Sabtu, 05 Maret 2011

KAJIAN FENOMENOLOGI


KONSTRUSI REALITAS CALO DAN KOMUNIKASINYA
(KAJIAN FENOMENOLOGI)

BAB  I
PENDAHULUAN

Dalam pengelolaan energy listrik, pemerintah Indonesia, telah menerbitkan Undang-undang Nomor 15 Tahun 1995 Tentang Ketenaga Listrikan dan Keputusan Direksi Nomor 234.K/DIR/2008 Tanggal 23 Juli 2008 dan Keputusan Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Nomor 31812/20/600.I/2008 Tanggal 11 Agustus 2008. tentang Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik. Dengan demikian PT PLN (PERSERO) telah melakukan bebagai strategi dalam menjalankan kegiatannya untuk melayani masyarakat.
Sebagai pengelola daya listrik untuk kepentingan masyarakat, dengan terbitnya Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK), yang tentunya Undang-undang ini memberikan harapan bagi masyarakat Indonesia, untuk memperoleh perlindungan atas kerugian yang diderita akibat transaksi suatu barang dan jasa. UUPK menjamin adanya kepastian hukum bagi konsumen. Mengenai Tujuan Perlindungan Konsumen, sesuai dengan pasal 3 Undang-undang Perlindungan Konsumen, yang pertama yaitu: Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri.
Adanya fenomena praktik pungli, suap dan calo yang perlu dihindari karena akan dapat berakibat kerugian di masyarakat, tetapi masyarakat pun cenderung suka memanfaatkan jasa para calo untuk mengurus dan menyelesaikan sesuatu permasalahan atau dalam melakukan transaksi, dengan harapan lebih cepat dan praktis. Dengan demikian penulis ingin mengetahui keberadaan calo listrik (realitas social) dan pengelolaan komunikasinya (manajemen komunikasi) di PT PLN (PERSERO) Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang Area Tanjung Priok.
PT PLN (PERSERO) Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang Area Tanjung Priok adalah merupakan perusahaan Badan Usaha Milik Negara yang terus berupaya dapat terbebas dari praktik percaloan, demi perbaikan layanan terhadap masyarakat untuk meningkatkan citra perusahaan.

1.1  Latar belakang
Komite Pemberantasan Korupsi (KPK), menemukan fakta ada 20 persen kebocoran di kantor-kantor pelayanan publik, terutama instansi yang menangani perizinan. Di DKI Jakarta ada praktik suap cenderung ke pemerasan selalu terjadi di 65 lokasi pelayanan publik. Umumnya para konsumen mengeluhkan adanya tambahan biaya dan waktu proses penyelesaian yang lebih lama (Kompas, 22/9/2008).
Istilah konstruksi atas realitas sosial (social construction  of reality)  menjadi terkenal sejak diperkenalkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann melalui bukunya yang berjudul ‘The Sosial construction of Reality. A. Treatise in the Sociological of Knowledge’ (1966). Ia menggambarkan proses sosial melalui tindakan dan interaksinya, dimana individu menciptakan secara terus menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subyektif.
Fenomena tentang adanya calo listrik memang tidak dapat dihindari ini dikatakan pula oleh Dahlan (direktur utama PT PLN (PERSERO), munculnya calo-calo tersebut karena daya listrik di tanah air masih belum mencukupi untuk memenuhi daftar tunggu calon pelanggan baru sehingga siapa yang punya uang dan dia mau bayar lebih mahal maka dia bisa lebih cepat mendapatkan sambungan dengan difasilitasi calo-calo tersebut."Saya tidak dapat pungkiri kalau penyelewengan itu memang benar terjadi dan semua orang tahu itu,"
Dahlan menyatakan, dirinya kesulitan jika harus memberantas calo-calo tersebut satu persatu karena jumlahnya yang begitu banyak. Perseroan pun telah menerapkan sanksi kepada para petugas PLN yang ikut terlibat dalam kegiatan pencaloan tersebut tapi tetap saja hal ini terjadi di lapangan."Masalahnya calo-calo ini di luar organik PLN sehingga semakin sulit diberantas," katanya. Ia menilai, satu-satunya cara yang bisa dilakukan yaitu dengan terus meningkatkan daya listrik yang dimiliki PLN sehingga BUMN listrik itu bisa memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat di Tanah Air.
"Kalau daya listrik yang dimiliki PLN mencukupi, maka itu akan hilang dengan sendirinya. Jadi jurus sapu jagadnya adalah PLN harus punya daya yang cukup untuk penuhi kebutuhan masyarakat," tambah dia.
Sesuai dengan pernyataan General Manajer PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang (Disjaya), Purnomo Willy mengaku tidak menutup mata adanya praktik calo dalam proses tambah daya maupun penyambungan listrik baru. “Kemungkinan itu ada. Namun untuk menghapus habis para calo tersebut sulit,” katanya kepada Pos Kota, Selasa (24/2).
Berbagai cara telah dilakukan untuk menghindari calo listrik yang kerap dapat merugikan masyarakat, akan tetapi selalu saja ada masyarakat yang menggunakan calo dalam mengurus kepentingan yang berkaitan dengan layanan listrik. Sosialisasi Iklan layanan yang telah dipasang di kantor berupa spanduk juga melalui  brosur-brosur agar tidak menggunakan calo semua ini diharapkan kepada masyarakat sebisanya untuk mengurus langsung ke PT PLN (PERSERO) jika ada keperluan berkaitan dengan energy listrik agar tidak meninbulkan kerugian dalam masyarakat .
Fenomenologi adalah ilmu tentang esensi-esensi kesadaran dan esensi ideal dari obyek-obyek sebagai korelasi kesadaran (Donny Gahral Adian, Percik Pemikiran Kontemporer: Sebuah Pengantar Komprehensif, Yogyakarta: Jalasutra, 2005, hlm. 151).
Lewat fenomenologi, Husserl hakekatnya adalah kritikus yang interpreter dengan menguraikan suatu fenomena yang dihadapai. Ilmu pengetahuan bagi Husserl dapat mengantarkan pada pengalaman-pengalaman baru yang eksklusif tersendiri secara subjektif transendental.
Di sisi lain, kehidupan sehari-hari merupakan suatu dunia yang berasal dari pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan individu, dan dipelihara sebagai ’yang nyata’ oleh pikiran dan tindakan itu. Dasar-dasar pengetahuan tersebut diperoleh melalui objektivasi dari proses-proses (dan makna-makna) subjektif yang membentuk dunia akal-sehat intersubjektif (Berger dan Luckmann, 1990: 29).
Pengetahuan akal-sehat adalah pengetahuan yang dimiliki bersama (oleh individu dengan individu-individu lainnya) dalam kegiatan rutin yang normal (dalam kehidupan sehari-hari). Melalui penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif tradisi fenomenologi. dengan subyek penelitian adalah proses nyalo listrik dan pengelolaan komunikasi para calo di PT PLN (PERSERO) Area Tanjung Priok Jakarta Utara. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara mendalam dan observasi partisipatif.
Agar mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang makna yang berada dibalik obyek yang diteliti, Denzin dan Lincoln (1994) menyatakan bahwa penelitian kualitatif harus dilaksanakan pada kondisi alami. Guba dan Lincoln (1985) menyebut pendekatan penelitian yang demikian sebagai pendekatan naturalistik. Makna-makna itu kita bagi bersama yang lain, definisi kita mengenai dunia sosial dan persepsi kita mengenai, dan respon kita terhadap, realitas muncul dalam proses interaksi. Herbert Blumer, sebagaimana dikutip oleh Abraham (1982) salah satu arsitek utama dari interaksionisme simbolik menyatakan: Istilah ‘interaksi simbolik’ tentu saja menunjuk pada sifat khusus dan khas dari interaksi yang berlangsung antar manusia. Adanya pemasangan spanduk-spanduk yang dikeluarkan oleh PT PLN (PERSERO) DISTJAYA yang bertuliskan Hindari Praktik Pungli & Calo Jika Anda temukan segera LAPORKAN melalui sms ke 8123 atau 0812 810 22000 (Khusus untuk pelanggan PLN di wilayah Jakarta & Tangerang). Komitmen kami Melayani Pelanggan Tanpa SUAP.
Jika perilaku calo dianggap merugikan masyarakat atau sebagai fakta social, maka berlaku suatu sebutan calo, makelar sangatlah menjadi suatu yang negative/buruk pada masyarakat. Dengan demikian calo haruslah dihindari, namun banyaknya keluhan dan kritikan terhadap para calo sehingga membuat nama calo menjadi negative, maka bagaimana persepsi calo sendiri terhadap dirinya, dan juga diluar dirinya.



1.2  Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang, untuk merumuskan  sebuah masalah dalam penelitian yang berkaitan dengan perilaku social, karena manusia yang memiliki kemampuan untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya ke dalam bentuk perbuatan dan pengunkapan linguistik, baik lisan maupun tertulis. Tindakan dan ucapan merupakan satu kesatuan yang dibutuhkan untuk merefleksikan perasaan dan pikiran seseorang, maka difocuskan masalahnya yaitu: Bagaimana Calo Listrik di PT PLN(PERSERO) Area Tanjung Priok mengkonstruksi realitas social mereka menurut pandangan mereka sendiri?

1.3  Maksud dan Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah proposal ini sebagai maksud dan tujuan penulisannya adalah untuk mengungkap suatu fenomena percalo listrik yang ada di PT PLN(PERSERO) Area Tanjung Priok, tentang esensi-esensi kesadaran dan esensi ideal dari obyek-obyek sebagai korelasi kesadaran, maka penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Mengetahui Konstruksi realitas social meliputi proses nyalo listrik, menjadi calo yang akan mengungkap alasan mereka pertama kali nyalo, motif apa yang mendorong mereka memilih nyalo menjadi pilihan hidupnya dan konsep diri yang mereka miliki sehubungan dengan kehidupan nyalo listrik di PT PLN (PERSERO) di Area Tanjung Priok dan Mengetahui Pengelolaan komunikasi ditandai dengan pengelolaan kesan yang mereka persiapkan untuk nyalo yang dilihat dari aspek verbal maupun nonverbal. Selain itu, apa yang mereka lakukan dalam upaya menunjukkan kompetensi mereka berkomunikasi dengan para calon konsumen menurut pandangan mereka.





1.4  Manfaat Penelitian
A.    Aspek Teoritis
Menurut aliran filsafat Edmund Husserl (dalam K.Bertens, 1990:100), fenomenologi adalah ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak (phainomenon).dengan demikian, budaya perusahaan adalah aturan main yang ada dalam perusahaan yang akan menjadi pegangan dari Sumber Daya Manusianya dalam menjalankan kewajibannya dan nilai-nilai untuk berprilaku di dalam organisasi tersebut, yang mana perilakunya tampak dengan jelas. Budaya organisasi juga mencakup seluruh simbol yang ada (tindakan, rutinitas, percakapan, dan seterusnya) serta makna yang diberikan anggota organisasi kepada berbagai simbol tersebut Dengan demikian secara teori manfaatnya adalah untuk pengembangannya.
B.     Aspek praktis
Sedangkan Nguyen dan Leblanc mengungkapkan bahwa citra perusahaan sebagai: “Corporate image is described as overall impression made on the minds of the public about organization. It is related to business name, architecture, variety of product/services, tradition, ideology, an to the impression of quality commuicated by each employee interacting with the organization’s clients“Artiya citra perusahaan merupakan keseluruhan kesan yang terbentuk dibenak masyarakat tentang perusahaan. Dimana citra tersebut berhubungan dengan nama bisnis, arsitektur, variasi dari produk, tradisi, ideologi dan kesan pada kualitas komunikasi yang dilakukan oleh setiap karyawan yang berinteraksi dengan klien organisasi.






BAB  II
KAJIAN PUSTAKA DAN  KERANGKA PEMIKIRAN
2.1  Kajian Pustaka
Studi fenomenologi dalam pelaksanaannya memiliki beberapa  tantangan yang harus dihadapi peneliti. Creswell (1998: 55) menjelaskan tantangan tersebut yaitu: The researcher requires a solid grounding in the philosophical precepts of phenomenology. The participants in the study need to be carefully chosen to be individuals who have experienced the phenomenon. Bracketing personal experiences by the researcher may be difficult. The researcher needs to decide how and in what way his or her personal experiences will introduced into the study.
Sebagai landasan penelitian yang secara konseptual seperti teori tindakan oleh Max Weber mengatakan: tidak semua tindakan disebut tindakan social. Suatu tindakan hanya dapat disebut tindakan social apabila tindakan tersebut dengan mempertimbangkan perilaku orang lain dan berorientasi pada perilaku orang lain. Jadi tindakan social merupakan perilaku manusia yang mempunyai makna subjektif bagi pelakunya.(Engkus Kurwarno, Metodelogi Penelitian Komunikasi, Fenomenologi, Konsepsi Pedoman dan Contoh Penelitian, Bandung: Widya Padjadjaran, 2009, hlm. 109).
Alred Schutz dalam bukunya yang berjudul The Phenomenology of The Social World yang diterjemahkan dari buku aslinya Der Sinnhafte Aufbau der sozialen Welt: Schutz become intereste quite early in the work of the greatest of German sociologist, Max Weber, especially in the latter’s attempt to establish a consistent methodological foundation for the social sciences.
Menurut: Alred Schutz manusia yang berperilaku tersebut sebagai “aktor” Ketika seseorang melihat atau apa yang dikatakan atau diperbuat aktor, dia akan memahami (understand) makna dari tindakan tersebut. Disimpulkan tindakan social adalah tindakan yang berorientasi pada perilaku orang atau orang lain pada masa lalu, sekarang dan akan datang. Dalam konteks fenomenologis, calo yang melakukan tindakan social (nyalo) bersama actor lainnya sehingga memiliki kesamaan dan kebersamaan dalam ikatan makna intersubjektif.
Schutz mengawali pemikirannya dengan mengatakan bahwa objek penelitian ilmu sosial pada dasarnya berhubungan degan interpretasi terhadap realitas. Jadi, sebagai peneliti ilmu sosial, kita pun harus membuat interpretasi terhadap realitas yang diamati. Orang-orang saling terikat satu sama lain ketika membuat interpretasi ini. Tugas peneliti sosial-lah untuk menjelaskan secara ilmiah proses ini. kontruksi realitas secara social dari Peter Berger dan Tomas Luckman.
George Herbert Mead memiliki pemikiran yang mempunyai sumbangan besar terhadap ilmu social dalam perspektif teori yang dikenal dengan interaksionisme simbolik, yang menyatakan bahwa komunikasi manusia berlangsung melalui pertukaran symbol serta pemaknaan symbol – symbol tersebut. Mead menempatkan arti penting komunikasi dalam konsep tentang perilaku manusia, serta mengembangkan konsep interaksi simbolik bertolak pada pemikiran Simmel yang melihat persoalan pokok sosiologi adalah masalah sosial.
Interaksi Simbolik dari Gorge Heber Mead dan Herbert Blumer, Dalam perspektif ini dikenal nama sosiolog George Herbert Mead (1863–1931), Charles Horton Cooley (1846–1929), yang memusatkan perhatiannya pada interaksi antara individu dan kelompok. Mereka menemukan bahwa individu-individu tersebut berinteraksi dengan menggunakan simbol-simbol, yang di dalamnya berisi tanda-tanda, isyarat dan kata-kata. Sosiolog interaksionisme simbolik kontemporer lainnya adalah Herbert Blumer (1962) dan Erving Goffman (1959).
Dramaturgi dari Erving Goffman, Manajemen Komunikasi dari Michlael Kaye. Michael Kaye dengan ungkapan “What we must realize is that the heart of communication is not in the surface but in the meanings or interpretations that we ascribe to the message” (Kaye, 1994:8). Dari sini dapat dijelaskan bahwa sebuah arti dalam bentuk permukaan sebuah pesan tidak akan berarti tanpa disertai dengan adanya penyampaian makna yang sebenarnya ada pada pesan tersebut. Dalam interaksi antar individu terjadi berbagai pertukaran makna, yang sebelumnya telah disepakati bersama.
2.2  Kerangka Pemikiran
Berdasarkan landasan teoreitis tersebut, maka fenomena calo listrik yang diteliti dapat digambarkan dalam kerangka pemikiran sebagai berikut:



 













                                                                                                                                                       
Gambar:  Kerangka berpikir penelitian tentang Dunia Simbolik Calo Listri PT PLN (PERSERO) Distribusi Jaya &Tangerang Area Tanjung Priok.
              Dari keseluruhan pemikiran teoritis yang sudah dijelaskan sebelumnya, secara ringkas dapat disebutkan bahwa fenomena calo listrik merupakan suatu kenyataan yang disebut weber sebagai tindakan social. Sebagai suatu tindakan social, perilaku calo listrik secara subjektif memiliki karakteristik yang unik seperti apa yang digambarkan sendiri oleh calo listrik. Bagaimana calo listrik memandang dirinya, bagaimana calo listrik menjadi percaloan berdasarkan alas an-alasan yang berorientasi ke masa lalu maupun berorientasi ke masa datang (seperti diuraikan dalam fenomenologi Schuts tentang motif dan account dari Scott dan Lyman).
           Mereka memiliki cara, pandangan dan bentuk sendiri dalam mengkonstruksi realitas mereka, seperti apa yang mereka inginkan (konstuksi realitas secara social dari Berger dan Luckmann).
           Pada sisi lain, interaksi calo listrik diantara mereka dan calo listrik dengan yang lainnya yang bukan calo listrik, dibangun oleh symbol atau lambing yang khas dan makna yang tersendiri. Secara subjektif calo listrik menciptakan lambang yang dapat digunakan untuk berinteraksi dengan sesame calo listrik didalam system social mereka (interaksi simbolik dari Mead dan Blumer).
          Baik secara individu maupun dalam suatu tim, calo listrik akan berupaya menampilkan dirinya seperti apa yang mereka kehendaki. Mereka berkomunikasi secara verbal maupun nonverbal untuk memberikan kesan yang menguntungkan bagi mereka. Mereka mungkin menampakan panggung depan dihadapan public (calon konsumen) yang berbeda dengan panggung belakang atau kehidupan keseharian tanpa kehadiran calon konsumen (dramaturgi dari Goffman). Tentu saja, calo listrik memiliki kemampuan untuk dapat mengelola komunikasi mereka berdasarkan nilai kompeten masing-masing, baik secara intarpersonal, interpersonal maupun system dalam arti luas (manajemen komunikasi dari kaye).








BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian/Pengkajian Akademis (termasuk tempat dan waktu)
Oleh karena penelitian ini berupaya mengambarkan fenomenologi dunia calo listrik menurut pandangan mereka sendiri, maka tradisi yang akan digunakan pada penelitian ini adalah tradisi studi fenomenologi. Tradisi studi fenomenologi menurut Creswell adalah: “Whereas a biography reports the life of a single individual, a phenomenological study describes the meaning of the live experiences for several individuals about aconcept or the phenomenon”.
Dengan demikian, studi pendekatan fenomenologi berupaya untuk menjelaskan makna pengalaman hidup sejumlah orang tentang seuatu konsep atau gejala, yang dalam hal calo listrik ini termasuk di dalamnya tentang konsep diri atau pandangan hidup mereka sendiri. .(Engkus Kurwarno, Metodelogi Penelitian Komunikasi, Fenomenologi, Konsepsi Pedoman dan Contoh Penelitian, Bandung: Widya Padjadjaran, 2009, hlm. 109).
Sebagai Objek Penelitian pada proposal tesis ini yaitu:  Calo Listrik di PT PLN (PERSERO) Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang Area Tanjung Priok. Dengan kajian seperti Tindakan social, Motif (account), Konstruksi social, Makna Simbolik, Peresentasi diri, Kompetensi. Komunikasi
Penelitian ini menggunakan metode Diskriftif Kualitatif, dengan survey individu yang akan dilakukan di PT PLN (PERSERO) Area Tanjung Priok.Jakarta Utara.
3.2  Paradigma Penelitian
Thomas Lindlof dalam buku Qualitative Communication Research Methods menyebutkan bahwa metode kualitatif untuk penelitian komunikasi dengan paradigm fenomenologi, interaksi simbolik, etnografi dan studi kultur, sering disebut sebagai paradigm interpretif (interpretive paradigm). Pada penelitian tesis ini menggunakan paradigma interpretif, metode kualitatif dengan paradigm interpretif ini merupakan tradisi sosiologi dan antropologi, akan tetapi menjadi bagian penting dalam penelitian komunikasi.
3.3  Metode Penelitian
Untuk mengungkapkan realitas social, seperti fenomena calo listrik, maka peneliti perlu mengadopsi paradigm teoritis yang telah mengembangkan metodelogi kualitatif. Untuk mengungkap realitas sesungguhnya, seperti diungkap Watt & Berg dalam buku Research Method for Communication Science :
One of the basic concerns in the development of qualitative methodologies was, and remains, that adoption of a particular theoretical attitude to points of view perspectives or orientation of member of acommunication community in deciding what is to constitute the nature of an objective phenomenon. Indeed, in contrast to the realist or objectivist assumption underpinning a good deal of quantitative work in the field, most qualitative communications researcher adopt the view that what counts as real or objective is afungtion of the reasoning, concepts, and orientation of the members of a communication community. .(Engkus Kurwarno, Metodelogi Penelitian Komunikasi, Fenomenologi, Konsepsi Pedoman dan Contoh Penelitian,(Koswara, Bandung: Widya Padjadjaran, 2009, hlm. 125).
Penelitian ini menggunakan merode kualitatif. Dalam penelitan kualitatif, menurut Poerwandari (1998) penelitian kualitatif  adalah penelitian yang menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya deskriptif, seperti transkripsi wawancara, catatan lapangan, gambar, foto rekaman video dan lain-lain. Perlu menekankan pada pentingnya kedekatan dengan orang-orang dan situasi penelitian, agar peneliti memperoleh pemahaman jelas tentang realitas dan kondisi kehidupan nyata.( Patton dalam Poerwandari, 1998).
3.4  Definisi Konsep
Konstruksi saosial
             Bersama dengan Thomas Lukmann, Berger menuangkan pikiran tentang konstruksi social dalam buku berjudul The Social Construction of Reality, menyebutkan bahwa seseorang hidup dalam kehidupannya mengembangkan suatu perilaku yang repetitive, yang mereka sebut sebagai “kebiasaan”(habits). Kebiasaan ini memungkinkan seseorang mengatasi suatu situasi secara otomatis. .(Engkus Kurwarno, Metodelogi Penelitian Komunikasi, Fenomenologi, Konsepsi Pedoman dan Contoh Penelitian, Bandung: Widya Padjadjaran, 2009, hlm. 112).
Walaupun Berger berangkat dari pemikiran Schutz, Berger jauh keluar dari fenomenologi Schutz yang hanya berkutat pada makna dan sosialitas. Karena itu garapan Berger tak lagi fenomenologi, melainkan sosiologi pengetahuan. Namun demikian, Berger tetap menekuni makna, tapi dalam skala yang lebih luas, dan (sekali lagi) menggunakan studi sosiologi pengetahuan. Dalam studi ini, Berger juga memperhatikan makna tingkat kedua, yakni legitimasi. Legitimasi adalah pengetahuan yang diobyektivasi secara sosial yang bertindak untuk menjelaskan dan membenarkan tatanan sosial (Berger, 1991: 36).
Manajemen
Michael Kaye dalam bukunya Communication Management menyebutkan bahwa “what we must realize is that the heart of communication is not in the surface but in the meanings or interpretations that we ascribe to the message. Jadi jantungnya komunikasi terletak pada makna atau interpretasi terhadap pesan.(Engkus Kurwarno, Metodelogi Penelitian Komunikasi, Fenomenologi, Konsepsi Pedoman dan Contoh Penelitian, Bandung: Widya Padjadjaran, 2009, hlm. 118).
Menurut Kaye, istilah manajemen komunikasi merujuk pada”bagaimana orang-orang mengelola proses komunikasi dalam hubungannya dengan orang lain dalam berbagai setting atau konteks komunikasi.” Dalam hal kajian manajemen komunikasi, fokus perhatian utama bidang tersebut adalah fenomena/peristiwa komunikasi, sedangkan disiplin manajemen hanya diperlakukan sebagai tool of analysis tambahan yang fungsinya memperkaya dan mempertajam analisis terhadap berbagai fenomena komunikasi.
Komunikasi
            Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005)
            Setiap manusia selalu berhubungan, baik itu berhubungan antara sesama manusia maupun berhubungan dengan kelompok manusia atau juga lingkungan. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia  tidak bisa dilepaskan dari aktivitas berkomunikasi,karena pada dasarnya komunikasi merupakan  bagian Integral dari system atau tatanan  kehidupan social manusia atau masyarakat.
          Secara harfiah komunikasi adalah proses penyampaian pesan,dari satu pihak kepada  pihak lain dan tentunya dalam komunikasi itu ada yang menyampaikan pesan, kemudian ada pesannya sendiri dan ada yang menerima pesan. Pada intinya, komunikasi adalah berinteraksi dengan menyampaikan message yang kemudian bisa diterima oleh si penerima message. Harold Laswell dalam karyanya The Structure and Function of communication in society menyatakan bahwa cara yang terbaik untuk menerangkan proses komunikasi adalah menjawab pertanyaan : who says what in wich channel to whom with what effect (siapa mengatakan apa melalui saluran apa kepada siapa dengan efek apa).
              Garbner mendefinisikan komunikasi sebagai proses interaksi sosial melalui pesan-pesan. Sedangkan Onong Uchyana menjelaskan hakikat komunikasi ialah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Pikiran bisa merupakan gagasan, informasi, opini, dan lain-lain yang muncul dari benaknya. Perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian, keraguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian, kegairahan, dan sebagainya yang timbul dari lubuk hati.
Calo
Pengertian afiliasi memiliki kedekatan  dengan pekerjaan seperti calo, broker, atau perantara, karena menerapkan cara kerja yang sama. Memang, secara bahasa, pengertian “calo” di Indonesia sangat identik dengan calo tanah, calo tiket, calo angkutan, sampai calo kasus yang belakangan populer di ranah hukum. Tetapi Anda tentu bisa menjadi perantara tanpa harus melanggar hukum, seperti banyak perusahaan broker yang berkembang di Amerika maupun Eropa.
Sistem Kerja
Sebagai ilustrasi, Anda bisa melihat cara kerja afiliasi dalam penjualan rumah. Misalnya, jika Anda ingin menjual rumah, kemudian teman Anda membantu mencarikan pembeli. Ketika transaksi pembelian berhasil terjadi berkat bantuan teman Anda, sudah umum jika teman Anda diberi komisi atas bantuannya tersebut.

calo dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia


ca·lo n cak orang yg menjadi perantara dan memberikan jasanya untuk menguruskan sesuatu berdasarkan upah; perantara; makelar;
per·ca·lo·an n perihal calo: Pemerintah terus berupaya mengatasi kegiatan dan membendung arus TKI ke luar negeri
Calo sering diidentikkan dengan perantara. Memang calo pada kenyataannya merupakan sebuah jasa. Artinya calo juga bisa disebut jasa perantara. Calo didefinisikan sebagai orang yang menjadi perantara dan memberikan jasanya untuk menguruskan sesuatu berdasarkan upah. Tetapi calo dalam pengertian jasa perantara adalah penghubung atau perantara atau intermediary antara penjual dan pembeli. Sehingga posisi calo harus antara penjual dan pembeli, atau sebaliknya.
Tetapi ada yang sering disebut calo tidak dalam posisi penghubung penjual dan pembeli. Pada kenyataannya, sehari-hari profesi tersebut disebut calo. Contoh calo pengurusan SIM (surat ijin mengemudi) atau STNK. Dalam bisnis percaloan STNK, tidak ada penjual STNK karena STNK dikeluarkan oleh institusi pemerintah. Apakah pemerintah menjual STNK? Saya kira pemerintah tidak dalam posisi penjual atau pedagang.



PT PLN (PERSERO) Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang Area Tanjung Priok
             Sebuah perusahaan BUMN yang mengelola dan melayani masyarakat akan keperluan atau kebutuhan terhadap energy listrik untuk wilayah tanjung priok dalam hal menggunakan pemakaian tenaga listrik
3.5  Key Informan
Adalah mereka yang sering mengatasnamakan pengurusan segala bentuk transaksi berkaitan dengan masalah pemasangan listrik, namun tidak sebagai karyawan PLN, tidak sebagai konsumen, dan juga sesungguhnya secara pribadi tidak ada urusannya dengan PLN
3.6  Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitiaan ini, peneliti menggunakan 2 teknik pengumpulan data, yaitu :
1.    Wawancara
Menurut Prabowo (1996) wawancara adalah metode pengmbilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden, caranya adalah dengan bercakap-cakap secara tatap muka.
Pada penelitian ini wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara. Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) dalam proses wawancara dengan menggunakan pedoman umum wawancara ini, interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum, serta mencantumkan isu-isu yang harus diliput tampa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tidak terbentuk pertanyaan yang eksplisit.
Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer mengenai aspek-aspek apa yang harus dibahas, juga menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat Tanya, sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks actual saat wawancara berlangsung (Patton dalam poerwandari, 1998)
Kerlinger (dalam Hasan 2000) menyebutkan 3 hal yang menjadi kekuatan metode wawancara :
1.         Mampu mendeteksi kadar pengertian subjek terhadap pertanyaan yang diajukan. Jika mereka tidak mengerti bisa diantisipasi oleh interviewer dengan memberikan penjelasan.
2.         Fleksibel, pelaksanaanya dapat disesuaikan dengan masing-masing individu.
3.         Menjadi stu-satunya hal yang dapat dilakukan disaat tehnik lain sudah tidak dapat dilakukan.
Menurut Yin (2003) disamping kekuatan, metode wawancara juga memiliki kelemahan, yaitu :
1.         Retan terhadap bias yang ditimbulkan oleh kontruksi pertanyaan yang penyusunanya kurang baik.
2.         Retan terhadap terhadap bias yang ditimbulkan oleh respon yang kurang sesuai.
3.         Probling yang kurang baik menyebabkan hasil penelitian menjadi kurang akurat.
4.         Ada kemungkinan subjek hanya memberikan jawaban yang ingin didengar oleh interviwer.
  1. Observasi
Disamping wawancara, penelitian ini juga melakukan metode observasi. Menurut Nawawi & Martini (1991) observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistimatik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala atau gejala-gejala dalam objek penelitian.
Dalam penelitian ini observasi dibutuhkan untuk dapat memehami proses terjadinya wawancara dan hasil wawancara dapat dipahami dalam konteksnya. Observasi yang akan dilakukan adalah observasi terhadap subjek, perilaku subjek selama wawancara, interaksi subjek dengan peneliti dan hal-hal yang dianggap relevan sehingga dapat memberikan data tambahan terhadap hasil wawancara.
Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) tujuan observasi adalah mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian di lihat dari perpektif mereka yang terlihat dalam kejadian yang diamati tersebut.
Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) salah satu hal yang penting, namun sering dilupakan dalam observasi adalah mengamati hal yang tidak terjadi. Dengan demikian Patton menyatakan bahwa hasil observasi menjadi data penting karena :
1.   Peneliti akan mendapatkan pemahaman lebih baik tentang konteks dalam hal yang diteliti akan atau terjadi.
2.   Observasi memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka, berorientasi pada penemuan dari pada pembuktiaan dan mempertahankan pilihan untuk mendekati masalah secara induktif.
3.   Observasi memungkinkan peneliti melihat hal-hal yang oleh subjek penelitian sendiri kurang disadari.
4.   Observasi memungkinkan peneliti memperoleh data tentang hal-hal yang karena berbagai sebab tidak diungkapkan oleh subjek penelitian secara terbuka dalam wawancara.
5.   Observasi memungkinkan peneliti merefleksikan dan bersikap introspektif terhadap penelitian yang dilakukan. Impresi dan perasan pengamatan akan menjadi bagian dari data yang pada giliranya dapat dimanfaatkan untuk memahami fenomena yang diteliti.
Menurut Poerwandari (1998) penulis sangat berperan dalam seluruh proses penelitian, mulai dari memilih topik, mendeteksi topik tersebut, mengumpulkan data, hingga analisis, menginterprestasikan dan menyimpulkan hasil penelitian.
                           Dalam mengumpulkan data-data penulis membutuhkan alat Bantu (instrumen penelitian). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan 3 alat bantu, yaitu :
1.   Pedoman wawancara Pedoman wawancara digunakan agar wawancara yang dilakukan tidak menyimpang dari tujuan penelitian. Pedoman ini disusun tidak hanya berdasarkan tujuan penelitian, tetapi juga berdasarkan teori yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
2.   Pedoman Observasi Pedoman observasi digunakan agar peneliti dapat melakukan pengamatan sesuai dengan tujuan penelitian. Pedoman observasi disusun berdasrkan hasil observasi terhadap perilaku subjek selama wawancara dan observasi terhadap lingkungan atau setting wawancara, serta pengaruhnya terhadap perilaku subjek dan informasi yang muncul pada saat berlangsungnya wawancara.
3.   Alat Perekam Alat perekam berguna Sebagai alat Bantu pada saat wawancara, agar peneliti dapat berkonsentrasi pada proses pengambilan data tampa harus berhenti untuk mencatat jawaban-jawaban dari subjek. Dalam pengumpulan data, alat perekam baru dapat dipergunakan setelah mendapat ijin dari subjek untuk mempergunakan alat tersebut pada saat wawancara berlangsung.




3.7    Teknik Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan maka akan dianalisis dengan menggunaka:
Marshall dan Rossman mengajukan teknik analisa data kualitatif untuk proses analisis data dalam penelitian ini. Dalam menganalisa penelitian kualitatif  terdapat beberapa tahapan-tahapan yang perlu dilakukan (Marshall dan Rossman dalam Kabalmay, 2002), diantaranya  :
1.    Mengorganisasikan Data
Peneliti mendapatkan data langsung dari subjek melalui wawancara mendalam (indepth inteviwer), dimana data tersebut direkam dengan tape recoeder dibantu alat tulis lainya. Kemudian dibuatkan transkipnya dengan mengubah hasil wawancara dari bentuk rekaman menjadi bentuk tertulis secara verbatim. Data yang telah didapat dibaca berulang-ulang agar penulis mengerti benar data atau hasil yang telah di dapatkan.
2.    Pengelompokan berdasarkan Kategori, Tema dan pola jawaban
Pada tahap ini dibutuhkan pengertiaan yang mendalam terhadap data, perhatiaan yang penuh dan keterbukaan terhadap hal-hal yang muncul di luar apa yang ingin digali. Berdasarkan kerangka teori dan pedoman wawancara, peneliti menyusun sebuah kerangka awal analisis sebagai acuan dan pedoman dalam mekukan coding. Dengan pedoman ini, peneliti kemudian kembali membaca transkip wawancara dan melakukan coding, melakukan pemilihan data yang relevan dengan pokok pembicaraan. Data yang relevan diberi kode dan penjelasan singkat, kemudian dikelompokan atau dikategorikan berdasarkan kerangka analisis yang telah dibuat.
Pada penelitian ini, analisis dilakukan terhadap sebuah kasus yang diteliti. Peneliti menganalisis hasil wawancara berdasarkan pemahaman terhadap hal-hal diungkapkan oleh responden. Data yang telah dikelompokan tersebut oleh peneliti dicoba untuk dipahami secara utuh dan ditemukan tema-tema penting serta kata kuncinya. Sehingga peneliti dapat menangkap penagalaman, permasalahan, dan dinamika yang terjadi pada subjek.
3.         Menguji Asumsi atau Permasalahan yang ada terhadap Data
Setelah kategori pola data tergambar dengan jelas, peneliti menguji data tersebut terhadap asumsi yang dikembangkan dalam penelitian ini. Pada tahap ini kategori yang telah didapat melalui analisis ditinjau kemabali berdasarkan landasan teori yang telah dijabarkan dalam bab II, sehingga dapat dicocokan apakah ada kesamaan antara landasan teoritis dengan hasil yang dicapai. Walaupun penelitian ini tidak memiliki hipotesis tertentu, namun dari landasan teori dapat dibuat asumsi-asumsi mengenai hubungan antara konsep-konsep dan factor-faktor yang ada.
4.    Mencari Alternatif Penjelasan bagi Data
Setelah kaitan antara kategori dan pola data dengan asumsi terwujud, peneliti masuk ke dalam tahap penejelasan. Dan berdasarkan kesimpulan yang telah didapat dari kaitanya tersebut, penulis merasa perlu mencari suatau alternative penjelasan lain tetnag kesimpulan yang telah didapat. Sebab dalam penelitian kualitatif memang selalu ada alternative penjelasan yang lain. Dari hasil analisis, ada kemungkinan terdpat hal-hal yang menyimpang dari asumsi atau tidak terfikir sebelumnya. Pada tahap ini akan dijelaskan dengan alternative lain melalui referensi atau teori-teori lain. Alternatif ini akan sangat berguna pada bagian pembahasan, kesimpulan dan saran.
5.    Menulis Hasil Penelitian
Penulisan data subjek yang telah berhasil dikumpulkan merupakan suatu hal yang membantu penulis unntuk memeriksa kembali apakah kesimpulan yang dibuat telah selesai. Dalam penelitian ini, penulisan yang dipakai adalah presentase data yang didapat yaitu, penulisan data-data hasil penelitian berdasarkan wawancara mendalam dan observasi dengan subjek dan significant other. Proses dimulai dari data-data yang diperoleh dari subjek dan significant other, dibaca berulang kali sehinggga penulis mengerti benar permasalahanya, kemudian dianalisis, sehingga didapat gambaran mengenai penghayatan pengalaman dari subjek. Selanjutnya dilakukan interprestasi secara keseluruhan, dimana di dalamnya mencangkup keseluruhan kesimpulan dari hasil penelitian.
3.8 Teknik Pemeriksaan Keabsyahan Data
Data diambil dari sumbernya Studi kasus ini menggunakan penelitian pendekatan kualitataif. Yin (2003) mengajukan empat criteria keabsahan dan keajegan yang diperlukan dalam suatu penelitian pendekatan kualitatif. Empat hal tersebut adalah Sebagai berikut :
1.      Keabsahan Konstruk (Construct validity)
Keabsahan bentuk batasan berkaitan dengan suatu kepastiaan bahwa yang berukur benar- benar merupakan variabel yang ingin di ukur. Keabsahan ini juga dapat dicapai dengan proses pengumpulan data yang tepat. Salah satu caranya adalah dengan proses triangulasi, yaitu tehnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau Sebagai pembanding terhadap data itu. Menurut Patton (dalam Sulistiany 1999) ada 4 macam triangulasi Sebagai teknik pemeriksaan untuk mencapai keabsahan, yaitu :
a.    Triangulasi data Mengguanakan berbagai sumber data seperti dokumen, arsip, hasil wawancara, hasil observasi atau juga dengan mewawancarai lebih dari satu subjek yang dianggap memeiliki sudut pandang yang berbeda.
b.    Triangulasi Pengamat yaitu : Adanya pengamat di luar peneliti yang turut memeriksa hasil pengumpulan data. Dalam penelitian ini, dosen pembimbing studi kasus bertindak Sebagai pengamat (expert judgement) yang memberikan masukan terhadap hasil pengumpulan data.
c.    Triangulasi Teori yaitu : Penggunaan berbagai teori yang berlaianan untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan sudah memasuki syarat. Pada penelitian ini, berbagai teori telah dijelaskan pada bab II untuk dipergunakan dan menguji terkumpulnya data tersebut.
d.    Triangulasi metode Penggunaan berbagai metode untuk meneliti suatu hal, seperti metode wawancara dan metode observasi. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan metode wawancara yang ditunjang dengan metode observasi pada saat wawancra dilakukan.
2.      Keabsahan Internal (Internal validity). Keabsahan internal merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh kesimpulan hasil penelitian menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Keabsahan ini dapat dicapai melalui proses analisis dan interpretasi yang tepat. Aktivitas dalam melakukan penelitian kualitatif akan selalu berubah dan tentunya akan mempengaruhi hasil dari penelitian tersebut. Walaupun telah dilakukan uji keabsahan internal, tetap ada kemungkinan munculnya kesimpulan lain yang berbeda.
3.      Keabsahan Eksternal (Eksternal validity) Keabsahan ekternal mengacu pada seberapa jauh hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada kasus lain. Walaupun dalam penelitian kualitatif memeiliki sifat tidak ada kesimpulan yang pasti, penelitiaan kualitatif tetapi dapat dikatakan memiliki keabsahan ekternal terhadap kasus-kasus lain selama kasus tersebut memiliki konteks yang sama.
4.      Keajegan (Reabilitas) Keajegan merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh penelitian berikutnya akan mencapai hasil yang sama apabila mengulang penelitian yang sama, sekali lagi.
       Dalam penelitian ini, keajegan mengacu pada kemungkinan peneliti selanjutnya memeperoleh hasil yang sama apabila penelitian dilakukan sekali lagi dengan subjek yang sama. Hal ini menujukan bahwa konsep keajegan penelitian kualitatif selain menekankan pada desain penelitian, juga pada cara pengumpulan data dan pengolahan data.





DAFTAR PUSTAKA
Agus Salim, 2005, Teori & Paradigma, Penelitian Sosial,  Tiara Wacana,  Yogyakarta
Burhan Bungin, 2009 Sosiologi Komunikasi Teori, Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat,  Kencana Prenada Goup, Jakarta.
Engkus Kurwarno, 2009 Metode Penelitian Fenomenologi Konsepsi pedoman dan Contoh Penelitiannya, Widya Padjadjaran, Bandung
Hafied Cangara, 2009 Pengantar Teori Komunikasi, -Ed,1-10, Rajawali Pers, Jakarta.
Kutha Ratna, Metodelogi penelitian Kajian Budaya dan Sosial Humaniora pada Umumnya, Pustaka pelajar, Yogyakarta
Little John, S.W. 1995. Theories of Human Communication (nine edition).  Wadsworth publishing Company, Belmont California
Manahan P. Tampubolon, 2008,  Perilaku Keorganisasian Perspektif Organisasi Bisnis, Ghalia Indonesia,Bogor.
McQuail, 1987, Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar,Erlangga, Jakarta
Mulyana, D dan Rahmat, J. 2000. Komunikasi Antar Budaya. PT. Remaja Rosdakarya.  Bandung
Miftah, Thoha. 2008. Perilaku Organisasi; konsep dasar dan aplikasinya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Rachat Kriyantono, 2009, Teknik Praktis Riset Komunikasi, Kencana Prenada Goup, Jakarta.
Sasa Djuarsa S, 2003 Teori Komunikasi, Universitas Terbuka, Jakarta.
Scott M. Cutlip, Allen H.Center & Glen M.Bromm, 2009, Effective Public Relations, (edisi kesembilan), Kencana Prenada Goup, Jakarta.
Syaiful Rohim, 2009, Teori Komunikasi Perspektif, Ragam, & Aplikasi, Reneka Cipta, Jakarta
Werner J. Severin & James W. Tankard, 2001, Communication Theories: Origins, Methods, & Uses in the Mass Media, ed. 5th, penerj. Sugeng Hariyanto, Addison Wesley Longman Inc.
 Widjaya H.A.W, 2008, Komunikasi & Hubungan Masyarakat,   PT Bumi Angkasa, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar