhesu samavistam cubhesveva vakarayet

Ri sakwehing sarwa bhuta , iking janma wwang juga wenang gumayakenikang cubhacubhakarma, kuneng panentas akenaring cubhakarma juga ikang acubhakarma phalaning dadi wwang

Artinya:
Di antara semua makhluk, hanya manusia sajalah yang dapat melaksanakan dan membedakan perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk, justru dalam melebur yang buruk menjadi baik itulah tujuan hidup manusia. (Pudja, 1979 : 10)

      Dengan demikian maka usaha yang dapat dilakukan :          
a). Melaksanakan mempelajari sastra-sastra suci (Veda).
b). Dhìh yaitu mengembangkan intuisi dan kecerdasan
c). Memperbayak mengikuti kegiatan kerohanian, seperti menghadiri dan sekaligus berpartisipasi untuk ikut serta memberikan dharmawacana, dharmatula, tirtayatra, dharmagita, dan aktif dalam kegiatan keagamaan lainnya.
d). Melaksanakan Dasa Drarma yaitu: 1)  Bekerja sungguh-sungguh 2) Ksama Mudah memberi maaf. 3) Dama yaitu dapat mengendalikan nafsu. 4) Asetya yaitu Tidak mencuri 5) Sauca yaitu bersih atau suci. 6) indryanigraha yaitu mengendalikan diri. 7)dhira yaitu berani membela yang benar 8)vidya yaitu sanggup belajar. 9) satya yaitu kebenaran kesetiaan dan kejujuran 10) akrodha yaitu tidak marah.
e). Melakukan ajaran Catur marga yaitu empat jalan kesempurnaan hidup.
j). Memahami dan melakukan ajaran Tri hita karana yaitu tiga cara mencapai kebahagiaan hidup.
 k). Mengikuti ajaran asta brata yaitu delapan cara pengendalian dan mengikuti sifat-sifat para dewa.  
Sifat tamas memang paling susah untuk diatasi akan tetapi jika dengan kesungguhan melaksanakan ajaran dharma dengan bersungguh-sungguh  pastilah atau dengan kesungguhan bisa. Demikian juga dikatakan dalam sastra suci untuk memberikan inspirasi semangat segeralah berubah untuk kearah yang lebih baik. (Karenanya perilaku seseorang; hendaknyalah masa muda digunakan dengan sebaik-baiknya, selagi badan sedang kuatnya, hendaknya digunakan sepenuhnya untuk mengikuti dan mempelajari Dharma, Artha dan ilmu pengetahuan, sebab tidak sama kekuatan orang tua dengan kekuatan seorang anak muda, contohnya adalah seperti seperti rumput lalang yang telah tua, menjadi rebah, dan ujungnya tidak tajam lagi). (Sarasamuscaya sloka 27)

E.     Melalui Pengembangan Budhi Pekerti Luhur Tujuan Ajaran Agama Hindu Tentang Moksa Dapat Dicapai.
      
Dengan makna pengembangan budhi pekerti akan menjadi jelas bahwa tujuan manusia dilahirkan kalau saja kita mau  menyadari dan mengetahui petunjuk dharma, sehingga kita tidak tersesat arah, jadi janganlah sekedar surga yang menjadi tujuan akhir kita, karena setelah disurga akan dinyatakan akan turun kembali ke dunia, tergantung pada sifat amalnya dimasa hidup sebelumnya, sampai akhirnya mencapai moksa.
Dalam ajaran bhagawadgita menyebutkan : Semuanya itu akan sukses  bila dilandasi dengan Sraddha (keimanan) dan Bhakti  (ketaqwaan) yang mantap, apabila ini dilakukan dengan sungguh-sungguh maka :
“Kepadanya akan Aku berikan apa yang mereka perlukan dan Aku lindungi apa yang mereka miliki (IX.22)
.
Apapun yang engkau kerjakan, yang engkau makan, yang engkau persembahkan dan engkau amalkan; disiplin diri (tapa) apapun yang engkau dilaksanakan, Wahai Arjuna, lakukanlah semuanya itu hanya sebagai bhakti kepada Aku (IX. 27).

Aku sama bagi semua makhluk. Tak seorangpun yang terbenci ataupun tersayang; tetapi bagi mereka yang memuja Aku dengan pengabdian yang tulus, mereka ada pada-Ku dan Aku ada pada mereka (IX.29).

Walaupun seandainya orang yang terjahat sekalipun memuja Aku, dengan pengabdian yang teguh, tidak tergoyahkan, ia harus dianggap sebagai orang bajik, karena ia telah memutuskan ke jalan yang benar (IX.30)
.
Sebab, mereka yang berlindung kepada Aku, wahai Arjuna, walaupun mungkin dari kelahirannya yang rendah, para wanita, para pedagang dan para pekerja, mereka semuanya akan mencapai tujuan tertinggi” (IX.32).

Pada hakekatnya setiap orang yang dilahirkan memiliki peluang besar untuk menjadi orang yang dapat menjalankan dharma. Dalam ajaran agama hindu kebahagiaan tertinggi adalah mencapai moksa, seperti yang terdapat dalam salah satu pustaka suci Brahma Purana ditegaskan bahwa dharma, artha, kama dan moksa adalah suatu rangkaian yang erat , sedangkan badan jasmanai adalah sarana untuk mencapainya. Dengan demikian jelaslah bahwa dharma artha kama dan moksa yang juga disebut catur purusaharta adalah tujuan hidup manusia.
            Dengan menerapkan dharma agama adalah merupakan tugas dan kewajiban yang patut dilaksanakan oleh setiap umat untuk mencapai tujuan agama. Apa-apa yang diajarkan oleh agamanya patut dapat dipedomani, dihayati dan lanjut diamalkan dalam kehidupannya sehari-hari. Dharma agama merupakan santapan rohani yang patut didalami secara perlahan-lahan proses berpikir mendekatkan diri kepada Tuhan/Hyang Widhi Wasa, karena sebenarnya pada diri kita masing-masing hal itu sudah ada dan tinggal menghubungkan untiuk menjadi lebih dekat lagi. Sarana mendekatkan adalah dengan menuntun sang diri melalui ajarannya. Setelah tuntunan diperoleh, terangilah diri dengan tuntunan itu agar dapat membedakan mana yang baik dan benar serta manapula yang buruk dan salah dan patut dihindari. Sebab dengan  melaksanakan Dharma Agama kita tahu caranya. Kemudian setelah kita dapat menerangi diri, Dharma Agama mengandung ajaran moral yang tinggi, patut untuk dihayati dengan memotifasi diri sehingga kita dapat mempunyai daya dorong yang lebih meyakinkan, sehingga tak takut akan berbuat, karena apa yang akan diperbuat telah diyakini sesuai dengan Dharma. Perbuatan didasarkan pada dharma agama akan memberikan kepuasan dan kebahagiaan tersendiri secara dinamis, sehingga menyebabkan pemeluk agama menjadi berani, tidak takut ataupun gelisah dalam berlomba-lomba membuat kebaikan dengan Tuhan.
Jadi dengan mengemban tugas dan tanggungjawab yang sangat mulia ini, yang haruslah dilaksanakan untuk dapat mencapai tujuan yang utama sesuai dengan yang tersurat dan tersirat dalam beberapa pustaka suci yaitu mencapai moksa. Dimana tugas dan tanggungjawab kita dilahirkan kedunia ini adalah untuk dapat melakukan atau  melaksanakan sesuatu, haruslah sesuai dengan petunjuk ajaran dharma, sehingga apa yang menjadi maksud kelahiran kita ini dapat menjadikan wujud nyata yang hendak dicapai. 
Pada prinsipnya manusia menginginkan kebahagiaan dan menghindari diri dari penderitaan, akan tetapi dalam perjalanan hidup ini banyaklah pelaksanaan-pelaksanaan yang seharusnya tidak dilakukan yang jelas bertentangan dengan petunjuk dan tuntunan ajaran dharma. Semua ini akan menghambat pencapaian tujuan manusia. Oleh karena hendaknya kita seharusnya mempergunakanlah sebaik-baiknya kesempatan menjelma menjadi manusia ini untuk tidak terjatuh dan terjatuh lagi dari keadaan yang tidak diinginkan (samsara). Bila kita pelajari uraian-uraian dalam pustaka suci ajaran agama hindu akhirnya kita akan sampai pada rumusan bahwa tujuan agama hindu adalah untuk mencapai kehidupan yang memberikan kedamaian rohani dan kesejahteraan hidup jasmani, dalam bahasa sansekerta diformulasikan moksartam jagathita ya ca iti dharma.
            Moksartam jagathita ya ca iti dharma mengandung pengertian bahwa tujuan agama adalah untuk mencapai kesejahteraan hidup didunia dan kebahagiaan abadi, kelak setelah meninggalkan dunia fana ini. Maka dari itu tujuan manusia dilahirkan hendaknya berpedoman kepada prinsip-prinsip ini, agar tidak sia-sia dapat kesempatan dilahirkan menjadi manusia. Untuk mencari kesejahteraan-kesejahteraan dari semuanya, seperti artha dan kama  ini supaya berlandaskan dharma, dengan kata lain kalau tujuan terpenting , bila artha dan kama hendak dituntut, dharma janganlah hendaknya dilakukan lebih dahulu, niat untuk mencapai artha dan kama pasti akan tercapai nantinya. Tapi sebaliknya jika mendahulukan artha dan kama tidak mengindahkan dharma maka yang diperoleh tidak ada artinya karena akan sia-sia bahkan mungkin dapat celaka.

Dalam sarasamuscaya 21 disebutkan adapun orang berbuat baik, kelahiran dari surga kelak menjelma menjadi orang rupawan, gunawan, mulyawan, hartawan dan berkuasa phala dari perbuatan baik yang diperoleh. Ini dapat dikatakan atau merupakan sebuah teori punarbawa (reinkarnasi), yaitu bagaimana kita dapat lahir kedunia ini sehingga jelas kelahiran ini merupakan hasil dari perbuatan-perbuatan kita sebelumnya.(purwa karma)
Bila diuraikan kita akan mendapat pengertian demikian, moksa artinya mencapai kebebasan jiwatman atau kebahagiaan rokhani yang kekal abadi pada saat jiwatman bersatu kembali dengan sumbernya Brahman. Moksa disebut juga mukti jagat atau jagad artinya dunia, hita artinya baik, bahagia atau makmur. Jagathita berarti kebahagiaan dunia. Kesejahteraan hidup didunia ini. Dalam hubungan ini artham atau artha berarti tujuan, sedangkan dharma berarti agama.
Akan menjadi jelas bahwa tujuan manusia dilahirkan kalau saja kita mau  menyadari dan mengetahui petunjuk dharma, sehingga kita tidak tersesat arah, jadi janganlah sekedar surga yang menjadi tujuan akhir kita, karena setelah disurga akan dinyatakan akan turun kembali ke dunia, tergantung pada sifat amalnya dimasa hidup sebelumnya, sampai akhirnya mencapai moksa. Bila paham dan mengerti  tentang Atman maka yakin sampail dengan Moksa dapat dijelaskan sebagai berikut : Atman adalah penyebab segala sesuatu itu hidup. Ia adalah sinar Brahman Yang Esa. Ia berada didalam setiap makhluk dan juga berada di luar " Tat Tvam Asi " (Itu adalah Engkau, Dia adalah Kamu). Ketika berada didalam tubuh dia disebut Jivi atau Jiwa. Ketika tubuh ini ditinggalkan maka tubuh ini mati dan menjadi hancur, namun Atman tetap kekal ( Katha Upanisad I.2.18 dan II.2.4 ).
Sang Jiwa yang terbungkus dalam Roh pergi membawa kesan karma / perbuatan selama ia berada dalam tubuh yang tidak kekal. Segala bentuk perbuatan atau karmanya selama menghuni tubuh, akan memperoleh pahala yang setimpal dan sang Jiwa/Roh yang masih terikat oleh dunia maya akan mencari badan yang baru atau lahir kembali yang disebut Punarbhava. Tetapi apabila Sang Jiwa selama menghuni badan terbebas dari belenggu dunia maya, ia melihat semua makhluk ada pada dirinya dan dirinya berada pada semua makhluk serta tiada lagi rahasia yang tersembunyi ( Isa Upanisad 6 ), maka Sang Jiwa mencapai identitas Atman yang suci, menemukan kesadaran yang tak terbatas dan menyatu dengan Brahman. Bagaikan lampu yang memperlihatkan sinar yang dapat pergi jauh diluar batas materialnya dan memproklamirkan hubungan persaudaraannya dengan matahari. Itulah cita - cita akhir dari kehidupan, mencapai " ananda rupam ", wujud kebahagiaan kekal, terbebas dari suka - duka yang disebut Moksa.





BAB V  
1.KESIMPULAN
Dari uraian maupun pembahasan bab demi bab sripsi ini berjudul Pengaruh Triguna Terhadap Tingkat Sradha Dalam Pengembangan Budhi Pekerti (Analisis Bentuk Fungsi dan Makna dalam Teologi Hindu ) maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Dengan memahami sifat-sifat pada diri manusia yaitu triguna dapat diketahui bentuk, fungsi dan maknanya sehingga untuk melampaui ketiga sifat ini sesungguhnya dapat dilakukan dengan cara mengikuti petunjuk dharma.
2.      Berusaha merubah perilaku dari sifat raksasa menjadi sifat devata dengan memperbanyak melakukan tapa brata yoga semadhi yang teratur niscaya segala yang diajarkan dalam ajaran sicu dapat segera terujud melalui berapa siklus kelahiran perlahan namun yakin jika ini dilaksanakan setiap kelahiran berikutnya pasti akan lebih baik begitu seterusnya sehingga moksapun dapat tercapai.Berdasarkan pengertian di atas, maka bahwa setiap tindakan atau perbuatan dan pikiran yang ada di dalam diri manusia tidak lepas dari pengaruh yang timbul dari sesuatu, baik dari pikiran maupun tingkah laku. Yang disebabkan oleh keinginan diri sendiri atau oleh pengaruh yang berada disekitar manusia waktu, tempat keadaan dan lingkungannya. Bila setiap orang dapat membina hubungan yang harmonis dengan Sang Maha Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa dengan mengikuti segenap ajaran-Nya, maka sesungguhnya akan memancar kasih sayang kepada sesama manusia bahkan kepada segala mahluk hidup (sarvaprani hitangkara). Setiap ajaran agama termasuk ritual sebagai salah satu ekspåûi atau perwujudan ajaran agama mengandung ajaran untuk membina hubungan yang harmonis antara sesama umat manusia, mahluk hidup dan alam lingkungannya
3.      Analisis interpretasi justru akan mampu mengungkap makna di balik fenomena real dan abstrak. Bahkan tidak ada penelitian mana pun yang sebenarnya menolak kehadiran penafsiran. Karena, tanpa penafsiran sedikit pun sesungguhnya penelitian itu menjadi berkadar lemah. Paling tidak, peneliti tidak akan memahami apa yang hakiki dari fenomena yang tampak. Ada proposisi (dalil) yang menyatakan bahwa setiap gerak yang terpantul pada fenomena budaya penuh dengan simbol. Simbol hanya akan bermakna ketika ditafsirkan. Penafsiran ini bisa hadir dari peneliti maupun orang yang diteliti. Jika hadir dari peneliti, berarti mengandalkan kekuatan teori yang bersifat positivisme, dan bila penafsiran mengandalkan pada pemilik budaya berarti mengandalan sifat naturalistik. Kedua macam penafsiran ini sama-sama kuat dan bisa dibenarkan. Namun demikian, sebagian besar penafsiran yang dipandang bagus manakala hadir dari si pemiliki budaya. Tunner memberikan rambu-rambu dalam penafsiran simbol budaya, misalnya penelitian simbol ritual dapat dilakukan melalui pengkategorian data menjadi tiga kelompok; (a) bentuk eksternal dan karakteristik dari hal-hal yang dapat diamati, (b) penafsiran yang diberikan oleh orang ahli dan orang awam, (c) signifikansi konteks yang biasanya dikerjakan oleh orang-orang di luar antropolog. Dari tiga hal tersebut tampak bahwa; penafsiran simbol budaya membutuhkan kecermatan data. Pengolahan data perlu memperhatikan pengamatan yang serius terhadap fenomena. Peneliti perlu menggali penafsiran dari para ahli dan para orang awam, dari keduanya tentu memiliki implikasi yang berbeda. Keduanya saling melengkapi dalam penafsiran dan tidak boleh dipandang remeh satu sama lain. Lebih penting lagi dalam penafsiran diperlukan konteks. Juga rambu-rambu yang biasa ditempuh oleh pengkaji budaya secara hermeneutik adalah seperti ditekankan Gadamer yaitu tentang konsep “pemahaman”. Pemahaman berarti membuat interpretasi terhadap gejala. Tugas penafsir budaya adalah menjelaskan persoalan “mengerti”, yaitu dengan cara menyelidiki setiap detail proses interpretasi. Interpretasi adalah sensus non est inferendus sed efferendus, artinya makna bukanlah diambil dari kesimpulan melainkan harus diturunkan yang bersifat instruktif. Jadi seorang penafsir tak boleh pasif, melainkan harus merekonstruksi makna.
4.      Ukuran kwalitas Triguna pada seseorang sangat tergantung dengan tiga faktor yaitu Karma wasana (perbuatan terdahulu / perbuatan masa lampau), Subakarma (perbuatan baik ) dan Asubakarma (perbuatan tidak baik).  Kalau dirumuskan sebagai berikut : (TG = KW + (SK-ASK).
5.      Guna mencapai kalepasan orang terlebih dahulu harus menunaikan tugasnya tanpa mengharapkan pahalanya. Selanjutnya orang harus mempelajari Veda di bawah pimpinan seorang guru yang akan memimpinnya menurut kemampuan masing-masing, sehingga orang akan mendapatkan pengetahuan yang benar tentang dirinya dan tentang Tuhan. Pengetahuan ini akan melahirkan kasih kepada Tuhan. Kasih ini harus dipelihara sehingga menjadi kasih yang tiada putusnya atau menjadi pemujaan yang terus menerus atau bhakti. Akhirnya Tuhan akan menganugrahkan karunia-Nya (prasadam). Karena karunia inilah manusia di dalam permenungannya akan merealiasasikan Tuhan secara intuitip.

B. SARAN
1. Pembahasan-pembahasan mengenai permasalahan ini sangat mendasar, memang kelihatannya sederahana akan tetapi setiap orang selalu saja mempunyai argumentasi yang berbeda, sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan masing-masing walaupun keyakinan agamanya sama belum tentu memberikan jawaban yang sama pula. Agama sebagai petunjuk suci untuk mencapai kesempurnaan hidup menekankan dharma sebagai pedoman hidup yang terpenting, karena dharma adalah dasar untuk mencapai kesejahteraan diri, masyarakat dan sesama manusia.
2.   Berusaha merubah perilaku dari sifat raksasa menjadi sifat devata dengan memperbanyak melakukan tapa brata yoga semadhi yang teratur niscaya segala yang diajarkan dalam ajaran sicu dapat segera terujud melalui berapa siklus kelahiran perlahan namun yakin jika ini dilaksanakan setiap kelahiran berikutnya pasti akan lebih baik begitu seterusnya sehingga moksapun dapat tercapai.
3. Sesungguhnya bahwa apapun tingkah laku ciptaan itu, demikian pula kedudukannya menurut kelahirannya, saya akan sampaikan berikut ini dengan sesungguhnya Tuhan Yang Maha Esa membimbing umat manusia menuju jalan yang benar Ya Tuhan Yang Maha Esa, engkau mengetahui segala  tingkah laku umat manusia.Ia yang memimpin umat-Nya menuju jalkan kebenaran. Menjauhkan dosa-dosa umat manusia. Umat-Nya senantiasa berbakti kepada-Nya). Orang yang memiliki keyakinan yang mantap akan senantiasa percaya diri dan dengan keyakinan pula seseorang akan memperoleh kesejahtraan.
           








Daftar Pustaka
Agastia IBG, 2001, Eksistensi Sadhaka Dalam Agama Hindu, Denpasar: PT  Pustaka Manikgeni
Agung Oka I Gusti, 1993, Slokantara,  Jakarta: Hanuman Sakti
Bagus Wirawan, I Gusti, 2007, Dharma Wacana, Surabaya: Paramita
Donde, I Ketut, 2006,Teologi Kasih Semesta, Surabaya: Paramita
Gunawan Sumodiningrat, 2008, Mencintai Bangsa dan Negara, Jakarta, Arga Printing
Imam Tholkhah, Mewaspadai dan Mencegah Konflik Antatar Umat Beragama, Jakarta, Departemen Agama RI
K.M.Suhardana, 2006, Dan Etika Moralitas Hindu,  Surabaya: Paramita
Mahathera, Kirinde Sri Dhammananda Nayaka, 2003, Keyakinan Umat Buddha, Kwalalumpur: Karaniya.
Maswinara, I Wayan, 1999, Rg Veda Samhita, Surabaya: Paramita
Maswinara, I Wayan, 1999, Sistem Filsafat Hindu, Surabaya: Paramita
Maswinara, I Wayan, 2004, Brahma Sutra, Surabaya: Paramita
Nala, Ngurah, 1992, Usada Bali, Denpasar, Upada Sastra
Prabhupada Swami,1986, Bagawad-Gita, (Pendiri-Acarya International Cociety for Krisna Consciouness), Jakarta: P.O. Box 2694.
Pudja, Gede & Tjokorda Rai Sudharta, 1977, Weda Smerti  Compendium Hukum Hindu, Jakarta: Ditjen Bimas Hidhu & Budha Departemen Agama RI
Pudja, Gede,1980, Sarasamuscaya, Jakarta: Hanuman Sakti
Pudja, Gede, 1984, Pengantar Agama Hindu II Sraddha, Jakarta: Mayasari
P.J Zoetmulder, 2005, Adiparva, Surabaya: Paramita
Rudia Adipura, Gede, 2003, Pengetahuan Dasar Agama Hindu, Jakarta: PT Pustaka Mitra Jaya
Suamba, Ida Bagus Putu & Ida Bagus Gde Yuda Triguna, 2000, Kontribusi Hindu Terhadap Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, Jakarta: Widya Dharma.
Taniputera, Ivan, 2005, Atharvaveda samhita I, Surabaya: Paramita
Taniputera, Ivan, 2005, Atharvaveda samhita II, Surabaya: Paramita
Titib, I Made, 2003, Menumbuh kembangkan Pendidikan Budhi Pekerti Pada Anak, Bandung: Ganeca Exact
Titib, I Made, 1996, Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan, Surabaya: Paramita
…………….., 2003, Intisari Ajaran Hindu, Surabaya: Paramita
…….……….., 2004, Siwattawa,  Denpasar: Pemerintah Provinsi Bali
…………….., 1996, Niti Sastra, Jakarta: Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar